LOGINCaroline menatap liontin di leher Wandra dengan tatapan penuh tanda tanya. Sebagai orang yang berpendidikan tinggi dan terlatih dalam ilmu kedokteran modern, dia tidak percaya dengan hal-hal mistis atau supernatural. Pasti ada penjelasan ilmiah di balik semua ini. Mungkin lukanya tidak sedalam yang dia kira. Mungkin dia salah lihat karena panik.
Tapi darah ini... darah di baju Wandra ini terlalu banyak untuk berasal dari luka ringan. "Kamu harus ikut aku ke rumah sakit," kata Caroline dengan tegas. "Aku harus memeriksamu dengan lebih teliti. Tidak mungkin seseorang bisa sembuh secepat ini dari luka seperti itu." Wandra ingin menolak. Dia baru saja sampai di kota ini dan harus segera mencari pekerjaan. Dia tidak punya waktu dan uang untuk pergi ke rumah sakit. Tapi melihat kekhawatiran yang tulus di mata wanita dokter itu, dia akhirnya mengangguk. "Baik, Bu Dokter. Saya ikut." Caroline membimbing Wandra ke mobilnya yang masih terparkir tidak jauh dari lokasi kejadian. Untungnya, mobilnya tidak diganggu oleh para preman tadi. Dia membukakan pintu penumpang untuk Wandra dan memastikan pemuda itu duduk dengan nyaman sebelum berlari ke kursi pengemudi. Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Caroline tidak bisa berhenti melirik Wandra dari sudut matanya. Pemuda itu duduk dengan tenang, sesekali meraba liontin di lehernya dengan ekspresi bingung. Dia terlihat sama terkejutnya dengan Caroline tentang apa yang baru saja terjadi. "Siapa namamu?" tanya Caroline, memecah keheningan. "Wandra, Bu Dokter." "Panggil saja aku Caroline. Dokter Caroline." Dia terdiam sejenak sebelum melanjutkan. "Terima kasih sudah menolongku tadi. Apa yang kamu lakukan sangat berani. Bodoh, tapi berani." Wandra tersenyum tipis. "Saya tidak bisa diam saja melihat Ibu diperlakukan seperti itu. Di desa saya, kami diajari untuk selalu menolong orang yang dalam kesulitan." "Kamu dari desa? Baru pertama kali ke kota ini?" Wandra mengangguk dan menceritakan secara singkat tentang kondisi ayahnya yang sakit dan alasannya datang ke kota untuk mencari pekerjaan. Caroline mendengarkan dengan seksama, sesekali mengangguk-angguk. "Jadi kamu tidak punya tempat tinggal di sini?" tanya Caroline. "Belum, Bu. Eh, Dok Caroline. Saya baru sampai tadi. Belum sempat mencari penginapan." Caroline tidak merespons langsung. Pikirannya sedang sibuk memproses semua yang terjadi hari ini. Pemuda ini baru saja menyelamatkan nyawanya dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri. Dan sekarang, secara ajaib, dia sembuh dari luka yang seharusnya fatal. Ada sesuatu yang sangat tidak biasa tentang semua ini, dan Caroline bertekad untuk mencari tahu. ## Bagian Keenam: Di Rumah Sakit Rumah Sakit Harapan Medika adalah salah satu rumah sakit swasta terbesar di kota itu. Gedungnya menjulang tinggi dengan fasad kaca yang memantulkan sinar matahari sore. Caroline memarkirkan mobilnya di area parkir khusus dokter dan membimbing Wandra masuk melalui pintu samping. Wandra merasa tidak nyaman berada di tempat itu. Lantai marmer yang mengkilap, dinding putih bersih, bau antiseptik yang menyengat, semua itu terasa asing baginya yang terbiasa dengan rumah kayu sederhana dan tanah sawah yang becek. Dia berjalan dengan langkah kaku, takut mengotori lantai dengan sepatunya yang berdebu. Caroline membawanya ke ruang pemeriksaan di lantai dua. Di sepanjang jalan, beberapa perawat dan dokter lain menyapa Caroline dengan ramah. Beberapa dari mereka menatap Wandra dengan penasaran, terutama melihat bajunya yang sobek dan berlumuran darah. Di ruang pemeriksaan, Caroline meminta Wandra untuk berbaring di tempat tidur pasien. Dia kemudian melakukan pemeriksaan menyeluruh, mulai dari memeriksa detak jantung, tekanan darah, hingga melakukan USG pada area yang seharusnya terluka. Hasilnya membuat Caroline semakin bingung. Semua hasil pemeriksaan normal. Tidak ada tanda-tanda trauma internal, tidak ada pendarahan dalam, tidak ada apa-apa. Tubuh Wandra dalam kondisi prima, bahkan lebih sehat dari rata-rata orang seusianya. "Ini tidak masuk akal," gumam Caroline sambil menatap layar USG. Dia kemudian memanggil dua rekan dokternya untuk dimintai pendapat. Dokter Rahman, seorang spesialis bedah, dan Dokter Tania, seorang spesialis penyakit dalam, datang dan mendengarkan cerita Caroline dengan ekspresi skeptis. "Kamu yakin dia benar-benar ditusuk?" tanya Dokter Rahman setelah memeriksa dada Wandra. "Tidak ada bekas luka sama sekali di sini. Kalau benar ditusuk sedalam yang kamu ceritakan, pasti ada bekas jahitan atau setidaknya bekas luka baru." "Aku melihatnya dengan mataku sendiri, Rahman," sahut Caroline dengan nada frustasi. "Pisau itu menancap di dadanya. Darah mengucur kemana-mana. Dia hampir mati di pelukanku." Dokter Tania mengangkat baju Wandra yang berlumuran darah dan memeriksanya. "Darah ini memang darah manusia. Dan jumlahnya cukup banyak untuk menunjukkan luka serius. Tapi kalau memang ada luka seserius itu, tidak mungkin bisa sembuh secepat ini tanpa meninggalkan bekas." "Mungkin Caroline salah lihat karena panik," kata Dokter Rahman dengan nada meragukan. "Mungkin pisaunya tidak benar-benar menembus kulit. Mungkin hanya luka gores yang terlihat parah karena banyak darah." Caroline menggeleng keras. "Aku dokter, Rahman. Aku tahu bedanya luka gores dan luka tusuk. Yang kulihat tadi adalah luka tusuk yang dalam. Aku bahkan bisa melihat dagingnya terbelah." Kedua dokter itu saling pandang dengan tatapan yang jelas menunjukkan bahwa mereka tidak percaya dengan cerita Caroline. Mereka kemudian berpamitan dengan alasan ada pasien lain yang harus ditangani, meninggalkan Caroline dengan perasaan kesal dan bingung. Wandra yang sedari tadi diam saja akhirnya angkat bicara. "Dok Caroline, mungkin mereka benar. Mungkin saya memang tidak tertusuk. Mungkin kita berdua hanya berhalusinasi karena situasi yang menegangkan tadi." Caroline menatap Wandra dengan tatapan tajam. "Kamu sendiri merasakannya, kan? Rasa sakit saat ditusuk itu. Kamu juga merasakan lukamu menutup. Kita berdua tidak mungkin berhalusinasi tentang hal yang sama." Wandra tidak menjawab. Dia tahu apa yang dirasakannya tadi. Rasa sakit yang luar biasa saat pisau itu menembus dadanya, sensasi darah hangat yang mengucur dari lukanya, dan kemudian sensasi aneh saat lukanya menutup dengan sendirinya. Semua itu nyata, bukan halusinasi. Tapi bagaimana menjelaskannya kepada orang lain? Bagaimana meyakinkan dokter-dokter berpendidikan tinggi itu bahwa liontin tua peninggalan kakeknya memiliki kekuatan penyembuhan yang ajaib? Mereka pasti akan menganggapnya gila. Caroline menghela napas panjang dan duduk di kursi di samping tempat tidur Wandra. "Baiklah, terserah mereka mau percaya atau tidak. Yang penting, kamu baik-baik saja sekarang. Itu yang terpenting." Dia menatap Wandra dengan tatapan yang sulit diartikan. "Sekarang, apa rencanamu? Kamu bilang kamu butuh pekerjaan untuk biaya pengobatan ayahmu. Apa kamu sudah punya gambaran mau kerja apa?" Wandra menggeleng. "Belum, Dok. Saya baru sampai di kota ini. Saya belum tahu harus mulai dari mana." Caroline terdiam sejenak, tampak sedang memikirkan sesuatu. Kemudian dia bangkit berdiri dan menatap Wandra dengan tatapan yang sudah lebih tenang. "Kamu sudah menyelamatkan nyawaku hari ini. Entah bagaimana caranya, kamu rela mempertaruhkan hidupmu untuk orang yang sama sekali tidak kamu kenal. Itu bukan sesuatu yang bisa kulupakan begitu saja." Dia berhenti sejenak. "Kamu tidak punya tempat tinggal, kan? Bagaimana kalau untuk sementara kamu tinggal di apartemenku?"“Sebelum kita masuk, Paman Ferdinand,” kata Wandra sambil tersenyum, “izinkan saya memperkenalkan rekan-rekan saya. Ini Mayang, pasangan saya. Dan ini Viona dan Baskoro, dari Klan Montenegra.”Mendengar nama ‘Montenegra’, tubuh Ferdinand tersentak hebat. Ia menatap Viona yang berdiri dengan sopan di belakang Wandra. “Montenegra... Penyembuh lautan dari klan kuno? Kalian... kalian masih memiliki keturunan?!”Viona mengangguk, air mata mulai menggenang. “Saya Viona, cucu buyut dari tetua terakhir Montenegra. Klan kami... telah hancur. Kami hanya ingin mencari perlindungan.”Ferdinand tidak berkata apa-apa. Ia tiba-tiba melepaskan tangan Sherly, melangkah maju, dan melakukan sesuatu yang membuat seluruh penjaga dan pelayan Sanandro ternganga. Patriark yang menyembunyikan kekuatan dewa itu membungkuk dalam-dalam kepada Viona.“Klan Montenegra telah menyelamatkan nyawa leluhur pertama Keluarga Sanandro ribuan tahun lalu dengan ramuan air mata paus purba,” suara Ferdinand bergetar penuh hor
Tangan Wandra meremas. Tidak ada darah yang muncrat. Tubuh fisik Gupta langsung hancur menjadi abu, dan jiwa hijau yang merintih di dalam cengkeraman Wandra meledak menjadi partikel cahaya, lenyap dari alam eksistensi selamanya. Pengendali jiwa terhebat di alam semesta mati bukan oleh teknik spiritual tingkat tinggi, melainkan diremuk oleh tangan kosong seorang kultivator Alam Pemurnian Tubuh.Di sisi lain, Trinity menyaksikan kematian Gupta dengan mata terbelalak. Rasa percaya dirinya runtuh seketika. Ia menatap Mayang, lalu tertawa gugup."M-mayang... Sayang... Kau lihat? Gupta sudah mati. Kita bisa bicara. Aku... aku ibumu. Aku tidak pernah berniat jahat—""Berhenti," suara Mayang memotong. Suaranya tidak keras, tapi bergema dengan otoritas kosmik yang membuat ruang di sekelilingnya bergetar.Mayang melangkah maju. Gaunnya yang sederhana kini tampak seperti jubah seorang ratu bintang. Ia menatap Trinity bukan dengan kemarahan, melainkan dengan rasa jijik yang mendalam."Kau bukan i
Di lantai itu, terdapat ukiran yang sangat samar, hampir tidak terlihat. Ukiran itu bukan berasal dari Star Dust. Ukiran itu adalah simbol mata berputar—tanda tangan Gupta."Dia ke sini tiga ribu tahun lalu," bisik Mayang, matanya menyipit. "Dia tahu aku menyembunyikan Jarum Dewa. Dia pasti meninggalkan jebakan."Wandra melangkah maju. "Biarkan aku."Saat kaki Wandra menginjak pusat altar, formasi jebakan Gupta meledak aktif. Rantai jiwa hitam setebal paha manusia melesat dari lantai, berniat membelenggu dan meremukkan jiwa siapa pun yang menginjaknya. Rantai itu dirancang khusus untuk menghancurkan jiwa, mengabaikan pertahanan fisik.Tapi rantai itu menabrak tubuh Wandra dan... berhenti.Energi negatif dan manipulasi jiwa dari Gupta berbenturan dengan energi Yang murni yang dihasilkan oleh Alam Pemurnian Tubuh tingkat dua ribu. Tubuh Wandra yang telah dimurnikan selama tujuh ribu tahun pada dasarnya adalah benteng jiwa yang absolut. Rantai hitam itu bergetar hebat, mencoba menembus k
Langit di atas Gunung Tianlong tidak lagi berwarna merah darah, melainkan telah berubah menjadi ungu kehitaman yang mencekam. Awan berputar membentuk pusaran raksasa, dan dari dalam pusaran itu, tiga sosok melayang turun. Mereka adalah keturunan langsung Sang Penguasa. Aura yang mereka pancarkan cukup untuk membuat langit retak dan kultivator di bawah Alam Dewa Rendahan langsung pingsan hanya dengan menatap mereka. Pemimpin dari ketiganya, seorang pria bermata emas dengan kulit pucat, menatap Mayang dengan senyum yang merendahkan. "Xiyue. Atau mungkin kau lebih suka dipanggil Mayang sekarang? Kau pikir dengan membuka segel ingatanmu, kau bisa melawan takdir? Ayahanda kami sudah menunggumu di dimensi kekosongan. Menyerahkan tubuh dan warisan Star Dust-mu sekarang, dan kami akan membuat kematian kekasihmu itu cepat."Mayang tidak menjawab. Dia hanya menatap pria bermata emas itu. Tiga ribu tahun lalu, tatapan ini mungkin dipenuhi oleh keputusasaan dan air mata. Tapi sekarang, mata Ma
Cahaya dari Bunga Pengusir Kendali tidak meledak seperti api, melainkan merembes masuk ke dalam pori-pori Mayang seperti cairan perak yang hidup. Jimat penolakan dan segel jiwa yang selama ini membelenggunya retak, lalu hancur menjadi debu spiritual.Dalam sekejap, bendungan ingatan yang telah kering selama ribuan tahun jebol. Mayang tidak hanya ditarik mundur tiga ribu tahun, tapi lima ribu tahun ke belakang, menembus kabut waktu menuju sebuah era yang telah lama terkubur.Dia melihatnya. Kerajaan Star Dust. Sebuah kerajaan yang tidak berada di bumi, melainkan mengambang di antara nebula dan debu bintang, tempat di mana hukum alam semesta ditata ulang oleh kekuatan murni. Dia adalah putri mahkotanya. Dan di hadapannya, sang Ayah—Penguasa yang telah menaklukkan 3 alam utama dan 5 alam kecil—menyerahkan intan jiwanya dengan senyum damai. Sang Ayah sudah muak dengan keabadian, dan memilih untuk melebur menjadi debu bintang, mewariskan seluruh kekuatan yang bisa membuat Mayang hidup mel
Suara sang leluhur Keluarga Wang, Wang Tianming, bergetar bukan karena usia, melainkan karena beban emosi yang telah dipendamnya selama tiga ribu tahun. Angin di alun-alun seolah berhenti berhembus, menahan napas bersama ratusan orang yang menyaksikan momen sakral tersebut."Siapa yang menyelamatkannya?" tanya Wandra, suaranya parau, mencengkeram tangan Mayang lebih erat seolah takut wanita itu akan menghilang jika ia melepaskannya.Wang Tianming menundukkan kepalanya dalam-dalam, air mata menetes ke janggut peraknya yang panjang. "Orang itu menyebut dirinya 'Penjaga Karma'. Dia muncul dari celah langit yang robek, membawa sebuah cermin yang memantulkan bintang-bintang meski saat itu adalah siang hari. Dengan cermin itu, dia membelah formasi pembunuh dari lima sekte besar dan menarik tubuh Nona Mayang dari tepi kematian."Mayang terpaku, liontin bulan sabit di lehernya berdenyut semakin cepat, selaras dengan detak jantungnya. "Penjaga Karma... aku tidak ingat wajah itu, tapi... dadaku
Wandra mulai memegang rambut Caroline sementara pinggul Wandra mulai goyang-goyang. "Ini enak sekali, kak. Makasih banyak, kak. Ini enak sekali.""Ini belum apa-apa, Wandra. Nanti kamu akan merasakan lebih enak saat kembali merasakan liang kenikmatanku," janji Caroline untuk kemudian dia kembali me
Malam itu, setelah mandi dan mengganti pakaian dengan baju bersih, Wandra duduk di tepi tempat tidur kamar tamu. Ia menatap kalung liontin yang masih ia kenakan.Di bawah lampu kamar, liontin itu tampak biasa saja—hanya logam kusam dengan ukiran aneh. Tapi Wandra tahu, benda ini sama sekali tidak b
"Ini adalah pusaka keluarga kita," kata Mbah Surti dengan suara yang tiba-tiba menjadi serius. "Kakekmu mendapatkannya dari ayahnya, dan ayahnya mendapatkannya dari ayahnya lagi. Tidak ada yang tahu dari mana asal liontin ini sebenarnya, tapi kakekmu selalu percaya bahwa liontin ini memiliki kekuat
Pagi itu kabut masih menyelimuti Desa Sukamakmur ketika Wandra terbangun oleh suara batuk ayahnya yang begitu memilukan. Suara itu sudah menjadi alarm alami baginya selama tiga bulan terakhir, menggantikan kokok ayam yang biasanya membangunkannya untuk pergi ke sawah.Wandra segera bangkit dari tik







