Share

Bab 242

Author: Jw Hasya
last update Last Updated: 2026-01-31 22:47:27

Ellies termenung di dalam kamar sendirian, tatapannya nanar jatuh di atas lantai beralas permadani.

Tak butuh waktu lama, air mata yang sebelumnya mengancam keluar, detik itu juga burai terurai menitik di atas kedua pipinya yang putih resik.

Gadis yang sebelumnya begitu dikenal tomboy tersebut saat ini sedang memikirkan nasib Hans. Ia takut, jika Kama akan meremukkan tulang belulangnya karena sebuah kesalahan yang seharusnya memang pantas untuk diterima.

Namun, entah kenapa, hati kecil
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (11)
goodnovel comment avatar
•~° ARIES °~•
kaget kaget kamu hansssss... lain kali, cari yang bener2 jangan asal menyimpulkan
goodnovel comment avatar
Iin Huang
sutra nggk bisa maafin kamu Hans kalau lht video waktu itu kamu menikmati tubuhny disaat dia lgi mabuk
goodnovel comment avatar
Iin Huang
kamu nggk nyri tau dulu Hans tentang kebenaran nya? cuma asal nuduh doang??? gilaaaaa kamu Hans. sadar Hans kamu itu salah menilai orang
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kama Sutra   Bab 299

    Satu minggu berlalu, Sutra masih begitu setia menemani Kama di dalam ruang perawatan di rumah sakit. Dokter Becca dan tim medis lainnya pagi ini manemuinya di dalam ruang perawatan Kama. “Jika kalian masih terus ingin aku menandatangi berkas itu, maaf … aku tidak akan pernah melakukannya,” ketus Sutra. “Tapi suamimu sudah tidak ada harapan lagi. Dan pihak rumah sakit ini memang memberi kebijakan seperti itu, Nyonya.” Salah satu tim dokter berujar dengan pembawaan cukup tenang. “Jika memang begitu, aku akan membawanya pulang ke kotaku dan akan mencari rumah sakit yang bisa membuatnya sadar dari komanya!” Sutra beranjak dari kursi tunggu. “Sutra, jangan begitu. Rumah sakit ini adalah rumah sakit terbaik di kota.” Dokter Becca menyambar. “Kau! Bahkan kau saja yang diberi hidup oleh keluarga suamiku, tega ingin mengakhiri hidupnya?” Sutra menggeleng tak percaya. “Aku bahkan tidak pernah kau akan melakukan hal sejahat ini, Dokter Becca! Kukira kau tulus menyayangi suamiku.”

  • Kama Sutra   Bab 298

    “Tuan Muda Kama pengidap kanker usus sejak lima tahun yang lalu. Tapi … dia selalu menolak ketika aku menyuruhnya untuk segera berobat. Katanya ‘nanti saja’ selalu seperti itu.” Dada Sutra tiba tiba terasa begitu sesak saat mendengar penjelasan Dokter Becca. “Lima bulan lalu, dengan tiba tiba dia mau operasi saat penyakitnya sudah menyebar. Sebetulnya aku juga tidak menyangka jika pada akhirnya dia mau sembuh demi dirimu dan juga kedua putra putrinya.” “A-apa maksudnya semua ini? K-kenapa dia tidak pernah mengatakan apa apa terhadap diriku? Kenapa?” “Tuan Muda takut kau akan menjadi kepikiran jika dia memberitahu kondinya padamu. Dia begitu mencintaimu, hingga tak ingin melihatmu bersedih, terluka bahkan nelangsa. Dia akan melakukan apa pun asal kau bahagia.” “Tapi tidak harus dengan cara menutupi penyakitnya dariku, Dokter?” Air matanya kian mencuat menerobos di kedua pipinya. “Aku ini istrinya, aku berhak tahu segalanya tentang dia!” kata kata Sutra penuh penekanan. “Sebetul

  • Kama Sutra   Bab 297

    Siang merayap ganas, musim kali ini sedikit tidak menentu, kadang turun hujan, kadang hanya angin yang menyambar nyambar di sertai terik matahari yang kian rakus melahap setiap pecalang. Sutra memutuskan untuk tinggal sementara di mansion keluarga Deodola, di sana dia bisa memiliki banyak aktivitas, di antaranya adalah membantu para pelayan untuk membersihkan mansion atau membantu sebagian dari mereka untuk menyiapkan hidangan di atas meja panjang. “Nyonya ada dokter Becca di luar sedang mencarimu.” Salah seorang pelayan menghampiri Sutra yang tengah memetik anggur di bangunan belakang. Sutra tampak menautkan kedua alisnya. Sudah lama dia tidak mendapati kabar dokter yang lumayan ceriwis tersebut. “Suruh dia menungguku di taman samping. Aku akan menyusul segera.”“Baik, Nyonya.”Sutra merapikan gunting sekaligus wadah anyaman yang terbuat dari bambu yang telah berisi beberapa gerombol anggur hijau. Kemudian wanita itu menaruh di meja bundar untuk kemudian agar dibawa masuk ke bang

  • Kama Sutra   Bab 296

    Pagi kembali menyapa pelataran Kota Vilateli. Sudah memasuki hari ke 121, tapi Kama belum juga ada kabar. Sutra sedikit putus asa karena selama empat bulan itu Kama menghilang tanpa jejak. “Mungkin dia sengaja menghindar darimu karena sudah menemukan yang lebih baik bagi dirinya, Sutra.” Selena memecah keheningan. “Daripada kau terus memikirkannya, bukankah lebih baik jika kau pergi keluar untuk mencari hiburan? Kurasa dia juga saat ini sedang bersenang senang dengan wanita lain,” imbuh Selena tanpa memikirkan perasaan Sutra. Bagaimana pun juga kedua insan tersebut pernah bersitegang, terlebih kematian Zatulini masih ada campur tangan dari Kama, sudah tentu Selena tidak akan sepenuhnya bersikap baik kepada keluarga Deodola dan Sutra. “Kenapa kau berkata seperti itu, Selena? Bagaimana jika saat ini apa yang kau katakan malah sebaliknya?” ujarnya dengan wajah bingung. “Sebaliknya seperti apa maksudmu? Dia sedang berada di situasi sulit, begitu?” Selena menautkan kedua alisnya sambil

  • Kama Sutra   Bab 295

    Bagi ini berita pertelevisian digemparkan dengan penemuan sesosok mayat yang menggelantung di bawah jembatan layang. Seorang yang bertugas sebagai salah satu tukang membersihkan jalanan kota, mendapati seorang pria dengan berpakaian rapi menggelantung di sana. Sepucuk surat terselip di kantong jas hitamnya. (Untuk Ellies. Saat kau membaca sepucuk surat dariku ini, aku tentu sudah tidak lagi di dunia lagi. Aku benar benar meminta maaf padamu, karenaku kau terluka, kau sakit, kau hancur, bahkan harus kehilangan masa depanmu yang mungkin selama ini menjadi impian terbaikmu. Maafkan aku untuk segala luka yang telah kutorehkan dalam perjalanan hidupmu. Kau benar, Ellies. Aku tidak pantas meskipun hanya sekadar bernapas dalam dunia ini. Aku orang paling jahat, dan aku adalah iblis yang berwujud manusia. Di penghujung surat dariku ini, aku ingin kau tahu satu hal, mungkin ini terkesan mengada ngada. Tapi … aku mencintaimu, entah sejak kapan. Namun, yang pasti saat kau hamil Sofia, aku

  • Kama Sutra   Bab 294

    Cahaya lam-lampu di koridor rumah sakit berwarna putih kebiruan menerangi langkah Dokter Becca saat menuju ruang perawatan intensif. Tangannya memegang hasil scan terbaru, matanya fokus membaca setiap garis yang tertera di atas kertas. Di dalam ruangan itu, Kama terbaring tidak sadarkan diri di atas ranjang putih bersih, tubuhnya ditutupi selimut tipis dengan beberapa selang yang terhubung ke tubuhnya.“Hasilnya sudah keluar, Tuan,” ujar Dokter Becca dengan suara lembut, meskipun dia tahu pasiennya masih dalam keadaan koma. Wanita paruh baya itu menarik kursi kecil dan duduk di sisi ranjang, menatap wajah Kama yang pucat. “Operasi kanker usus besarmu berjalan dengan cukup baik, tapi tubuhmu membutuhkan waktu untuk bereaksi. Kami sudah melakukan yang terbaik yang kami bisa.”Empat hari yang lalu, tepat saat Kama hendak memasuki ruang operasi, pria itu sempat menarik tangan Dokter Becca dengan kekuatan terakhir yang ada padanya. Wajahnya diliputi kesedihan.“Tidak ada seorang pun yang b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status