LOGINTatapan kami saling beradu di pantulan cermin selama beberapa detik. Jantungku berdebar keras seakan hendak meloncat keluar dari rongga dada. Wajah Mas Kavi menyiratkan kecurigaan. Masih memegang ponsel di tangan kanan, mata Mas Kavi menyipit, memindai setiap inchi ekspresi wajahku.
“Aku curiga sesuatu, Kal,” ujarnya, sengaja menoleh berlawanan arah agar aku tidak bisa membaca gerak bibirnya. Tapi, aku sudah bisa mendengar, Mas!
Pertahananku runtuh sudah. Sesak yang dari awal ‘hidup kembali’ kutahan-tahan, akhirnya meledak juga. Aku menangis tersedu-sedu hingga bahu berguncang hebat.
“Kamu kenapa, Sayang?” Mas Kavi mendekat, lalu mengusap kepalaku dengan lembut. Itu bukan lagi kelembutan kain sutra yang dia hamparkan di jalan hidupku, melainkan duri tajam yang melukai setiap langkahku.
Aku tidak menjawab, hanya terus terisak. Mas Kavi menarik tanganku yang menutupi wajah, lalu memutar tubuhku agar menghadap ke arahnya. Dia berlutut, menggenggam tanganku, menatap dengan wajah sendu seolah-olah sedih melihat aku menangis.
“Kenapa menangis? Ada yang sakit?” Dia berucap pelan sambil tangannya bergerak lincah, memperagakan isyarat.
Padahal, sudah lama aku bisa membaca gerak bibir orang lain dan kemungkinan salahnya hanya satu atau dua persen saja. Selebihnya, aku selalu benar. Tapi, Mas Kavi selalu membanggakan diri bahwa dia rela belajar bahasa isyarat demi aku. Dan aku hargai itu.
“Aku ... teringat Ayah. Mestinya dia ... bahagia malam ini melihat pesta pernikahan kita, Mas.” Suaraku tersendat-sendat. Setidaknya, ini alasan paling logis yang bisa aku sampaikan ke dia.
“Aku ... merasa sendirian, Mas,” imbuhku dengan suara serak.
“Kamu nggak sendirian, Sayang,” jawab Mas Kavi, lalu menarikku, larut dalam pelukannya.
“Lebay!” Terdengar suara Kalila dari ponsel Mas Kavi. Rupanya, panggilan belum diakhiri.
“Siapa yang telepon malam-malam begini, Mas? Bukannya dia tahu kalau ini malam pertama kita ya?” tanyaku pelan sambil melerai pelukan.
“Biasa, si Kalila. Siapa lagi?” Mas Kavi tersenyum dan menjawab dengan tenang. Sama sekali tidak terlihat panik. “Dia telepon cuma mau memastikan, apa ada yang kurang di kamar kita atau mungkin kita butuh sesuatu.”
“Oh ....” Hanya itu yang bisa keluar dari mulutku atas jawaban konyol dia.
Saat itu juga, aku mendengar suara Kalila memekik dengan nada mengejek. “Kepo nih ye! Penisirin bingit!”
Rahangku mengetat. Kalila benar-benar kurang ajar! Saat ini dia merasa berdiri di atas angin. Dia pikir aku hanyalah wanita tuli yang tak berguna dan bisa dia injak-injak seenaknya.
Mas Kavi mematikan sambungan telepon secara sepihak. Entah karena melihat ekspresiku yang sedikit berubah atau dia merasa canggung ketika harus berpura-pura baik di depanku sambil mendengarkan celotehan sinis Kalila.
Dia berdiri, lalu meletakkan ponselnya kembali ke atas meja nakas. “Aku mandi dulu ya, Sayang.”
Mas Kavi berjalan menuju kamar mandi. Namun, tiba di ambang pintu, dia berhenti. Dia berbalik dan menatapku dengan tatapan menyelidik. Kecurigaan belum sepenuhnya luntur. Sepertinya dia masih merasa ada yang aneh dengan ekspresiku atau mungkin reaksiku yang terlalu pas dengan keadaan.
Dia masuk ke kamar mandi, tapi tidak menutup pintu dan tidak langsung menuju shower. Aku bisa mendengar dia menyalakan keran di wastafel yang berada tepat di depan pintu kamar mandi. Alirannya deras sekali. Terdengar sampai ke luar kamar mandi.
Dia keluar dengan terburu-buru sambil membawa gelas yang biasa dipakai untuk gosok gigi. Aku bisa melihatnya dengan sudut mata sambil pura-pura sibuk membersihkan make up yang masih menempel tebal di wajahku.
Prang!
Gelas itu dibanting di belakangku. Untung aku sudah bersiap-siap. Jadi, tidak kelihatan kaget sama sekali. Aku tetap tenang dan terus memulaskan kapas ke wajahku. Aku harus terus waspada. Mas Kavi tengah mengujiku. Jangan sampai ketahuan kalau aku sudah bisa mendengar.
Karena sudah waspada, aku sukses di ujian pertama ini. Aku tidak terlonjak, tidak menoleh, bahkan mataku pun tidak sampai berkedip karena terkejut. Kalau mereka bisa bermain drama, kenapa aku tidak?
“Sori, Sayang. Gelasnya malah jatuh,” ujarnya di balik punggungku, masih coba menguji.
Aku tetap memasang wajah datar sambil terus menggosok dahiku dengan kapas. Bekas riasan berwarna hitam itu sangat susah hilang.
Mas Kavi membereskan gelas yang pecah dengan tisu. Dia sengaja membiarkan air di wastafel mengalir deras, tumpah ruah ke lantai kamar mandi. Lagi-lagi dia mengujiku.
Orang tuli tidak akan terganggu dengan suara air yang tumpah. Berbeda dengan orang normal yang pasti akan bergegas menutup kerannya. Aku tetap duduk manis di depan cermin.
Setelah Mas Kavi benar-benar masuk ke kamar mandi dan suara air dari shower terdengar, aku baru bisa bernapas lega. Sekamar dengan suami yang berniat membunuh istrinya, tentu bukan hal yang mudah.
Aku segera menyambar ponselku. Jemari bergerak dengan lincah, mencari informasi tentang seseorang. Gavin Mahendra!
“Gavin Mahendra, aku harus segera menemuimu,” ucapku dengan penuh tekad.Mumpung Mas Kavi masih di kamar mandi, aku segera meraih ponsel yang dari tadi tergeletak di atas meja rias. Jemariku bergerak lincah menelusuri kolom pencarian. Nama Gavin Mahendra menjadi satu-satunya fokusku malam ini.Di zaman semodern ini, internet merupakan gudang informasi tanpa batasan. Internet menyediakan informasi yang cukup untuk membuatku mencatat beberapa poin penting soal Gavin Mahendra di catatan ponselku.Dia adalah lulusan terbaik dari salah satu universitas ternama di Inggris. Pria yang kemudian mengambil alih kemudi perusahaan Sriyasa Group di usia yang terbilang masih sangat muda. Bukan pria main-main.Dari beberapa berita bisnis, dia terkenal dengan sifat pendiam, dingin, dan seakan tak tersentuh oleh siapa pun. Namun, dia sangat sering memenangkan tender di proyek-proyek pemerintahan, baik yang berskala nasional maupun provinsi.Hmm, sangat kontradiktif. Biasanya, pemenang tender adalah ora
Tatapan kami saling beradu di pantulan cermin selama beberapa detik. Jantungku berdebar keras seakan hendak meloncat keluar dari rongga dada. Wajah Mas Kavi menyiratkan kecurigaan. Masih memegang ponsel di tangan kanan, mata Mas Kavi menyipit, memindai setiap inchi ekspresi wajahku. “Aku curiga sesuatu, Kal,” ujarnya, sengaja menoleh berlawanan arah agar aku tidak bisa membaca gerak bibirnya. Tapi, aku sudah bisa mendengar, Mas!Pertahananku runtuh sudah. Sesak yang dari awal ‘hidup kembali’ kutahan-tahan, akhirnya meledak juga. Aku menangis tersedu-sedu hingga bahu berguncang hebat.“Kamu kenapa, Sayang?” Mas Kavi mendekat, lalu mengusap kepalaku dengan lembut. Itu bukan lagi kelembutan kain sutra yang dia hamparkan di jalan hidupku, melainkan duri tajam yang melukai setiap langkahku.Aku tidak menjawab, hanya terus terisak. Mas Kavi menarik tanganku yang menutupi wajah, lalu memutar tubuhku agar menghadap ke arahnya. Dia berlutut, menggenggam tanganku, menatap dengan wajah sendu
“Ah, lega rasanya!” Mas Kavi merentangkan kedua tangan lebar-lebar begitu kami masuk ke kamar presiden suite yang sudah didekorasi sedemikian rupa menjadi kamar pengantin. Dua handuk besar dibentuk menyerupai sepasang angsa dan leher mereka membentuk love.Seharusnya suasana sangat romantis, seperti di kehidupanku sebelumnya. Kamar di hotel bintang lima ini mestinya jadi saksi bisu kebahagiaan kami di malam pertama. Namun, kali ini berbeda.Aku tidak lagi merasakan keromantisan itu. Harum semerbak kelopak mawar merah dan putih yang ditabur di atas ranjang, juga wangi lilin aromaterapi yang menenangkan harusnya bisa membuat hatiku luluh. Nyatanya, malam ini, semua keindahan itu terasa semu. Hanya sebatas dekorasi yang malah memberikan kesan sunyi, dingin, dan penuh dengan kepalsuan.Mas Kavi membantu melepas ronce melati yang berat di bahuku. Tangannya yang hangat menyentuh leherku, membuat bulu kudukku berdiri. Dulu ini juga terjadi. Namun, kali ini bulu kudukku berdiri bukan karena c
“Siapa dia, Mas? Apa kamu ada masalah sama dia?” tanyaku sambil menatap sekilas ke arah Mas Kavi.Pria di sampingku itu tampak mengetatkan otot-otot rahang. Kentara sekali kalau dia ada masalah besar dengan Gavin itu.“Dia musuh besar kita. Orang yang sudah beberapa kali menjegal program pemasaran perusahaan kita,” jawab Mas Kavi sambil membuat isyarat dengan gerakan tangan. Padahal, aku bisa mendengar dengan jelas semua ucapannya.Gavin Mahendra. Ya, akhirnya aku ingat nama itu. Ayah pernah memuji atau mungkin lebih tepatnya ... mengeluhkan kecerdasan dan kepiawaian seorang pemuda dalam menyaingi bisnisnya. Mereka selalu bersaing ketat dalam setiap tender pekerjaan, terutama di pemerintahan.Selama bertahun-tahun menjadi pebisnis, baru kali itu Ayah dikalahkan oleh pemuda yang usianya jauh di bawah dia. Tidak hanya sekali, tapi beberapa kali. Rupanya ... inilah orangnya. Lantas, kenapa dia datang ke pesta ini? Mas Kavi bilang dia tidak pernah mengundang Gavin.Pria yang tengah menjad
Aku duduk di kursi pelaminan dengan latar belakang yang megah di tengah ballroom mewah hotel bintang lima. Mestinya aku bangga dan bahagia. Namun, kenyataan pahit terus menderaku.“Selamat ya, Bu Gea. Semoga langgeng dan bahagia selalu.” Pria bertubuh tambun menjabat tanganku dengan hangat. Dia salah satu kolega Ayah ... semasa hidupnya.“Terima kasih.” Aku membalas dengan senyuman yang kupaksakan.Di sampingku, Mas Kavi tampak begitu bahagia. Dia menyalami satu per satu tamu undangan dengan senyuman yang semringah. Tangannya sesekali merangkul pinggangku. Perlakuan yang dulu membuatku merasa diperhatikan dan dilindungi. Namun, kini terasa seperti lilitan ular yang siap memangsa kapan saja.Mataku tak sengaja menangkap sosok Kalila yang berdiri tidak jauh dari pelaminan. Dia sedang tertawa kecil sambil berbincang dengan salah satu kolega perusahaan. Dia memang gadis imut yang sangat lancar berkomunikasi. Makanya, dia bertahan di posisi direktur pemasaran di perusahaan kami.Ya, dia da
Aku benar-benar tidak habis pikir. Apakah aku atau Ayah pernah menyakiti hati Kalila tanpa sengaja? Siapa tahu, di balik kelembutan dan sifat kekanak-kanakan Kalila, dia punya perasaan yang sensitif. Mungkin ada luka yang menganga akibat kehilangan ayah yang sangat dia cintai.Hatiku terus berbisik pedih, menyampaikan berbagai kemungkinan. Aku harus segera mencari tahu. Kalau memang ada luka yang kami goreskan, aku ingin memperbaikinya. Bagaimanapun, aku sangat menyayangi Kalila.Bagaimana aku bisa percaya kalau malaikat kesayanganku ini adalah seorang pembunuh?“Ge, kenapa wajahmu kayak gitu sih? Tegang banget. Hari bahagia kok kayak orang mau perang,” goda Kalila sembari menggandeng lenganku lembut. Dia menuntunku keluar dari ruang rias menuju hall hotel, tempat resepsi pernikahanku digelar.Aku berusaha menguasai diri. Kalila belum tahu kalau aku sudah bisa mendengar. Biar saja. Biar ini menjadi rahasiaku sementara waktu. Aku menarik napas panjang, memaksakan senyuman tipis agar







