LOGINSetelah Viona dan Baskoro pergi, kamar itu kembali sunyi. Wandra masih memegang cermin kuno itu beberapa saat, memandang permukaannya yang buram. Tidak ada getaran energi. Tidak ada petunjuk. Ia tidak tahu cara mengaktifkannya, sama seperti yang dikatakan Mayang.Akhirnya Wandra meletakkan cermin itu di meja kecil dekat tempat tidur, di samping lampu minyak yang sudah hampir padam. “Nanti saja,” gumamnya pelan. “Kalau waktunya tiba, rahasianya akan terbuka sendiri.”Ia menoleh ke ranjang.Mayang sudah terlelap. Cahaya redup dari jendela kecil kapal menerangi tubuhnya yang hanya diselimuti kain tipis. Napasnya teratur. Rambutnya tergerai di bantal. Kain itu sedikit tersingkap di dada, memperlihatkan lekuk payudara Mayang yang montok dan penuh, kulitnya tampak lembut di bawah cahaya malam.Wandra berdiri di tepi ranjang cukup lama. Gairah yang sempat tertahan selama percakapan tadi naik lagi dengan cepat. Ia duduk perlahan di sisi Mayang, berhati-hati agar tidak langsung membangunkannya
Malam itu, setelah keramaian akibat kekalahan Sekte Naga Laut mulai mereda dan sebagian besar penumpang kembali ke aktivitas normal mereka, sebuah ketukan pelan terdengar di pintu kamar Wandra dan Mayang.Wandra membuka pintu dan menemukan Viona berdiri di sana bersama pelayan tuanya, wajah keduanya menunjukkan campuran antara rasa syukur dan keseriusan."Boleh kami masuk sebentar?" Viona bertanya dengan suara yang sopan. "Ada sesuatu yang ingin aku ceritakan, dan sesuatu yang ingin aku berikan sebagai tanda terima kasih."Wandra mempersilakan mereka masuk. Mayang, yang sedang duduk di dekat jendela kecil kamar mereka, mengangguk ramah kepada kedua tamu itu.Setelah duduk dengan canggung di kursi kayu sederhana yang tersedia, Viona menarik napas panjang sebelum mulai bercerita."Aku belum sepenuhnya jujur tentang siapa aku sebenarnya," Viona memulai, matanya menerawang jauh seolah mengingat kenangan yang sangat menyakitkan. "Namaku Viona Montenegra. Aku adalah keturunan dari Klan Mont
Salah satu dari kedua sosok itu, seorang pria bertubuh besar dengan wajah keras dan bekas luka melintang di dahinya, adalah Gambia, ketua Sekte Naga Laut yang sebenarnya, jauh lebih berkuasa dari Burundi yang sebelumnya dikalahkan Wandra.Di sampingnya, seorang pria tua dengan janggut putih panjang, matanya memancarkan kebijaksanaan yang sudah teruji selama ratusan tahun, adalah Gabon, Penatua Agung Sekte Naga Laut.Keduanya berada di level dua belas alam manusia roh, level tertinggi yang bisa dicapai sebelum menembus ke alam berikutnya, kekuatan yang jauh melampaui apa pun yang pernah Wandra hadapi sebelumnya, bahkan melebihi Sang Penguasa yang baru saja dia kalahkan."Jadi kau yang berani mempermalukan Sekte Naga Laut," Gambia berkata dengan suara yang bergema di atas permukaan laut, matanya memancarkan kemarahan yang membara. "Kau akan membayar mahal untuk itu."Tanpa memberikan waktu untuk berbicara lebih lanjut, Gambia dan Gabon menyerang secara bersamaan, energi yang mereka lepa
Pertarungan itu berlangsung dengan intensitas yang luar biasa. Burundi, sebagai kultivator alam manusia roh level sembilan, mengeluarkan berbagai teknik mematikan yang sudah dia kuasai selama puluhan tahun kehidupannya sebagai salah satu tetua Sekte Naga Laut.Gelombang-gelombang energi yang dia lepaskan membelah permukaan laut, menciptakan pusaran-pusaran air yang berputar dengan kekuatan yang mengerikan.Tapi Wandra, dengan kultivasinya yang kini telah mencapai level tiga ribu di alam pemurnian tubuh, sebuah pencapaian yang bahkan tidak pernah dia bayangkan bisa dicapai sebelumnya, menyambut setiap serangan itu dengan ketenangan yang luar biasa. Setiap pukulan Burundi yang dibalas Wandra selalu berhasil menembus pertahanannya, meninggalkan luka demi luka di tubuh sang pemimpin Sekte Naga Laut.Pertarungan itu berlangsung cukup lama, air laut di sekitar mereka bergolak hebat, ombak-ombak besar tercipta akibat benturan-benturan energi yang begitu dahsyat. Tapi pada akhirnya, meskipun
Kapal hitam Sekte Naga Laut merapat di sisi Leviathan dengan gerakan yang begitu presisi, seolah tidak ada air laut yang bisa menghalangi kehendaknya. Sebuah jembatan kayu diturunkan, dan satu per satu, para punggawa Sekte Naga Laut mulai melangkah naik ke geladak Leviathan.Yang berjalan paling depan adalah seorang pria berumur sekitar lima puluh tahun, tubuhnya tinggi dan kekar dengan kulit yang gelap terbakar matahari laut, matanya tajam seperti elang yang mengawasi mangsanya. Jubahnya berwarna biru tua dengan sulaman benang perak berbentuk naga yang melingkar di sekujur kain, sebuah simbol kekuasaan yang tidak perlu dijelaskan lagi."Burundi," seseorang berbisik dengan suara yang penuh ketakutan di antara kerumunan penumpang.Di belakang Burundi, lima orang lainnya berjalan dengan formasi yang sangat terlatih, masing-masing memancarkan aura kultivator alam manusia suci dengan level yang bervariasi antara tujuh hingga sembilan, level yang jauh melampaui apa pun yang dimiliki oleh k
Wandra merasakan kemarahan mulai membara di dalam dadanya, tapi dia mengingat peringatan Jack Sparrow untuk tidak membuat masalah selama pelayaran, sebuah syarat yang penting agar mereka bisa mencapai Laut Tibran dengan selamat."Mayang tidak tertarik untuk bertemu siapa pun," Wandra berkata dengan suara yang berusaha tetap tenang meskipun tersirat ketegasan yang jelas.Gerson, yang tidak terbiasa mendapatkan penolakan, membisikkan sesuatu kepada pelayannya. Pria gemuk itu kemudian mulai menyebutkan sejumlah uang yang sangat besar, mencoba menawar agar Wandra bersedia "melepaskan" Mayang untuk bertemu dengan tuan mudanya.Kesabaran Wandra mulai menipis mendengar tawaran menghina itu. Tanpa peringatan, tangannya bergerak cepat, sebuah tamparan yang mendarat telak di wajah pelayan gemuk itu, membuat beberapa giginya terlempar keluar dari mulutnya."Aku sudah bilang, dia tidak tertarik," Wandra berkata dengan suara yang dingin. "Jangan ulangi lagi."Tapi alih-alih ketakutan, Gerson justr
"Ini adalah pusaka keluarga kita," kata Mbah Surti dengan suara yang tiba-tiba menjadi serius. "Kakekmu mendapatkannya dari ayahnya, dan ayahnya mendapatkannya dari ayahnya lagi. Tidak ada yang tahu dari mana asal liontin ini sebenarnya, tapi kakekmu selalu percaya bahwa liontin ini memiliki kekuat
Pagi itu kabut masih menyelimuti Desa Sukamakmur ketika Wandra terbangun oleh suara batuk ayahnya yang begitu memilukan. Suara itu sudah menjadi alarm alami baginya selama tiga bulan terakhir, menggantikan kokok ayam yang biasanya membangunkannya untuk pergi ke sawah.Wandra segera bangkit dari tik
Wandra mulai memegang rambut Caroline sementara pinggul Wandra mulai goyang-goyang. "Ini enak sekali, kak. Makasih banyak, kak. Ini enak sekali.""Ini belum apa-apa, Wandra. Nanti kamu akan merasakan lebih enak saat kembali merasakan liang kenikmatanku," janji Caroline untuk kemudian dia kembali me
Malam itu, setelah mandi dan mengganti pakaian dengan baju bersih, Wandra duduk di tepi tempat tidur kamar tamu. Ia menatap kalung liontin yang masih ia kenakan.Di bawah lampu kamar, liontin itu tampak biasa saja—hanya logam kusam dengan ukiran aneh. Tapi Wandra tahu, benda ini sama sekali tidak b







