Mag-log inDi lantai itu, terdapat ukiran yang sangat samar, hampir tidak terlihat. Ukiran itu bukan berasal dari Star Dust. Ukiran itu adalah simbol mata berputar—tanda tangan Gupta."Dia ke sini tiga ribu tahun lalu," bisik Mayang, matanya menyipit. "Dia tahu aku menyembunyikan Jarum Dewa. Dia pasti meninggalkan jebakan."Wandra melangkah maju. "Biarkan aku."Saat kaki Wandra menginjak pusat altar, formasi jebakan Gupta meledak aktif. Rantai jiwa hitam setebal paha manusia melesat dari lantai, berniat membelenggu dan meremukkan jiwa siapa pun yang menginjaknya. Rantai itu dirancang khusus untuk menghancurkan jiwa, mengabaikan pertahanan fisik.Tapi rantai itu menabrak tubuh Wandra dan... berhenti.Energi negatif dan manipulasi jiwa dari Gupta berbenturan dengan energi Yang murni yang dihasilkan oleh Alam Pemurnian Tubuh tingkat dua ribu. Tubuh Wandra yang telah dimurnikan selama tujuh ribu tahun pada dasarnya adalah benteng jiwa yang absolut. Rantai hitam itu bergetar hebat, mencoba menembus k
Langit di atas Gunung Tianlong tidak lagi berwarna merah darah, melainkan telah berubah menjadi ungu kehitaman yang mencekam. Awan berputar membentuk pusaran raksasa, dan dari dalam pusaran itu, tiga sosok melayang turun. Mereka adalah keturunan langsung Sang Penguasa. Aura yang mereka pancarkan cukup untuk membuat langit retak dan kultivator di bawah Alam Dewa Rendahan langsung pingsan hanya dengan menatap mereka. Pemimpin dari ketiganya, seorang pria bermata emas dengan kulit pucat, menatap Mayang dengan senyum yang merendahkan. "Xiyue. Atau mungkin kau lebih suka dipanggil Mayang sekarang? Kau pikir dengan membuka segel ingatanmu, kau bisa melawan takdir? Ayahanda kami sudah menunggumu di dimensi kekosongan. Menyerahkan tubuh dan warisan Star Dust-mu sekarang, dan kami akan membuat kematian kekasihmu itu cepat."Mayang tidak menjawab. Dia hanya menatap pria bermata emas itu. Tiga ribu tahun lalu, tatapan ini mungkin dipenuhi oleh keputusasaan dan air mata. Tapi sekarang, mata Ma
Cahaya dari Bunga Pengusir Kendali tidak meledak seperti api, melainkan merembes masuk ke dalam pori-pori Mayang seperti cairan perak yang hidup. Jimat penolakan dan segel jiwa yang selama ini membelenggunya retak, lalu hancur menjadi debu spiritual.Dalam sekejap, bendungan ingatan yang telah kering selama ribuan tahun jebol. Mayang tidak hanya ditarik mundur tiga ribu tahun, tapi lima ribu tahun ke belakang, menembus kabut waktu menuju sebuah era yang telah lama terkubur.Dia melihatnya. Kerajaan Star Dust. Sebuah kerajaan yang tidak berada di bumi, melainkan mengambang di antara nebula dan debu bintang, tempat di mana hukum alam semesta ditata ulang oleh kekuatan murni. Dia adalah putri mahkotanya. Dan di hadapannya, sang Ayah—Penguasa yang telah menaklukkan 3 alam utama dan 5 alam kecil—menyerahkan intan jiwanya dengan senyum damai. Sang Ayah sudah muak dengan keabadian, dan memilih untuk melebur menjadi debu bintang, mewariskan seluruh kekuatan yang bisa membuat Mayang hidup mel
Suara sang leluhur Keluarga Wang, Wang Tianming, bergetar bukan karena usia, melainkan karena beban emosi yang telah dipendamnya selama tiga ribu tahun. Angin di alun-alun seolah berhenti berhembus, menahan napas bersama ratusan orang yang menyaksikan momen sakral tersebut."Siapa yang menyelamatkannya?" tanya Wandra, suaranya parau, mencengkeram tangan Mayang lebih erat seolah takut wanita itu akan menghilang jika ia melepaskannya.Wang Tianming menundukkan kepalanya dalam-dalam, air mata menetes ke janggut peraknya yang panjang. "Orang itu menyebut dirinya 'Penjaga Karma'. Dia muncul dari celah langit yang robek, membawa sebuah cermin yang memantulkan bintang-bintang meski saat itu adalah siang hari. Dengan cermin itu, dia membelah formasi pembunuh dari lima sekte besar dan menarik tubuh Nona Mayang dari tepi kematian."Mayang terpaku, liontin bulan sabit di lehernya berdenyut semakin cepat, selaras dengan detak jantungnya. "Penjaga Karma... aku tidak ingat wajah itu, tapi... dadaku
Di luar reruntuhan kediaman Keluarga Gu, ratusan orang berpakaian biru tua sudah berbaris rapi di jalan. Di depan mereka, seorang pria paruh baya berjanggut pendek membungkuk dalam-dalam begitu Wandra dan Mayang muncul dari balik debu."Perkenalkan, saya Wang Sihan, dari Keluarga Wang," katanya dengan suara yang tidak bisa menyembunyikan kegembiraan. "Selama dua ratus tahun, Keluarga Gu menindas kami, merebut dermaga-dermaga kami, dan membunuh banyak orang kami. Hari ini kami menyaksikan sendiri kejatuhan mereka."Wandra menatap sisa-sisa keluarga Gu yang masih bersujud di antara puing. "Kalian ingin menghabisi mereka?""Dengan izin Tuan," Wang Sihan menunduk. "Kami tidak akan bergerak tanpa persetujuan penyelamat kota ini."Wandra hanya mengangguk. Dendam dua ratus tahun bukan urusannya, dan keluarga yang hendak mandi dengan darah Mayang tidak layak dikasihani. Anak buah Keluarga Wang menyerbu masuk, dan jeritan-jeritan terdengar dari balik tembok."Tuan, Nona," Wang Sihan berkata sa
"Tapi," Gu Wen melanjutkan, dan nada suaranya mulai berubah, "wanita itu meninggalkan sebuah ilmu yang sangat luar biasa sebelum kematiannya. Ilmu yang bisa meningkatkan kultivasi secara drastis, melampaui batas normal yang pernah diketahui. Keluarga kami sudah berusaha mempelajari ilmu itu selama ratusan tahun, tapi selalu gagal."Wandra mulai merasakan sesuatu yang tidak beres dalam nada pembicaraan ini, instingnya yang sudah terasah selama tujuh ribu tahun berteriak memberi peringatan."Aku mendapatkan sebuah wahyu dalam mimpi," Gu Wen melanjutkan, matanya kini berkilat dengan sesuatu yang jauh dari kebaikan, "bahwa untuk membuka ilmu itu, keturunan Keluarga Gu harus mandi darah dari seseorang yang memiliki wajah yang sama persis dengan wanita legendaris itu."Gu Sheng, yang sejak tadi diam mendengarkan, kini berdiri dari kursinya dengan senyum yang berubah menjadi licik. "Dan ketika aku melihatmu, Nona Mayang, aku tahu bahwa takdir sudah membawamu ke tempat ini."Beberapa pengawal
Wandra mulai memegang rambut Caroline sementara pinggul Wandra mulai goyang-goyang. "Ini enak sekali, kak. Makasih banyak, kak. Ini enak sekali.""Ini belum apa-apa, Wandra. Nanti kamu akan merasakan lebih enak saat kembali merasakan liang kenikmatanku," janji Caroline untuk kemudian dia kembali me
Malam itu, setelah mandi dan mengganti pakaian dengan baju bersih, Wandra duduk di tepi tempat tidur kamar tamu. Ia menatap kalung liontin yang masih ia kenakan.Di bawah lampu kamar, liontin itu tampak biasa saja—hanya logam kusam dengan ukiran aneh. Tapi Wandra tahu, benda ini sama sekali tidak b
Wandra terkejut mendengar tawaran itu. "Tapi, Dok... saya tidak enak. Kita baru saja kenal.""Justru karena kita baru kenal dan kamu sudah berani mengorbankan nyawamu untukku, aku merasa harus membalas budi," sahut Caroline. "Lagipula, apartemenku cukup besar. Ada kamar tamu yang tidak pernah terpa
Caroline menatap liontin di leher Wandra dengan tatapan penuh tanda tanya. Sebagai orang yang berpendidikan tinggi dan terlatih dalam ilmu kedokteran modern, dia tidak percaya dengan hal-hal mistis atau supernatural. Pasti ada penjelasan ilmiah di balik semua ini. Mungkin lukanya tidak sedalam yang







