Share

Bab 161

Penulis: Jw Hasya
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-30 21:19:41

“Aku ingin bicara denganmu, Sutra.”

Setelah kepergian Hans, Kama dan Sutra berjalan masuk menuju kamar bayi kembar mereka. Wanita itu kemudian menghentikan langkahnya saat mendengar suara Kama yang terkesan berat dan mengandung sesuatu.

“Bicara saja, bukankah sejak tadi kita memang sudah bicara banyak?”

“Kau kenapa?” tanya Kama.

“Aku?” Sutra menautkan kedua alisnya. “Tidak ada. Memangnya kenapa? Ada apa?”

“Setelah mengejar Hans, kulihat sikapmu berubah. Kau menyukainya?”

Sutra menatap lekat kedua manik abu-abu tersebut. “Kau yakin menanyakan hal itu kepadaku, Kama?”

Sejenak suasana hening.

“Maaf, aku hanya tidak ingin wanita yang kucintai ….”

“Jika aku menyukai Hans dan dia juga sama. Mungkin, aku dan kau tidak akan pernah lagi bertemu. Bisa saja Hans selamanya menyembunyikan keberadaanku saat sedang hamil anakmu. Dan aku? Bisa saja aku menghindar darimu dan merayu Hans agar pria itu mau menikahiku.” Sutra memotong kata-kata Kama dengan wajah masam. “Tapi buktinya
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (11)
goodnovel comment avatar
fatmawati
semoga sutra segera mengingat semuanya
goodnovel comment avatar
Iin Huang
pelan2 sutra buat inget siapa dirimu sbnrnya. jgn di paksa smpai kepala mu sakit.
goodnovel comment avatar
Iin Huang
tebakan aku bner kan dr awal, sutra itu angsa putih wkwk
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Kama Sutra   Bab 192

    Pagi ini Sutra sengaja membantu masak pelayan di ruang dapur. Ibu dua anak itu berencana akan mengunjungi mansion—untuk bertemu dengan Ellies—sepupu sang rival di atas ranjang. “Kau yakin tidak ingin aku temani?” tanya Kama saat keduanya sedang berada di ruang makan, menikmati santap pagi dengan penuh kehangatan. Andai saat ini mereka berstatus sebagai pasangan yang sah, mungkin dunia akan tersenyum saat melihat cara mereka yang begitu menikmati hidangan di atas meja. Namun, sayang, hubungan itu bahkan hanya sebatas rival dan lawan main di atas ranjang. Sutra menggeleng. “Tidak perlu, aku ingin mengenal saudaramu dengan caraku sendiri.” Kama mengerutkan dahinya. “Memangnya cara mengenalku kepada seseorang seperti apa? Kurasa semua perkenalan itu hampir sama.” Sutra mengedikkan pundak. “Itu ‘kan menurutmu. Oh, ya, aku mengajak anak-anak. Jadi … Siska ak bawa untuk membantuku di sana.” Kama mengangguk sambil mengelap bekas makanan yang berada di sudut bibirnya dengan tisu

  • Kama Sutra   Bab 191

    Minggu berlalu, Hans dan Ellies bahkan tidak pernah melakukan pendekatan seperti yang dikehendaki oleh Kama. Pria itu terlalu memilih untuk menyibukkan diri di kantor bersama Kama, jika sudah waktunya pulang, ia akan memilih untuk pergi ke suatu tempat dari pada harus pulang ke mansion. Pun dengan Ellies, gadis itu lebih banyak menghabiskan jalan-jalan sendiri sambil memotret sesuatu yang dirasa unik dan menarik untuk diabadikan. Seperti siang ini, Ellies tak sengaja jalan-jalan melewati pusat perkantoran Kota S. Ia melangkah dengan langkah panjang-panjang sambil sesekali menghentikan langkahnya dan mengambil gambar yang menurutnya menarik. Baru saja gadis tomboy itu mengambil gambar yang tersuguh di depan sana, tiba-tiba tubuhnya sedikit terhuyung karena menabrak sesuatu. “Kalau jalan pakai mata, Nona!” ujar pria yang tak sengaja ia tabrak. Ellies segera bangun tanpa mendapat bantuan dari pemilik suara tersebut. “Maaf, aku tidak senga ….” Kata-katanya terhentik sebel

  • Kama Sutra   Bab 190

    Ellies duduk di ruang tamu dengan wajah sedikit tertekuk. Sebetulnya gadis tomboy itu ingin sekali menentang perjodohan yang terlalu dipaksakan oleh sang sepupu dengan tangan kanannya. “Nona Ellies, kamarmu sudah disiapkan. Mari aku antar.” Seorang pelayan yang usainya terbilang tidak jauh berbeda dengannya menawarkan diri untuk mengantar ke dalam kamar, sebelum bertemu dengan Kama. Hampir semua pelayan yang bekerja di mansion keluarga Deodola tahu jika hari ini akan kedatangan tamu istimewa. “Tidak perlu, aku ingin menunggu Kama dulu.”“Kalau begitu biar barangmu kuantar ke kamar.” Pelayan itu kembali menawarkan jasanya. Ellies tersenyum ramah. “Terima kasih … Mona.” Ellies melirik nametag yang bertengger di dada pelayan tersebut. “Tidak perlu repot-repot. Biar nanti aku bawa sendiri ke kamar. Kau tinggal kasih tahu saja, kamarku nomor berapa dari sebelah itu?” Ellies menunjuk ke arah kamar paling kanan. Di Di lantai dua, memang dikhususkan untuk kamar, dan kebetulan di sana ada

  • Kama Sutra   Bab 189

    Setelah obrolannya dengan Sutra, Kama bergegas ke kamar mandi dan membersihkan diri. Ellies akan datang beberapa jam kemudian, pria itu tentu harus menyambut sepupunya tersebut dengan baik, agar Ellies betah saat tinggal di kediamannya. “Sutra, kita mansion,” ajak Kama setelah terlihat rapi dengan jas panjangnya. “Akak serta Nala dan Nathan.” Saat ini Sutra sedang berada di ruang baca sendirian. Wanita itu terlihat menautkan kedua alisnya saat Kama mengajaknya ke tempat tinggal utama Kama. “Untuk apa?” “Sepupu ku datang. Jadi kita harus menyambut kedatangannya. Kau juga harus berkenalan dengannya. Karena dia bagian dari keluargaku.” Sutra mengangguk patuh, lalu wanita itu menutup kembali buku bacaannya dan berjalan ke luar, meninggalkan Kama yang masih berdiri di dalam ruang baca. Langkahnya belum benar-benar ke luar, tangan Kama tiba-tiba meraih pinggilnya dan membawanya dalam pelukannya, detik kemudian pria itu membawa tubuh mungil Sutra untuk duduk di atas meja, lalu melumat

  • Kama Sutra   Bab 188

    Entah mimpi apa semalam, Ellies harus menerima takdir yang seakan dikendalikan oleh Kama. Gadis itu begitu cantik, memiliki rambut bergelonbang hitam kebiru-biruan, dengan sorot mata yang begitu tajam, jernih dan sedikit menggoda. Bibirnya tipis, dengan tinggi badan sekitar 170 centimeter, membuat Ellies tampak semakin menarik. “Nona Ellies, Tuan Deodola mengutusku untuk segera membawamu ke Kota S.” Seorang bodyguard berperawakan kekar dengan memakai stelan serba hitam datang ke rumah Ellies setelah Kama dan Hans pergi sekitar lima belas menit lalu. Ellies menganjur napas tanpa kata. Gadis itu tampak memainkan permen karet dalam mulutnya sambil berjalan masuk dalam kamar. “Sial! Kukira Kama sudah tidak akan pernah lagi peduli dengan hidupku! Ternyata selama ini diam-diam dia telah mengatur segalanya!” katanya sambil memasukkan sebagian pakaiannya ke dalam tas ransel hitam miliknya. Usai merapikan sebagian pakaiannya, Ellies kembali berhambur ke luar kamar. Rasanya begitu berat s

  • Kama Sutra   Bab 187

    Hans mengepalkan kedua tangannya saya melihat Kama memeluk wanita lain selain Sutra. Dadanya berderu membara. Namun, pria itu masih mencoba untuk bisa mengendalikan kemarahannya. Setidaknya, setelah pulang dari kediaman wanita itu, ia akan memberikan pelajaran untuk Kama. Wanita itu mengintip Hans dari balik punggung Kama. “Dia siapa, Kama?” “Oh, ya. Ini, Hans. Dia orang kepercayaanku selama ini. Hans, perkenalkan ini Ellies.” Hans mencoba tersenyum dan menyambut kabatangan dari gadis bernama Ellies. “Ayo, masuklah.” Hans memegang pergelangan tangan Kama dengan kuat, saat Ellis berjalan di hadapan mereka. “Kau pernah berjanji padaku, jika tidak akan pernah melukai hati Sutra! Kau lupa itu, Tuan?” bisik Hans dengan nada penuh penekanan. Kama menggeleng. “Ayo, silakan duduk.” Ellies kembali menoleh, tatapannya kemudian fokus pada jemari Hans yang begitu rapat di pergelangan tangan Kama. “Oh, kalian?” Ellies menggantung kalimatnya, menatap dalam ke arah Kama, seolah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status