Share

6. Bangkit Kimmy

Penulis: Lis Susanawati
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-23 11:25:54

KAMU YANG KUCINTAI

- 6 Bangkit, Kimmy

"Kim, kamu masih punya Mama," suara Bu Elok terdengar serak karena habis menangis.

"Aku nggak punya siapa-siapa lagi," desis Kimmy lirih. Tatapannya kosong, rambut acak-acakan, dan kondisinya sangat kacau malam itu. Ia sangat marah, karena mamanya tak pernah mau mendengarkannya. Namun dia tidak bisa mengumpat atau memaki wanita yang dipanggilnya mama. Seorang Mama pasti akan mendengarkan anaknya. Tapi ini tidak.

Pak Fardhan tidak berani membuka suara. Daripada nanti Kimmy histeris. Akhirnya dia melangkah keluar kamar dan membiarkan ibu dan anak di dalam.

Bu Elok kembali menangis. Ingin memeluk Kimmy tapi gadis itu memilih diam dan menghindar. Jiwa raganya sakit sekali. Dia sudah hancur sekarang. Bagaimana kalau dirinya hamil?

Sepanjang malam, Bu Elok tidak meninggalkan Kimmy sendirian. Gaun untuk dinner tadi masih melekat di tubuhnya. Dia takut terlena dan Kimmy melakukan sesuatu di luar batas.

🖤LS🖤

Tujuh jam berlalu. Matahari pagi menyelinap melalui celah gorden kamar Arsel yang tersingkap. Pria itu terbangun, duduk dengan rasa mual yang mengaduk perut dan kepala yang seolah dihantam godam. Begitu ia membuka mata, bayangan-bayangan mengerikan semalam melintas di benak.

Kimmy. Jeritannya, cengkeramannya, samar-samar Arsel mampu mengingatnya. Ia menoleh pada kondisi tempat tidur yang acak-acakan. Ada noda darah di sana. Punya Kimmy. Dan Arsel merasakan dadanya diremas.

Saat pintu kamar terbuka, papanya berdiri di sana dengan mata penuh amarah. Tanpa aba-aba, satu pukulan telak melayang ke rahang Arsel.

Arsel kembali terbanting di kasur. Sudut bibirnya pecah mengeluarkan darah segar. Namun ia tidak melawan. Berusaha kembali duduk dengan sisa tenaganya.

"Menjijikan sekali kelakuanmu pada Kimmy semalam." Pak Fardhan bicara dengan rahang mengeras dan gigi gemertak.

Pak Fardhan memalingkan wajah dengan murka pada putra kesayangan dan kebanggaannya. "Kamu menghancurkan rumah ini, Arsel. Kamu menghancurkan Kimmy. Menghancurkan reputasi kita kalau sampai orang luar tahu."

"Aku dijebak di pertemuan itu," jawab Arsel. Membiarkan luka di sudut bibirnya yang terasa perih.

"Kita sedang menangani projek besar. Kalau kasusmu terdengar sampai keluar, hancur kita semua. Bisa-bisanya kamu terjebak. Selama ini kamu nggak sebodoh itu. Kenapa tadi malam kalau kamu sadar dalam pengaruh obat, nggak segera masuk kamar."

"Kupikir tak ada orang. Kimmy ternyata tidak ikut kalian ke Malang." Arsel menceritakan apa yang diingatnya tadi malam. Bagaimana ia sempat menyuruh Kimmy pergi. Namun pada akhirnya tetap tidak bisa mengontrol diri.

"Bersihkan diri kamu. Papa tunggu di bawah. Kita bahas ini." Pak Fardhan meninggalkan kamar putranya dengan rasa khawatir yang menggunung. Tadi pagi-pagi sekali dia sudah bicara pada ART-nya, jangan sampai permasalahan tadi malam, bocor hingga ke orang luar.

Arsel sempat terhuyung di kamar mandi. Sepertinya obat itu dosis tinggi, pengaruhnya belum benar-benar hilang meski sudah tujuh jam.

🖤LS🖤

Empat hari telah berlalu, suasana masih menegangkan. Nampan-nampan makanan di depan pintu kamar Kimmy kembali dalam keadaan utuh. Kimmy hanya mengambil minumnya saja. Dan sang mama selalu menemani atau Mbak Asih yang menggantikan jika Bu Elok sedang mandi. Kimmy tidak dibiarkan sendirian. Itu saran dari psikolog yang menangani Kimmy dalam beberapa hari ini.

Arsel tetap berangkat ke kantor. Ia memaksakan diri berkutat dengan angka dan kontrak yang mendesak, meski bayangan mata Kimmy yang ketakutan terus muncul di antara baris-baris dokumennya. Rasa bersalah mengaduk-aduk perasaan.

Malamnya, Arsel, Pak Fardhan, dan Bu Elok duduk berbincang di sofa lantai atas. "Aku akan menikahinya, Pa," suara Arsel memecah keheningan.

Pak Fardhan menghela napas panjang. "Saudara tiri tiba-tiba menikah, itu bukan pernikahan murni, tapi karena ada skandal. Pernikahan tak biasa akan menimbulkan gosip liar di luar sana. Apalagi mendadak kamu meninggalkan Zareen. Hubungan kalian sudah cukup lama. Orang tuanya sudah merestui.

"Papa punya solusi lain. Mari kita dukung Kimmy sembuh dari traumanya. Papa akan carikan psikiater atau psikolog terbaik, fasilitas penyembuhan nomor satu. Setelah itu, Kimmy bisa melanjutkan kuliah ke luar negeri untuk S2 atau S3. Terserah dia hendak memilih ke negara mana. Fasilitas mewah, uang bulanan yang lebih dari cukup. Dan dia bisa pulang sambang sewaktu-waktu."

"Bagaimana kalau Kimmy hamil?" tanya Arsel tiba-tiba. Dan suasana mendadak hening. Bu Elok pun tidak berani buka mulut. Sebelum pertemuan malam itu, Bu Elok sudah diajak bicara oleh suaminya.

"Aku yang melakukan kesalahan. Biar aku yang bertanggung jawab."

"Tanggung jawab nggak harus dengan pernikahan," kata Pak Fardhan. "Pikirkan Zareen. Hubungan kita dengan keluarganya adalah investasi besar. Orang tuanya sudah merestui kalian. Yang terjadi di antara kamu dan Kimmy karena pengaruh obat. Kamu juga sudah menyuruhnya pergi. Sudah ada usaha sebelumnya. Nggak harus menikah, ini juga demi masa depan kalian. Menikah karena accident begini, mau dibawa ke mana pernikahan kalian. Akan semakin menambah banyak masalah saja."

"Menikah diam-diam dan jangan pedulikan orang luar," ucap Arsel datar.

"Pikirkan masalah setelah itu," sahut Pak Fardhan.

Arsel bangkit dari duduknya lalu masuk kamar meski pembicaraan belum selesai. Jujur saja, pikirannya sedang kacau sekarang ini. Tidak hanya pada Kimmy, tapi juga merasa bersalah pada Zareen.

Di balik dinding yang temaram, Kimmy berdiri mematung. Air matanya luruh tanpa suara, membasahi pipinya yang kini tampak lebih tirus. Setiap kata yang keluar dari mulut Pak Fardhan terasa seperti belati yang menguliti hatinya. Ia bukan lagi seorang manusia di mata mereka tapi 'masalah' yang harus diselesaikan. Cacat yang harus disembunyikan demi reputasi keluarga.

Ternyata sikap khawatir Pak Fardhan malam itu, bukan karena simpati padanya. Tapi bentuk kekhawatiran pada reputasinya sendiri. Takut martabatnya hancur jika sampai kejadian itu diketahui orang di luar sana. Dan yang lebih menyakitkan adalah sikap mamanya. Terlalu cintanya pada lelaki itu, sampai mamanya memilih diam. Tidak ada pembelaan. Tidak ada tuntutan keadilan. Hanya ketakutan akan kehilangan posisi nyaman di rumah ini.

Kimmy tersenyum pahit. Sekarang jelas, tidak ada yang peduli padanya, selain dirinya sendiri. Papa tiri tetap papa tiri. Menyedihkan.

"Bangkit, Kim. Jangan putus asa. Sembuhkan dirimu. Kamu sudah sering sakit. Usaha papa yang bangkrut, kehilangan papamu, jatuh miskin dan terpuruk, pernikahan mama, sikap mama, lalu kejadian beberapa hari yang lalu. Kamu sudah terbanting berkali-kali. Kamu kuat, Kimmy." bisik hati kecilnya yang membuat Kimmy menarik napas panjang.

Saat itu ia teringat Langit. "Kamu tahu apa yang terjadi padaku saat ini?" Tubuh Kimmy terguncang karena tangis.

Setelah papa dan mamanya turun. Kimmy berbalik. Langkahnya tidak lagi lunglai. Ada kemarahan yang dingin dan tajam yang kini memacu darahnya. Ia melangkah menuju kamar Arsel.

BRAK! Pintu jati itu didobrak kasar. Arsel yang sedang duduk termenung di dekat pintu kaca balkon kaget dan menoleh.

Kimmy berdiri di sana, rambutnya berantakan, matanya membara dengan kebencian. Di tangannya sebuah pisau dapur yang runcing dan tajam berkilat tertimpa cahaya lampu kamar.

Gadis itu tidak bicara. Ia menerjang maju dengan kecepatan yang tak terduga. Dalam sekejap, ujung pisau itu tinggal beberapa inci saja tepat menusuk dada Arsel, karena sudah menyentuh kaos polo yang dikenakannya. Sedikit saja tenaga ditambahkan, baja dingin itu akan merobek kulit dan menembus jantung pria itu.

Arsel bergeming. Ia tidak mencoba menepis tangan Kimmy, tidak juga mencoba menghindar, apalagi berteriak. Tapi justru menatap begitu dalam ke mata Kimmy yang basah penuh dendam.

"Akan kuterima apapun yang ingin kamu lakukan padaku," ucap Arsel.

Next ....

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (6)
goodnovel comment avatar
Balowa 1234
sedih sekali
goodnovel comment avatar
Irma Usu
semoga mereka berjodoh
goodnovel comment avatar
Marlina Sari
semoga berjodoh... selama nya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Kamu yang Kucintai    6. Bangkit Kimmy

    KAMU YANG KUCINTAI- 6 Bangkit, Kimmy "Kim, kamu masih punya Mama," suara Bu Elok terdengar serak karena habis menangis."Aku nggak punya siapa-siapa lagi," desis Kimmy lirih. Tatapannya kosong, rambut acak-acakan, dan kondisinya sangat kacau malam itu. Ia sangat marah, karena mamanya tak pernah mau mendengarkannya. Namun dia tidak bisa mengumpat atau memaki wanita yang dipanggilnya mama. Seorang Mama pasti akan mendengarkan anaknya. Tapi ini tidak.Pak Fardhan tidak berani membuka suara. Daripada nanti Kimmy histeris. Akhirnya dia melangkah keluar kamar dan membiarkan ibu dan anak di dalam.Bu Elok kembali menangis. Ingin memeluk Kimmy tapi gadis itu memilih diam dan menghindar. Jiwa raganya sakit sekali. Dia sudah hancur sekarang. Bagaimana kalau dirinya hamil?Sepanjang malam, Bu Elok tidak meninggalkan Kimmy sendirian. Gaun untuk dinner tadi masih melekat di tubuhnya. Dia takut terlena dan Kimmy melakukan sesuatu di luar batas. 🖤LS🖤Tujuh jam berlalu. Matahari pagi menyelinap

  • Kamu yang Kucintai    5. Malam Penuh Luka

    KAMU YANG KUCINTAI - 5 Malam Penuh Luka "Bang, aku Kimmy," teriak Kimmy dengan panik. "Tolong! Mak Karti, tolong!" Kimmy histeris.Namun area pelayan berada di lantai bawah bagian belakang. Suaranya tertelan oleh tebalnya dinding kedap suara rumah mewah itu. Arsel menendang pintu kamarnya hingga terbuka, lalu membanting Kimmy ke atas ranjang king size-nya yang dingin. Kekuatan yang mustahil untuk dilawan seorang Kimmy. Apalagi pengaruh obat itu begitu luar biasa. Merambat di seluruh aliran darahnya. Menepis batasan yang menghilangkan kesadarannya.Malam itu berubah menjadi mimpi paling buruk bagi Kimmy. Beberapa saat kemudian.Pintu kamar Arsel terbuka, Kimmy keluar dengan langkah lunglai. Rambutnya kusut masai, wajahnya pucat pasi, matanya kosong menatap lantai marmer yang dingin. Ia terseok-seok masuk ke dalam kamarnya sendiri, menutup pintu, dan seketika itu juga seluruh pertahanannya runtuh.Kimmy menjerit sejadi-jadinya. Ia meraih bantal, guling, dan buku-buku di meja belajarn

  • Kamu yang Kucintai    4. Pergi Kimmy

    KAMU YANG KUCINTAI- 4 Pergi, Kimmy"Jangan sekarang, tolong jangan sekarang," jerit Kimmy dalam hati. Berharap lampu traffic light tidak berubah kuning. Di depannya motor sport itu meliuk gesit di antara deretan kendaraan. Kimmy menarik gas, mengabaikan getaran hebat pada setang motor matiknya.Lampu lalu lintas di depan berubah kuning. Tapi justru Kimmy memacu motornya lebih kencang tepat saat lampu merah menyala. Suara klakson bersahutan di aspal Surabaya yang membara. "Woi! Cari mati kamu, ya!" umpat seorang pengendara mobil yang nyaris menghantam sisi motornya. Dan umpatan lainnya pun terdengar. Kimmy tidak peduli meski itu sangat berbahaya bagi diri sendiri. Tatapannya terkunci pada punggung pria di depan sana. Ia terus membuntuti hingga motor itu berbelok ke sebuah bengkel modifikasi di sudut jalan yang agak sepi. Meski mulai ragu akan pengendara itu, karena tubuhnya tak setinggi Langit.Kimmy ikut berhenti dan hampir terjatuh karena tubuhnya gemetar. Ia menyandarkan motornya

  • Kamu yang Kucintai    3. Tiba-tiba Menikah

    KAMU YANG KUCINTAI - 3 Tiba-tiba Menikah "Bang Arsel itu sudah punya pacar yang selevel, Kim. Jangan pernah bermimpi bisa menggodanya," sindir Salsa begitu sinis dan ketus. Kali ini Kimmy menatap saudara tirinya itu dengan kemarahan membuncah. "Kamu terlalu kepedean ngomong seperti itu. Siapa juga yang mau menggodanya? Aku nggak sengaja tadi.""Cih, orang sepertimu kan biasanya nggak peduli. Nekatan. Kayak mamamu yang pintar menggoda papaku sampai beliau kepincut." Salsa semakin sengit. Kobar kebencian tampak di matanya yang bulat.Darah Kimmy mendidih. Rasa panas menjalar dari ulu hati hingga ke wajahnya yang memucat. "Jaga bicaramu. Mamaku bukan penggoda."Salsa tersenyum miring. "Saran aku sih, mending kamu tahu diri. Rumah ini nggak layak untuk kalian. Almarhumah mamaku yang menemani papa hingga sukses. Tapi mamamu yang tinggal memetik hasilnya."Kimmy tidak sanggup lagi bernapas di sana, segera berbalik, melangkah lebar-lebar menuju ruang samping. Tangannya gemetar saat menyam

  • Kamu yang Kucintai    2. Balas Kim

    KAMU YANG KUCINTAI- 2 Balas, Kim"Jam berapa ini? Kenapa baru pulang?" Suara Arsel begitu dingin. Pria itu sedang menyandarkan sikunya di pagar balkon, jemarinya menjepit sebatang rokok yang ujungnya membara di kegelapan. Matanya tajam menatap Kimmy yang menegang ketakutan."Aku bertemu teman," jawab Kimmy dengan nada cepat, lantas menghilang masuk kamar. Terdengar bunyi kunci diputar. Klik.Pria itu menarik napas panjang, membiarkan nikotin membakar paru-parunya sejenak sebelum mematikan puntung rokok di asbak. Kemudian melangkah masuk ke kamarnya.Kimmy diam duduk di tepi pembaringan. Arsel tidak bicara, tapi tatapannya itu seolah melucuti pertahanan Kimmy. Membuat gadis itu selalu curiga kalau Arsel tampak memiliki niat tersembunyi yang membuat bulu kuduk Kimmy meremang. Semoga saja itu dugaan yang salah.Dadanya sesak. Kamar ini adalah satu-satunya wilayah yang bisa melindunginya dari tatapan Arsel dan Salsa. Dilihatnya jam dinding. Jarum menunjukkan pukul sembilan malam.Setelah

  • Kamu yang Kucintai    1. Ikut Denganmu

    KAMU YANG KUCINTAIPart 1 Ikut denganmu?"Mas, boleh aku ikut denganmu?" tanya Kimmy sambil memandang pria berjaket kulit yang duduk di hadapannya. Tatapan gadis itu penuh harapan."Kamu nggak akan aman bersamaku. Hidupku belum jelas. Aku juga memiliki banyak musuh, Kim." Pria itu menghembuskan asap rokok ke udara. Yang akhirnya buyar tersapu angin malam dari balkon kafe.Kimmy tidak berkedip. Matanya yang bulat tampak berkaca-kaca, memantulkan cahaya lampu kota. "Aku lebih bahaya lagi jika tetap tinggal bareng Mama di rumah itu. Mama lebih mendengar dan lebih mempercayai suami dan anak-anak tirinya. Menjaga perasaan mereka dengan baik, seolah aku yang anak kandungnya ini nggak punya perasaan. Memang hidup kami bergantung padanya, sih. Mama sudah terlalu bangga dengan gelar nyonya besar di rumah itu.""Papa tirimu jahat?" tanya Langit dengan tatapan menyelidik."Bukan beliau yang jahat. Tapi aku takut dengan anak-anaknya." Kimmy menunduk sambil memperhatikan gelas es teh yang digengga

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status