Share

Tamu Tak Diundang

last update Last Updated: 2026-03-11 11:23:44

Aku duduk di kursi pelaminan dengan latar belakang yang megah di tengah ballroom mewah hotel bintang lima. Mestinya aku bangga dan bahagia. Namun, kenyataan pahit terus menderaku.

“Selamat ya, Bu Gea. Semoga langgeng dan bahagia selalu.” Pria bertubuh tambun menjabat tanganku dengan hangat. Dia salah satu kolega Ayah ... semasa hidupnya.

“Terima kasih.” Aku membalas dengan senyuman yang kupaksakan.

Di sampingku, Mas Kavi tampak begitu bahagia. Dia menyalami satu per satu tamu undangan dengan senyuman yang semringah. Tangannya sesekali merangkul pinggangku. Perlakuan yang dulu membuatku merasa diperhatikan dan dilindungi. Namun, kini terasa seperti lilitan ular yang siap memangsa kapan saja.

Mataku tak sengaja menangkap sosok Kalila yang berdiri tidak jauh dari pelaminan. Dia sedang tertawa kecil sambil berbincang dengan salah satu kolega perusahaan. Dia memang gadis imut yang sangat lancar berkomunikasi. Makanya, dia bertahan di posisi direktur pemasaran di perusahaan kami.

Ya, dia dan Mas Kavi-lah yang membantu aku mengelola perusahaan. Dengan keterbatasanku di indra pendengaran, tidak mungkin aku mengurus perusahaan, apalagi sampai memimpin di sana. Relasi pasti akan mengalami kesulitan untuk berkomunikasi denganku.

Kalila begitu cantik, lembut, dan tampak tak berdosa. Namun, bisikan mengerikan di ruang rias tadi terus terngiang di telingaku. Belum lagi senyum sinisnya beberapa menit lalu ketika menatapku.

Bisikan mengerikan itu ... aku yakin tidak salah dengar. Tapi, apakah mungkin? Kalila tidak mungkin sejahat itu. Mungkin tadi telingaku belum berfungsi sempurna.

Aku menggelengkan kepala pelan, coba mengusir pikiran buruk yang terus menjerat. Kalila itu adikku. Dia adalah malaikat pelindungku selama ini. Betapa teganya aku kalau sampai mencurigai dia yang tidak-tidak!

Perasaan di hatiku dan logika di dalam kepala saling berperang. Kalau Kalila memang sangat menyayangiku, kenapa dia kelihatan baik-baik saja, bahkan tampak begitu bahagia? Padahal, Ayah baru saja meninggal di kehidupan yang sekarang. Ini baru minggu kedua seperti ucapannya tadi.

Kenapa Mas Kavi juga tampak begitu tenang? Tidak ada gurat kesedihan sama sekali di wajah Mas Kavi maupun Kalila. Meski Ayah bukan orang tua kandung mereka, bukankah itu aneh mengingat kedekatan yang mereka tunjukkan selama ini? Ayah sudah seperti orang tua sendiri bagi mereka.

Ah, mungkin mereka sedih, tapi tidak mau menunjukkan di hari bahagia ini. Mungkin mereka tidak mau merusak suasana. Ini kan pesta pernikahanku. Aku masih coba untuk positive thingking.

“Sayang, kamu melamun lagi?” Kavi menyentuh bahuku pelan, tapi sukses membuatku terlonjak. Dia menatapku dengan tatapan khawatir yang sangat tulus. “Kalau kamu beneran nggak kuat, kita bisa persingkat pestanya, kok. Wajahmu pucat sekali, Sayang.”

“Aku ... nggak papa, kok, Mas,” sahutku pendek dan coba memulas senyum meskipun tipis. Senyum yang terasa sangat kaku di wajahku.

Sebetulnya aku ingin berteriak sekarang juga, bertanya banyak hal pada Mas Kavi. Tapi, aku tahu itu semua tidak mungkin. Aku harus bersabar sampai pesta ini usai.

Aku ingin tahu, bagaimana bisa Ayah meninggal karena perampokan? Kenapa pesta pernikahan ini tetap dilangsungkan, bahkan dengan begitu meriah ketika kami masih dalam masa berduka? Kenapa Tuhan memberiku pendengaran justru di saat aku tidak ingin mendengar kenyataan sepahit ini?

Ayah sudah tiada. Padahal, dia satu-satunya orang yang paling aku percaya di dunia ini. Satu-satunya manusia yang aku yakin seratus persen tidak akan pernah menyakiti aku. Alam semesta seakan menertawakan aku saat ini. Aku kehilangan pelindung yang paling aku percaya.

“Ge, lihat itu siapa yang datang?” bisik Mas Kavi tiba-tiba. Suaranya berubah tajam. Ada nada tidak suka yang terselip nyata dalam ucapannya.

“Siapa dia, Mas?” Aku mengikuti arah pandang Mas Kavi.

Tampak seorang pria dengan tubuh tinggi tegap, mengenakan setelan jas abu-abu gelap, tengah berjalan dengan tenang menuju pelaminan. Langkahnya seperti kapal mewah yang membelah samudera luas. Para tamu undangan ibarat ratusan ikan yang mengelilinginya.

Semua mata tertuju padanya. Sepertinya banyak orang mengenal dia atau mungkin ... terpesona dengan auranya.

Langkah kakinya mengayun dengan tegas. Wajahnya tampan, tetapi terkesan kaku dengan rahang yang kokoh. Kentara sekali kalau kehadirannya sangat mendominasi. Suara riuh rendah di dalam ballroom mendadak sedikit mereda.

“Itu Gavin Mahendra,” gumam Mas Kavi. Mungkin dia lupa kalau aku tidak bisa mendengar ... dulu.

“Mau apa dia datang ke sini? Jelas-jelas aku nggak pernah mengundang dia,” ucap Mas Kavi lagi sembari mendesis marah. Suaranya menyerupai geraman binatang buas yang berhadapan dengan musuh bebuyutan. Mereka seperti tengah berebut mangsa.

Siapa pria itu sebenarnya? Nama Gavin Mahendra terdengar tidak asing. Sepertinya aku pernah mendengar nama itu, tapi entah kapan dan di mana. Kenapa Mas Kavi begitu membencinya?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kali Ini Aku yang Akan Menghancurkan Kalian!   Sosok Pria Misterius

    “Gavin Mahendra, aku harus segera menemuimu,” ucapku dengan penuh tekad.Mumpung Mas Kavi masih di kamar mandi, aku segera meraih ponsel yang dari tadi tergeletak di atas meja rias. Jemariku bergerak lincah menelusuri kolom pencarian. Nama Gavin Mahendra menjadi satu-satunya fokusku malam ini.Di zaman semodern ini, internet merupakan gudang informasi tanpa batasan. Internet menyediakan informasi yang cukup untuk membuatku mencatat beberapa poin penting soal Gavin Mahendra di catatan ponselku.Dia adalah lulusan terbaik dari salah satu universitas ternama di Inggris. Pria yang kemudian mengambil alih kemudi perusahaan Sriyasa Group di usia yang terbilang masih sangat muda. Bukan pria main-main.Dari beberapa berita bisnis, dia terkenal dengan sifat pendiam, dingin, dan seakan tak tersentuh oleh siapa pun. Namun, dia sangat sering memenangkan tender di proyek-proyek pemerintahan, baik yang berskala nasional maupun provinsi.Hmm, sangat kontradiktif. Biasanya, pemenang tender adalah ora

  • Kali Ini Aku yang Akan Menghancurkan Kalian!   Tunggu Pembalasanku!

    Tatapan kami saling beradu di pantulan cermin selama beberapa detik. Jantungku berdebar keras seakan hendak meloncat keluar dari rongga dada. Wajah Mas Kavi menyiratkan kecurigaan. Masih memegang ponsel di tangan kanan, mata Mas Kavi menyipit, memindai setiap inchi ekspresi wajahku. “Aku curiga sesuatu, Kal,” ujarnya, sengaja menoleh berlawanan arah agar aku tidak bisa membaca gerak bibirnya. Tapi, aku sudah bisa mendengar, Mas!Pertahananku runtuh sudah. Sesak yang dari awal ‘hidup kembali’ kutahan-tahan, akhirnya meledak juga. Aku menangis tersedu-sedu hingga bahu berguncang hebat.“Kamu kenapa, Sayang?” Mas Kavi mendekat, lalu mengusap kepalaku dengan lembut. Itu bukan lagi kelembutan kain sutra yang dia hamparkan di jalan hidupku, melainkan duri tajam yang melukai setiap langkahku.Aku tidak menjawab, hanya terus terisak. Mas Kavi menarik tanganku yang menutupi wajah, lalu memutar tubuhku agar menghadap ke arahnya. Dia berlutut, menggenggam tanganku, menatap dengan wajah sendu

  • Kali Ini Aku yang Akan Menghancurkan Kalian!   Topeng yang Mulai Retak

    “Ah, lega rasanya!” Mas Kavi merentangkan kedua tangan lebar-lebar begitu kami masuk ke kamar presiden suite yang sudah didekorasi sedemikian rupa menjadi kamar pengantin. Dua handuk besar dibentuk menyerupai sepasang angsa dan leher mereka membentuk love.Seharusnya suasana sangat romantis, seperti di kehidupanku sebelumnya. Kamar di hotel bintang lima ini mestinya jadi saksi bisu kebahagiaan kami di malam pertama. Namun, kali ini berbeda.Aku tidak lagi merasakan keromantisan itu. Harum semerbak kelopak mawar merah dan putih yang ditabur di atas ranjang, juga wangi lilin aromaterapi yang menenangkan harusnya bisa membuat hatiku luluh. Nyatanya, malam ini, semua keindahan itu terasa semu. Hanya sebatas dekorasi yang malah memberikan kesan sunyi, dingin, dan penuh dengan kepalsuan.Mas Kavi membantu melepas ronce melati yang berat di bahuku. Tangannya yang hangat menyentuh leherku, membuat bulu kudukku berdiri. Dulu ini juga terjadi. Namun, kali ini bulu kudukku berdiri bukan karena c

  • Kali Ini Aku yang Akan Menghancurkan Kalian!   Bisikan dari Masa Lalu

    “Siapa dia, Mas? Apa kamu ada masalah sama dia?” tanyaku sambil menatap sekilas ke arah Mas Kavi.Pria di sampingku itu tampak mengetatkan otot-otot rahang. Kentara sekali kalau dia ada masalah besar dengan Gavin itu.“Dia musuh besar kita. Orang yang sudah beberapa kali menjegal program pemasaran perusahaan kita,” jawab Mas Kavi sambil membuat isyarat dengan gerakan tangan. Padahal, aku bisa mendengar dengan jelas semua ucapannya.Gavin Mahendra. Ya, akhirnya aku ingat nama itu. Ayah pernah memuji atau mungkin lebih tepatnya ... mengeluhkan kecerdasan dan kepiawaian seorang pemuda dalam menyaingi bisnisnya. Mereka selalu bersaing ketat dalam setiap tender pekerjaan, terutama di pemerintahan.Selama bertahun-tahun menjadi pebisnis, baru kali itu Ayah dikalahkan oleh pemuda yang usianya jauh di bawah dia. Tidak hanya sekali, tapi beberapa kali. Rupanya ... inilah orangnya. Lantas, kenapa dia datang ke pesta ini? Mas Kavi bilang dia tidak pernah mengundang Gavin.Pria yang tengah menjad

  • Kali Ini Aku yang Akan Menghancurkan Kalian!   Tamu Tak Diundang

    Aku duduk di kursi pelaminan dengan latar belakang yang megah di tengah ballroom mewah hotel bintang lima. Mestinya aku bangga dan bahagia. Namun, kenyataan pahit terus menderaku.“Selamat ya, Bu Gea. Semoga langgeng dan bahagia selalu.” Pria bertubuh tambun menjabat tanganku dengan hangat. Dia salah satu kolega Ayah ... semasa hidupnya.“Terima kasih.” Aku membalas dengan senyuman yang kupaksakan.Di sampingku, Mas Kavi tampak begitu bahagia. Dia menyalami satu per satu tamu undangan dengan senyuman yang semringah. Tangannya sesekali merangkul pinggangku. Perlakuan yang dulu membuatku merasa diperhatikan dan dilindungi. Namun, kini terasa seperti lilitan ular yang siap memangsa kapan saja.Mataku tak sengaja menangkap sosok Kalila yang berdiri tidak jauh dari pelaminan. Dia sedang tertawa kecil sambil berbincang dengan salah satu kolega perusahaan. Dia memang gadis imut yang sangat lancar berkomunikasi. Makanya, dia bertahan di posisi direktur pemasaran di perusahaan kami.Ya, dia da

  • Kali Ini Aku yang Akan Menghancurkan Kalian!   Sosok yang Hilang

    Aku benar-benar tidak habis pikir. Apakah aku atau Ayah pernah menyakiti hati Kalila tanpa sengaja? Siapa tahu, di balik kelembutan dan sifat kekanak-kanakan Kalila, dia punya perasaan yang sensitif. Mungkin ada luka yang menganga akibat kehilangan ayah yang sangat dia cintai.Hatiku terus berbisik pedih, menyampaikan berbagai kemungkinan. Aku harus segera mencari tahu. Kalau memang ada luka yang kami goreskan, aku ingin memperbaikinya. Bagaimanapun, aku sangat menyayangi Kalila.Bagaimana aku bisa percaya kalau malaikat kesayanganku ini adalah seorang pembunuh?“Ge, kenapa wajahmu kayak gitu sih? Tegang banget. Hari bahagia kok kayak orang mau perang,” goda Kalila sembari menggandeng lenganku lembut. Dia menuntunku keluar dari ruang rias menuju hall hotel, tempat resepsi pernikahanku digelar.Aku berusaha menguasai diri. Kalila belum tahu kalau aku sudah bisa mendengar. Biar saja. Biar ini menjadi rahasiaku sementara waktu. Aku menarik napas panjang, memaksakan senyuman tipis agar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status