Share

Bab 223

Author: Jw Hasya
last update Last Updated: 2026-01-21 22:48:43

“Hans akan mengantarkanmu ke dokter. Sekarang kau bersiap-siaplah,” tutur Kama sambil duduk di tepi ranjang.

“Apa?” Kedua bola matanya membelalak.

“Kau ganti dulu pakaianmu, Hans akan mengantarkanmu ke dokter. Hans, kau pakai mobil yang putih. Aku akan ke kantor sendiri. Hari ini kau bertugas untuk menemani Ellies ke dokter.”

“Tidak!” ujar Ellies dengan suara menekan, hingga membuat Kama dan Sutra saling bersitatap.

“Kenapa?” tanya Kama bingung.

“A-aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja, tidak perlu pergi ke dokter.”

“Tapi badanmu begitu lemah. Kau bahkan tidak makan sudah tiga hari. Ini saja aku menyuapimu dengan susah payah.” Sutra menimpali.

“Sebaiknya Tuan dan Nyonya keluar saja. Urusan Nona Ellies, serahkan padaku,” ujar Hans.

Mendengar pernyataan Hans, membuat Ellies susah menelan salivanya sendiri, rasa takut itu kembali gergelung dalam pikirannya.

Sepeninggal Kama dan Sutra, Hans berjalan mendekat, pria itu berdiri di tepi ranjang sambil membawa sweater. “Pakai
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (6)
goodnovel comment avatar
Lisa Anggraini
tapi apakah kama tau kejadian yg Hans cerita kan ke ellies
goodnovel comment avatar
Lisa Anggraini
semoga Ellies punya jalan keluar yg terbaik tanpa meneruskan dendam itu
goodnovel comment avatar
Lisa Anggraini
wah,, sepertinya karena rasa bersalah Hans akan perlahan menaruh hatinya ada ellies
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kama Sutra   Bab 231

    “Siapa pemuda yang bersama dengan adik iparmu itu?” tanya Selena pada Sutra. “Itu? Dia Hans. Calon suaminya. Kenapa? Kau mengenalnya?” Selena mengangguk, lalu sedikit memundurkan langkahnya. “Kau dikelilingi orang-orang Kama? Apa … kau tidak takut?” Sutra menggeleng. “Tentu saja tidak. Mereka bisa melindungi.” “Tapi pemuda itu suka menyiksaku saat aku masih disekap. Bahkan dia kerap memperlakukanku layaknya khewan.” Selena menjulurkan kedua tangannya. Menunjukkan kuku kukunya yang terlepas. “Hei, kukumu lepas?” Sutra menatap heran. Selena mengangguk. “Dia yang melakukannya.” “Apa, masudmu yang melakukan hal itu adalah Hans?” Selena mengangguk. “Dia adalah salah satu dari empat orang yang sering mendatangiku untuk memberi makan. Tapi … dia memang yang paling berperan dan paling jahat.” “Kau tidak sedang berbohong ‘kan?” Selena menggeleng. “Apa kau tidak percaya padaku? Jika memang kau tidak percaya, coba kapan kapan kau tanya pada orang Kama yang pernah menjadi p

  • Kama Sutra   Bab 230

    Setelah membersihkan tubuhnya, Selena berganti pakaian, kemudian wanita yang terlihat begitu kurus tersebut menatap pantulan dirinya dalam cermin. Entah sudah berapa lama ia melewatkan hal itu, menatap wajahnya dalam dalam dari sebuah kaca oval yang bertengger di dinding. “Kau sudah mandi?” Sutra kembali datang setelah meninggalkan Selena untuk beberapa menit. Wanita itu kemudian menoleh ke arah Sutra yang berdiri di balik punggungnya. “Ya, baru selesai.” “Sekarang ikutlah denganku, kita makan. Setelah itu kau akan kuajak untuk menjenguk Nenek.” Selena menarik lengan Sutra. “Ada apa?” tanya Sutra sambil menautkan kedua alisnya. “Aku tidak mau makan dengan banyak orang. Aju malu.” Selena tertunduk. “Kenapa?” Selena menggeleng. “Kalau boleh aku meminta, tolong kasih aku makan di sini saja. Aku belum bisa bertemu dengan banyak orang.” Kemudian ia kembali menatap pantulan dirinya dalam cermin. Sutra baru menangkap sinyal, jika sebetulnya Selena mempunyai rasa malu karena ke

  • Kama Sutra   Bab 229

    “Dokter bilang, Nenek tidak punya banyak waktu lagi. Jadi … aku ingin kita mengatakan jika putrinya sudah tiada. Jujur, Kama. Aku takut, takut jika sampai hembusan napas terakhirnya, Nenek belum tahu jika Bibi Zatulini telah tiada.” Sutra kembali berurai air mata. Kama diam, pria itu mencoba untuk menekuri segalanya. Tiba-tiba kedua telapak tangannya mengepal sempurna, wajahnya menyiratkan kemarahan. Entah pada siapa. “Beri aku sedikit waktu, Sutra. Aku akan mencari siapa pembunuh Zatulini sendiri.” “Bagaimana dengan Hans? Apa dia belum bisa menemukan pembunuhnya?” Kama menggeleng. “Pembunuh Zatulini terlalu rapi. Seharusnya kita bisa mengandalkan Selena. Tapi … dia sendiri tidak tahu siapa pembunuh itu.” “Aku ada ide,” ujar Sutra. Kama menoleh. “Apa?” Sebelah alisnya menukik. “Kau benaskan Selena. Setidaknya, biarkan dia mengunjungi Nenek. Karena bagaimana pun juga, dia adalah cucu kandung Mariana.” Kama kembali termenung, napasnya menyeret berat. Sebetulnya Kama m

  • Kama Sutra   Bab 228

    Mata tua itu akhirnya terbuka perlahan. Ekor matanya basah dengan setitik air mata. Jari-jarinya mulai sedikit ada pergerakan. Sutra mengurai pelukan yang ia berikan untuk sang nenek—Mariana. Matanya kembali mengucurkan derai air mata. “Nenek, kau bangun!” Mariana berusaha tersenyum di tengah rasa sakit yang menderanya. “Nenek minta maaf padamu, Nak,” katanya sambil berusaha memegang punggung tangan Sutra. Sutra menggeleng. “Tidak, Nek. Kau tidak memiliki salah apa pun. Kau orang yang begitu baik selama ini.” “Tidak, Nak. Nenek selalu menyia-nyiakanmu. Maafkan Nenek. Di penghujung nyawa nenek, nenek ingin melepas segala penat dalam hati, dan—“ “Sst!” potong Sutra. “Jangan membahas hal yang tidak perlu dibahas, Nek. Sekarang lebih baik Nenek foku dengan kesehatan Nenek. Semua akan terlalui. Nenek pasti akan sembuh.” Mariana tersenyum samar. “Di mana Zatulini?” Sutra terdiam. Ada dua kemungkinan saat dia mengatakan kabar terakhir putri Mariana tersebut. Kemungki

  • Kama Sutra   Bab 227

    Sebetulnya Sutra ingin bicara pada Kama perihal perjodohan Ellies dengan Hans di meja makan pagi ini. Namun, tiba-tiba ponselna berdering. Sebuah panggilan telepon masuk. “Ya, aku Sutra. Ini dengan siapa?” “Ini dari rumah sakit. Nenek Anda mengalami kecelakaan pagi buta tadi, dan saat ini kondisinya dalam keadaan kritis.” Sutra beranjak. “Nenek? Nenek Mariana?” “Ya, Nyonya. Sebelum Nenek Anda koma, dia sempat memberikan ponselnya kepada pihak rumah sakit dan menyuruh pihak rumah sakitnuntuk kenghubungi nomor Anda. Sekarang, sebaiknya Anda segera datang ke rumah sakit.” Sutra mematikan ponselnya. Tiba-tiba bapasnya begitu sesak dan antap, seolah tercabut dari badannya. Air matanya tiba-tiba mengalir deras. Kama yang melihat sang istri sedang menangis, segera merangsek kursinya dan mendekatinya. “Ada apa dengan Nenek Mariana? Siapa yang menelponmu?” Ia memeluk tubuh sang istri dengan erat. “Nenek sedang kritis di rumah sakit, dia koma. Kata pihak rumah sakit, dia menga

  • Kama Sutra   Bab 226

    “Kama, apa kau tidak merasa jika sikap Hans beberapa hari terakhir ini terlihat cukup aneh?” Sutra sedang menyisir rambutnya di depan cermin meja rias. Kama yang sedang membaca sebuah majalah di sofa di dalam kamarnya, mendadak menutup majalah tersebut, lalu menoleh ke arah sang istri. “Aneh bagaimana? Aku merasa dia sama dengan sebelum sebelumnya.” “Kau ingat, dulu dia menolak kerasa saat akan dijodohkan dengan Ellies. Tapi … kenapa sekarang tiba tiba dia bersedia?” “Sutra, kau terlalu curiga dengan semuanya. Kau tahu? Jika perasaan setiap orang itu pasti berubah ubah. Termasuk, Hans. Sekarang, yang harus kuta lakukan adalah mendoakan kebahagiaan utuk mereka berdua. Aku yakin, Hans pasti bisa menaklukkan hati Ellies, dan Ellies, lambat laun pasti bisa menerima Hans.” Sutra mengangguk ragu. Bukan tanpa alasan dia mengatakan hal itu terhadap Kama. Wanita itu bahkan pernah mendapati Hans dan Ellies sedang bersitegang. Lalu, tak lama kemudian, Ellies berubah. Wanita itu menjadi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status