Share

Bisikan dari Masa Lalu

last update Last Updated: 2026-03-11 11:24:07

“Siapa dia, Mas? Apa kamu ada masalah sama dia?” tanyaku sambil menatap sekilas ke arah Mas Kavi.

Pria di sampingku itu tampak mengetatkan otot-otot rahang. Kentara sekali kalau dia ada masalah besar dengan Gavin itu.

“Dia musuh besar kita. Orang yang sudah beberapa kali menjegal program pemasaran perusahaan kita,” jawab Mas Kavi sambil membuat isyarat dengan gerakan tangan. Padahal, aku bisa mendengar dengan jelas semua ucapannya.

Gavin Mahendra. Ya, akhirnya aku ingat nama itu. Ayah pernah memuji atau mungkin lebih tepatnya ... mengeluhkan kecerdasan dan kepiawaian seorang pemuda dalam menyaingi bisnisnya. Mereka selalu bersaing ketat dalam setiap tender pekerjaan, terutama di pemerintahan.

Selama bertahun-tahun menjadi pebisnis, baru kali itu Ayah dikalahkan oleh pemuda yang usianya jauh di bawah dia. Tidak hanya sekali, tapi beberapa kali. Rupanya ... inilah orangnya. Lantas, kenapa dia datang ke pesta ini? Mas Kavi bilang dia tidak pernah mengundang Gavin.

Pria yang tengah menjadi sorotan orang-orang itu akhirnya tiba di pelaminan. Dia menjabat tangan Mas Kavi dengan gerakan singkat dan terkesan sangat dingin. Matanya bahkan tidak menatap Mas Kavi sama sekali. Tatapannya terus tertuju padaku.

Gavin juga sempat mengibaskan tangan kirinya ke depan wajah seolah-olah suamiku adalah kumpulan debu yang membuat matanya kelilipan atau segumpal asap yang menghalangi pandangannya. Kini dia berdiri tepat di hadapanku.

Pria dengan mata setajam elang itu tidak langsung menyalamiku. Dia menatap lekat selama beberapa jenak dengan pupil mata yang gelap dan sulit untuk dibaca. Jujur saja, aku merasa terintimidasi atau setidaknya ... diselidiki luar dan dalam.

Ada sesuatu yang berbeda dari cara dia menatapku. Bukan merendahkan, bukan pula mengasihani. Entahlah, aku tak bisa mengartikannya.

Sejurus kemudian, dia mengulurkan tangan. Saat jemariku menyentuh telapak tangannya yang terasa hangat dan kuat, Gavin tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke arahku. Aku mengira dia akan memberi ucapan selamat dengan kata-kata formal. Namun, yang keluar dari bibirnya adalah kalimat yang membuat sekujur tubuhku seketika membeku. Dunia seakan berhenti berputar.

“The storm may change your path, but it must never steal your sun. Keep blooming, Gea.”

Kalimat yang sama persis dengan apa yang Ayah sampaikan ke aku di kehidupan sebelumnya. Kalimat yang ditulis oleh Ayah di selembar kertas ketika aku terbangun dari kecelakaan dan mendapati bahwa indra pendengaranku sudah rusak akibat benturan keras di kepala.

Badai mungkin mengubah jalanmu, tapi tidak akan pernah bisa mencuri sinar mentari. Tetaplah mekar, Gea. Ya, kalimat yang sama persis, tidak berkurang atau bertambah satu kata pun. Gavin mengucapkannya dengan suara rendah, menyerupai bisikan angin yang membelai lembut daun telingaku.

Tubuhku benar-benar membeku. Seluruh otot di tubuhku terasa kaku. Bagaimana dia tahu kalimat itu? Tidak mungkin!

Itu adalah kalimat yang selalu dibisikkan oleh Ayah setiap kali aku menangis karena merasa tidak berguna setelah kehilangan pendengaran. Kalimat rahasia yang Ayah anggap sebagai janji bahwa aku harus selalu bahagia meski duniaku telah menjadi sunyi.

Tak seorang pun tahu tentang kalimat itu. Tidak Kalila, tidak juga Mas Kavi. Ayah hanya mengatakannya padaku secara pribadi. Lantas, dari mana pria asing ini tahu?

“Ka-kamu ... bilang apa?” Suaraku bergetar hebat, nyaris tak bisa terucap.

Gavin diam saja. Dia tidak menjawab, lalu melepaskan genggaman tangannya. Mungkin dia mengira bahwa aku masih kehilangan pendengaran. Dia hanya memberi anggukan kecil sembari tersenyum tipis. Sangat tipis.

“Gavin, apa yang kamu bisikkan ke istriku? Kamu sudah tahu kan kalau dia nggak bisa mendengar? Apa kamu sengaja mengejeknya?” Mas Kavi mencekal lengan Gavin dengan kasar.

Gavin melirik Mas Kavi dengan tatapan merendahkan. Tatapan yang jauh berbeda terhadapku tadi. Dia seperti ... segan terhadapku.

“Hanya salam dari masa lalu, Kavi. Jaga istrimu baik-baik. Kalau tidak, kamu akan berhadapan denganku.”

Setelah mengatakan itu, Gavin langsung berbalik dan meninggalkan panggung pelaminan tanpa menoleh lagi. Dia tidak duduk atau menikmati hidangan sama sekali. Punggungnya yang lebar menghilang di balik kerumunan tamu, meninggalkan aku yang masih gemetar hebat di atas kursi pelaminan.

“Dia bilang apa ke kamu, Sayang? Apa dia mengancammu?” Mas Kavi mendesakku. Dia sampai meremas jemariku dengan kuat.

“A-aku nggak tahu, Mas. Aku ... kan nggak bisa dengar.” Aku tetap pura-pura tuli.

“Nggak penting juga omongan dia. Dia itu pria licik. Dia pasti mau merusak pesta pernikahan kita karena kalah tender bulan lalu.” Mas Kavi berdecih kesal.

Aku tidak mendengarkan ucapan Mas Kavi. Pikiranku kalut. Bagaimana Gavin bisa tahu pesan rahasia Ayah? Apa Gavin sedekat itu dengan Ayah?

Aku menatap botol air mineral yang tadi diberikan oleh Mas Kavi, lalu beralih ke secangkir kopi yang baru saja dibawakan Kalila untukku di meja kecil samping pelaminan. Di tengah keramaian pesta ini, aku merasa berdiri di tengah medan perang sendirian. Tanpa senjata, tanpa Ayah.

Tapi, bisikan Gavin tadi memberiku satu hal yang sempat hilang, yakni harapan. Aku melihat bayangan Ayah di diri pria misterius itu.

Tunggu aku, Gavin Mahendra. Aku akan segera menemuimu.  

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kali Ini Aku yang Akan Menghancurkan Kalian!   Sosok Pria Misterius

    “Gavin Mahendra, aku harus segera menemuimu,” ucapku dengan penuh tekad.Mumpung Mas Kavi masih di kamar mandi, aku segera meraih ponsel yang dari tadi tergeletak di atas meja rias. Jemariku bergerak lincah menelusuri kolom pencarian. Nama Gavin Mahendra menjadi satu-satunya fokusku malam ini.Di zaman semodern ini, internet merupakan gudang informasi tanpa batasan. Internet menyediakan informasi yang cukup untuk membuatku mencatat beberapa poin penting soal Gavin Mahendra di catatan ponselku.Dia adalah lulusan terbaik dari salah satu universitas ternama di Inggris. Pria yang kemudian mengambil alih kemudi perusahaan Sriyasa Group di usia yang terbilang masih sangat muda. Bukan pria main-main.Dari beberapa berita bisnis, dia terkenal dengan sifat pendiam, dingin, dan seakan tak tersentuh oleh siapa pun. Namun, dia sangat sering memenangkan tender di proyek-proyek pemerintahan, baik yang berskala nasional maupun provinsi.Hmm, sangat kontradiktif. Biasanya, pemenang tender adalah ora

  • Kali Ini Aku yang Akan Menghancurkan Kalian!   Tunggu Pembalasanku!

    Tatapan kami saling beradu di pantulan cermin selama beberapa detik. Jantungku berdebar keras seakan hendak meloncat keluar dari rongga dada. Wajah Mas Kavi menyiratkan kecurigaan. Masih memegang ponsel di tangan kanan, mata Mas Kavi menyipit, memindai setiap inchi ekspresi wajahku. “Aku curiga sesuatu, Kal,” ujarnya, sengaja menoleh berlawanan arah agar aku tidak bisa membaca gerak bibirnya. Tapi, aku sudah bisa mendengar, Mas!Pertahananku runtuh sudah. Sesak yang dari awal ‘hidup kembali’ kutahan-tahan, akhirnya meledak juga. Aku menangis tersedu-sedu hingga bahu berguncang hebat.“Kamu kenapa, Sayang?” Mas Kavi mendekat, lalu mengusap kepalaku dengan lembut. Itu bukan lagi kelembutan kain sutra yang dia hamparkan di jalan hidupku, melainkan duri tajam yang melukai setiap langkahku.Aku tidak menjawab, hanya terus terisak. Mas Kavi menarik tanganku yang menutupi wajah, lalu memutar tubuhku agar menghadap ke arahnya. Dia berlutut, menggenggam tanganku, menatap dengan wajah sendu

  • Kali Ini Aku yang Akan Menghancurkan Kalian!   Topeng yang Mulai Retak

    “Ah, lega rasanya!” Mas Kavi merentangkan kedua tangan lebar-lebar begitu kami masuk ke kamar presiden suite yang sudah didekorasi sedemikian rupa menjadi kamar pengantin. Dua handuk besar dibentuk menyerupai sepasang angsa dan leher mereka membentuk love.Seharusnya suasana sangat romantis, seperti di kehidupanku sebelumnya. Kamar di hotel bintang lima ini mestinya jadi saksi bisu kebahagiaan kami di malam pertama. Namun, kali ini berbeda.Aku tidak lagi merasakan keromantisan itu. Harum semerbak kelopak mawar merah dan putih yang ditabur di atas ranjang, juga wangi lilin aromaterapi yang menenangkan harusnya bisa membuat hatiku luluh. Nyatanya, malam ini, semua keindahan itu terasa semu. Hanya sebatas dekorasi yang malah memberikan kesan sunyi, dingin, dan penuh dengan kepalsuan.Mas Kavi membantu melepas ronce melati yang berat di bahuku. Tangannya yang hangat menyentuh leherku, membuat bulu kudukku berdiri. Dulu ini juga terjadi. Namun, kali ini bulu kudukku berdiri bukan karena c

  • Kali Ini Aku yang Akan Menghancurkan Kalian!   Bisikan dari Masa Lalu

    “Siapa dia, Mas? Apa kamu ada masalah sama dia?” tanyaku sambil menatap sekilas ke arah Mas Kavi.Pria di sampingku itu tampak mengetatkan otot-otot rahang. Kentara sekali kalau dia ada masalah besar dengan Gavin itu.“Dia musuh besar kita. Orang yang sudah beberapa kali menjegal program pemasaran perusahaan kita,” jawab Mas Kavi sambil membuat isyarat dengan gerakan tangan. Padahal, aku bisa mendengar dengan jelas semua ucapannya.Gavin Mahendra. Ya, akhirnya aku ingat nama itu. Ayah pernah memuji atau mungkin lebih tepatnya ... mengeluhkan kecerdasan dan kepiawaian seorang pemuda dalam menyaingi bisnisnya. Mereka selalu bersaing ketat dalam setiap tender pekerjaan, terutama di pemerintahan.Selama bertahun-tahun menjadi pebisnis, baru kali itu Ayah dikalahkan oleh pemuda yang usianya jauh di bawah dia. Tidak hanya sekali, tapi beberapa kali. Rupanya ... inilah orangnya. Lantas, kenapa dia datang ke pesta ini? Mas Kavi bilang dia tidak pernah mengundang Gavin.Pria yang tengah menjad

  • Kali Ini Aku yang Akan Menghancurkan Kalian!   Tamu Tak Diundang

    Aku duduk di kursi pelaminan dengan latar belakang yang megah di tengah ballroom mewah hotel bintang lima. Mestinya aku bangga dan bahagia. Namun, kenyataan pahit terus menderaku.“Selamat ya, Bu Gea. Semoga langgeng dan bahagia selalu.” Pria bertubuh tambun menjabat tanganku dengan hangat. Dia salah satu kolega Ayah ... semasa hidupnya.“Terima kasih.” Aku membalas dengan senyuman yang kupaksakan.Di sampingku, Mas Kavi tampak begitu bahagia. Dia menyalami satu per satu tamu undangan dengan senyuman yang semringah. Tangannya sesekali merangkul pinggangku. Perlakuan yang dulu membuatku merasa diperhatikan dan dilindungi. Namun, kini terasa seperti lilitan ular yang siap memangsa kapan saja.Mataku tak sengaja menangkap sosok Kalila yang berdiri tidak jauh dari pelaminan. Dia sedang tertawa kecil sambil berbincang dengan salah satu kolega perusahaan. Dia memang gadis imut yang sangat lancar berkomunikasi. Makanya, dia bertahan di posisi direktur pemasaran di perusahaan kami.Ya, dia da

  • Kali Ini Aku yang Akan Menghancurkan Kalian!   Sosok yang Hilang

    Aku benar-benar tidak habis pikir. Apakah aku atau Ayah pernah menyakiti hati Kalila tanpa sengaja? Siapa tahu, di balik kelembutan dan sifat kekanak-kanakan Kalila, dia punya perasaan yang sensitif. Mungkin ada luka yang menganga akibat kehilangan ayah yang sangat dia cintai.Hatiku terus berbisik pedih, menyampaikan berbagai kemungkinan. Aku harus segera mencari tahu. Kalau memang ada luka yang kami goreskan, aku ingin memperbaikinya. Bagaimanapun, aku sangat menyayangi Kalila.Bagaimana aku bisa percaya kalau malaikat kesayanganku ini adalah seorang pembunuh?“Ge, kenapa wajahmu kayak gitu sih? Tegang banget. Hari bahagia kok kayak orang mau perang,” goda Kalila sembari menggandeng lenganku lembut. Dia menuntunku keluar dari ruang rias menuju hall hotel, tempat resepsi pernikahanku digelar.Aku berusaha menguasai diri. Kalila belum tahu kalau aku sudah bisa mendengar. Biar saja. Biar ini menjadi rahasiaku sementara waktu. Aku menarik napas panjang, memaksakan senyuman tipis agar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status