LOGIN"Mas, kisahmu sudah seperti cerita serial saja. Paling di tunggu-tunggu setiap hari oleh tukang gosip," ujar Desta saat break siang itu."Biar saja," jawab Arsel tidak peduli. "Nanti kalau spekulasinya semakin ngawur dan ke mana-mana, mereka akan tahu rasa apa yang kulakukan. Mereka mungkin lupa selama ini berpenghasilan dari mana. Nanti kami stop, baru tahu."Desta terhenyak. Merinding juga dengan ucapan kakak sepupunya. Walaupun dia termasuk sosok yang tidak menjadikan cerita Arsel seperti aib. Desta menanggapinya dengan bijak. 🖤LS🖤Dua minggu kemudian cerita masih panas. "Jangan dengarkan mereka, Ma. Biar saja mereka mengoceh sesukanya. Yang penting keluarga kita sudah nyaman dan bahagia," kata Pak Fardhan sore itu setelah duduk di teras bersama istrinya.Bu Elok tidak mendengar langsung apa yang mereka bicarakan, tapi ada yang memberitahunya. Yaitu sepupu Pak Fardhan yang memang tidak membenci dan ikut menghakimi wanita itu.Sementara di apartemen, Kimmy tidak mendengar apa-ap
Melihat sorot mata Arsel yang dingin, Bu Fara memilih tidak mendebatnya lebih jauh.Pak Eko hanya diam, sesekali melirik bayi Ravi yang berada di pangkuan omanya. Sementara Bu Fara masih sibuk dengan pikirannya sendiri. "Terus, Mas Fardhan nggak ingin mengadakan resepsi? Pernikahan anak pertama masa nggak dirayakan," tanyanya penuh selidik sambil melirik pada Bu Elok."Tentu saja ada," jawab Pak Fardhan mantap. "Nanti saja, tunggu waktunya tepat. Sekarang kami hanya ingin menikmati waktu bersama cucu."Bu Fara mengangguk-angguk, meski otaknya masih berputar mencari celah dalam cerita itu. Baginya rahasia sang kakak selalu jauh lebih dalam dari apa yang terlihat di permukaan. Namun sore itu kenyataannya Kimmy sudah menjadi nyonya Arsel. Bisa-bisanya mereka begini.Beberapa menit kemudian, Bu Elok dan Kimmy pamitan untuk membawa Ravi ke kamar. Bayi itu sepertinya lelah terus dipangku. Mereka menaiki tangga ke lantai dua untuk ke kamar Kimmy. Sedangkan Arsel ke dapur minta dibuatkan kopi
KAMU YANG KUCINTAI - 71 Heboh "Ada Tante Fara, Pa," ucap Arsel lirih, masih memandang keluar. "Ya, biar saja. Kamu nggak usah ngomong, biar Papa yang bicara. Dan itu yang akan kita jelaskan pada siapa saja yang bertanya nantinya." Arsel mengangguk. Papa dan anak memandang pada dua orang yang turun dari mobil. Sedangkan Kimmy dan Bu Elok tidak menyadari kedatangan mereka. Dua orang itu asyik dengan Ravi yang baru selesai minum susu. "Ma, ada Fara dan suaminya. Nanti kalian berdua mendengarkan saja jika kami bicara," ucap Pak Fardhan pada Bu Elok dan Kimmy. Dua wanita itu sempat terkejut. Namun tatapan mata Arsel pada Kimmy seolah mengisyaratkan, tenang saja. "Assalamu'alaikum." Dua orang muncul di pintu dan mengucapkan salam. "Wa'alaikumsalam," jawab serempak keluarga Pak Fardhan. Langkah Bu Fara terhenti seketika, matanya membulat sempurna saat melihat Kimmy berdiri di dekat sang mama yang sedang memangku Ravi. Kimmy disusul Arsel maju dan menyalami Bu Fara dan Pak Ek
"Rasakan sakitnya, lantas berdamai, dan bangkit. Kamu nggak akan kesulitan cari pengganti, asal kamu sendiri mau membuka hati. Kamu punya semuanya, Lang. Jangan tumbang karena patah hati. Pergilah traveling untuk beberapa waktu untuk menenangkan dirimu." Meski pernah melakukan kesalahan, Pak Ndaru cukup bijak memberikan semangat pada putra semata wayangnya. Apalagi diam-diam sebenarnya ia mengharapkan Langit segera menikah dan punya anak.Langit hanya tersenyum getir, menatap punggung papanya yang akhirnya bangkit dari duduknya dan menjauh untuk menerima telepon. Di bawah langit malam yang pekat, memori masa kecilnya bersama Kimmy kembali berkelindan. Kenangan yang tak akan pernah terlupakan.Pengakuan Arsel di kantor tadi adalah vonis mati bagi harapannya. Di saat Langit sudah lebih dari siap untuk menerima Kimmy apa adanya, ia justru mendapati wanita itu sudah bersama kakak tirinya sendiri. Lantas butuh berapa lama untuk mengobati lukanya yang sangat dalam ini?Dada Langit serasa se
"Tadi siang, Abang menemui Langit di kantornya." Arsel melanjutkan percakapan saat mereka duduk di tepi ranjang.Kimmy kaget dan gemetar. Khawatir mereka bersitegang dan berkelahi. Kimmy memperhatikan wajah, tangan, tubuh suaminya. Namun ia tidak menemukan tanda-tanda kekerasan. "Abang menemui Mas Langit?"Arsel pun menceritakan seluruh percakapannya dengan Langit. Tentang pengakuannya sebagai pria yang menodai Kimmy, tentang cintanya yang lama terpendam, hingga tentang keberadaan Ravi. Tidak ada satu detail pun yang ia tutupi dari Kimmy."Kenapa Abang seberani itu jujur padanya?" tanya Kimmy dengan nada khawatir. "Apa Abang nggak takut dia akan menggunakan informasi itu untuk menghancurkan Abang?"Walaupun sangat mengenal Langit, tapi Kimmy khawatir juga. Langit memang baik padanya, tapi belum tentu pada Arsel pun demikian. Apalagi setelah tahu kalau Arsel yang telah menodainya.Arsel menggeleng pelan, jemarinya mengusap pipi Kimmy yang masih sedikit basah. "Tidak jujur pun, dia teta
KAMU YANG KUCINTAI - 70 I Love You "Sayang, kenapa melamun?" tegur Arsel dengan suara baritonnya yang datar. Mereka baru saja selesai makan malam dan sekarang duduk santai di sofa.Arsel telah memperhatikan sang istri sejak pulang kerja tadi. Kimmy tampak sendu meski tetap menyambutnya dengan senyum. Wajah Kimmy itu sulit menyembunyikan sesuatu darinya. Arsel begitu cepat bisa membacanya.Kimmy terhenyak lantas mengangkat wajah dengan binar mata yang gugup. "Nggak ada apa-apa, Bang.""Sayang, jangan bohong. Abang tahu kalau ada yang kamu sembunyikan. Apa yang sedang kamu pikirkan? Kalau ada apa-apa, bisa kita bicarakan," kata Arsel pelan.Kimmy menelan ludah. Ia tahu tidak ada gunanya bersandiwara di depan pria yang bisa membaca pikirannya bahkan sebelum ia bicara. "Tadi siang tuh aku buka ponsel lama, Bang. Aku cuma mau cek i-banking. Sebab Mama bilang, tiap bulan ngirim uang ke rekeningku. Jadi tadi kulihat. Eh, beneran.""Lalu kenapa sedih begitu. Bukankah seharusnya kamu senang?
Di sampingnya, Ettan duduk dengan santai. Tangannya merayap naik, melingkari bahu Salsa dan menariknya hingga tak ada lagi celah di antara mereka. Salsa tidak menolak. Ia justru menyandarkan kepalanya ke bahu Ettan, menghirup aroma parfum cedarwood yang dipakai cowok itu.Papanya tidak tahu kalau S
"Kalau begitu, ganti bajunya. Kausmu sudah basah oleh keringat, nanti malah makin menggigil," ujar Kimmy sambil meletakkan kaus bersih di pinggir ranjang.Arsel berusaha duduk, meski kepalanya terasa sangat sakit. "Iya, terima kasih, Kim."Saat Arsel membuka kausnya, Kimmy beranjak ke jendela dan m
Langkah Kimmy agak cepat. Ketika mencapai gerbang utama pemukiman elite itu, napasnya sudah ngos-ngosan. Semenjak hamil, dia merasa cepat sekali lelah.Kebetulan ada taksi yang lewat dan langsung di stop oleh Kimmy. "Terminal Bungurasih, Pak.""Nggih, Mbak," jawab driver setengah baya.Taksi melaju
KAMU YANG KUCINTAI- 9 Testpack "Kimmy, kamu nggak kuliah pagi ini, Sayang?" tanya Bu Elok lembut, tangannya ragu untuk menyentuh bahu Kimmy yang duduk di dekat jendela kamar sambil memandang taman di luar.Kimmy hanya menggeleng pelan. Matanya tetap terpaku pada dahan pohon mangga yang bergoyang







