Share

Kala Kupu-Kupu Tak Lagi Hinggap
Kala Kupu-Kupu Tak Lagi Hinggap
Penulis: Tulip

Bab 1

Penulis: Tulip
Inara mendongak dan menatapnya. Sanjaya memang memiliki wajah yang sangat tampan. Alisnya tegas, matanya jernih dan tajam, hidungnya mancung.

Saat ini, alisnya sedikit berkerut, tatapannya menunjukkan kegelisahan karena ingin segera meluruskan kesalahpahaman. Ekspresi yang jarang terlihat darinya itu membuatnya tampak lebih hidup.

Dulu, Inara sangat menyukai wajah ini. Dia mencintai setiap perubahan kecil dalam ekspresi Sanjaya. Namun, sekarang dia hanya merasa ... pria ini berisik.

Dia menarik kembali pergelangan tangannya yang digenggam Sanjaya dan berkata dengan nada datar, "Suamiku, jangan berpikir terlalu jauh. Kamu nggak perlu menjelaskan apa-apa. Meski itu bukan salah paham, kalaupun kalian benar-benar berciuman, nggak masalah."

Sanjaya tertegun, seolah tidak memahami perkataannya. "Apa? Apa maksudmu dengan nggak masalah sekalipun kami benar-benar berciuman?"

Dia mengamati ekspresi Inara dengan saksama, berusaha menemukan sedikit ketenangan yang dibuat-buat atau kesedihan yang sedang ditahan.

Namun, tidak ada apa-apa. Tatapan istrinya seperti sebuah sumur tua yang tak terlihat dasarnya, begitu tenang hingga membuat hati Sanjaya gelisah.

"Kamu ...." Nada bicaranya merendah, mengandung sedikit keraguan dan kekesalan yang nyaris tak terlihat.

"Kamu masih dendam padaku karena kejadian sebelumnya, 'kan? Aku sudah bilang, aku terpaksa menyuruhmu menggugurkan kandungan. Kamu jatuh dari tebing. Itu kecelakaan. Aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkanmu ...."

"Aku nggak menyimpan dendam padamu." Inara memotong ucapannya, "Aku benar-benar nggak peduli. Lagi pula, bukannya ini yang selama ini kamu inginkan?"

Dia menatap Sanjaya dengan tatapan jernih. "Kamu selalu bilang Pertiwi nggak punya siapa-siapa untuk diandalkan dan satu-satunya orang yang bisa dia jadikan tempat bergantung hanyalah kamu. Karena itu, kamu membawanya masuk ke kediaman kita dan menyuruhku untuk nggak mempermasalahkannya."

"Saat suasana hatinya sedang buruk, kamu menemaninya semalaman hingga nggak pulang dan menyuruhku untuk menerimanya. Saat dia menyukai gelang dan anting-antingku, kamu menyuruhku memberikannya. Sekarang, aku sudah melakukan semuanya sesuai keinginanmu. Apa kamu ... nggak senang?"

Sanjaya dibuat bungkam oleh perkataannya. Jakunnya bergerak beberapa kali, tetapi dia sama sekali tak mampu membantah satu kata pun.

Ya, selama ini dia memang berharap Inara tidak mempermasalahkan hubungannya dengan Pertiwi, tidak terus-menerus cemburu dan membuat rumah tangga mereka kacau.

Ketika menikahi Inara, dia memang tidak mencintainya. Namun selama bertahun-tahun, kebaikan Inara yang diberikan kepadanya dengan sepenuh hati bagaikan bara api paling hangat di musim dingin. Kehangatan itu perlahan mencairkan hatinya yang membeku karena Pertiwi menikah dengan orang lain.

Hatinya bukan terbuat dari batu. Dia sudah lama memutuskan untuk melepaskan masa lalu dan menjalani kehidupan yang baik bersama Inara.

Namun, siapa sangka Pertiwi akan bercerai dan kembali ke ibu kota.

Perasaannya kepada Pertiwi adalah cinta paling tulus dan membara yang dia rasakan di masa muda. Selama bertahun-tahun menyukai Pertiwi, Sanjaya telah melakukan begitu banyak hal bodoh dan gila demi wanita itu.

Dia tahu bahwa mereka kini sudah tak mungkin bersama lagi. Dia juga tidak pernah berniat menghidupkan kembali hubungan mereka. Namun, ketika melihat Pertiwi yang tampak kurus, lemah, dan tak memiliki siapa-siapa untuk diandalkan, hatinya yang sudah lama tenang tetap tak mampu menahan rasa iba. Dia selalu ingin memberikan segala sesuatu yang terbaik kepada Pertiwi.

Adapun Inara ... wanita itu adalah istrinya. Wanita itu akan selalu berada di tempat yang sama, menunggunya. Menunggunya menyelesaikan urusan Pertiwi, menunggunya menata kembali perasaannya. Setelah itu, dia akan menebus semuanya dengan memperlakukan Inara jauh lebih baik. Mereka masih memiliki waktu yang panjang untuk dijalani bersama.

Selama ini, begitulah yang dia pikirkan.

Namun sekarang, melihat Inara yang sama sekali tak peduli, bahkan mendorongnya menjauh, keyakinan yang selama ini dia anggap begitu wajar tiba-tiba retak.

Dia membuka mulut, ingin mengatakan sesuatu, entah itu menjelaskan ataupun berjanji.

Pada saat ini, kusir kereta Inara berlari kecil menghampiri mereka. "Nyonya, poros kereta tiba-tiba patah. Butuh waktu lama untuk memperbaikinya. Jadi ... keretanya nggak bisa jalan."

Entah sejak kapan, langit mulai menurunkan gerimis yang membawa hawa dingin musim dingin.

Sanjaya melirik langit, lalu segera berkata, "Nggak masalah. Kereta Pertiwi ada di depan. Kebetulan kami juga akan pulang ke kediaman. Kamu bisa ikut dengan kami."

Setelah berkata demikian, dia langsung menarik pergelangan tangan Inara dan mengajaknya menuju kereta tanpa memberinya kesempatan untuk menolak.

"Naik."

Inara mencoba melepaskan tangannya, tetapi gagal. Akhirnya, dia pun tak menolak lagi.

Pertiwi sudah menunggu di dalam kereta. Ketika melihat Inara, senyum yang sulit diartikan muncul di wajahnya.

"Inara, kamu juga ikut? Cepat naik. Di luar dingin."

Inara tidak menjawab. Dia hanya mengangguk ringan, lalu mengangkat ujung roknya dan bersiap naik ke kereta.

"Ah!" Pertiwi tiba-tiba berseru kaget, "Inara ... kenapa ada darah di belakangmu?"

Inara tertegun, lalu segera menyadari bahwa mungkin haidnya datang lebih awal. Tadi dia berjalan cukup lama di antara pepohonan prem dan tidak menyadarinya.

Sanjaya juga melihatnya. Dia segera melepaskan jubah luar berwarna hitam pekat yang dikenakannya dan menyampirkannya ke bahu Inara.

"Cepat naik. Di dalam hangat. Jangan sampai kedinginan."

Jubah itu masih menyimpan kehangatan tubuh Sanjaya dan sedikit aroma segar kayu pinus. Perbuatannya juga bisa dibilang cukup perhatian.

Namun, Inara hanya menunduk, tanpa menunjukkan reaksi apa pun.

Saat ini, wajah Pertiwi tiba-tiba memucat. Dia bersandar dengan lemas ke arah Sanjaya. "Kak Jaya ... aku ... aku agak pusing ...."

Sanjaya buru-buru menopangnya. "Ada apa?"

"Aku ... sejak kecil memang agak takut lihat darah. Kalau lihat darah, jantungku berdebar dan napasku terasa sesak. Rasanya sangat nggak nyaman ...." Pertiwi bersandar dalam pelukan Sanjaya. Sudut matanya memerah.

"Ada darah di baju Inara .... Di perjalanan pulang nanti, aku takut kalau aku ... nggak akan tahan ...."

Mendengar itu, gerakan Sanjaya terhenti. Ekspresi serbasalah muncul di wajahnya. Setelah terdiam sejenak, dia menoleh kepada Inara.

"Inara ... Pertiwi memang nggak tahan melihat darah. Kalau lihat darah, dia merasa sangat nggak nyaman. Lagi pula, kita sudah nggak jauh dari kediaman. Bagaimana kalau ... kamu jalan kaki saja?"

Setelah mengatakannya, sepertinya dia sendiri merasa perkataan itu agak tidak pantas, jadi dia menghindari tatapan Inara.

Kalau dulu Sanjaya terang-terangan memihak Pertiwi seperti ini dan meninggalkannya di tengah hujan, Inara mungkin akan merasa hatinya tercabik-cabik. Dia akan menangis karena merasa diperlakukan tidak adil, lalu mempertanyakan apakah di dalam hati Sanjaya masih ada sedikit saja tempat untuknya.

Namun, hatinya kini begitu tenang. Bahkan dia merasa pilihan yang dibuat Sanjaya memang sudah sewajarnya, sesuatu yang sejak awal sudah bisa dia duga.

Dia mengangguk tanpa mengatakan sepatah kata pun, lalu berbalik hendak melangkah ke tengah hujan.

"Tunggu!" Sanjaya kembali memanggilnya.

Inara menoleh.

Sanjaya membungkuk dan mengambil sesuatu dari dekat kakinya. "Liontin giokmu."

Dia menyerahkan liontin giok putih kepada Inara. "Tadi terjatuh."

Ketika melihat liontin giok itu, untuk pertama kalinya wajah Inara yang tenang tanpa gejolak menunjukkan sedikit perubahan.

Dia sontak mengulurkan tangan dan menerimanya, menggenggamnya erat di telapak tangan. Nadanya pun mengandung sedikit kegelisahan yang nyaris tak terdengar.

"Terima kasih. Untung kamu melihatnya."

Melihat perubahan ekspresi Inara yang begitu tiba-tiba, entah kenapa hati Sanjaya diliputi perasaan sangat tidak nyaman.

Tadi, ketika melihatnya dan Pertiwi tanpa sengaja begitu dekat, ekspresinya bahkan tidak berubah sedikit pun. Sekarang, hanya demi sebuah liontin giok yang tampak biasa saja, dia justru menunjukkan betapa pentingnya benda itu baginya.

"Liontin giok ini ... sangat penting?"

Inara tertegun sejenak. Kemudian, sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum yang sangat tipis.

"Ya, sangat penting."

Karena ini adalah pemberian calon suaminya untuknya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kala Kupu-Kupu Tak Lagi Hinggap   Bab 20

    Ada lukisan Inara yang sedang membaca di dekat jendela, menikmati bunga di halaman, sibuk di dapur, bahkan ada juga ... sosok dirinya ketika masih berada di ibu kota, duduk di dalam kereta dengan wajah murung.Setiap goresan kuas itu tampak begitu halus dan sarat akan perasaan.Di sudut kanan bawah setiap lukisan, tercantum sebuah tanggal.Lukisan yang paling awal ternyata dibuat pada tahun ketika Inara beranjak dewasa. Saat itu, di Festival Lentera ibu kota, dia berhasil menjawab sebuah teka-teki lentera dan tersenyum cerah.Saat itu, dia bahkan belum mengenal Yanuar.Inara memegang lukisan-lukisan itu dan duduk termenung di ruang kerja untuk waktu yang lama.Malam harinya ketika Yanuar pulang, dia bertanya, "Kenapa kamu ... sebaik ini padaku?"Melihat mata Inara yang sedikit memerah, Yanuar langsung mengerti apa yang telah ditemukannya. Dia tidak menceritakan tentang cinta terpendam yang selama bertahun-tahun dijaganya dengan hati-hati.Dia tidak menceritakan betapa sedihnya dirinya

  • Kala Kupu-Kupu Tak Lagi Hinggap   Bab 19

    Satu tahun kemudian.Di dalam tenda paling kotor dan bobrok di barak militer, Pertiwi meringkuk di sudut. Tubuhnya dipenuhi kotoran dan luka.Tatapannya kosong. Mulutnya terus bergumam berulang kali, "Kak Jaya ... selamatkan aku ... Kak Jaya ... mereka akan membunuhku ...."Para wanita di sampingnya mencibir."Masih bermimpi? Kak Jaya-mu itu sudah membuangmu ke sini dan nggak peduli lagi!""Kudengar dia sudah gila. Dia memeluk pakaian tua lalu menceburkan diri ke kolam teratai. Setelah diselamatkan, pikirannya malah semakin kacau. Mana mungkin dia masih ingat kamu?"Pertiwi seolah tidak mendengar mereka. Dia tetap bergumam sambil menatap kosong secercah cahaya langit yang masuk melalui lubang di atap tenda.Sesekali, seorang prajurit yang mabuk masuk dan menyeretnya pergi. Dia tidak lagi meronta, seperti boneka yang sudah kehilangan jiwa.....Di ibu kota, Kediaman Adipati Utara.Kediaman yang dulunya selalu ramai oleh tamu, kini telah kehilangan kejayaannya. Plakat di atas gerbang dis

  • Kala Kupu-Kupu Tak Lagi Hinggap   Bab 18

    Sanjaya maju dua langkah, semakin mendekati tepi jurang.Tatapan Yanuar seketika berubah tajam. Dia menarik Inara sedikit ke belakang.Namun, Sanjaya seolah tidak menyadarinya. Dia menoleh dan memandang Inara. Anehnya, sebuah senyum yang nyaris seperti kelegaan muncul di wajahnya."Inara, waktu itu aku memilih Pertiwi dan berutang satu nyawa padamu." Suaranya sangat pelan hingga nyaris terbawa angin. "Sekarang, aku kembalikan nyawaku padamu, ya?"Belum selesai gema suaranya menghilang, di bawah tatapan terkejut semua orang, dia benar-benar melompat ke dalam jurang yang diselimuti kabut!"Sanjaya!"Ekspresi Yanuar seketika berubah. Dia berteriak keras dan refleks mengulurkan tangan untuk menangkapnya, tetapi hanya berhasil meraih secarik kain pakaiannya yang robek.Para pengawal berseru kaget dan bergegas ke depan. Namun, tidak ada seorang pun lagi di tepi jurang. Hanya suara angin gunung yang menderu kencang.Tubuh Inara bergoyang pelan. Wajahnya sedikit memucat, sementara jemarinya ta

  • Kala Kupu-Kupu Tak Lagi Hinggap   Bab 17

    Hari ini, Yanuar mengenakan jubah panjang berwarna biru langit, membuat sosoknya terlihat semakin tampan dan tegap.Begitu melihat pemandangan di hadapannya, dia sedikit mengernyit. Dengan beberapa langkah cepat, dia maju dan melindungi Inara di belakang tubuhnya, lalu menatap dingin Sanjaya yang berada di tanah."Tuan Sanjaya," ujar Yanuar. Suaranya tidak keras, tetapi menyiratkan tekanan yang tidak bisa dibantah. "Kamu mengganggu istri orang di siang bolong ... apa begini didikan Kediaman Adipati Utara? Atau cambukan yang kamu terima di ibu kota masih belum cukup?"Sanjaya sama sekali tidak menghiraukan ucapan Yanuar. Dia hanya menatap Inara dengan intens, seolah di dunia ini hanya tersisa wanita itu seorang."Inara ...."Dia kembali memanggilnya dengan suara parau.Inara seolah tiba-tiba teringat sesuatu. Dia mengangkat tangan dan mencabut sebuah tusuk konde dari rambutnya. Itu adalah tusuk konde berbentuk kupu-kupu yang sudah sangat tua. Sayap kupu-kupu yang terbuat dari lilitan be

  • Kala Kupu-Kupu Tak Lagi Hinggap   Bab 16

    Malam semakin larut, sementara lilin-lilin merah menyala terang.Sanjaya dilempar keluar dari kediaman Keluarga Jagapadi dan terduduk lemas di sudut jalan yang dingin dan kotor. Dari kejauhan, dia masih bisa mendengar samar-samar suara keramaian para tamu yang sedang menggoda pengantin baru.Dia bisa membayangkan kamar yang dipenuhi dekorasi pernikahan itu. Di bawah temaram lilin merah, Inara mengenakan gaun pengantin yang sudah tak terhitung berapa kali muncul dalam mimpinya, tetapi kini dia justru tersenyum kepada pria lain.Dia bahkan seolah bisa mendengar samar-samar suara tawa dan bisikan mesra di antara sepasang kekasih, disusul erangan yang lebih intim dan menghancurkan hatinya.Setiap suara itu bagaikan jarum beracun yang menghujani bagian paling rapuh dalam hatinya. Rasa sakit itu membuatnya meringkuk. Dia membuka mulut ingin menangis, tetapi tidak mampu mengeluarkan suara sedikit pun.Hanya air mata panas yang mengalir deras dari kedua matanya yang sudah kering.Dia tahu. Dia

  • Kala Kupu-Kupu Tak Lagi Hinggap   Bab 15

    Inara menggenggam belati dingin itu dengan tangan yang tetap stabil.Dari balik kerudung merah, dia menatap pria yang sedang dilanda keputusasaan di hadapannya dengan diam. Kemudian, sedikit demi sedikit, dia menarik tangannya kembali.Trang!Belati itu jatuh ke lantai.Di bawah tatapan putus asa Sanjaya, Inara mengangkat tangan dan perlahan menyingkap kerudung pengantinnya.Di bawah mahkota pengantin, wajahnya dirias sempurna dengan alis dan mata yang indah. Namun, kedua matanya sedingin es yang telah membeku selama ribuan tahun, tanpa sedikit pun kehangatan."Sanjaya," ucapnya.Suaranya tidak keras, tetapi terdengar jelas hingga ke setiap sudut aula pernikahan."Kamu masih ingat apa yang kamu katakan padaku waktu aku berlutut sambil menangis dan memohon agar kamu nggak menggugurkan anak kita?"Sanjaya mematung.Kenangan yang selama ini sengaja dia kubur, mendadak menyerbu pikirannya. Wajah Inara yang pucat, tatapannya yang putus asa dan tangannya yang gemetar saat mencengkeram ujung

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status