Masuk“Apa yang kau lakukan dengannya, Hans!”Bruak!Satu pukulan tepat mengenai pelipis Hans dengan begitu sempurna, hingga lelaki itu menahan rasa perih yang tiba-tiba merayap di area wajahnya. “Kau ingin bermain-main denganku? Ingin mengkhianatiku?” Wajahna begitu garang, Kama tidka bisa lagi menghalau kemarahannya.Sudah cukup lama, ia menahannya. Jujur, setiap gerak gerik Hans membuatnya menaruh curiga dan sebuah kecemburian, dan malam ini adalah puncaknya. “Hentikan! Ini rumah sakit!” seloroh Sutra saat kepalan tangan Kama hampir kembali mengenai wajah Hans. “Hentikan! Kau salah paham!” Sutra meraih pergelangan tangan Kama. Kama menatapnya dengan tatapan menghunus. “Apa kau bilang? Salah paham? Aku bahkan melihat dengan kedua mataku sendiri jika laki-laki brengsek ini memakai baju di hadapanmu, Sutra! Kau—“ Kama menggantung kalimatnya. “Kau salah paham! Dia habis menggendong Nala tanpa memakai baju, itu juga atas saran dari dokter. Karena tubuh Nala sangat panas, Kama!” Sutra memc
Hans dan Sutra berdiri berhadapan. Begitu dekat, hingga sepoi napas dari keduanya terasa menerpa wajah. Sutra yang hanya memakai piyama slip berbahan sutra itu, tampak menatap wajah Hans, pun dengan pria tersebut, ponsel yang tengah menghubungi nomor Kama, terabai di genggamannya. Debaran itu kian nyata, Hans dapat merasakan jika jantungnya seolah ingin copot dari tempatnya. Namun, sebisa mungkin pria itu menepis segala dugaan-dugaan yang mungkin saja bisa terjadi di antara mereka. Benda panjang di tengah celana milik Hans pun mendadak mengeras dan terasa begitu panas. Tidak! Pria itu harus segera mengakhiri sesi sensasi yang tidak seharusnya ia rasakan. Wanita dihadapannya adalah Sutra, calon istri Kama sekaligus ibu dari anak-anaknya. “Hallo, Hans, ada apa?” Beruntung suara Kama dari seberang telepon menyentak perhatian Hans, hingga pria tampan itu segera mengalihkan perhatiannya. Hans mengatur napasnya yang sedikit tak beraturan. Meraup wajahnya sendiri agar sadar dari s
Sutra tampak menatap lukisan seharga dua ratus milyar. Matanya begitu lekat menatap inci demi inci lukisan yang dilukis oleh mendiang Reynard sebelum dirinya meninggal dunia. Sebuah lukisan pemandangan lengkap dengan seorang wanita muda yang tengah menggendong seorang bayi kecil dalam dekapannya. Warja senja yang kontras begitu memukau penglihatan Sutra. Wanita itu seperti tengah merasa de ja vu. Namun, ia tak mengingat sama sekali. Mungkin hanya sekadar mimpi yang terlupakan. Pikirnya. “Nyonya sarapan sudah siap.” Mina mengagetkan Sutra. “Mina, kenapa kau yang masak? Di rumah ini sudah ada koki yang khusus untuk memasak. Tugasmu hanya melayani apa yang aku inginkan, bukan?” Mina tersenyum menanggapinya. “Tuan Deodola menginginkan mulai saat ini aku yang masak untukmu dan dia, Nyonya.” Sutra menganjur napas pelan. “Terserah kau saja. Aku hanya tak ingin kau terlalu lelah bekerja.” “Tidak, Nyonya. Aku bahkan sangat senang karena bisa membuatkanmu makanan.” “Baiklah, ja
“Ada apa ini?” Kama datang saat mendengar suara gaduh dari lorong galeri, ada suara Sutra terdengar agak meninggi. Sutra beringsut mendekat. “Dia menyepelekanku, Kama. Dia kira aku tidak bisa membeli lukisan itu.” Ia menunjuk lukisan pemandangan dan seorang ibu muda yang tengah menggendong seorang bayi mungil di tengah senja. “Kau menyukainya?” Sutra mengangguk. “Tuan Deodola, maaf, aku salah—“ “Katakan berapa harganya, istriku akan membelinya.” Kama memotong kata-kata pemandu tersebut, tatapannya dingin tapi pria itu masih mencoba untuk menghalau kemarahannya. “Apa, istri?” Wajah pemandu itu berubah pasi, tampak keringat sebiji jagung mengitari area dahinya. “Kau tidak dengar? Berapa harga lukisan itu?” Kama kembali menyergah. “Du-Dua ratus milyar, Tuan,” jawabnya dengan nada bergetar. “Aku ingin kau membungkusnya dengan rapi, kirim ke alamat istriku. Hari ini harus sudah berada di rumahnya,” ujar Kama tanpa berkedip. Tatapannya masih tampak menghunus kepada pe
“Tunggu!” Terdengar seorang wanita menegur mereka berdua, hingga keduanya saling bersitatap, kemudian menoleh ke asal suara. Sutra tampak menautkan kedua alisnya, melihat sosok wanita yang sudah tak muda lagi berdiri dengan dandanan alakadarnya. Wanita dengan tatapan rambut dicepol tersebut berjalan tergesa menuju Sutra, kedua kelopak matanya meremang akibat digenangi air mata yang mengancam luruh. Baru saja wanita itu hendak memegang kedua pipi Sutra, tiba-tiba Kama menepisnya. “Kau siapa?” tanya Kama dengan wajah penuh curiga. Wanita tua itu menoleh ke arah Kama sepintas, lalu pandangannya kembali tertuju pada Sutra. “Nona, kau tidak mengingatku?” tanyanya dengan suara bergetar. Sutra melempar tatapannya ke arah Kama, sejurus kemudian dia kembali melihat ke arah perempuan baya tersebut. “Maaf, aku tidak mengenalmu. Kau siapa?” tanya Sutra lembut. Wanita itu tiba-tiba menutup mulutnya dengan kedua jari tangannya. Air matanya pun benar-benar keluar tanpa perm
Lima belas tahun lalu keluarga Hans begitu manis. Ia terlahir di tengah keluarga yang begitu menyayanginya. Namun, tepat di ulang tahun Griselda—ibu dari Hans—tengah berulang tahun, tiba-tiba rumah mereka di jarah oleh sekelompok orang tak dikenal, memakai topeng hitam, lengkap dengan sarung tangan. Griselda tewas saat itu juga, tiga butir peluru mengeruk tepat di bagian dada kakan serta kirinya. Ayah Hans, Bram, sempat dirawat di rumah sakit. Namun, nyawanya tak bertahan lama, Bram hanya bertahan selama satu pekan, sebelum pada akhirnya menghembuskan napas terakhirnya karena tak sengaja mendengar jika Gruselda telah meninggal dunia. Dunia Hans benar-benar runtuh, ia bahkan tak lagi memiliki pegangan untuk sekadar menjadi penopang dalam hidupnya. Hingga akhirnya keluarga Deodola datang, memberi secercah harapan kepadanya. Keluarga itu memberikan sebuah pilihan, agar ia mau menjadi adik dari Kama Deodola. Namun, Hans menolak, rasanya tidak mungkin ia berbaur dengan keluarga y







