Se connecterKAMU YANG KUCINTAI
- 2 Balas, Kim "Jam berapa ini? Kenapa baru pulang?" Suara Arsel begitu dingin. Pria itu sedang menyandarkan sikunya di pagar balkon, jemarinya menjepit sebatang rokok yang ujungnya membara di kegelapan. Matanya tajam menatap Kimmy yang menegang ketakutan. "Aku bertemu teman," jawab Kimmy dengan nada cepat, lantas menghilang masuk kamar. Terdengar bunyi kunci diputar. Klik. Pria itu menarik napas panjang, membiarkan nikotin membakar paru-parunya sejenak sebelum mematikan puntung rokok di asbak. Kemudian melangkah masuk ke kamarnya. Kimmy diam duduk di tepi pembaringan. Arsel tidak bicara, tapi tatapannya itu seolah melucuti pertahanan Kimmy. Membuat gadis itu selalu curiga kalau Arsel tampak memiliki niat tersembunyi yang membuat bulu kuduk Kimmy meremang. Semoga saja itu dugaan yang salah. Dadanya sesak. Kamar ini adalah satu-satunya wilayah yang bisa melindunginya dari tatapan Arsel dan Salsa. Dilihatnya jam dinding. Jarum menunjukkan pukul sembilan malam. Setelah bertemu dengan Langit tadi, Kimmy berjalan-jalan di mall. Terus berputar-putar di koridor. Entah berapa kali melewati tempat yang sama. Hanya untuk mengulur waktu. Supaya sampai di rumah, Salsa sudah masuk kamar dan Arsel diharapkan belum pulang. Ternyata kedua saudara tirinya sudah di rumah. "Kamu jangan mengada-ada, Kimmy. Arsel kan anaknya memang seperti itu. Nggak banyak bicara," sangkal sang mama saat dirinya mengungkapkan keresahan. "Salsa pun nggak usah kamu hiraukan sikapnya. Biar saja. Yang penting kamu tetap bisa kuliah dan kita punya tempat tinggal. Papamu pergi meninggalkan kesusahan pada kita. Untung ada Pak Fardhan yang nolongin." Kimmy menghela napas pelan saat ingat perkataan sang mama. Lalu siapa di rumah itu yang bisa dipercaya. Mamanya saja menyuruhnya terus diam dan bersabar. Andai saja ada tempat untuk pergi. Ia sudah meninggalkan rumah itu tak lama setelah mamanya menikah. Langit. Kimmy ingat temannya itu dan segera menghubunginya. Saat membuka kunci ponsel, tampak ada pesan masuk darinya. [Kim, maafkan aku. Nggak mengizinkanmu ikut denganku. Kalau kamu ikut pergi, bagaimana dengan kuliahmu yang hampir selesai itu. Sayang kalau putus di tengah jalan. Kamu harus lulus dan jadi sarjana.] [Aku akan datang mencarimu setelah sukses di tempat baru. Jangan khawatir, aku akan datang menjemputmu. Jaga diri baik-baik.] Selesai membaca pesan, Kimmy langsung menekan tombol panggilan pada nomernya Langit. NOMOR YANG ANDA TUJU SEDANG TIDAK AKTIF ATAU BERADA DI LUAR JANGKAUAN .... Tangan Kimmy gemetar hebat, dadanya juga berdegup kencang. Dia melakukan panggilan lagi. Sekali, dua kali, tiga kali, hasilnya tetap sama. Suara operator yang menjawab. Kimmy terpaku. Ia menjauhkan ponsel di atas tempat tidur. "Apa langit sudah pergi? Secepat ini?" Jadi pertemuan tadi adalah pertemuan terakhir mereka. Kenapa Langit tidak bilang padanya kalau akan pergi malam ini juga. Kimmy mengira masih wacana, mungkin besok atau lusa baru pergi. Sekarang dia tidak punya teman lagi untuk bercerita. Kimmy lemas. Dia melamun cukup lama. Hingga ketukan di pintu mengagetkannya. Namun Kimmy diam. Siapa yang mengetuk pintu kamarnya? "Mbak." Kimmy lega. Itu suara lirih salah satu asisten rumah tangga. Perlahan Kimmy melangkah ke pintu kamar. Membuka pintu dan mengintip sedikit. "Ada apa, Mak?" "Mbak Kimmy belum makan malam, kan? Ibu barusan nelepon dan nanyain tadi," jawab Mak Karti. "Saya nggak makan, Mak. Masih kenyang. Tadi saya makan di luar." "Tapi sudah saya siapkan makan malamnya, Mbak." "Mak, nggak usah dipaksa deh. Dia itu sakti. Nggak makan juga tetap hidup." Tiba-tiba Salsa yang bersandar di pintu kamarnya nyeletuk bicara. Membuat Mak Karti keder juga. "Mak Karti, turun saja. Saya sudah makan tadi." "Baiklah kalau begitu, Mbak." Mak Karti langsung berbalik dan tergesa menuruni tangga. Kimmy kembali mengunci pintu kamarnya. Dia mundur dan duduk di tempat semula. Kalau keadaan seperti ini terus, dia sanggup bertahan sampai kapan? Bisa jadi dia akan gila di sana. Setahun lagi, rasanya begitu lama menunggu lulus kuliah. Kimmy kembali meraih ponselnya. Merenungi nomernya Langit yang tidak bisa dihubungi lagi. Ke mana perginya dia? Ke luar kota, luar provinsi, luar pulau, atau ke luar negeri. Kenapa tidak memberitahunya. Tak terasa air mata Kimmy meleleh. Merasa sangat kehilangan. 🖤LS🖤 Selesai bersiap, Kimmy segera turun ke lantai satu. Ingin sarapan dengan cepat, lalu berangkat kuliah. Begitu kakinya mencapai anak tangga terakhir, ia melihat Salsa sudah duduk di sana, menyesap jus jeruknya dengan gestur seolah dia adalah tuan putri. Selera makan Kimmy hilang seketika. Ia lebih baik menahan lapar daripada harus menelan caci maki sebagai menu pembuka hari itu. Namun saat ia berbalik dengan terburu-buru, tubuhnya menghantam sesuatu yang keras dan kokoh. Deg. Bau musk yang tajam dan dingin menyerbu indra penciumannya. Kimmy mendongak, napasnya tertahan di kerongkongan. Di hadapannya berdiri Arsel. Lelaki itu tampak seperti bayangan hitam di tengah pagi yang cerah. Kemeja hitam legam yang dipadu dasi warna senada melekat di tubuhnya dengan sempurna, menciptakan kesan seorang penguasa. "Oh maaf, maaf Bang Arsel. Aku nggak sengaja," cicit Kimmy, nyaris terjatuh jika tidak segera menyeimbangkan diri. Arsel tidak menjawab. Sepasang mata elangnya hanya menatap dingin ke arah Kimmy, memindai wajah pucat gadis itu seolah ia hanyalah sosok yang tak berarti. Tanpa sepatah kata pun, Arsel melangkah melewati gadis itu. "Abang, nggak sarapan dulu!" seru Salsa. Suaranya manis dan manja. Dan Arsel hanya melambaikan tangan sebagai jawaban 'tidak'. "Bang, kemarin aku ketemu Mbak Zareen," teriak Salsa lagi. Dan Arsel hanya tersenyum sekilas, kemudian yang terdengar hanya langkah sepatunya yang beradu dengan lantai marmer. Terdengar tegas dan berirama hingga menghilang di balik pintu utama. Kimmy menarik napas panjang dan masih mematung di sana. "Ngapain masih di situ? Nggak tahu malu banget, pagi-pagi sudah cari perhatian sama Abang," ejek Salsa sambil tersenyum sinis. "Padahal jelas-jelas Bang Arsel jijik lihat muka kamu yang kayak pengemis itu. Sadar diri, Kim. Kamu itu nggak penting di sini." Kimmy meremas tali tas ranselnya kuat-kuat. "Sabar, sabar, Kim. Mungkin suatu hari nanti kamu akan punya kesempatan menghajar mulut gadis songong itu," bisik hati kecilnya. "Balas dia, Kim. Jangan diam saja. Mulutnya itu pantas dibikin perot. Jangan menunggu sampai kesabaran mencekik kewarasanmu." Sisi hatinya yang lain berapi-api mengompori. Sungguh terlalu omongan Salsa. Jangankan menggoda Arsel, kalau bisa Kimmy tidak ingin bertemu muka dengannya. Tidak ada yang tahu, betapa takutnya Kimmy pada lelaki berwajah dingin bak patung Black Aggie itu. Next ....KAMU YANG KUCINTAI- 6 Bangkit, Kimmy "Kim, kamu masih punya Mama," suara Bu Elok terdengar serak karena habis menangis."Aku nggak punya siapa-siapa lagi," desis Kimmy lirih. Tatapannya kosong, rambut acak-acakan, dan kondisinya sangat kacau malam itu. Ia sangat marah, karena mamanya tak pernah mau mendengarkannya. Namun dia tidak bisa mengumpat atau memaki wanita yang dipanggilnya mama. Seorang Mama pasti akan mendengarkan anaknya. Tapi ini tidak.Pak Fardhan tidak berani membuka suara. Daripada nanti Kimmy histeris. Akhirnya dia melangkah keluar kamar dan membiarkan ibu dan anak di dalam.Bu Elok kembali menangis. Ingin memeluk Kimmy tapi gadis itu memilih diam dan menghindar. Jiwa raganya sakit sekali. Dia sudah hancur sekarang. Bagaimana kalau dirinya hamil?Sepanjang malam, Bu Elok tidak meninggalkan Kimmy sendirian. Gaun untuk dinner tadi masih melekat di tubuhnya. Dia takut terlena dan Kimmy melakukan sesuatu di luar batas. 🖤LS🖤Tujuh jam berlalu. Matahari pagi menyelinap
KAMU YANG KUCINTAI - 5 Malam Penuh Luka "Bang, aku Kimmy," teriak Kimmy dengan panik. "Tolong! Mak Karti, tolong!" Kimmy histeris.Namun area pelayan berada di lantai bawah bagian belakang. Suaranya tertelan oleh tebalnya dinding kedap suara rumah mewah itu. Arsel menendang pintu kamarnya hingga terbuka, lalu membanting Kimmy ke atas ranjang king size-nya yang dingin. Kekuatan yang mustahil untuk dilawan seorang Kimmy. Apalagi pengaruh obat itu begitu luar biasa. Merambat di seluruh aliran darahnya. Menepis batasan yang menghilangkan kesadarannya.Malam itu berubah menjadi mimpi paling buruk bagi Kimmy. Beberapa saat kemudian.Pintu kamar Arsel terbuka, Kimmy keluar dengan langkah lunglai. Rambutnya kusut masai, wajahnya pucat pasi, matanya kosong menatap lantai marmer yang dingin. Ia terseok-seok masuk ke dalam kamarnya sendiri, menutup pintu, dan seketika itu juga seluruh pertahanannya runtuh.Kimmy menjerit sejadi-jadinya. Ia meraih bantal, guling, dan buku-buku di meja belajarn
KAMU YANG KUCINTAI- 4 Pergi, Kimmy"Jangan sekarang, tolong jangan sekarang," jerit Kimmy dalam hati. Berharap lampu traffic light tidak berubah kuning. Di depannya motor sport itu meliuk gesit di antara deretan kendaraan. Kimmy menarik gas, mengabaikan getaran hebat pada setang motor matiknya.Lampu lalu lintas di depan berubah kuning. Tapi justru Kimmy memacu motornya lebih kencang tepat saat lampu merah menyala. Suara klakson bersahutan di aspal Surabaya yang membara. "Woi! Cari mati kamu, ya!" umpat seorang pengendara mobil yang nyaris menghantam sisi motornya. Dan umpatan lainnya pun terdengar. Kimmy tidak peduli meski itu sangat berbahaya bagi diri sendiri. Tatapannya terkunci pada punggung pria di depan sana. Ia terus membuntuti hingga motor itu berbelok ke sebuah bengkel modifikasi di sudut jalan yang agak sepi. Meski mulai ragu akan pengendara itu, karena tubuhnya tak setinggi Langit.Kimmy ikut berhenti dan hampir terjatuh karena tubuhnya gemetar. Ia menyandarkan motornya
KAMU YANG KUCINTAI - 3 Tiba-tiba Menikah "Bang Arsel itu sudah punya pacar yang selevel, Kim. Jangan pernah bermimpi bisa menggodanya," sindir Salsa begitu sinis dan ketus. Kali ini Kimmy menatap saudara tirinya itu dengan kemarahan membuncah. "Kamu terlalu kepedean ngomong seperti itu. Siapa juga yang mau menggodanya? Aku nggak sengaja tadi.""Cih, orang sepertimu kan biasanya nggak peduli. Nekatan. Kayak mamamu yang pintar menggoda papaku sampai beliau kepincut." Salsa semakin sengit. Kobar kebencian tampak di matanya yang bulat.Darah Kimmy mendidih. Rasa panas menjalar dari ulu hati hingga ke wajahnya yang memucat. "Jaga bicaramu. Mamaku bukan penggoda."Salsa tersenyum miring. "Saran aku sih, mending kamu tahu diri. Rumah ini nggak layak untuk kalian. Almarhumah mamaku yang menemani papa hingga sukses. Tapi mamamu yang tinggal memetik hasilnya."Kimmy tidak sanggup lagi bernapas di sana, segera berbalik, melangkah lebar-lebar menuju ruang samping. Tangannya gemetar saat menyam
KAMU YANG KUCINTAI- 2 Balas, Kim"Jam berapa ini? Kenapa baru pulang?" Suara Arsel begitu dingin. Pria itu sedang menyandarkan sikunya di pagar balkon, jemarinya menjepit sebatang rokok yang ujungnya membara di kegelapan. Matanya tajam menatap Kimmy yang menegang ketakutan."Aku bertemu teman," jawab Kimmy dengan nada cepat, lantas menghilang masuk kamar. Terdengar bunyi kunci diputar. Klik.Pria itu menarik napas panjang, membiarkan nikotin membakar paru-parunya sejenak sebelum mematikan puntung rokok di asbak. Kemudian melangkah masuk ke kamarnya.Kimmy diam duduk di tepi pembaringan. Arsel tidak bicara, tapi tatapannya itu seolah melucuti pertahanan Kimmy. Membuat gadis itu selalu curiga kalau Arsel tampak memiliki niat tersembunyi yang membuat bulu kuduk Kimmy meremang. Semoga saja itu dugaan yang salah.Dadanya sesak. Kamar ini adalah satu-satunya wilayah yang bisa melindunginya dari tatapan Arsel dan Salsa. Dilihatnya jam dinding. Jarum menunjukkan pukul sembilan malam.Setelah
KAMU YANG KUCINTAIPart 1 Ikut denganmu?"Mas, boleh aku ikut denganmu?" tanya Kimmy sambil memandang pria berjaket kulit yang duduk di hadapannya. Tatapan gadis itu penuh harapan."Kamu nggak akan aman bersamaku. Hidupku belum jelas. Aku juga memiliki banyak musuh, Kim." Pria itu menghembuskan asap rokok ke udara. Yang akhirnya buyar tersapu angin malam dari balkon kafe.Kimmy tidak berkedip. Matanya yang bulat tampak berkaca-kaca, memantulkan cahaya lampu kota. "Aku lebih bahaya lagi jika tetap tinggal bareng Mama di rumah itu. Mama lebih mendengar dan lebih mempercayai suami dan anak-anak tirinya. Menjaga perasaan mereka dengan baik, seolah aku yang anak kandungnya ini nggak punya perasaan. Memang hidup kami bergantung padanya, sih. Mama sudah terlalu bangga dengan gelar nyonya besar di rumah itu.""Papa tirimu jahat?" tanya Langit dengan tatapan menyelidik."Bukan beliau yang jahat. Tapi aku takut dengan anak-anaknya." Kimmy menunduk sambil memperhatikan gelas es teh yang digengga