Share

2. Balas Kim

last update publish date: 2026-02-22 13:05:42

KAMU YANG KUCINTAI

- 2 Balas, Kim

"Jam berapa ini? Kenapa baru pulang?" Suara Arsel begitu dingin. Pria itu sedang menyandarkan sikunya di pagar balkon, jemarinya menjepit sebatang rokok yang ujungnya membara di kegelapan. Matanya tajam menatap Kimmy yang menegang ketakutan.

"Aku bertemu teman," jawab Kimmy dengan nada cepat, lantas menghilang masuk kamar. Terdengar bunyi kunci diputar. Klik.

Pria itu menarik napas panjang, membiarkan nikotin membakar paru-parunya sejenak sebelum mematikan puntung rokok di asbak. Kemudian melangkah masuk ke kamarnya.

Kimmy diam duduk di tepi pembaringan. Arsel tidak bicara, tapi tatapannya itu seolah melucuti pertahanan Kimmy. Membuat gadis itu selalu curiga kalau Arsel tampak memiliki niat tersembunyi yang membuat bulu kuduk Kimmy meremang. Semoga saja itu dugaan yang salah.

Dadanya sesak. Kamar ini adalah satu-satunya wilayah yang bisa melindunginya dari tatapan Arsel dan Salsa. Dilihatnya jam dinding. Jarum menunjukkan pukul sembilan malam.

Setelah bertemu dengan Langit tadi, Kimmy berjalan-jalan di mall. Terus berputar-putar di koridor. Entah berapa kali melewati tempat yang sama. Hanya untuk mengulur waktu. Supaya sampai di rumah, Salsa sudah masuk kamar dan Arsel diharapkan belum pulang. Ternyata kedua saudara tirinya sudah di rumah.

"Kamu jangan mengada-ada, Kimmy. Arsel kan anaknya memang seperti itu. Nggak banyak bicara," sangkal sang mama saat dirinya mengungkapkan keresahan.

"Salsa pun nggak usah kamu hiraukan sikapnya. Biar saja. Yang penting kamu tetap bisa kuliah dan kita punya tempat tinggal. Papamu pergi meninggalkan kesusahan pada kita. Untung ada Pak Fardhan yang nolongin."

Kimmy menghela napas pelan saat ingat perkataan sang mama. Lalu siapa di rumah itu yang bisa dipercaya. Mamanya saja menyuruhnya terus diam dan bersabar. Andai saja ada tempat untuk pergi. Ia sudah meninggalkan rumah itu tak lama setelah mamanya menikah.

Langit. Kimmy ingat temannya itu dan segera menghubunginya. Saat membuka kunci ponsel, tampak ada pesan masuk darinya.

[Kim, maafkan aku. Nggak mengizinkanmu ikut denganku. Kalau kamu ikut pergi, bagaimana dengan kuliahmu yang hampir selesai itu. Sayang kalau putus di tengah jalan. Kamu harus lulus dan jadi sarjana.]

[Aku akan datang mencarimu setelah sukses di tempat baru. Jangan khawatir, aku akan datang menjemputmu. Jaga diri baik-baik.]

Selesai membaca pesan, Kimmy langsung menekan tombol panggilan pada nomernya Langit.

NOMOR YANG ANDA TUJU SEDANG TIDAK AKTIF ATAU BERADA DI LUAR JANGKAUAN ....

Tangan Kimmy gemetar hebat, dadanya juga berdegup kencang. Dia melakukan panggilan lagi. Sekali, dua kali, tiga kali, hasilnya tetap sama. Suara operator yang menjawab. Kimmy terpaku. Ia menjauhkan ponsel di atas tempat tidur.

"Apa langit sudah pergi? Secepat ini?"

Jadi pertemuan tadi adalah pertemuan terakhir mereka. Kenapa Langit tidak bilang padanya kalau akan pergi malam ini juga. Kimmy mengira masih wacana, mungkin besok atau lusa baru pergi.

Sekarang dia tidak punya teman lagi untuk bercerita. Kimmy lemas. Dia melamun cukup lama. Hingga ketukan di pintu mengagetkannya. Namun Kimmy diam. Siapa yang mengetuk pintu kamarnya?

"Mbak."

Kimmy lega. Itu suara lirih salah satu asisten rumah tangga.

Perlahan Kimmy melangkah ke pintu kamar. Membuka pintu dan mengintip sedikit. "Ada apa, Mak?"

"Mbak Kimmy belum makan malam, kan? Ibu barusan nelepon dan nanyain tadi," jawab Mak Karti.

"Saya nggak makan, Mak. Masih kenyang. Tadi saya makan di luar."

"Tapi sudah saya siapkan makan malamnya, Mbak."

"Mak, nggak usah dipaksa deh. Dia itu sakti. Nggak makan juga tetap hidup." Tiba-tiba Salsa yang bersandar di pintu kamarnya nyeletuk bicara. Membuat Mak Karti keder juga.

"Mak Karti, turun saja. Saya sudah makan tadi."

"Baiklah kalau begitu, Mbak." Mak Karti langsung berbalik dan tergesa menuruni tangga.

Kimmy kembali mengunci pintu kamarnya. Dia mundur dan duduk di tempat semula. Kalau keadaan seperti ini terus, dia sanggup bertahan sampai kapan? Bisa jadi dia akan gila di sana.

Setahun lagi, rasanya begitu lama menunggu lulus kuliah. Kimmy kembali meraih ponselnya. Merenungi nomernya Langit yang tidak bisa dihubungi lagi. Ke mana perginya dia? Ke luar kota, luar provinsi, luar pulau, atau ke luar negeri. Kenapa tidak memberitahunya. Tak terasa air mata Kimmy meleleh. Merasa sangat kehilangan.

🖤LS🖤

Selesai bersiap, Kimmy segera turun ke lantai satu. Ingin sarapan dengan cepat, lalu berangkat kuliah. Begitu kakinya mencapai anak tangga terakhir, ia melihat Salsa sudah duduk di sana, menyesap jus jeruknya dengan gestur seolah dia adalah tuan putri.

Selera makan Kimmy hilang seketika. Ia lebih baik menahan lapar daripada harus menelan caci maki sebagai menu pembuka hari itu. Namun saat ia berbalik dengan terburu-buru, tubuhnya menghantam sesuatu yang keras dan kokoh.

Deg.

Bau musk yang tajam dan dingin menyerbu indra penciumannya. Kimmy mendongak, napasnya tertahan di kerongkongan. Di hadapannya berdiri Arsel. Lelaki itu tampak seperti bayangan hitam di tengah pagi yang cerah. Kemeja hitam legam yang dipadu dasi warna senada melekat di tubuhnya dengan sempurna, menciptakan kesan seorang penguasa.

"Oh maaf, maaf Bang Arsel. Aku nggak sengaja," cicit Kimmy, nyaris terjatuh jika tidak segera menyeimbangkan diri.

Arsel tidak menjawab. Sepasang mata elangnya hanya menatap dingin ke arah Kimmy, memindai wajah pucat gadis itu seolah ia hanyalah sosok yang tak berarti. Tanpa sepatah kata pun, Arsel melangkah melewati gadis itu.

"Abang, nggak sarapan dulu!" seru Salsa. Suaranya manis dan manja. Dan Arsel hanya melambaikan tangan sebagai jawaban 'tidak'.

"Bang, kemarin aku ketemu Mbak Zareen," teriak Salsa lagi. Dan Arsel hanya tersenyum sekilas, kemudian yang terdengar hanya langkah sepatunya yang beradu dengan lantai marmer. Terdengar tegas dan berirama hingga menghilang di balik pintu utama.

Kimmy menarik napas panjang dan masih mematung di sana.

"Ngapain masih di situ? Nggak tahu malu banget, pagi-pagi sudah cari perhatian sama Abang," ejek Salsa sambil tersenyum sinis. "Padahal jelas-jelas Bang Arsel jijik lihat muka kamu yang kayak pengemis itu. Sadar diri, Kim. Kamu itu nggak penting di sini."

Kimmy meremas tali tas ranselnya kuat-kuat. "Sabar, sabar, Kim. Mungkin suatu hari nanti kamu akan punya kesempatan menghajar mulut gadis songong itu," bisik hati kecilnya.

"Balas dia, Kim. Jangan diam saja. Mulutnya itu pantas dibikin perot. Jangan menunggu sampai kesabaran mencekik kewarasanmu." Sisi hatinya yang lain berapi-api mengompori.

Sungguh terlalu omongan Salsa. Jangankan menggoda Arsel, kalau bisa Kimmy tidak ingin bertemu muka dengannya. Tidak ada yang tahu, betapa takutnya Kimmy pada lelaki berwajah dingin bak patung Black Aggie itu.

Next ....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kamu yang Kucintai   142.

    "Papa khawatir kalau dia harus menggugurkan kandungannya. Papa nggak ingin terjadi apa-apa padanya. Tapi bagaimana kelanjutan kuliahnya kalau dia mempertahankan kehamilannya," gumam Pak Fardhan pelan."Dulu saat hal yang sama terjadi pada Kimmy, Papa sama sekali tidak terlihat khawatir. Papa malah yang paling kencang menyuruh Kimmy menggugurkan kandungannya. Papa tidak peduli meski nyawa Kimmy taruhannya. Padahal yang ingin Papa buang itu adalah darah dagingku. Cucu Papa sendiri. Kenapa sekarang standarnya berubah setelah Salsa yang mengalami hal yang sama?"Pak Fardhan tersentak. Ia mengangkat wajahnya, menatap Arsel dengan sorot mata yang terluka. Namun lidahnya mendadak kelu. Ia ingin membela diri, ingin mengatakan bahwa situasinya berbeda. "Kenapa diam, Pa? Karena Kimmy anak tiri, jadi nyawanya tidak lebih berharga dari reputasi keluarga ini?""Papa sedang pusing. Jangan menambah beban Papa dengan mengungkit masalah itu. Papa melakukan itu pada Kimmy karena kamulah pelakunya. Nge

  • Kamu yang Kucintai   141.

    "Kalau saya setuju saja, Mas Arsel. Lagian melelahkan juga jika lebih lama begini. Saya kasihan sama Mas Arsel yang pontang-panting menempuh perjalanan jauh. Tapi bagaimana dengan Mbak Kimmy?" jawab Mbak Asih sambil menaruh secangkir teh panas di depan bosnya."Saya belum bicara dengan Kimmy.""Seharian kemarin Mbak Kimmy banyak melamunnya. Mungkin pas hari ulang tahunnya, Mas Arsel nggak nelepon, nggak ngasih kabar. Makanya Mbak Kimmy gelisah. Saya pun diam karena ingat pesan Mas Arsel yang ingin membuat kejutan."Senyum terbit di bibir Arsel. Ada rasa hangat menjalar di dadanya. Namun jujur saja, tubuhnya sangat lelah. Pikirannya juga penuh oleh segala permasalahan di Surabaya. "Apa nanti siang saya coba ngobrol sama Mbak Kimmy tentang rencana Mas Arsel mau mengajaknya kembali ke Surabaya?""Tidak perlu, Mbak. Biar nanti saya sendiri yang bicara ke Kimmy. Saya juga harus menyiapkan tempat tinggal juga. Mungkin lebih aman kalau di apartemen yang sama dengan yang saya tempati.""Iya.

  • Kamu yang Kucintai   140.

    KAMU YANG KUCINTAI - 54 Kado "Abang, tahu dari mana aku berulang tahun hari ini? Pasti dari KTP-ku waktu itu, kan?" tanya Kimmy sebelum membuka hadiahnya."Bukan.""Bukan? Terus dari mana?""Abang pernah mendengar mamamu mengucapkan selamat ulang tahun suatu pagi sebelum kamu berangkat kuliah."Kimmy terkejut. "Kapan itu?""Sudah dua tahun yang lalu. Dan Abang mengingat tanggalnya sampai sekarang."Mendengar pengakuan itu membuat Kimmy terpaku. Sungguh tak menyangka, Arsel sengaja mengingatnya dan ia tidak lupa dengan hari ini. "Kamu tadi menangis karena sedih, ya? Ulang tahun sendirian tanpa mama.""Ya." Kimmy mengangguk samar. Ia menunduk teringat akan sosok mamanya. "Biasanya Mama dan ... ah, Mama yang selalu mengucapkan selamat ulang tahun padaku." Kimmy hampir menyebut nama Langit. Tapi di urungkannya. Dia tidak ingin mengecewakan suami yang berusaha datang tengah malam demi hari ulang tahunnya. Walaupun pasti sangat capek setelah pulang kerja.Suasana hening. Sekali pun tak d

  • Kamu yang Kucintai   139.

    Ah, Kimmy semakin sedih. Hari ini ia genap berusia dua puluh dua tahun. Apa mamanya masih ingat ulang tahunnya? Apa Langit mengirimkan ucapan di email-nya. Mbak Asih tidak tahu dan Kimmy memang tak ingin memberitahunya. Itu tak penting. Dan Arsel? Jelas tidak mungkin tahu. Sedihnya hati Kimmy.Ia mengeluarkan buku kecil dari dalam laci. Lalu menulis sesuatu di sana."Selamat menyambut ulang tahunmu, Kimmy. Hari ini genap 22 tahun usiamu. Kamu akan jadi seorang ibu di usia ini. Duh Kimmy, yang kuat ya sayang. Jadilah wanita yang hebat. Happy birthday Kimmy Putri Palupi binti Heru Harimurti."Di akhir tulisannya, Kimmy melukis gambar hati. Tak terasa air matanya meleleh. Ini ulang tahun pertamanya tanpa ada ucapan dari siapapun. Biasanya sang mama yang selalu memberikan ucapan. Lalu Langit. Pria itu selalu memberinya hadiah. Tapi kini sepi."Nggak apa-apa, Kim. Bukankah kamu senang suamimu nggak di rumah. Katamu bisa tidur bebas menguasai ranjang sendirian, nggak engap karena dikekepin

  • Kamu yang Kucintai   138.

    "Sarapan dulu, Mas." Bu Elok menghampiri ke kamar sambil membawa nampan berisi sarapan dan minum."Nanti saja, Ma," jawabnya pelan."Ayolah sarapan sedikit. Sejak tadi malam Mas nggak makan. Nanti kalau sakit malah susah menyelesaikan masalah ini."Akhirnya Pak Fardhan meraih piring berisi nasi dengan lauk tumis sawi dan ayam bumbu rujak. Dia memaksakan diri untuk menghabiskannya. Istrinya benar. Ia tidak boleh tumbang oleh masalah."Bagaimana rencana Mas sekarang?" tanya Bu Elok hati-hati setelah suaminya selesai makan.Pak Fardhan mengembuskan napas berat. "Mana mungkin papa menikahkan Salsa dengan bajingan itu. Dia itu penipu," jawabnya dengan geram."Lalu ...."Hening. Pak Fardhan tak langsung menjawab pertanyaan istrinya. Kepala rasanya hampir meledak. Anak buah yang dikirimnya telah memberikan laporan akurat tentang siapa Ettan dan latar belakang keluarganya. Dan tak mungkin ia menikahkan putrinya dengan lelaki itu. Bukan karena dia dari keluarga biasa, tapi baginya Ettan itu be

  • Kamu yang Kucintai   137.

    KAMU YANG KUCINTAI- 53 Untuk Kimmy Arsel memperhatikan foto Kimmy di tengah sunyinya malam. Foto candid yang dikirim Mbak Asih tadi pagi.[Pesan saya tidak dijawab Kimmy, Mbak. Sedang di mana dia sekarang?] Ini pesan yang dikirim Arsel pada Mbak Asih.[Mbak Kimmy di teras, Mas. Lagi nungguin tukang donat lewat. Dua hari ini Mbak Kimmy lagi suka makan donat.] Balas Mbak Asih sambil mengirimkan gambar Kimmy yang diambil secara sembunyi-sembunyi.Di gambar itu Kimmy berdiri di teras rumah Pujon yang masih dibalut kabut tipis. Ia mengenakan terusan hamil berwarna soft blue sebatas betis, warna yang membuat kulit pualamnya tampak kian bersinar di bawah cahaya matahari pagi. Perutnya berbentuk bulat indah.Ada desir panas yang menjalar di dada Arsel, sebuah kerinduan yang menyesakkan paru-paru. Ia menyentuh permukaan layar. Rasanya ingin segera pulang, membenamkan wajah di ceruk leher Kimmy, dan merasakan sapaan sang anak dari dalam perut mamanya.🖤LS🖤Salsa meringkuk di atas sprei yang

  • Kamu yang Kucintai   45. Malam Panjang 2

    "Kata Mbak Asih, kamu punya teman baru di Pujon. Mbak-mbak yang sering bawa anaknya jalan-jalan kalau pagi." Arsel mengalihkan pembicaraan ke hal yang ringan. "Iya. Dia seorang dokter di Klinik," jawab Kimmy singkat sambil mengunyah kue."Klinik pinggir jalan itu?""Ya. Beliau dan suaminya juga as

    last updateLast Updated : 2026-03-28
  • Kamu yang Kucintai   25. Keputusan 3

    Langkah Kimmy agak cepat. Ketika mencapai gerbang utama pemukiman elite itu, napasnya sudah ngos-ngosan. Semenjak hamil, dia merasa cepat sekali lelah.Kebetulan ada taksi yang lewat dan langsung di stop oleh Kimmy. "Terminal Bungurasih, Pak.""Nggih, Mbak," jawab driver setengah baya.Taksi melaju

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Kamu yang Kucintai   9. Testpack

    KAMU YANG KUCINTAI- 9 Testpack "Kimmy, kamu nggak kuliah pagi ini, Sayang?" tanya Bu Elok lembut, tangannya ragu untuk menyentuh bahu Kimmy yang duduk di dekat jendela kamar sambil memandang taman di luar.Kimmy hanya menggeleng pelan. Matanya tetap terpaku pada dahan pohon mangga yang bergoyang

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Kamu yang Kucintai   67. Kebersamaan 3

    Di sampingnya, Ettan duduk dengan santai. Tangannya merayap naik, melingkari bahu Salsa dan menariknya hingga tak ada lagi celah di antara mereka. Salsa tidak menolak. Ia justru menyandarkan kepalanya ke bahu Ettan, menghirup aroma parfum cedarwood yang dipakai cowok itu.Papanya tidak tahu kalau S

    last updateLast Updated : 2026-04-04
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status