Masuk“Ah, lega rasanya!” Mas Kavi merentangkan kedua tangan lebar-lebar begitu kami masuk ke kamar presiden suite yang sudah didekorasi sedemikian rupa menjadi kamar pengantin. Dua handuk besar dibentuk menyerupai sepasang angsa dan leher mereka membentuk love.
Seharusnya suasana sangat romantis, seperti di kehidupanku sebelumnya. Kamar di hotel bintang lima ini mestinya jadi saksi bisu kebahagiaan kami di malam pertama. Namun, kali ini berbeda.
Aku tidak lagi merasakan keromantisan itu. Harum semerbak kelopak mawar merah dan putih yang ditabur di atas ranjang, juga wangi lilin aromaterapi yang menenangkan harusnya bisa membuat hatiku luluh. Nyatanya, malam ini, semua keindahan itu terasa semu. Hanya sebatas dekorasi yang malah memberikan kesan sunyi, dingin, dan penuh dengan kepalsuan.
Mas Kavi membantu melepas ronce melati yang berat di bahuku. Tangannya yang hangat menyentuh leherku, membuat bulu kudukku berdiri. Dulu ini juga terjadi. Namun, kali ini bulu kudukku berdiri bukan karena cinta.
Entah mengapa, ada rasa muak yang menggelegak di dalam diri. Rasa jijik yang luar biasa terhadap Mas Kavi. Apa ini sebenarnya?
Aku duduk di depan cermin, menatap pantulanku sendiri yang masih mengenakan riasan pengantin lengkap. Aku teringat tatapan Kalila ketika mengantar kami dari ballroom ke lift hotel. Ada percikan tidak suka di matanya.
Apakah dia cemburu? Apakah Mas Kavi yang jadi alasan Kalila membunuhku dan Ayah? Mungkinkah?
“Capek ya, Sayang?” tanya Mas Kavi. Aku melihat pantulan dia di cermin dan bisa membaca gerakan bibirnya.
Mas Kavi tersenyum, lalu mengecup puncak kepalaku. Dia membuat gerakan tangan sederhana, isyarat agar aku segera beristirahat.
Aku mengangguk pelan sembari memaksakan diri untuk tersenyum. “Iya, Mas. Kepalaku agak pening. Sepertinya kita belum bisa malam pertama hari ini. Nggak papa, kan, Mas?”
Aku menjawab secara lisan. Aku sengaja mengatur nada bicara agar tetap terdengar lembut. Jujur saja, aku merasa tidak nyaman dilingkupi teka-teki dan misteri yang belum terpecahkan seperti ini. Aku merasa tidak aman.
“Iya, Sayang. Nggak masalah, kok. Malam pertama kan bisa kapan saja. Kita masih punya banyak waktu.” Mas Kavi mengusap bahuku sekali lagi sebelum beranjak. “Aku mandi dulu ya, Sayang. Gerah.”
Aku hanya diam, pura-pura sibuk melepas perhiasan yang menempel di badan. Aku menarik napas dalam-dalam. Kucoba mengisi paru-paru yang terasa sesak.
Namun, ketenangan itu hanya bertahan beberapa detik saja. Mas Kavi mendekat ke arah meja nakas, mengangkat ponselnya yang berbunyi.
Mas Kavi duduk di tepi ranjang dengan posisi membelakangi aku. Aku tetap duduk menghadap cermin, menahan napas, dan coba mengerahkan segenap kemampuan pendengaranku. Aku ingin tahu, siapa yang menelepon dia malam-malam begini. Sudah jelas bahwa ini adalah malam pertama kami. Sungguh tidak sopan!
“Ya, Kal. Kenapa?” Suara Kavi terdengar lembut. Kemudian, bunyi klik terdengar. Dia menyalakan loud speaker.
“Mmmh, kenapa aku cemburu ya, Mas? Aku nggak rela kamu malam pertama sama dia.”
Dadaku langsung sesak. Jelas itu suara Kalila. Jadi, dugaanku benar kalau Kalila jatuh cinta sama Mas Kavi?
“Kamu ini .... Dia menunda malam pertama. Lagian, kan kamu yang dapatkan keperjakaanku.”
Astaga! Ada apa ini sebenarnya? Tanganku gemetar hebat, menahan amarah.
“Ya ... tetep aja, aku cemburu. Besok kalau dia ajak Mas Kavi malam pertama, pakai kaki aja ya, Mas. Biar dia puas.” Kalila tertawa renyah dan manja. Tawa yang biasanya aku anggap lucu dan menggemaskan, kini terdengar seperti lengkingan tawa iblis yang licik.
“Kamu malah meledek ya.” Mas Kavi mendengus kesal. “Aku sudah muak sebetulnya pura-pura cinta sama wanita cacat ini. Aku cintanya cuma sama kamu, Kal.”
Jantungku serasa dicengkeram oleh tangan raksasa yang tak kasat mata. Inikah yang terjadi selama ini? Mereka bersandiwara di depanku!
Bola mataku memanas. Air mataku mengumpul, tetapi aku sekuat tenaga menahannya agar tidak jatuh. Terpaksa, aku menggigit bibir bawah hingga berdarah, berusaha meredam isak tangis yang nyaris pecah.
“Sabar, Mas Kavi Sayang,” sahut Kalila dengan suara manja yang terkesan dibuat-buat. “Ingat, kita udah berhasil singkirin si tua bangka itu. Dan sekarang dia udah membusuk di dalam tanah. Tinggal selangkah lagi.”
“Iya, Kalila Sayang. Pria itu memang rintangan terbesar kita. Sekarang, wanita cacat ini sudah nggak punya siapa-siapa lagi,” balas Mas Kavi dengan nada dingin.
“Makanya, Mas Kavi buruan suruh dia tanda tangan surat penyerahan aset. Makin cepet dia tanda tangan kan Mas Kavi makin cepet bebas. Dan kita bisa segera nikah.” Kalila terkekeh licik. Suara yang sangat kontras dengan wajah perinya.
“Itu pasti, Kalila Sayang. Aku nggak mau jadi pengasuh wanita tuli ini lama-lama.”
Celaka! Mas Kavi menoleh ke belakang. Tatapan kami saling beradu di dalam cermin.
“Gavin Mahendra, aku harus segera menemuimu,” ucapku dengan penuh tekad.Mumpung Mas Kavi masih di kamar mandi, aku segera meraih ponsel yang dari tadi tergeletak di atas meja rias. Jemariku bergerak lincah menelusuri kolom pencarian. Nama Gavin Mahendra menjadi satu-satunya fokusku malam ini.Di zaman semodern ini, internet merupakan gudang informasi tanpa batasan. Internet menyediakan informasi yang cukup untuk membuatku mencatat beberapa poin penting soal Gavin Mahendra di catatan ponselku.Dia adalah lulusan terbaik dari salah satu universitas ternama di Inggris. Pria yang kemudian mengambil alih kemudi perusahaan Sriyasa Group di usia yang terbilang masih sangat muda. Bukan pria main-main.Dari beberapa berita bisnis, dia terkenal dengan sifat pendiam, dingin, dan seakan tak tersentuh oleh siapa pun. Namun, dia sangat sering memenangkan tender di proyek-proyek pemerintahan, baik yang berskala nasional maupun provinsi.Hmm, sangat kontradiktif. Biasanya, pemenang tender adalah ora
Tatapan kami saling beradu di pantulan cermin selama beberapa detik. Jantungku berdebar keras seakan hendak meloncat keluar dari rongga dada. Wajah Mas Kavi menyiratkan kecurigaan. Masih memegang ponsel di tangan kanan, mata Mas Kavi menyipit, memindai setiap inchi ekspresi wajahku. “Aku curiga sesuatu, Kal,” ujarnya, sengaja menoleh berlawanan arah agar aku tidak bisa membaca gerak bibirnya. Tapi, aku sudah bisa mendengar, Mas!Pertahananku runtuh sudah. Sesak yang dari awal ‘hidup kembali’ kutahan-tahan, akhirnya meledak juga. Aku menangis tersedu-sedu hingga bahu berguncang hebat.“Kamu kenapa, Sayang?” Mas Kavi mendekat, lalu mengusap kepalaku dengan lembut. Itu bukan lagi kelembutan kain sutra yang dia hamparkan di jalan hidupku, melainkan duri tajam yang melukai setiap langkahku.Aku tidak menjawab, hanya terus terisak. Mas Kavi menarik tanganku yang menutupi wajah, lalu memutar tubuhku agar menghadap ke arahnya. Dia berlutut, menggenggam tanganku, menatap dengan wajah sendu
“Ah, lega rasanya!” Mas Kavi merentangkan kedua tangan lebar-lebar begitu kami masuk ke kamar presiden suite yang sudah didekorasi sedemikian rupa menjadi kamar pengantin. Dua handuk besar dibentuk menyerupai sepasang angsa dan leher mereka membentuk love.Seharusnya suasana sangat romantis, seperti di kehidupanku sebelumnya. Kamar di hotel bintang lima ini mestinya jadi saksi bisu kebahagiaan kami di malam pertama. Namun, kali ini berbeda.Aku tidak lagi merasakan keromantisan itu. Harum semerbak kelopak mawar merah dan putih yang ditabur di atas ranjang, juga wangi lilin aromaterapi yang menenangkan harusnya bisa membuat hatiku luluh. Nyatanya, malam ini, semua keindahan itu terasa semu. Hanya sebatas dekorasi yang malah memberikan kesan sunyi, dingin, dan penuh dengan kepalsuan.Mas Kavi membantu melepas ronce melati yang berat di bahuku. Tangannya yang hangat menyentuh leherku, membuat bulu kudukku berdiri. Dulu ini juga terjadi. Namun, kali ini bulu kudukku berdiri bukan karena c
“Siapa dia, Mas? Apa kamu ada masalah sama dia?” tanyaku sambil menatap sekilas ke arah Mas Kavi.Pria di sampingku itu tampak mengetatkan otot-otot rahang. Kentara sekali kalau dia ada masalah besar dengan Gavin itu.“Dia musuh besar kita. Orang yang sudah beberapa kali menjegal program pemasaran perusahaan kita,” jawab Mas Kavi sambil membuat isyarat dengan gerakan tangan. Padahal, aku bisa mendengar dengan jelas semua ucapannya.Gavin Mahendra. Ya, akhirnya aku ingat nama itu. Ayah pernah memuji atau mungkin lebih tepatnya ... mengeluhkan kecerdasan dan kepiawaian seorang pemuda dalam menyaingi bisnisnya. Mereka selalu bersaing ketat dalam setiap tender pekerjaan, terutama di pemerintahan.Selama bertahun-tahun menjadi pebisnis, baru kali itu Ayah dikalahkan oleh pemuda yang usianya jauh di bawah dia. Tidak hanya sekali, tapi beberapa kali. Rupanya ... inilah orangnya. Lantas, kenapa dia datang ke pesta ini? Mas Kavi bilang dia tidak pernah mengundang Gavin.Pria yang tengah menjad
Aku duduk di kursi pelaminan dengan latar belakang yang megah di tengah ballroom mewah hotel bintang lima. Mestinya aku bangga dan bahagia. Namun, kenyataan pahit terus menderaku.“Selamat ya, Bu Gea. Semoga langgeng dan bahagia selalu.” Pria bertubuh tambun menjabat tanganku dengan hangat. Dia salah satu kolega Ayah ... semasa hidupnya.“Terima kasih.” Aku membalas dengan senyuman yang kupaksakan.Di sampingku, Mas Kavi tampak begitu bahagia. Dia menyalami satu per satu tamu undangan dengan senyuman yang semringah. Tangannya sesekali merangkul pinggangku. Perlakuan yang dulu membuatku merasa diperhatikan dan dilindungi. Namun, kini terasa seperti lilitan ular yang siap memangsa kapan saja.Mataku tak sengaja menangkap sosok Kalila yang berdiri tidak jauh dari pelaminan. Dia sedang tertawa kecil sambil berbincang dengan salah satu kolega perusahaan. Dia memang gadis imut yang sangat lancar berkomunikasi. Makanya, dia bertahan di posisi direktur pemasaran di perusahaan kami.Ya, dia da
Aku benar-benar tidak habis pikir. Apakah aku atau Ayah pernah menyakiti hati Kalila tanpa sengaja? Siapa tahu, di balik kelembutan dan sifat kekanak-kanakan Kalila, dia punya perasaan yang sensitif. Mungkin ada luka yang menganga akibat kehilangan ayah yang sangat dia cintai.Hatiku terus berbisik pedih, menyampaikan berbagai kemungkinan. Aku harus segera mencari tahu. Kalau memang ada luka yang kami goreskan, aku ingin memperbaikinya. Bagaimanapun, aku sangat menyayangi Kalila.Bagaimana aku bisa percaya kalau malaikat kesayanganku ini adalah seorang pembunuh?“Ge, kenapa wajahmu kayak gitu sih? Tegang banget. Hari bahagia kok kayak orang mau perang,” goda Kalila sembari menggandeng lenganku lembut. Dia menuntunku keluar dari ruang rias menuju hall hotel, tempat resepsi pernikahanku digelar.Aku berusaha menguasai diri. Kalila belum tahu kalau aku sudah bisa mendengar. Biar saja. Biar ini menjadi rahasiaku sementara waktu. Aku menarik napas panjang, memaksakan senyuman tipis agar







