LOGIN'Musang itu bereaksi terhadap ancaman,' batin Wandra. 'Saat Pedro berada dalam bahaya nyata, musang itu bangun untuk melindunginya. Kekuatannya memang sangat besar. Minimal alam manusia suci level dua atau tiga. Tapi musang itu masih setengah tidur atau mungkin memang pemalas. Dia hanya keluar sebentar kemudian kembali tidur. Pedro harus belajar cara membangunkan musang itu sendiri tanpa bantuanku.'Perayaan di aula masih berlangsung saat tiba-tiba suasana berubah drastis.Pintu utama aula didobrak dari luar. Bukan diketuk. Bukan dibuka. Tapi didobrak dengan kekuatan yang membuat kedua daun pintu besi itu terlempar ke dalam aula dan mendarat di lantai marmer dengan dentuman yang menggetarkan seluruh gedung.Semua sorak sorai langsung berhenti. Semua orang menoleh ke arah pintu.Sekelompok orang berdiri di ambang pintu yang sudah tidak berdaun itu. Sekitar tiga puluh orang berpakaian jubah berwarna merah tua dengan lambang macan tutul yang besar di punggung mereka. Aura-aura mereka san
Guntur menyerang dengan kecepatan penuh. Pukulannya yang membawa energi alam manusia suci level satu melesat menuju dada Pedro dengan kekuatan yang bisa menghancurkan dinding baja.Pedro yang berdiri di panggung merasakan pukulan itu mendekat. Kakinya ingin mundur. Otaknya berteriak untuk menghindar. Tapi kehangatan di dadanya tiba-tiba meledak.Bukan ledakan yang menyakitkan. Tapi ledakan energi yang sangat besar yang menyebar ke seluruh tubuhnya dalam sekejap. Dari punggung Pedro, sebuah cahaya keemasan menyembur keluar dan membentuk siluet yang membuat seluruh aula langsung hening.Seekor musang raksasa.Tubuhnya terbentuk dari energi murni yang berwarna keemasan dengan sembilan ekor yang masing-masing memancarkan aura yang berbeda warnanya. Ekor pertama berwarna merah api. Ekor kedua biru laut. Ekor ketiga hijau hutan. Dan seterusnya hingga ekor kesembilan yang berwarna putih keperakan yang sangat terang. Matanya yang besar dan tajam memandang Guntur dengan tatapan yang mengandung
Aula langsung hening. Semua mata tertuju pada Guntur kemudian beralih ke Pedro yang berdiri di dekat singgasana.Tapi sebelum Pao Pao sempat merespons, Ishak langsung maju selangkah dan berbicara dengan suara yang tegas."Tidak ada peraturan dalam organisasi Hung Sing yang mengharuskan duel untuk pergantian posisi. Keputusan Nona Pao Pao sudah final. Pedro sudah resmi menjadi pemimpin kelompok satu berdasarkan prestasi nyata, bukan berdasarkan duel."Pao Pao memandang Guntur dengan tatapan yang dingin. "Ishak benar. Keputusanku sudah final. Pedro adalah pemimpin kelompok satu yang baru. Tidak ada duel."Guntur mengepalkan giginya tapi dia tidak berani membantah keputusan Pao Pao secara langsung. Dia mundur kembali ke posisinya dengan wajah yang memerah oleh kemarahan yang ditahan.Tapi pemimpin kelompok dua yang lama, yang sekarang harus turun menjadi pemimpin kelompok tiga, seorang pria bertubuh atletis bernama Dharma yang memiliki sifat pragmatis dan oportunis, melihat kesempatan ya
Ishak yang mendengar itu langsung terkejut. Dia memang tahu cerita itu. Mendiang Bos Besar pernah menceritakannya kepadanya juga, jauh sebelum Pedro lahir. Tentang ramalan seorang peramal kuno yang mengatakan bahwa keturunan keluarga Ponco akan menyimpan makhluk gaib di dalam tubuhnya. Makhluk yang kekuatannya tidak terbatas."Aku ingat," Ishak berkata pelan. Matanya melebar dengan pemahaman yang baru. "Bos Besar pernah bilang bahwa di dalam tubuh Bos Pedro ada kekuatan yang tersegel. Kekuatan yang suatu saat akan bangun."Ishak menoleh ke Wandra kemudian kembali ke Pedro. Dan di otaknya yang pragmatis, kepingan-kepingan puzzle mulai tersusun. Wandra yang seharusnya tidak memiliki kekuatan untuk mengalahkan Wang Tao berhasil melakukannya. Pedro yang memiliki kekuatan tersegel di tubuhnya berdiri tidak jauh dari Wandra saat pertarungan berlangsung. Mungkinkah kekuatan tersegel itu keluar untuk sesaat dan masuk ke tubuh Wandra?Ishak langsung mengambil narasi itu dan menguatkannya. "Bet
Saat rombongan kelompok delapan baru saja keluar dari Hotel Permata Timur, dengan Ishak yang membawa kepala Wang Tao yang dibungkus dalam kantong kain hitam, mereka disambut oleh pemandangan yang tidak mereka sangka.Puluhan orang berdiri berjajar di sepanjang jalan di depan hotel. Wajah-wajah yang Wandra kenali. Wajah-wajah anggota kelompok delapan yang tadi melarikan diri satu per satu sepanjang perjalanan menuju hotel.Mereka kembali.Wajah mereka pucat oleh rasa malu yang sangat besar. Beberapa menundukkan kepala dan tidak berani menatap Pedro. Beberapa yang lain berdiri dengan tangan mengepal di samping tubuh dan rahang yang mengeras, ekspresi orang-orang yang sudah bertarung melawan rasa takut mereka dan akhirnya memilih untuk kembali meskipun mungkin sudah terlambat.Seorang di antara mereka yang paling tua, seorang pria berumur sekitar empat puluh tahun yang sudah menjadi anggota kelompok delapan sejak zaman ayah Pedro, melangkah maju dengan kepala tertunduk."Bos Pedro," pria
Ishak yang masih berdiri di ambang pintu dengan pedang yang sekarang menggantung lemas di tangannya memandang Wandra dengan ekspresi yang tidak bisa digambarkan oleh kata-kata. Pemuda yang dia loloskan karena sogokan satu batang emas. Pemuda yang dia carikan alasan kasihan supaya tidak diusir oleh Pedro. Pemuda yang dia anggap tidak tahu apa-apa tentang bahaya misi ini.Pemuda itu sekarang beradu pukulan dengan Wang Tao.Di dalam kamar hotel yang sudah hancur berantakan, Wandra dan Wang Tao saling bertukar serangan dengan kecepatan yang membuat udara berdesing. Pukulan Wang Tao yang membawa energi alam manusia suci level dua menghancurkan segala yang disentuhnya. Tempat tidur terbelah dua. Meja rias hancur berkeping-keping. Dinding retak dan runtuh.Wandra menyambut setiap serangan dengan kekuatan yang setara. Pukulannya bertemu pukulan Wang Tao di udara, menghasilkan gelombang kejut yang memecahkan semua kaca di kamar dan koridor sekitarnya.Wang Tao yang awalnya menyerang dengan kem
Di kota besar seperti ini, di mana tidak ada yang saling mengenal, lebih aman untuk tutup mata dan jalan terus.Tapi Wandra tidak bisa melakukan itu. Didikan orang tuanya dan neneknya mengajarkan bahwa menolong orang yang dalam kesulitan adalah kewajiban, bukan pilihan. Meskipun dia tahu risikonya
"Ini adalah pusaka keluarga kita," kata Mbah Surti dengan suara yang tiba-tiba menjadi serius. "Kakekmu mendapatkannya dari ayahnya, dan ayahnya mendapatkannya dari ayahnya lagi. Tidak ada yang tahu dari mana asal liontin ini sebenarnya, tapi kakekmu selalu percaya bahwa liontin ini memiliki kekuat
Wandra terbaring beberapa menit di samping Meylan yang sudah tertidur lelap karena kelelahan. Liontin di dadanya sudah dingin, tapi hatinya terasa sangat panas — bukan karena gairah, melainkan rasa bersalah yang menyengat.Ia memandang wajah Meylan yang polos dan lelah, lalu menghela napas panjang.
Pagi itu kabut masih menyelimuti Desa Sukamakmur ketika Wandra terbangun oleh suara batuk ayahnya yang begitu memilukan. Suara itu sudah menjadi alarm alami baginya selama tiga bulan terakhir, menggantikan kokok ayam yang biasanya membangunkannya untuk pergi ke sawah.Wandra segera bangkit dari tik







