Share

Sosok yang Hilang

last update Last Updated: 2026-03-11 11:23:18

Aku benar-benar tidak habis pikir. Apakah aku atau Ayah pernah menyakiti hati Kalila tanpa sengaja? Siapa tahu, di balik kelembutan dan sifat kekanak-kanakan Kalila, dia punya perasaan yang sensitif. Mungkin ada luka yang menganga akibat kehilangan ayah yang sangat dia cintai.

Hatiku terus berbisik pedih, menyampaikan berbagai kemungkinan. Aku harus segera mencari tahu. Kalau memang ada luka yang kami goreskan, aku ingin memperbaikinya. Bagaimanapun, aku sangat menyayangi Kalila.

Bagaimana aku bisa percaya kalau malaikat kesayanganku ini adalah seorang pembunuh?

“Ge, kenapa wajahmu kayak gitu sih? Tegang banget. Hari bahagia kok kayak orang mau perang,” goda Kalila sembari menggandeng lenganku lembut. Dia menuntunku keluar dari ruang rias menuju hall hotel, tempat resepsi pernikahanku digelar.

Aku berusaha menguasai diri. Kalila belum tahu kalau aku sudah bisa mendengar. Biar saja. Biar ini menjadi rahasiaku sementara waktu.   

Aku menarik napas panjang, memaksakan senyuman tipis agar tidak merusak suasana pesta. Terlebih lagi, aku tidak mau membuat Mas Kavi dan keluarganya kecewa. Aku harus tetap berperan sebagai Gea yang tuli di depan mereka. Setidaknya sampai aku tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Langkah kami bergema di sepanjang lorong yang ada di bagian samping ballroom menuju pintu depan. Tentu saja aku harus masuk dari sana. Hmmm, aneh. Kenapa Ayah tidak ada ya?

Ketika pintu besar ballroom dibuka, cahaya dari lampu kristal yang menggantung mewah di bagian tengah ruangan langsung menyambutku. Tak hanya itu, riuh rendah suara tamu undangan langsung memenuhi indra pendengaranku.

Hampir semua mata kini tertuju ke arahku. Aku menyapukan pandangan ke seluruh ruangan, mencari satu sosok yang paling aku butuhkan saat ini. Sosok pelindungku.

“Kamu cari siapa, Ge? Kok, malah celingukan. Itu ... Kavi udah ada di pelaminan,” ujar Kalila sembari menepuk pelan tanganku yang menggandeng lengannya. Dia menunjuk juga dengan gerakan dagunya. Dia tampak heran melihat gelagatku.

“Ayah di mana ya, Kal? Kok, belum kelihatan.” Aku berucap pelan dengan bibir bergetar. Di kehidupan sebelumnya, Ayah-lah yang berdiri di sampingku menuju pelaminan. Dia yang seharusnya menggandengku saat ini. Bukan Kalila.

Langkah Kalila sempat membeku selama sepersekian detik. Dia menatapku dengan kerutan tebal di dahinya. Ekspresinya berubah menjadi campuran antara bingung dan kasihan.

“Kamu ngomong apa sih, Ge? Kamu masih syok ya?” Kalila kembali menepuk-nepuk tanganku.

“Ayah di mana, Kal? Aku mau ketemu sama Ayah.” Aku terus mendesak sambil sesekali memulas senyum agar para tamu tidak merasa janggal. Rasa cemas mulai merayap di dadaku.

“Sadar, Ge! Ayah udah meninggal dua minggu lalu. Dia tewas ngelawan perampok di jalanan. Apa kamu nggak inget?” Mata Kalila sampai membelalak sempurna.

Duniaku serasa runtuh untuk kedua kalinya. Tiba-tiba lututku lemas. Untung Kalila segera menahan tubuhku.

Ayah sudah meninggal? Dua minggu lalu? Bagaimana bisa?

Di kehidupan sebelumnya, Ayah masih hidup di hari pernikahanku. Dia masih sempat memberikan restu. Kenapa di kehidupan ini semuanya jadi berubah? Kenapa Ayah meninggal lebih cepat?

Apakah ... nyawa Ayah ditukar dengan kesempatan kedua yang aku terima? Kalau memang benar begitu, aku tidak mau, Tuhan. Biarkan aku dan Ayah berkumpul bersama di liang kubur!

Aku menatap sekeliling dengan pandangan kabur. Ada yang salah. Banyak hal berubah di kehidupan yang sekarang. Apa mungkin pembunuhku juga berubah dan kini diperankan oleh Kalila?

Sungguh aku tak tahu, apakah ini kesempatan kedua atau malah awal dari neraka yang lebih mengerikan.

“Wajahmu pucet banget, Sayang. Duduk dulu ya.” Kavi langsung menyambutku dan mendudukkan di pelaminan. Dengan sigap dia memberi tanda ke petugas wedding organizer untuk segera mengambilkan air minum untukku.

“Kamu pasti kecapekan gara-gara persiapan pesta pernikahan kita ini. Maaf ya, kemarin-kemarin aku jarang bantuin kamu.” Kavi berujar pelan seraya membuat gerakan tangan. Ya, demi aku, dia rela mempelajari bahasa isyarat. Dan aku tahu, selama beberapa bulan sebelumnya dia sangat sibuk mengurus perusahaan.

Aku hendak mengatakan sesuatu, tetapi kepala terasa berat. Jadi, aku memilih diam. Beberapa detik kemudian, Kavi menyodorkan sebotol air mineral yang sudah dibuka tutupnya.

Pandangan mulai jernih kembali setelah meminum dua teguk air. Saat itulah, tanpa sengaja, aku menangkap senyum sinis di wajah Kalila yang berdiri di dekat pelaminan.

Sejurus kemudian, Kalila kembali mendekat ke arahku. Dia menggenggam tanganku dengan lembut, lalu berkata, “Tahan, Ge. Ini hari bahagia kalian. Kamu jangan sakit, dong.”

Aku membalas dengan senyuman sambil mengangguk ringan. Benar kata Kalila, aku tidak boleh mengacaukan pesta pernikahanku dengan Mas Kavi. Urusan lain harus dikesampingkan dulu. Nanti aku pikirkan lagi setelah pesta ini usai.  

Adik angkatku itu berdiri, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Mas Kavi. Dia membisikkan sesuatu. Samar, tidak terlalu jelas, tetapi membuat keningku berkerut seketika.

“Kita lihat berapa lama dia bisa bertahan dan bahagia.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kali Ini Aku yang Akan Menghancurkan Kalian!   Sosok Pria Misterius

    “Gavin Mahendra, aku harus segera menemuimu,” ucapku dengan penuh tekad.Mumpung Mas Kavi masih di kamar mandi, aku segera meraih ponsel yang dari tadi tergeletak di atas meja rias. Jemariku bergerak lincah menelusuri kolom pencarian. Nama Gavin Mahendra menjadi satu-satunya fokusku malam ini.Di zaman semodern ini, internet merupakan gudang informasi tanpa batasan. Internet menyediakan informasi yang cukup untuk membuatku mencatat beberapa poin penting soal Gavin Mahendra di catatan ponselku.Dia adalah lulusan terbaik dari salah satu universitas ternama di Inggris. Pria yang kemudian mengambil alih kemudi perusahaan Sriyasa Group di usia yang terbilang masih sangat muda. Bukan pria main-main.Dari beberapa berita bisnis, dia terkenal dengan sifat pendiam, dingin, dan seakan tak tersentuh oleh siapa pun. Namun, dia sangat sering memenangkan tender di proyek-proyek pemerintahan, baik yang berskala nasional maupun provinsi.Hmm, sangat kontradiktif. Biasanya, pemenang tender adalah ora

  • Kali Ini Aku yang Akan Menghancurkan Kalian!   Tunggu Pembalasanku!

    Tatapan kami saling beradu di pantulan cermin selama beberapa detik. Jantungku berdebar keras seakan hendak meloncat keluar dari rongga dada. Wajah Mas Kavi menyiratkan kecurigaan. Masih memegang ponsel di tangan kanan, mata Mas Kavi menyipit, memindai setiap inchi ekspresi wajahku. “Aku curiga sesuatu, Kal,” ujarnya, sengaja menoleh berlawanan arah agar aku tidak bisa membaca gerak bibirnya. Tapi, aku sudah bisa mendengar, Mas!Pertahananku runtuh sudah. Sesak yang dari awal ‘hidup kembali’ kutahan-tahan, akhirnya meledak juga. Aku menangis tersedu-sedu hingga bahu berguncang hebat.“Kamu kenapa, Sayang?” Mas Kavi mendekat, lalu mengusap kepalaku dengan lembut. Itu bukan lagi kelembutan kain sutra yang dia hamparkan di jalan hidupku, melainkan duri tajam yang melukai setiap langkahku.Aku tidak menjawab, hanya terus terisak. Mas Kavi menarik tanganku yang menutupi wajah, lalu memutar tubuhku agar menghadap ke arahnya. Dia berlutut, menggenggam tanganku, menatap dengan wajah sendu

  • Kali Ini Aku yang Akan Menghancurkan Kalian!   Topeng yang Mulai Retak

    “Ah, lega rasanya!” Mas Kavi merentangkan kedua tangan lebar-lebar begitu kami masuk ke kamar presiden suite yang sudah didekorasi sedemikian rupa menjadi kamar pengantin. Dua handuk besar dibentuk menyerupai sepasang angsa dan leher mereka membentuk love.Seharusnya suasana sangat romantis, seperti di kehidupanku sebelumnya. Kamar di hotel bintang lima ini mestinya jadi saksi bisu kebahagiaan kami di malam pertama. Namun, kali ini berbeda.Aku tidak lagi merasakan keromantisan itu. Harum semerbak kelopak mawar merah dan putih yang ditabur di atas ranjang, juga wangi lilin aromaterapi yang menenangkan harusnya bisa membuat hatiku luluh. Nyatanya, malam ini, semua keindahan itu terasa semu. Hanya sebatas dekorasi yang malah memberikan kesan sunyi, dingin, dan penuh dengan kepalsuan.Mas Kavi membantu melepas ronce melati yang berat di bahuku. Tangannya yang hangat menyentuh leherku, membuat bulu kudukku berdiri. Dulu ini juga terjadi. Namun, kali ini bulu kudukku berdiri bukan karena c

  • Kali Ini Aku yang Akan Menghancurkan Kalian!   Bisikan dari Masa Lalu

    “Siapa dia, Mas? Apa kamu ada masalah sama dia?” tanyaku sambil menatap sekilas ke arah Mas Kavi.Pria di sampingku itu tampak mengetatkan otot-otot rahang. Kentara sekali kalau dia ada masalah besar dengan Gavin itu.“Dia musuh besar kita. Orang yang sudah beberapa kali menjegal program pemasaran perusahaan kita,” jawab Mas Kavi sambil membuat isyarat dengan gerakan tangan. Padahal, aku bisa mendengar dengan jelas semua ucapannya.Gavin Mahendra. Ya, akhirnya aku ingat nama itu. Ayah pernah memuji atau mungkin lebih tepatnya ... mengeluhkan kecerdasan dan kepiawaian seorang pemuda dalam menyaingi bisnisnya. Mereka selalu bersaing ketat dalam setiap tender pekerjaan, terutama di pemerintahan.Selama bertahun-tahun menjadi pebisnis, baru kali itu Ayah dikalahkan oleh pemuda yang usianya jauh di bawah dia. Tidak hanya sekali, tapi beberapa kali. Rupanya ... inilah orangnya. Lantas, kenapa dia datang ke pesta ini? Mas Kavi bilang dia tidak pernah mengundang Gavin.Pria yang tengah menjad

  • Kali Ini Aku yang Akan Menghancurkan Kalian!   Tamu Tak Diundang

    Aku duduk di kursi pelaminan dengan latar belakang yang megah di tengah ballroom mewah hotel bintang lima. Mestinya aku bangga dan bahagia. Namun, kenyataan pahit terus menderaku.“Selamat ya, Bu Gea. Semoga langgeng dan bahagia selalu.” Pria bertubuh tambun menjabat tanganku dengan hangat. Dia salah satu kolega Ayah ... semasa hidupnya.“Terima kasih.” Aku membalas dengan senyuman yang kupaksakan.Di sampingku, Mas Kavi tampak begitu bahagia. Dia menyalami satu per satu tamu undangan dengan senyuman yang semringah. Tangannya sesekali merangkul pinggangku. Perlakuan yang dulu membuatku merasa diperhatikan dan dilindungi. Namun, kini terasa seperti lilitan ular yang siap memangsa kapan saja.Mataku tak sengaja menangkap sosok Kalila yang berdiri tidak jauh dari pelaminan. Dia sedang tertawa kecil sambil berbincang dengan salah satu kolega perusahaan. Dia memang gadis imut yang sangat lancar berkomunikasi. Makanya, dia bertahan di posisi direktur pemasaran di perusahaan kami.Ya, dia da

  • Kali Ini Aku yang Akan Menghancurkan Kalian!   Sosok yang Hilang

    Aku benar-benar tidak habis pikir. Apakah aku atau Ayah pernah menyakiti hati Kalila tanpa sengaja? Siapa tahu, di balik kelembutan dan sifat kekanak-kanakan Kalila, dia punya perasaan yang sensitif. Mungkin ada luka yang menganga akibat kehilangan ayah yang sangat dia cintai.Hatiku terus berbisik pedih, menyampaikan berbagai kemungkinan. Aku harus segera mencari tahu. Kalau memang ada luka yang kami goreskan, aku ingin memperbaikinya. Bagaimanapun, aku sangat menyayangi Kalila.Bagaimana aku bisa percaya kalau malaikat kesayanganku ini adalah seorang pembunuh?“Ge, kenapa wajahmu kayak gitu sih? Tegang banget. Hari bahagia kok kayak orang mau perang,” goda Kalila sembari menggandeng lenganku lembut. Dia menuntunku keluar dari ruang rias menuju hall hotel, tempat resepsi pernikahanku digelar.Aku berusaha menguasai diri. Kalila belum tahu kalau aku sudah bisa mendengar. Biar saja. Biar ini menjadi rahasiaku sementara waktu. Aku menarik napas panjang, memaksakan senyuman tipis agar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status