MasukKAMU YANG KUCINTAI
- 3 Tiba-tiba Menikah "Bang Arsel itu sudah punya pacar yang selevel, Kim. Jangan pernah bermimpi bisa menggodanya," sindir Salsa begitu sinis dan ketus. Kali ini Kimmy menatap saudara tirinya itu dengan kemarahan membuncah. "Kamu terlalu kepedean ngomong seperti itu. Siapa juga yang mau menggodanya? Aku nggak sengaja tadi." "Cih, orang sepertimu kan biasanya nggak peduli. Nekatan. Kayak mamamu yang pintar menggoda papaku sampai beliau kepincut." Salsa semakin sengit. Kobar kebencian tampak di matanya yang bulat. Darah Kimmy mendidih. Rasa panas menjalar dari ulu hati hingga ke wajahnya yang memucat. "Jaga bicaramu. Mamaku bukan penggoda." Salsa tersenyum miring. "Saran aku sih, mending kamu tahu diri. Rumah ini nggak layak untuk kalian. Almarhumah mamaku yang menemani papa hingga sukses. Tapi mamamu yang tinggal memetik hasilnya." Kimmy tidak sanggup lagi bernapas di sana, segera berbalik, melangkah lebar-lebar menuju ruang samping. Tangannya gemetar saat menyambar helm dan kunci motor di rak. Dadanya bergemuruh oleh amarah dan rasa sakit. Namun ia bisa apa. Sekuat apapun dia melawan, akan tetap kalah. Sebab jika mamanya tahu, tetap Kimmy yang disuruh bersabar. Saat ia menuntun motornya keluar dari garasi yang dipenuhi mobil-mobil mewah, sebuah suara parau menghentikannya. "Mbak Kimmy, tunggu sebentar!" Mak Karti berlari kecil sambil membawa sebuah tas kresek hitam yang tampak berat. "Ini, Mbak. Sarapan buat dimakan di kampus. Mak tahu Mbak Kim belum sempat sarapan tadi," ujar ART itu menyodorkan bungkusan dengan tatapan iba. Kimmy memaksakan tersenyum meski matanya mulai memanas. "Terima kasih, Mak." "Hati-hati di jalan, Mbak. Sabar, ya," pesan Mak Karti yang tanpa menunggu jawaban langsung berbalik pergi. Khawatir nona muda yang satunya melihat. Kimmy mengangguk pelan, lalu menghidupkan mesin motornya. Memacu kendaraannya membelah jalanan pagi yang mulai macet. Di balik kaca helm yang gelap, air matanya akhirnya luruh juga. Angin kencang menyapu pipinya, tapi rasa perih di hatinya tak kunjung sirna. "Kenapa Mama betah?" batinnya pedih. Ia tak habis pikir kenapa Mamanya selalu menutup telinga dan mata. Di depan Pak Fardhan, Salsa akan berubah menjadi gadis imut yang menggemaskan. Sementara Arsel, tetap menjadi gunung es yang tak tersentuh, baik ada papanya maupun tidak. "Entah kamu nanti bisa kuliah nggak, Kim." Mamanya berkata demikian saat mereka baru kehilangan kepala keluarga. Papanya Kimmy meninggal karena serangan jantung. Disaat bisnisnya ditipu oleh rekannya sampai papanya Kimmy menanggung hutang milyaran rupiah. Semua terjual. Mobil, beberapa rumah, dan lahan. Mereka benar-benar hancur saat itu. Bu Elok yang sejak menikah hanya ibu rumah tangga biasa, akhirnya kerja banting tulang. Menjadi pelayan restoran, pembantu, kerja di laundry. Walaupun seorang sarjana, tapi tidak memiliki pengalaman kerja sama sekali. Sedangkan syarat diterima kerja sekarang ini juga dibatasi usia. Mereka hidup susah sejak Kimmy SMA kelas dua. Pindah dari kosan satu ke kosan lain. Lalu tiba-tiba mamanya punya uang banyak. Dan tidak bekerja lagi. Bisa membeli ini, itu. Mengajak Kimmy tinggal di apartemen. "Jangan khawatir, kamu bisa kuliah nanti." "Mama, dapat uang dari mana?" "Nggak usah nanya. Yang penting kita punya tempat tinggal yang layak dan kamu bisa kuliah," jawab mamanya sambil tersenyum dan mencium pipi Kimmy. Kimmy yang polos hanya diam, meski dalam hati ribut dengan banyaknya pertanyaan dan rasa penasaran. Namun ia tetap bungkam. Benar, yang penting bisa sekolah dan tak lagi di ejek oleh teman-temannya. Semenjak usaha papanya bangkrut, mereka jatuh miskin, teman-teman Kimmy menjauh. Hanya Tina dan Langit yang masih bersamanya. Karena Tina dari kalangan biasa. Sekarang Tina tidak kuliah. Sudah bekerja di pabrik garmen. Sedangkan Langit? Entah di mana dia. Langit bukan dari keluarga biasa, tapi hidupnya sama rumit seperti dirinya. Di kampus pun Kimmy tidak punya banyak teman. Dia membatasi pergaulan. Sebab setelah terpuruk, Kimmy minder bergaul dengan anak-anak orang berada. Apalagi sebagian memandang sebelah mata, karena ibu Kimmy merebut Pak Fardhan dari mamanya Salsa. Akhirnya sang mama pun tidak mengizinkannya bergaul dengan mereka. "Mama mau nikah, Kim." Suatu malam sang mama tiba-tiba memanggilnya dan mengabari hal itu. Kimmy terkejut. Lebih terkejut lagi sang mama menikah dengan papa dari adik kelas di kampusnya. Salsa. Kala itu Kimmy semester empat dan Salsa semester dua. Sejak saat itu ketenangan yang mulai dirasakan, terusik oleh sindiran halus dan cemoohan Salsa dan teman-teman yang menjadi gengnya. "Kenapa Mama nikah sama Pak Fardhan?" "Karena dia yang selama ini membiayai hidup kita dan melunasi hutang-hutang papamu. Apa salahnya yang penting kamu tetap bisa kuliah dan kita punya tempat tinggal yang nyaman." Kimmy tak bisa berontak. Menelan kepedihan di rumah megah itu sendirian. Dan hanya Langit tempatnya bercerita. Sekarang Langit pun pergi. Rasa sesak kembali menghantamnya. Langit adalah satu-satunya orang yang tidak memandangnya dengan hinaan. Setibanya di kampus, Kimmy mencari sudut paling sepi di taman belakang fakultas. Ia duduk di bangku semen yang dingin, membuka tas kresek hitam dari Mak Karti. Aroma nasi goreng hangat menyeruak, namun tenggorokannya terasa tersumbat. Sambil menyuap pelan, pikirannya terbang pada sosok pria berjaket kulit itu. Langit. "Kenapa dia juga harus pergi saat aku nggak punya siapa-siapa lagi?" Meski Langit itu laki-laki, tapi Kimmy sangat mempercayainya. Langit yang tidak pernah mengambil kesempatan pada kepolosan dan penderitaan Kimmy. Gadis itu menatap butiran nasi di lunch box dengan pandangan kabur. Dunia terasa begitu luas, tapi tak satu pun sudutnya terasa aman bagi seorang gadis yang ingin lari dari kepahitan hidupnya. Selesai sarapan, Kimmy masuk kelas. Menyapa teman di sebelah sekedarnya. Kemudian mengikuti mata kuliah hari itu hingga selesai. Tiap waktunya pulang ke rumah, ia merasa enggan. Dipandanginya layar ponsel di tangan. Tidak ada pesan atau pun telepon dari mamanya. Kimmy pun malas hendak mengirim pesan. Wanita itu selalu menganggap Kimmy baik-baik saja. Mamanya terlalu bahagia dengan kehidupannya yang sekarang. Tatapan sang mama dan papa tirinya terlihat begitu penuh cinta. Dia tak sadar, anaknya semenderita apa. Motor Kimmy keluar kampus. Melaju dijalanan yang tidak ada sepinya. Haruskah langsung pulang ke rumah dan mengunci kamar? Disaat sedang kalut, ia melihat pria yang mengendarai motor jauh di depan sana. Sosoknya seperti Langit. Dan jaket yang dipakainya persis punya Langit. Kimmy memacu motornya lebih cepat. Jangan sampai terhalang lampu merah dan kehilangan jejaknya. Next ....KAMU YANG KUCINTAI- 6 Bangkit, Kimmy "Kim, kamu masih punya Mama," suara Bu Elok terdengar serak karena habis menangis."Aku nggak punya siapa-siapa lagi," desis Kimmy lirih. Tatapannya kosong, rambut acak-acakan, dan kondisinya sangat kacau malam itu. Ia sangat marah, karena mamanya tak pernah mau mendengarkannya. Namun dia tidak bisa mengumpat atau memaki wanita yang dipanggilnya mama. Seorang Mama pasti akan mendengarkan anaknya. Tapi ini tidak.Pak Fardhan tidak berani membuka suara. Daripada nanti Kimmy histeris. Akhirnya dia melangkah keluar kamar dan membiarkan ibu dan anak di dalam.Bu Elok kembali menangis. Ingin memeluk Kimmy tapi gadis itu memilih diam dan menghindar. Jiwa raganya sakit sekali. Dia sudah hancur sekarang. Bagaimana kalau dirinya hamil?Sepanjang malam, Bu Elok tidak meninggalkan Kimmy sendirian. Gaun untuk dinner tadi masih melekat di tubuhnya. Dia takut terlena dan Kimmy melakukan sesuatu di luar batas. 🖤LS🖤Tujuh jam berlalu. Matahari pagi menyelinap
KAMU YANG KUCINTAI - 5 Malam Penuh Luka "Bang, aku Kimmy," teriak Kimmy dengan panik. "Tolong! Mak Karti, tolong!" Kimmy histeris.Namun area pelayan berada di lantai bawah bagian belakang. Suaranya tertelan oleh tebalnya dinding kedap suara rumah mewah itu. Arsel menendang pintu kamarnya hingga terbuka, lalu membanting Kimmy ke atas ranjang king size-nya yang dingin. Kekuatan yang mustahil untuk dilawan seorang Kimmy. Apalagi pengaruh obat itu begitu luar biasa. Merambat di seluruh aliran darahnya. Menepis batasan yang menghilangkan kesadarannya.Malam itu berubah menjadi mimpi paling buruk bagi Kimmy. Beberapa saat kemudian.Pintu kamar Arsel terbuka, Kimmy keluar dengan langkah lunglai. Rambutnya kusut masai, wajahnya pucat pasi, matanya kosong menatap lantai marmer yang dingin. Ia terseok-seok masuk ke dalam kamarnya sendiri, menutup pintu, dan seketika itu juga seluruh pertahanannya runtuh.Kimmy menjerit sejadi-jadinya. Ia meraih bantal, guling, dan buku-buku di meja belajarn
KAMU YANG KUCINTAI- 4 Pergi, Kimmy"Jangan sekarang, tolong jangan sekarang," jerit Kimmy dalam hati. Berharap lampu traffic light tidak berubah kuning. Di depannya motor sport itu meliuk gesit di antara deretan kendaraan. Kimmy menarik gas, mengabaikan getaran hebat pada setang motor matiknya.Lampu lalu lintas di depan berubah kuning. Tapi justru Kimmy memacu motornya lebih kencang tepat saat lampu merah menyala. Suara klakson bersahutan di aspal Surabaya yang membara. "Woi! Cari mati kamu, ya!" umpat seorang pengendara mobil yang nyaris menghantam sisi motornya. Dan umpatan lainnya pun terdengar. Kimmy tidak peduli meski itu sangat berbahaya bagi diri sendiri. Tatapannya terkunci pada punggung pria di depan sana. Ia terus membuntuti hingga motor itu berbelok ke sebuah bengkel modifikasi di sudut jalan yang agak sepi. Meski mulai ragu akan pengendara itu, karena tubuhnya tak setinggi Langit.Kimmy ikut berhenti dan hampir terjatuh karena tubuhnya gemetar. Ia menyandarkan motornya
KAMU YANG KUCINTAI - 3 Tiba-tiba Menikah "Bang Arsel itu sudah punya pacar yang selevel, Kim. Jangan pernah bermimpi bisa menggodanya," sindir Salsa begitu sinis dan ketus. Kali ini Kimmy menatap saudara tirinya itu dengan kemarahan membuncah. "Kamu terlalu kepedean ngomong seperti itu. Siapa juga yang mau menggodanya? Aku nggak sengaja tadi.""Cih, orang sepertimu kan biasanya nggak peduli. Nekatan. Kayak mamamu yang pintar menggoda papaku sampai beliau kepincut." Salsa semakin sengit. Kobar kebencian tampak di matanya yang bulat.Darah Kimmy mendidih. Rasa panas menjalar dari ulu hati hingga ke wajahnya yang memucat. "Jaga bicaramu. Mamaku bukan penggoda."Salsa tersenyum miring. "Saran aku sih, mending kamu tahu diri. Rumah ini nggak layak untuk kalian. Almarhumah mamaku yang menemani papa hingga sukses. Tapi mamamu yang tinggal memetik hasilnya."Kimmy tidak sanggup lagi bernapas di sana, segera berbalik, melangkah lebar-lebar menuju ruang samping. Tangannya gemetar saat menyam
KAMU YANG KUCINTAI- 2 Balas, Kim"Jam berapa ini? Kenapa baru pulang?" Suara Arsel begitu dingin. Pria itu sedang menyandarkan sikunya di pagar balkon, jemarinya menjepit sebatang rokok yang ujungnya membara di kegelapan. Matanya tajam menatap Kimmy yang menegang ketakutan."Aku bertemu teman," jawab Kimmy dengan nada cepat, lantas menghilang masuk kamar. Terdengar bunyi kunci diputar. Klik.Pria itu menarik napas panjang, membiarkan nikotin membakar paru-parunya sejenak sebelum mematikan puntung rokok di asbak. Kemudian melangkah masuk ke kamarnya.Kimmy diam duduk di tepi pembaringan. Arsel tidak bicara, tapi tatapannya itu seolah melucuti pertahanan Kimmy. Membuat gadis itu selalu curiga kalau Arsel tampak memiliki niat tersembunyi yang membuat bulu kuduk Kimmy meremang. Semoga saja itu dugaan yang salah.Dadanya sesak. Kamar ini adalah satu-satunya wilayah yang bisa melindunginya dari tatapan Arsel dan Salsa. Dilihatnya jam dinding. Jarum menunjukkan pukul sembilan malam.Setelah
KAMU YANG KUCINTAIPart 1 Ikut denganmu?"Mas, boleh aku ikut denganmu?" tanya Kimmy sambil memandang pria berjaket kulit yang duduk di hadapannya. Tatapan gadis itu penuh harapan."Kamu nggak akan aman bersamaku. Hidupku belum jelas. Aku juga memiliki banyak musuh, Kim." Pria itu menghembuskan asap rokok ke udara. Yang akhirnya buyar tersapu angin malam dari balkon kafe.Kimmy tidak berkedip. Matanya yang bulat tampak berkaca-kaca, memantulkan cahaya lampu kota. "Aku lebih bahaya lagi jika tetap tinggal bareng Mama di rumah itu. Mama lebih mendengar dan lebih mempercayai suami dan anak-anak tirinya. Menjaga perasaan mereka dengan baik, seolah aku yang anak kandungnya ini nggak punya perasaan. Memang hidup kami bergantung padanya, sih. Mama sudah terlalu bangga dengan gelar nyonya besar di rumah itu.""Papa tirimu jahat?" tanya Langit dengan tatapan menyelidik."Bukan beliau yang jahat. Tapi aku takut dengan anak-anaknya." Kimmy menunduk sambil memperhatikan gelas es teh yang digengga