LOGINDi luar reruntuhan kediaman Keluarga Gu, ratusan orang berpakaian biru tua sudah berbaris rapi di jalan. Di depan mereka, seorang pria paruh baya berjanggut pendek membungkuk dalam-dalam begitu Wandra dan Mayang muncul dari balik debu."Perkenalkan, saya Wang Sihan, dari Keluarga Wang," katanya dengan suara yang tidak bisa menyembunyikan kegembiraan. "Selama dua ratus tahun, Keluarga Gu menindas kami, merebut dermaga-dermaga kami, dan membunuh banyak orang kami. Hari ini kami menyaksikan sendiri kejatuhan mereka."Wandra menatap sisa-sisa keluarga Gu yang masih bersujud di antara puing. "Kalian ingin menghabisi mereka?""Dengan izin Tuan," Wang Sihan menunduk. "Kami tidak akan bergerak tanpa persetujuan penyelamat kota ini."Wandra hanya mengangguk. Dendam dua ratus tahun bukan urusannya, dan keluarga yang hendak mandi dengan darah Mayang tidak layak dikasihani. Anak buah Keluarga Wang menyerbu masuk, dan jeritan-jeritan terdengar dari balik tembok."Tuan, Nona," Wang Sihan berkata sa
"Tapi," Gu Wen melanjutkan, dan nada suaranya mulai berubah, "wanita itu meninggalkan sebuah ilmu yang sangat luar biasa sebelum kematiannya. Ilmu yang bisa meningkatkan kultivasi secara drastis, melampaui batas normal yang pernah diketahui. Keluarga kami sudah berusaha mempelajari ilmu itu selama ratusan tahun, tapi selalu gagal."Wandra mulai merasakan sesuatu yang tidak beres dalam nada pembicaraan ini, instingnya yang sudah terasah selama tujuh ribu tahun berteriak memberi peringatan."Aku mendapatkan sebuah wahyu dalam mimpi," Gu Wen melanjutkan, matanya kini berkilat dengan sesuatu yang jauh dari kebaikan, "bahwa untuk membuka ilmu itu, keturunan Keluarga Gu harus mandi darah dari seseorang yang memiliki wajah yang sama persis dengan wanita legendaris itu."Gu Sheng, yang sejak tadi diam mendengarkan, kini berdiri dari kursinya dengan senyum yang berubah menjadi licik. "Dan ketika aku melihatmu, Nona Mayang, aku tahu bahwa takdir sudah membawamu ke tempat ini."Beberapa pengawal
"Kami akan pertimbangkan," Wandra menjawab dengan hati-hati, belum memberikan jawaban pasti.Mayang, yang juga merasakan ketidaknyamanan dari tatapan Gu Sheng, menambahkan dengan nada yang sopan namun tegas, "Terima kasih atas tawarannya, tapi kami baru saja tiba dan masih perlu beristirahat."Gu Sheng, meskipun sedikit kecewa, tidak langsung menyerah. "Aku mengerti. Tapi tawaran ini tetap terbuka kapan pun kalian siap. Sesepuh kami, Kakek Gu Wen, sudah hidup lebih dari tiga ratus tahun, dan beliau menyaksikan banyak peristiwa penting yang terjadi di benua ini, termasuk kisah-kisah tentang legenda dan tokoh-tokoh besar dari masa lalu."Wandra merasakan aura Gu Sheng dengan lebih seksama, dan menemukan bahwa pemuda ini sudah berada di puncak Alam Manusia Roh, kekuatan yang sangat besar untuk seseorang yang masih terlihat begitu muda, menunjukkan bahwa Keluarga Gu memang memiliki sumber daya dan metode kultivasi yang sangat baik."Legenda dan tokoh-tokoh besar?" Mayang bertanya, rasa in
Viona mengangguk dengan senyum penuh terima kasih, kemudian dia dan Baskoro berpamitan, berjalan menjauh ke arah pusat kota pelabuhan yang ramai, menghilang di antara kerumunan pedagang dan pejalan kaki.Setelah Viona dan Baskoro pergi, Wandra menoleh kepada Mayang, menggenggam tangannya dengan lembut. "Ayo, kita cari penginapan dulu. Kita butuh istirahat setelah perjalanan panjang ini."Mereka berjalan menyusuri jalanan kota pelabuhan yang dipenuhi dengan hiruk-pikuk kehidupan, pedagang-pedagang berteriak menawarkan dagangan mereka, kultivator-kultivator berbagai tingkat kekuatan berlalu-lalang dengan pakaian yang menunjukkan asal-usul klan atau sekte mereka masing-masing, dan aroma rempah-rempah serta makanan laut segar memenuhi udara.Mereka akhirnya menemukan sebuah penginapan yang cukup nyaman di dekat pusat kota, dan setelah menyewa sebuah kamar, Wandra dan Mayang duduk berdua memandang keluar jendela yang menghadap ke arah pelabuhan yang ramai."Akhirnya kita sampai," Mayang be
Hari-hari berikutnya setelah pertarungan melawan Alassus membawa perubahan yang luar biasa bagi perjalanan mereka. Laut yang tadinya begitu ganas kini berubah menjadi tenang dan bersahabat, angin bertiup lembut mendorong layar-layar Leviathan dengan kecepatan yang stabil, seolah lautan itu sendiri sudah mengakui kemenangan Wandra dan membuka jalan tanpa hambatan.Pada hari ketiga setelah kejadian itu, saat matahari pagi baru saja menyinari permukaan laut dengan cahaya keemasan, sebuah gerakan besar muncul di bawah air, membuat seluruh penumpang yang sedang berjemur di geladak langsung waspada."Sesuatu mendekat!" seorang awak kapal berteriak dari menara pengawas.Wandra, yang sudah siap siaga sejak insiden dengan Alassus, segera bergerak ke tepi geladak, tubuhnya tegang mengantisipasi pertarungan lain. Tapi apa yang muncul dari kedalaman laut sama sekali bukan ancaman seperti yang dia duga.Seekor ikan paus raksasa, ukurannya mungkin tiga kali lebih besar dari kapal Leviathan sendiri,
Seketika, energi yang luar biasa meledak keluar dari cincin itu, sebuah cahaya hitam keunguan yang begitu pekat sehingga seolah menelan cahaya di sekitarnya. Energi itu mengalir ke seluruh tubuh Wandra, dan dengan sekali gerakan, dia melepaskan diri dari lilitan Alassus, kemudian mengarahkan seluruh kekuatan yang baru saja dia terima ke arah makhluk raksasa itu.Alassus, yang merasakan energi mengerikan itu mendekat, mencoba melarikan diri, tapi sudah terlambat. Sebuah ledakan dahsyat terjadi, cahaya hitam keunguan itu menelan tubuh raksasa Alassus sepenuhnya, dan jeritan makhluk itu bergema begitu keras sehingga seluruh lautan di sekitarnya bergetar.Kemudian, keheningan.Angin topan yang tadinya begitu ganas mendadak mereda, awan-awan hitam yang bergulung mulai terpecah, dan lautan yang tadinya bergolak dahsyat perlahan kembali tenang, seolah badai itu tidak pernah terjadi.Di atas kapal Leviathan, yang sudah berjarak cukup jauh dari pusat badai berkat dorongan Wandra sebelumnya, se
Caroline menatap liontin di leher Wandra dengan tatapan penuh tanda tanya. Sebagai orang yang berpendidikan tinggi dan terlatih dalam ilmu kedokteran modern, dia tidak percaya dengan hal-hal mistis atau supernatural. Pasti ada penjelasan ilmiah di balik semua ini. Mungkin lukanya tidak sedalam yang
Di kota besar seperti ini, di mana tidak ada yang saling mengenal, lebih aman untuk tutup mata dan jalan terus.Tapi Wandra tidak bisa melakukan itu. Didikan orang tuanya dan neneknya mengajarkan bahwa menolong orang yang dalam kesulitan adalah kewajiban, bukan pilihan. Meskipun dia tahu risikonya
"Ini adalah pusaka keluarga kita," kata Mbah Surti dengan suara yang tiba-tiba menjadi serius. "Kakekmu mendapatkannya dari ayahnya, dan ayahnya mendapatkannya dari ayahnya lagi. Tidak ada yang tahu dari mana asal liontin ini sebenarnya, tapi kakekmu selalu percaya bahwa liontin ini memiliki kekuat
Pagi itu kabut masih menyelimuti Desa Sukamakmur ketika Wandra terbangun oleh suara batuk ayahnya yang begitu memilukan. Suara itu sudah menjadi alarm alami baginya selama tiga bulan terakhir, menggantikan kokok ayam yang biasanya membangunkannya untuk pergi ke sawah.Wandra segera bangkit dari tik







