Se connecterDua minggu berlalu, kondisi Kama semakin menunjukkan ke arah lebih baik lagi. Dokter yang menangani penyakitnya memanggil Sutra ke dalam ruangannya. “Bagiamana kondisi suamiku, Dokter? Kapan dia bisa pulang?” Dokter itu menyandarkan tubuhnya di bahu kursi. “Kondisinya semakin baik. Akan tetapi ….” Dia menggantung kalimatnya, menatap dalam ke arah Sutra yang tampak mengernyitkan dahinya. “Kanapa, Dokter?” tanya Sutra penasaran. Dokter itu tiba tiba menggeleng cepat. “Tidak, dia baik baik saja. Kau boleh membawanya pulang kapan pun kau mau, karena memang sudahlebih baik.” “Apa sel kankernya betul betul sudah tidak ada?” tiba yiba Sutra bertanya hal itu dengan wajah tegang. Dokter mencondongkan tubuhnya hingga sedikit mendekat ke arah Sutra yang duduk berhadapan dengannya. “Sel kanker itu tidak betul betul mati. Hanya saja untuk sementara waktu ini, sel itu membeku dan apabila Tuan Deodola hidup secara sehat dan menjalani segala prosedur yang kami tentukan, tidak menutu
Satu minggu berlalu, Sutra masih begitu setia menemani Kama di dalam ruang perawatan di rumah sakit. Dokter Becca dan tim medis lainnya pagi ini manemuinya di dalam ruang perawatan Kama. “Jika kalian masih terus ingin aku menandatangi berkas itu, maaf … aku tidak akan pernah melakukannya,” ketus Sutra. “Tapi suamimu sudah tidak ada harapan lagi. Dan pihak rumah sakit ini memang memberi kebijakan seperti itu, Nyonya.” Salah satu tim dokter berujar dengan pembawaan cukup tenang. “Jika memang begitu, aku akan membawanya pulang ke kotaku dan akan mencari rumah sakit yang bisa membuatnya sadar dari komanya!” Sutra beranjak dari kursi tunggu. “Sutra, jangan begitu. Rumah sakit ini adalah rumah sakit terbaik di kota.” Dokter Becca menyambar. “Kau! Bahkan kau saja yang diberi hidup oleh keluarga suamiku, tega ingin mengakhiri hidupnya?” Sutra menggeleng tak percaya. “Aku bahkan tidak pernah kau akan melakukan hal sejahat ini, Dokter Becca! Kukira kau tulus menyayangi suamiku.”
“Tuan Muda Kama pengidap kanker usus sejak lima tahun yang lalu. Tapi … dia selalu menolak ketika aku menyuruhnya untuk segera berobat. Katanya ‘nanti saja’ selalu seperti itu.” Dada Sutra tiba tiba terasa begitu sesak saat mendengar penjelasan Dokter Becca. “Lima bulan lalu, dengan tiba tiba dia mau operasi saat penyakitnya sudah menyebar. Sebetulnya aku juga tidak menyangka jika pada akhirnya dia mau sembuh demi dirimu dan juga kedua putra putrinya.” “A-apa maksudnya semua ini? K-kenapa dia tidak pernah mengatakan apa apa terhadap diriku? Kenapa?” “Tuan Muda takut kau akan menjadi kepikiran jika dia memberitahu kondinya padamu. Dia begitu mencintaimu, hingga tak ingin melihatmu bersedih, terluka bahkan nelangsa. Dia akan melakukan apa pun asal kau bahagia.” “Tapi tidak harus dengan cara menutupi penyakitnya dariku, Dokter?” Air matanya kian mencuat menerobos di kedua pipinya. “Aku ini istrinya, aku berhak tahu segalanya tentang dia!” kata kata Sutra penuh penekanan. “Sebetul
Siang merayap ganas, musim kali ini sedikit tidak menentu, kadang turun hujan, kadang hanya angin yang menyambar nyambar di sertai terik matahari yang kian rakus melahap setiap pecalang. Sutra memutuskan untuk tinggal sementara di mansion keluarga Deodola, di sana dia bisa memiliki banyak aktivitas, di antaranya adalah membantu para pelayan untuk membersihkan mansion atau membantu sebagian dari mereka untuk menyiapkan hidangan di atas meja panjang. “Nyonya ada dokter Becca di luar sedang mencarimu.” Salah seorang pelayan menghampiri Sutra yang tengah memetik anggur di bangunan belakang. Sutra tampak menautkan kedua alisnya. Sudah lama dia tidak mendapati kabar dokter yang lumayan ceriwis tersebut. “Suruh dia menungguku di taman samping. Aku akan menyusul segera.”“Baik, Nyonya.”Sutra merapikan gunting sekaligus wadah anyaman yang terbuat dari bambu yang telah berisi beberapa gerombol anggur hijau. Kemudian wanita itu menaruh di meja bundar untuk kemudian agar dibawa masuk ke bang
Pagi kembali menyapa pelataran Kota Vilateli. Sudah memasuki hari ke 121, tapi Kama belum juga ada kabar. Sutra sedikit putus asa karena selama empat bulan itu Kama menghilang tanpa jejak. “Mungkin dia sengaja menghindar darimu karena sudah menemukan yang lebih baik bagi dirinya, Sutra.” Selena memecah keheningan. “Daripada kau terus memikirkannya, bukankah lebih baik jika kau pergi keluar untuk mencari hiburan? Kurasa dia juga saat ini sedang bersenang senang dengan wanita lain,” imbuh Selena tanpa memikirkan perasaan Sutra. Bagaimana pun juga kedua insan tersebut pernah bersitegang, terlebih kematian Zatulini masih ada campur tangan dari Kama, sudah tentu Selena tidak akan sepenuhnya bersikap baik kepada keluarga Deodola dan Sutra. “Kenapa kau berkata seperti itu, Selena? Bagaimana jika saat ini apa yang kau katakan malah sebaliknya?” ujarnya dengan wajah bingung. “Sebaliknya seperti apa maksudmu? Dia sedang berada di situasi sulit, begitu?” Selena menautkan kedua alisnya sambil
Bagi ini berita pertelevisian digemparkan dengan penemuan sesosok mayat yang menggelantung di bawah jembatan layang. Seorang yang bertugas sebagai salah satu tukang membersihkan jalanan kota, mendapati seorang pria dengan berpakaian rapi menggelantung di sana. Sepucuk surat terselip di kantong jas hitamnya. (Untuk Ellies. Saat kau membaca sepucuk surat dariku ini, aku tentu sudah tidak lagi di dunia lagi. Aku benar benar meminta maaf padamu, karenaku kau terluka, kau sakit, kau hancur, bahkan harus kehilangan masa depanmu yang mungkin selama ini menjadi impian terbaikmu. Maafkan aku untuk segala luka yang telah kutorehkan dalam perjalanan hidupmu. Kau benar, Ellies. Aku tidak pantas meskipun hanya sekadar bernapas dalam dunia ini. Aku orang paling jahat, dan aku adalah iblis yang berwujud manusia. Di penghujung surat dariku ini, aku ingin kau tahu satu hal, mungkin ini terkesan mengada ngada. Tapi … aku mencintaimu, entah sejak kapan. Namun, yang pasti saat kau hamil Sofia, aku







