LOGINKAMU YANG KUCINTAI
- 6 Bangkit, Kimmy "Kim, kamu masih punya Mama," suara Bu Elok terdengar serak karena habis menangis. "Aku nggak punya siapa-siapa lagi," desis Kimmy lirih. Tatapannya kosong, rambut acak-acakan, dan kondisinya sangat kacau malam itu. Ia sangat marah, karena mamanya tak pernah mau mendengarkannya. Namun dia tidak bisa mengumpat atau memaki wanita yang dipanggilnya mama. Seorang Mama pasti akan mendengarkan anaknya. Tapi ini tidak. Pak Fardhan tidak berani membuka suara. Daripada nanti Kimmy histeris. Akhirnya dia melangkah keluar kamar dan membiarkan ibu dan anak di dalam. Bu Elok kembali menangis. Ingin memeluk Kimmy tapi gadis itu memilih diam dan menghindar. Jiwa raganya sakit sekali. Dia sudah hancur sekarang. Bagaimana kalau dirinya hamil? Sepanjang malam, Bu Elok tidak meninggalkan Kimmy sendirian. Gaun untuk dinner tadi masih melekat di tubuhnya. Dia takut terlena dan Kimmy melakukan sesuatu di luar batas. 🖤LS🖤 Tujuh jam berlalu. Matahari pagi menyelinap melalui celah gorden kamar Arsel yang tersingkap. Pria itu terbangun, duduk dengan rasa mual yang mengaduk perut dan kepala yang seolah dihantam godam. Begitu ia membuka mata, bayangan-bayangan mengerikan semalam melintas di benak. Kimmy. Jeritannya, cengkeramannya, samar-samar Arsel mampu mengingatnya. Ia menoleh pada kondisi tempat tidur yang acak-acakan. Ada noda darah di sana. Punya Kimmy. Dan Arsel merasakan dadanya diremas. Saat pintu kamar terbuka, papanya berdiri di sana dengan mata penuh amarah. Tanpa aba-aba, satu pukulan telak melayang ke rahang Arsel. Arsel kembali terbanting di kasur. Sudut bibirnya pecah mengeluarkan darah segar. Namun ia tidak melawan. Berusaha kembali duduk dengan sisa tenaganya. "Menjijikan sekali kelakuanmu pada Kimmy semalam." Pak Fardhan bicara dengan rahang mengeras dan gigi gemertak. Pak Fardhan memalingkan wajah dengan murka pada putra kesayangan dan kebanggaannya. "Kamu menghancurkan rumah ini, Arsel. Kamu menghancurkan Kimmy. Menghancurkan reputasi kita kalau sampai orang luar tahu." "Aku dijebak di pertemuan itu," jawab Arsel. Membiarkan luka di sudut bibirnya yang terasa perih. "Kita sedang menangani projek besar. Kalau kasusmu terdengar sampai keluar, hancur kita semua. Bisa-bisanya kamu terjebak. Selama ini kamu nggak sebodoh itu. Kenapa tadi malam kalau kamu sadar dalam pengaruh obat, nggak segera masuk kamar." "Kupikir tak ada orang. Kimmy ternyata tidak ikut kalian ke Malang." Arsel menceritakan apa yang diingatnya tadi malam. Bagaimana ia sempat menyuruh Kimmy pergi. Namun pada akhirnya tetap tidak bisa mengontrol diri. "Bersihkan diri kamu. Papa tunggu di bawah. Kita bahas ini." Pak Fardhan meninggalkan kamar putranya dengan rasa khawatir yang menggunung. Tadi pagi-pagi sekali dia sudah bicara pada ART-nya, jangan sampai permasalahan tadi malam, bocor hingga ke orang luar. Arsel sempat terhuyung di kamar mandi. Sepertinya obat itu dosis tinggi, pengaruhnya belum benar-benar hilang meski sudah tujuh jam. 🖤LS🖤 Empat hari telah berlalu, suasana masih menegangkan. Nampan-nampan makanan di depan pintu kamar Kimmy kembali dalam keadaan utuh. Kimmy hanya mengambil minumnya saja. Dan sang mama selalu menemani atau Mbak Asih yang menggantikan jika Bu Elok sedang mandi. Kimmy tidak dibiarkan sendirian. Itu saran dari psikolog yang menangani Kimmy dalam beberapa hari ini. Arsel tetap berangkat ke kantor. Ia memaksakan diri berkutat dengan angka dan kontrak yang mendesak, meski bayangan mata Kimmy yang ketakutan terus muncul di antara baris-baris dokumennya. Rasa bersalah mengaduk-aduk perasaan. Malamnya, Arsel, Pak Fardhan, dan Bu Elok duduk berbincang di sofa lantai atas. "Aku akan menikahinya, Pa," suara Arsel memecah keheningan. Pak Fardhan menghela napas panjang. "Saudara tiri tiba-tiba menikah, itu bukan pernikahan murni, tapi karena ada skandal. Pernikahan tak biasa akan menimbulkan gosip liar di luar sana. Apalagi mendadak kamu meninggalkan Zareen. Hubungan kalian sudah cukup lama. Orang tuanya sudah merestui. "Papa punya solusi lain. Mari kita dukung Kimmy sembuh dari traumanya. Papa akan carikan psikiater atau psikolog terbaik, fasilitas penyembuhan nomor satu. Setelah itu, Kimmy bisa melanjutkan kuliah ke luar negeri untuk S2 atau S3. Terserah dia hendak memilih ke negara mana. Fasilitas mewah, uang bulanan yang lebih dari cukup. Dan dia bisa pulang sambang sewaktu-waktu." "Bagaimana kalau Kimmy hamil?" tanya Arsel tiba-tiba. Dan suasana mendadak hening. Bu Elok pun tidak berani buka mulut. Sebelum pertemuan malam itu, Bu Elok sudah diajak bicara oleh suaminya. "Aku yang melakukan kesalahan. Biar aku yang bertanggung jawab." "Tanggung jawab nggak harus dengan pernikahan," kata Pak Fardhan. "Pikirkan Zareen. Hubungan kita dengan keluarganya adalah investasi besar. Orang tuanya sudah merestui kalian. Yang terjadi di antara kamu dan Kimmy karena pengaruh obat. Kamu juga sudah menyuruhnya pergi. Sudah ada usaha sebelumnya. Nggak harus menikah, ini juga demi masa depan kalian. Menikah karena accident begini, mau dibawa ke mana pernikahan kalian. Akan semakin menambah banyak masalah saja." "Menikah diam-diam dan jangan pedulikan orang luar," ucap Arsel datar. "Pikirkan masalah setelah itu," sahut Pak Fardhan. Arsel bangkit dari duduknya lalu masuk kamar meski pembicaraan belum selesai. Jujur saja, pikirannya sedang kacau sekarang ini. Tidak hanya pada Kimmy, tapi juga merasa bersalah pada Zareen. Di balik dinding yang temaram, Kimmy berdiri mematung. Air matanya luruh tanpa suara, membasahi pipinya yang kini tampak lebih tirus. Setiap kata yang keluar dari mulut Pak Fardhan terasa seperti belati yang menguliti hatinya. Ia bukan lagi seorang manusia di mata mereka tapi 'masalah' yang harus diselesaikan. Cacat yang harus disembunyikan demi reputasi keluarga. Ternyata sikap khawatir Pak Fardhan malam itu, bukan karena simpati padanya. Tapi bentuk kekhawatiran pada reputasinya sendiri. Takut martabatnya hancur jika sampai kejadian itu diketahui orang di luar sana. Dan yang lebih menyakitkan adalah sikap mamanya. Terlalu cintanya pada lelaki itu, sampai mamanya memilih diam. Tidak ada pembelaan. Tidak ada tuntutan keadilan. Hanya ketakutan akan kehilangan posisi nyaman di rumah ini. Kimmy tersenyum pahit. Sekarang jelas, tidak ada yang peduli padanya, selain dirinya sendiri. Papa tiri tetap papa tiri. Menyedihkan. "Bangkit, Kim. Jangan putus asa. Sembuhkan dirimu. Kamu sudah sering sakit. Usaha papa yang bangkrut, kehilangan papamu, jatuh miskin dan terpuruk, pernikahan mama, sikap mama, lalu kejadian beberapa hari yang lalu. Kamu sudah terbanting berkali-kali. Kamu kuat, Kimmy." bisik hati kecilnya yang membuat Kimmy menarik napas panjang. Saat itu ia teringat Langit. "Kamu tahu apa yang terjadi padaku saat ini?" Tubuh Kimmy terguncang karena tangis. Setelah papa dan mamanya turun. Kimmy berbalik. Langkahnya tidak lagi lunglai. Ada kemarahan yang dingin dan tajam yang kini memacu darahnya. Ia melangkah menuju kamar Arsel. BRAK! Pintu jati itu didobrak kasar. Arsel yang sedang duduk termenung di dekat pintu kaca balkon kaget dan menoleh. Kimmy berdiri di sana, rambutnya berantakan, matanya membara dengan kebencian. Di tangannya sebuah pisau dapur yang runcing dan tajam berkilat tertimpa cahaya lampu kamar. Gadis itu tidak bicara. Ia menerjang maju dengan kecepatan yang tak terduga. Dalam sekejap, ujung pisau itu tinggal beberapa inci saja tepat menusuk dada Arsel, karena sudah menyentuh kaos polo yang dikenakannya. Sedikit saja tenaga ditambahkan, baja dingin itu akan merobek kulit dan menembus jantung pria itu. Arsel bergeming. Ia tidak mencoba menepis tangan Kimmy, tidak juga mencoba menghindar, apalagi berteriak. Tapi justru menatap begitu dalam ke mata Kimmy yang basah penuh dendam. "Akan kuterima apapun yang ingin kamu lakukan padaku," ucap Arsel. Next ....Hingga beberapa saat kemudian, suara tangis bayi yang melengking memecah kesunyian ruangan. Dokter spesialis anak segera mengambil alih, mengabarkan pada Davin dan Zareen, "Selamat, Bapak dan Ibu. Bayinya perempuan. Cantik dan sehat."Davin merasakan setitik air mata jatuh di pipinya. Akhirnya ia kesampaian memiliki anak lagi. Ia berharap anak keduanya perempuan setelah ia memiliki Adam. Sementara Zareen sendiri tak ada keinginan, khusus. Bisa hamil saja sudah sangat bersyukur.Beberapa saat setelah kabar bahagia itu terucap, Zareen tidak lagi mendengar apa pun. Efek bius total yang diberikan dokter anestesi membuat kesadarannya perlahan pudar, membawanya ke dalam keheningan yang dalam.Sedangkan di luar ruang operasi, suasana yang tadinya tegang seketika berubah menjadi rasa syukur setelah dikabari kalau Zareen sudah melahirkan bayi perempuan. Bu Tiya dan Pak Aaron yang duduk bersebelahan di kursi tunggu saling pandang, tersenyum, dan mengucapkan rasa bahagia. Hubungan mereka yang s
Tanpa berkata sepatah pun, Zareen menyodorkan benda kecil itu ke tangan mamanya. Bu Tiya memicingkan mata, lalu matanya membelalak sempurna saat memahami apa yang ia lihat. "Ya Allah, Reen. Ini benar?"Zareen mengangguk mantap sambil memeluk mamanya erat. "Iya, Ma. Akhirnya aku hamil."Bu Tiya membalas pelukan itu dengan penuh syukur. Air mata kebahagiaan ikut menetes di wajah wanita tua itu. "Alhamdulillah, ya Allah. Terima kasih. Akhirnya doa kita dikabulkan."Setelah itu Bu Tiya menatap wajah putrinya dengan serius. "Dengar, Reen. Trimester pertama ini masa yang sangat rawan. Jangan memaksakan diri ke kantor. Kamu harus banyak istirahat. Bukankah Papa kamu sudah sehat dan kembali ke kantor? Serahkan saja urusan pekerjaan padanya untuk sementara.""Iya, Ma. Aku tadi juga sudah berpikir begitu. Nanti setelah Mas Davin pulang, kami akan bicarakan ini," jawab Zareen.Sekarang tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, papanya sudah cerai dari Bu Yayuk empat bulan yang lalu. Setelah wanit
Dalam perjalanan, Zareen menarik napas panjang. Ini adalah pertemuan pertamanya dengan Nadia, wanita yang pernah menjadi bagian terpenting dalam hidup Davin. Ibu dari putra suaminya. Sosok yang dulu sempat membuat Davin terjebak dalam memori masa lalu yang tak kunjung usai."Ini rumahnya?" Setelah mobil berhenti di luar pagar sebuah rumah megah berlantai dua."Iya. Ayo, kita turun," ajak Davin.Mereka membuka pintu mobil. Pria itu merangkul Zareen yang tengah membawa parcel buah sebagai oleh-oleh. Juga menentang paper bag berisi kue lapis Surabaya. Davin menekan bel dibalik tembok pagar. Tak lama kemudian seorang asisten rumah tangga muncul untuk membukakan gerbang dan mempersilakan mereka masuk.Di depan pintu mereka disambut ramah oleh Nadia yang cantik berhijab dan Dewa yang tersenyum dan mempersilakan masuk. Anak-anak berlari mendekat dan ikut menyalami. Mereka anak-anak yang sopan."Senang sekali kita bisa meluangkan waktu untuk ketemuan begini, Pak Davin," ujar Dewa setelah mere
KAMU YANG KUCINTAI - 96 Ending Malam itu, embusan angin musim kemarau dari arah teras rumah Bu Tiya terasa lebih dingin dari biasanya. Zareen baru saja melangkah masuk setelah seharian berjibaku antara tuntutan pekerjaan di kantor dan menjenguk papanya di rumah sakit. Wajahnya tampak jelas menyiratkan kelelahan. Ia menyapa ibunya yang sedang duduk di ruang keluarga."Bagaimana kabar Papamu hari ini, Reen?" tanya Bu Tiya sembari meletakkan remot di atas meja.Zareen duduk di sofa, memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. "Sudah jauh lebih baik, Ma. Dokter bilang mungkin besok atau lusa Papa sudah boleh pulang. Mas Davin sudah sepakat untuk membawa Papa tinggal di rumahnya saja. Jadi, lebih mudah kalau ingin menyambangi dan memantau kesehatannya."Bu Tiya hanya manggut-manggut pelan. Ia tahu betul bagaimana batin putrinya berperang antara masa lalu yang pahit dan tanggung jawab seorang anak. Namun ada satu hal yang kini lebih menjadi prioritas di benak Bu Tiya. "Ingat, Reen, kamu jug
"Bagaimana kondisi Papa, Reen?" tanya Davin sambil duduk di sebelah istrinya."Kata dokter, Papa mengalami infeksi di lambungnya, Mas. Kondisinya sangat lemah," jawab Zareen dengan mata berkaca-kaca.Davin menghela napas panjang. "Kita akan pastikan Papa mendapatkan perawatan terbaik. Kamu tenang saja, ya?"Zareen mengangguk dengan perasaan lega. Dia tidak sendirian merawat papanya. Sebab Zareen tak mungkin meminta bantuan sang mama. Biar mamanya tak terbebani.Hari-hari berikutnya menjadi rutinitas yang melelahkan bagi Zareen. Ia membagi waktu antara suami, pekerjaan, dan menjaga papanya di rumah sakit. Meski Davin sudah membayar orang untuk menjaganya.Suatu sore saat Zareen baru saja keluar dari kantin rumah sakit, ia melihat seorang gadis duduk sendirian di bangku taman dengan wajah yang sangat sedih. Itu adalah anak perempuan Bu Yayuk yang sempat ia temui di rumah tempo hari.Zareen bertanya pada seorang perawat yang kebetulan melintas di dekat sana."Suster, permisi. Apa Sus tah
Zareen membalas tatapan suaminya dengan binar penuh harapan. "Mas, aku selalu berdoa, semoga Tuhan menitipkan amanah-Nya pada kita."Davin membungkam bibir Zareen dengan ciuman yang dalam. "Mari kita terus usaha.""Ya.""Semoga ada kabar gembira untuk hadiah pernikahan kita."Gairah membara menyatukan mereka. Menciptakan ritme yang selaras dengan desah napas di keheningan malam. 🖤LS🖤Enam bulan kemudian ....Pagi itu seperti biasanya, Zareen sibuk di kantor. Dia harus bekerja sendiri karena papanya jarang ke kantor semenjak Zareen menikah. Kesehatan pria itu menurun drastis. Terpaksa Zareen memegang semua kendali. Untungnya sang suami sangat membantunya. Sekarang kerjasama Zareen hanya dengan perusahaan Karya Sejahtera saja. Sudah banyak karyawan yang diberhentikan karena situasi tidak memungkinkan.Ketika tengah sibuk menyimak laporan, ada ketukan di pintu ruangannya. Kemudian Era masuk. "Bu Zareen, ada seorang wanita yang ingin bertemu. Beliau sekarang menunggu di loby.""Siapa?"







