LOGINSaat rombongan kelompok delapan baru saja keluar dari Hotel Permata Timur, dengan Ishak yang membawa kepala Wang Tao yang dibungkus dalam kantong kain hitam, mereka disambut oleh pemandangan yang tidak mereka sangka.Puluhan orang berdiri berjajar di sepanjang jalan di depan hotel. Wajah-wajah yang Wandra kenali. Wajah-wajah anggota kelompok delapan yang tadi melarikan diri satu per satu sepanjang perjalanan menuju hotel.Mereka kembali.Wajah mereka pucat oleh rasa malu yang sangat besar. Beberapa menundukkan kepala dan tidak berani menatap Pedro. Beberapa yang lain berdiri dengan tangan mengepal di samping tubuh dan rahang yang mengeras, ekspresi orang-orang yang sudah bertarung melawan rasa takut mereka dan akhirnya memilih untuk kembali meskipun mungkin sudah terlambat.Seorang di antara mereka yang paling tua, seorang pria berumur sekitar empat puluh tahun yang sudah menjadi anggota kelompok delapan sejak zaman ayah Pedro, melangkah maju dengan kepala tertunduk."Bos Pedro," pria
Ishak yang masih berdiri di ambang pintu dengan pedang yang sekarang menggantung lemas di tangannya memandang Wandra dengan ekspresi yang tidak bisa digambarkan oleh kata-kata. Pemuda yang dia loloskan karena sogokan satu batang emas. Pemuda yang dia carikan alasan kasihan supaya tidak diusir oleh Pedro. Pemuda yang dia anggap tidak tahu apa-apa tentang bahaya misi ini.Pemuda itu sekarang beradu pukulan dengan Wang Tao.Di dalam kamar hotel yang sudah hancur berantakan, Wandra dan Wang Tao saling bertukar serangan dengan kecepatan yang membuat udara berdesing. Pukulan Wang Tao yang membawa energi alam manusia suci level dua menghancurkan segala yang disentuhnya. Tempat tidur terbelah dua. Meja rias hancur berkeping-keping. Dinding retak dan runtuh.Wandra menyambut setiap serangan dengan kekuatan yang setara. Pukulannya bertemu pukulan Wang Tao di udara, menghasilkan gelombang kejut yang memecahkan semua kaca di kamar dan koridor sekitarnya.Wang Tao yang awalnya menyerang dengan kem
Mereka masuk ke lobi hotel. Pedro berbicara singkat dengan resepsionis untuk mengkonfirmasi bahwa tamu di kamar 512 masih berada di tempatnya. Resepsionis yang mengenali simbol Hung Sing di pakaian mereka langsung mengangguk tanpa banyak bertanya.Rombongan naik ke lantai lima menggunakan tangga karena Pedro tidak ingin bunyi lift memperingatkan target. Mereka berjalan menyusuri koridor lantai lima yang sepi dan berhenti di depan pintu kamar 512.Wandra yang berjalan di barisan belakang memindai isi kamar dengan roh primordialnya. Di dalam sana, dia merasakan kehadiran dua orang. Yang satu memiliki aura kultivasi yang sangat kuat, alam manusia suci level dua. Yang satu lagi tidak memiliki kultivasi sama sekali, seorang wanita biasa.Wandra melihat kondisi teman-teman barunya. Ishak yang berdiri di depan pintu dengan pedang terhunus di tangan yang gemetar. Pedro yang berdiri di belakang Ishak dengan wajah yang sudah menerima kematian. Alfa yang berdiri lebih jauh di belakang dengan waj
Alfa yang tadi siang masih berjalan dengan sombong kini duduk di sudut dengan botol wiski yang sudah setengah kosong di tangannya. Matanya menerawang jauh. Baru beberapa jam yang lalu dia merasa menjadi orang penting karena disanjung oleh Pedro. Sekarang dia menyadari bahwa sanjungan itu tidak ada nilainya kalau besok dia sudah menjadi mayat.Pedro sendiri duduk di sofa utama dengan dua botol anggur yang sudah kosong di meja di hadapannya. Ishak duduk di sampingnya dengan wajah yang sudah memerah karena alkohol."Ishak," Pedro berkata dengan lidah yang sudah sedikit berat. "Menurutmu, kalau ayahku masih hidup, apakah dia akan bangga melihatku sekarang?"Ishak yang sudah mengabdi kepada keluarga Ponco sejak zaman ayah Pedro memandang bosnya dengan mata yang berkaca-kaca. "Ayahmu akan bangga karena kamu tidak pernah menyerah, Bos. Meskipun semua orang meremehkanmu. Meskipun kamu ditendang dari lift. Meskipun kelompokmu paling kecil. Kamu tetap berdiri."Pedro tertawa pahit. "Ya, aku tet
Kata kehormatan yang diucapkan Pao Pao membuat beberapa raja muda menelan ludah. Mereka tahu bahwa menolak kehormatan dari Pao Pao sama dengan menandatangani surat kematian mereka sendiri. Tapi menerima kehormatan untuk memburu Wang Tao juga bisa berarti kematian.Seorang juri naik ke panggung membawa sebuah kotak besar berisi delapan bola bernomor. Undian akan dilakukan secara acak untuk menentukan kelompok mana yang mendapatkan misi ini.Tapi sebelum undian dimulai, Wandra melihat sesuatu yang menarik. Beberapa raja muda secara diam-diam memberikan isyarat kepada juri. Isyarat yang sangat halus, nyaris tidak terlihat oleh mata biasa. Sebuah anggukan kecil disertai gerakan tangan yang menyembunyikan sesuatu. Sogokan.Raja muda kelompok enam menganggukkan kepalanya ke arah juri sambil tangannya yang tersembunyi di balik punggung memegang sesuatu yang terlihat seperti amplop. Raja muda kelompok lima melakukan hal serupa. Kelompok empat. Kelompok tiga. Satu per satu, para raja muda yang
Pedro berdiri di depan tangga darurat dengan wajah yang sudah kehilangan semua kegembiraan yang dia tunjukkan tadi. Di belakangnya, tujuh puluh tujuh anggota kelompok delapan berdiri dalam keheningan yang sangat berat. Tidak ada yang berani bicara. Tidak ada yang berani mengomentari apa yang baru saja terjadi.Tapi di mata mereka semua, terutama rekrutan-rekrutan baru, sebuah kesadaran yang menyakitkan sudah terbentuk. Kelompok delapan bukan hanya kelompok yang paling lemah. Kelompok delapan adalah kelompok yang bisa ditindas oleh siapa pun, kapan pun, di mana pun. Bahkan di dalam gedung organisasi mereka sendiri.Alfa yang tadi berjalan dengan dada membusung dan dagu terangkat kini berjalan dengan langkah yang lebih pelan dan mata yang menerawang. Sanjungan Pedro dan Ishak tadi mulai terasa kosong. Menjadi andalan kelompok delapan ternyata tidak seistimewa yang dia bayangkan.Wandra yang berjalan di barisan paling belakang tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Dia hanya berjalan menaik
Malam itu, setelah mandi dan mengganti pakaian dengan baju bersih, Wandra duduk di tepi tempat tidur kamar tamu. Ia menatap kalung liontin yang masih ia kenakan.Di bawah lampu kamar, liontin itu tampak biasa saja—hanya logam kusam dengan ukiran aneh. Tapi Wandra tahu, benda ini sama sekali tidak b
Wandra terkejut mendengar tawaran itu. "Tapi, Dok... saya tidak enak. Kita baru saja kenal.""Justru karena kita baru kenal dan kamu sudah berani mengorbankan nyawamu untukku, aku merasa harus membalas budi," sahut Caroline. "Lagipula, apartemenku cukup besar. Ada kamar tamu yang tidak pernah terpa
Caroline menatap liontin di leher Wandra dengan tatapan penuh tanda tanya. Sebagai orang yang berpendidikan tinggi dan terlatih dalam ilmu kedokteran modern, dia tidak percaya dengan hal-hal mistis atau supernatural. Pasti ada penjelasan ilmiah di balik semua ini. Mungkin lukanya tidak sedalam yang
Di kota besar seperti ini, di mana tidak ada yang saling mengenal, lebih aman untuk tutup mata dan jalan terus.Tapi Wandra tidak bisa melakukan itu. Didikan orang tuanya dan neneknya mengajarkan bahwa menolong orang yang dalam kesulitan adalah kewajiban, bukan pilihan. Meskipun dia tahu risikonya







