MasukSebuah mobil hitam panjang memasuki area mansion keluarga Deodola. Semenjak Sutra tinggal di rumah yanh dibeli oleh Kama, pria itu jarang sekali pulang ke mansion atau pun apartemen pribadinya. Ia lebih suka menghabiskan waktu bersama kedua buah hatinya dan juga Sutra. “Maaf, Tuan Ruddy, Tuan Muda sedang tidak di mansion.” Salah satu pelayan mansion tersebut berujar dengan sedikit merundukkan kepalanya. “Nyonya Amira?” Pelayan itu tidak lantas menjawab. Sebab ia pun tak paham ke mana sang majikan itu pergi. “Nyonya juga sudah lumayan lama tidak pulang ke mansion,” jawab pelayan itu pada akhirnya. “Apa kau ada pesan? Biar kusampaikan pada Tuan Muda jika dia pulang nanti.” Tuan Ruddy menganjur napas panjang. Bukan tanpa alasan dia ingin menemui Kama, lelaki paruh baya itu ingin memohon kepadanya agar mau mencabut segala tuntutan yang pernah dilayangkan kepada putrinya—Nerezza. Tuan Ruddy tidak sanggup melihat sang putri jika harus lama mendekam di balik jeruji besi. “Aku
“Dia keracunan makanan.” Dokter Sasmita bicara dengan Kama. “Kemungkinan disebabkan dari makanan yang sempat dihinggapi lalat atau pun jenis khewan kotor lainnya. Bisa juga karena makanan yang sudah busuk,” lanjut dokter Sasita menjelaskan. Kama saat ini tengah berada di ruang lain dalam bangunan yang ia peruntukkan menyekap Selena dan juga Zatulini. Sedangkan dokter Sasmita sendiri adalah salah satu dokter kepercayaan keluarga Deodola. Perempuan paruh baya itu tahu, jika wanita yang saat ini terkulai lemas di atas kasur tersebut sedang mendapatkan hukuman. —dan dia tak mau tahu itu semua, wanita yang berprofesi sebagai dokter tersebut labih sayang nyawanya ketimbang harus bersusah payah membujuk Kama agar melepaskan tawanannya. Terlebih dirinya selama ini makan dari keluarga Deodola. “Kau memberi makan apa padanya, Tuan?” Dokter Sasmita membali bersuara. “B-bagaimana jika dia—“ “Aku bahkan tidak peduli seandainya perempuan sampah itu tewas dengan mengenaskan!” Kama segera
“Tapi tidak seharusnya kau menculiknya. Kenapa kau selalu berbuat semaumu, Kama? Tidak bisakah kau berlaku baik terhadap sesama?” Kama menatap awas kepada bola mata Surta. “Berlaku baik? Tahu apa kau tentang berlaku baik terhadap sesama? Aku bahkan kerap memperlakukan mereka lebih baik dari yang kau kira, Sutra. Tapi … mereka merusak segalanya. Jujur saja aku bahkan sudah mulai tidak percaya dengan omongan orang yang terlalu memujiku dan terlalu baik padaku.” Mendengar pernyataan Kama, Sutra hanya bisa terdiam. Kata-kata pria itu memang tidak sepenuhnya salah. Sebab, Sutra kerap melihat dengan kedua matanya sendiri jika lelaki yang berdiri dihadapannya saat ini sering melakukan kebaikan terhadap sesama. Bahkan, kepada wanita yang Sutra anggp ibunya—Zatulini. “Saat ini aku hanya berharap, semoga ingatanmu sepenuhnya kembali. Agar kau tahu, manusia mana saja yang telah memperlakukanmu tidak adil. Karena dengan demikian, kau akan tahu bagaimana rasanya jika posisimu seperti diriku sa
“Kau tidak membunuhnya ‘kan, Hans?” Kama dan Hans tampak duduk berhadapan di ruang kerja. Kedua netra Kama menelisik dalam, mencari sebuah kebenaran jika pria dihadapannya tersebut tidak akan mengambil keputusan tanpa persetujuan darinya. “Jadi … kau membunuhnya?” Kama dapat menebak hanya dengan melihat mimik wajah Hans. Dan itu hanya bisa dilakukan olehnya, sebab Kama sudah tahu luar dalam seorang Hans. Bagaimana ekspresinya ketika berbohong dan menyembunyikan sesuatu. Itu pun salah satu alasan kenapa dia berulang kali menaruh curiga terhadap Hans, jika pria itu mencintai Sutra. “Maaf, Tuan ….” “Hans, kau ….” Kama menggantung kata-katanya, tak tahu harus bicara apa pada Hans. “Kenapa kau melakukan itu tanpa persetujuan dariku?” Hans menatap lekat kedua netra Kama. “Karena dia menyuruh orang untuk memperkosa Sutra. Itu salah satu alasan kuat kenapa aku menghabisi nyawanya.” “Kau membunuh dengan cara apa?” tanya Kama bingung. “Tuan, kau tidak perku khawatir. Bukankah cara mem
Seorang pria tampak memicingkan senyumnya sambil berdiri di atas sebuah batu besar yang berada di bibir jurang, ia kemudian mengeluarkan sebatang rokok dan menyulutnya berlahan. Lalu menghisapnya dan mengembuskan denahn perlahan. Sebuah kepulan asap dimainkannya di atas udara malam. “Kau mau main-main denganku? Tentu kau salah orang. Siapa pun yang berusaha menyakiti orang yang aku cintai, bersiaplah untuk masuk ke dunia neraka yang sebenarnya!” Kemudian dia berbalik arah dan melangkah menjauh dari tempat mobil terbakar tersebut. Jhois hanya tinggal nama, wanita itu benar-benar telah menjadi arang bersama dengan meledaknya kendaraan keluaran terbaru milik Kama yang dikendarai oleh Hans. Pria itu terlahir menjadi salah satu manusia yang berdarah dingin. Bahkan, dia terkenal sadis dan tak berperikemanusiaan kepada setiap orang yang berusaha menyakiti dirinya dan orang terdekatnya. Tangannya bekerja lebih cepat dari pada otaknya. Bahkan, yang sebelumnya pria itu ingin memberi
Liuk gemulai tubuh tiga wanita cantik yang mengenakan pakaian model one piece berwana merah begitu indah memukau. Suara dentuman musik disko dari pemainan seorang disk joki laki-laki berambut gimbal. Wangi apkohol serta aroma asap nikotin menguar pekat menyeruak menggoda indera penciuman para pengunjung. Tarian lampu warna-warni menambah gemerlap dunia malam yang tersaji glamour serta liar pada sebuah diskotik terbesar di Kota S yang bernama Konoha Clubbers Party tersebut. Hans tampak duduk di deretan kursi paling depan, menyulut sebatang rokok, dengan ditemani gelas sloki dan sebotol wishky Scotch. Tatapannya masih begitu jernih, meskipun dirinya memesan minuman beralkohol, tapi pria tersebut tak segut untuk mencicipinya. Tiba-tiba dari arah belakang, sebuah tangan dengan jemari yang lentik meraba pundaknya. “Kau butuh teman, Tuan?” Hans mengibaskan tangan tersebut tanpa menoleh. “Jangan ganggu aku!” katanya dengan nada dingin. Pemilik tangan itu kemudian berjalan dan berdi







