LOGINKAMU YANG KUCINTAI
- 5 Malam Penuh Luka "Bang, aku Kimmy," teriak Kimmy dengan panik. "Tolong! Mak Karti, tolong!" Kimmy histeris. Namun area pelayan berada di lantai bawah bagian belakang. Suaranya tertelan oleh tebalnya dinding kedap suara rumah mewah itu. Arsel menendang pintu kamarnya hingga terbuka, lalu membanting Kimmy ke atas ranjang king size-nya yang dingin. Kekuatan yang mustahil untuk dilawan seorang Kimmy. Apalagi pengaruh obat itu begitu luar biasa. Merambat di seluruh aliran darahnya. Menepis batasan yang menghilangkan kesadarannya. Malam itu berubah menjadi mimpi paling buruk bagi Kimmy. Beberapa saat kemudian. Pintu kamar Arsel terbuka, Kimmy keluar dengan langkah lunglai. Rambutnya kusut masai, wajahnya pucat pasi, matanya kosong menatap lantai marmer yang dingin. Ia terseok-seok masuk ke dalam kamarnya sendiri, menutup pintu, dan seketika itu juga seluruh pertahanannya runtuh. Kimmy menjerit sejadi-jadinya. Ia meraih bantal, guling, dan buku-buku di meja belajarnya, melemparkan ke segala arah dengan amarah yang meledak-ledak. Ia meraung bagai singa betina yang sedang mengamuk dan terluka. Ia berteriak di sela isak tangis yang menyesakkan dada. Pada saat yang bersamaan, terdengar suara gerbang dibuka dan deru mobil masuk. Pak Fardhan, Bu Elok, dan Salsa telah pulang lebih cepat dari biasanya. Bu Elok yang turun dari mobil mendengar suara raungan dari lantai atas. Ia memandang jendela kamar Kimmy yang berada tepat di atasnya. "Kimmy." Bu Elok langsung berlari untuk membuka pintu rumah. Mak Karti dan Mbak Asih juga keluar dari kamar. Mereka semua berlari ke arah tangga. Pak Fardhan juga, kecuali Salsa yang santai melangkah sambil memutar bola mata. "Kamu mati lebih baik, Kimmy," ujarnya lirih. Suara teriakan itu terdengar lagi, lebih memilukan, dibarengi suara benda pecah dari kamar Kimmy. Jantung Bu Elok berdegup kencang. "Kimmy, ada apa?" Bu Elok menggedor pintu kamar Kimmy yang terkunci dari dalam. "Kimmy, kamu kenapa?" Handle pintu diputar berulang tetap tidak bisa dibuka. "Kim." Pak Fardhan juga mengetuk pintu. Dua pembantu di yang terdiri di belakang mereka tampak gemetar. Mereka tadi sudah tertidur lelap karena kecapekan. Lalu terbangun saat mendengar suara teriakan disertai benda-benda jatuh, terdengar sayup-sayup dari lantai atas. Di dalam kamar, Kimmy terduduk di pojok ruangan dengan tubuh bergetar hebat. Ia mendengar suara mamanya, tapi hatinya justru terasa semakin sakit. Rumah yang dianggap mamanya sebagai surga ini, nyatanya baru saja menjadi neraka bagi Kimmy. Kekhawatirannya menjelma menjadi kenyataan yang mengerikan. "Ambilkan kunci cadangan, Mak," perintah Pak Fardhan dengan nada tak kalah panik. Mak Karti berlari ke bawah, mengambil kunci di laci bufet ruang keluarga. Napasnya sampai ngos-ngosan saat menyerahkan kunci pada majikannya. Namun kunci itu tidak bisa diputar karena kunci double cylinder tidak bisa dibuka dari dua arah kalau ada kunci lain yang melekat di dalam. "Gimana ini, Mas?" Bu Elok makin panik, tubuhnya gemetar. Apalagi sudah tidak terdengar suara Kimmy dari dalam. "Biar Papa dobrak." Pak Fardhan mengambil ancang-ancang. Tapi dua kali pula tubuhnya mental. Suasana semakin tegang. Hanya Salsa yang pura-pura panik sambil berdiri di dekat dua pembantunya. Padahal hatinya bersyukur jika terjadi sesuatu pada Kimmy. "Minta tolong sama Arsel, Pa. Itu pintu kamarnya terbuka," ujar Bu Elok. Pak Fardhan langsung masuk ke kamar putranya. Dia melihat Arsel telungkup di atas tempat tidur yang berantakan. Dalam kondisi shirtless dan tubuh bagian pinggang hingga kaki tertutup selimut. Saat dipanggil, Arsel bergerak pelan. Lemas tak bertenaga. Bahkan pandangannya kabur saat melihat sang papa. Pikiran Pak Fardhan sudah tidak enak. Apalagi mencium bau alkohol dari tubuh putranya. Jangan-jangan .... Pria itu melangkah cepat ke kamar Kimmy. "Tolong minggir dulu. Biar kudobrak lagi." Pak Fardhan mengambil ancang-ancang dan mengerahkan seluruh tenaganya. Dua kali dobrak pintu kamar akhirnya terbuka. Bu Elok berlari dan menubruk Kimmy yang meringkuk di lantai. Pakaiannya sangat kusut. "Kimmy, kamu kenapa sayang." Kimmy tidak menjawab. Dia lemas dalam dekapan mamanya. Tiga orang di luar kamar masih mematung. Melihat keadaan Kimmy seperti itu dan ingat bagaimana putranya di kamar, dada Pak Fardhan berdebar hebat. Pasti telah terjadi sesuatu. Ia bisa menebaknya. Dengan langkah cepat, lelaki itu masuk ke kamar Arsel. Gerakannya kasar, ia sekuat tenaga membalikkan tubuh anaknya. Arsel masih lemas. "Apa yang kamu lakukan, Arsel? Jawab Papa!" teriak Pak Fardhan, suaranya menggelegar hingga ke langit-langit kamar yang tinggi. Matanya memerah menahan amarah. Giginya juga gemertak. Arsel tidak menjawab. Ia duduk tapi tubuhnya melengkung karena lemas. Matanya yang merah sayu mencoba memfokuskan pandangan tapi gagal. Ia mengerang pelan. Keringat masih merembes dari pelipisnya. Pak Fardhan mengguncang tubuh Arsel dengan kalap. "Bangun, Sel." Kemudian mengambil air minum dan memaksa anaknya untuk minum. Dan ia menyadari sesuatu. Pupil mata Arsel melebar secara tidak wajar, tubuhnya bergetar di luar kendali. Pria itu terdiam sejenak, tahu kalau anaknya dalam pengaruh obat. Siapa yang menjebaknya. Ia kenal betul dengan putranya. Mustahil Arsel sengaja minum sendiri. Namun kenyataan pahit di kamar sebelah tak bisa dihapus hanya dengan alasan "terpengaruh obat". Pak Fardhan melepaskan cengkeramannya, membiarkan Arsel jatuh terlentang di kasur. Lantas melangkah kembali ke kamar Kimmy. Di sana suasana terasa membeku. Bu Elok terisak hebat di atas lantai, memeluk lutut Kimmy yang hanya bisa menatap kosong ke tembok. Dengan suara lirih, Kimmy tadi menceritakan semuanya. Pak Fardhan yang berjongkok di dekat mereka, tanpa bertanya sudah bisa menduga apa yang terjadi. Dua ART di luar menunduk dalam-dalam. Tubuh mereka gemetar. Mengerti tentang percakapan itu. Sedangkan Salsa yang kaget, diam juga. Lalu masuk kamar. Kimmy tak penting, tapi bagaimana dengan abangnya? Dia justru kepikiran tentang Arsel. "Kimmy, maafkan Mama," desis Bu Elok sambil terisak. Merangkul erat tubuh anaknya. "Bunuh saja aku, Ma," jawab Kimmy lemah tanpa memandang siapapun. "Kimmy, bicara apa kamu, Sayang. Ini Mama." Kimmy membeku dengan air mata yang terus mengalir deras. Dia menolak pelukan sang mama. Bahkan tak memandang wajah papa tirinya yang terlihat cemas. Bayangan peristiwa tadi, begitu menghantui dan mengerikan. Dia tidak berdaya. Malam itu, rumah besar keluarga Pak Fardhan terasa sunyi, dingin, dan mencekam. Kimmy tidak ingin beranjak dari lantai. Para pembantu diam di kamarnya dan tidak bisa tidur. Tidak ada yang memberitahu secara langsung, tapi dua orang itu tahu apa yang terjadi. "Jangan di sini, ayo ke tempat tidur saja. Dingin, Kim." "Biarkan aku nyusul papaku." Next ....Hingga beberapa saat kemudian, suara tangis bayi yang melengking memecah kesunyian ruangan. Dokter spesialis anak segera mengambil alih, mengabarkan pada Davin dan Zareen, "Selamat, Bapak dan Ibu. Bayinya perempuan. Cantik dan sehat."Davin merasakan setitik air mata jatuh di pipinya. Akhirnya ia kesampaian memiliki anak lagi. Ia berharap anak keduanya perempuan setelah ia memiliki Adam. Sementara Zareen sendiri tak ada keinginan, khusus. Bisa hamil saja sudah sangat bersyukur.Beberapa saat setelah kabar bahagia itu terucap, Zareen tidak lagi mendengar apa pun. Efek bius total yang diberikan dokter anestesi membuat kesadarannya perlahan pudar, membawanya ke dalam keheningan yang dalam.Sedangkan di luar ruang operasi, suasana yang tadinya tegang seketika berubah menjadi rasa syukur setelah dikabari kalau Zareen sudah melahirkan bayi perempuan. Bu Tiya dan Pak Aaron yang duduk bersebelahan di kursi tunggu saling pandang, tersenyum, dan mengucapkan rasa bahagia. Hubungan mereka yang s
Tanpa berkata sepatah pun, Zareen menyodorkan benda kecil itu ke tangan mamanya. Bu Tiya memicingkan mata, lalu matanya membelalak sempurna saat memahami apa yang ia lihat. "Ya Allah, Reen. Ini benar?"Zareen mengangguk mantap sambil memeluk mamanya erat. "Iya, Ma. Akhirnya aku hamil."Bu Tiya membalas pelukan itu dengan penuh syukur. Air mata kebahagiaan ikut menetes di wajah wanita tua itu. "Alhamdulillah, ya Allah. Terima kasih. Akhirnya doa kita dikabulkan."Setelah itu Bu Tiya menatap wajah putrinya dengan serius. "Dengar, Reen. Trimester pertama ini masa yang sangat rawan. Jangan memaksakan diri ke kantor. Kamu harus banyak istirahat. Bukankah Papa kamu sudah sehat dan kembali ke kantor? Serahkan saja urusan pekerjaan padanya untuk sementara.""Iya, Ma. Aku tadi juga sudah berpikir begitu. Nanti setelah Mas Davin pulang, kami akan bicarakan ini," jawab Zareen.Sekarang tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, papanya sudah cerai dari Bu Yayuk empat bulan yang lalu. Setelah wanit
Dalam perjalanan, Zareen menarik napas panjang. Ini adalah pertemuan pertamanya dengan Nadia, wanita yang pernah menjadi bagian terpenting dalam hidup Davin. Ibu dari putra suaminya. Sosok yang dulu sempat membuat Davin terjebak dalam memori masa lalu yang tak kunjung usai."Ini rumahnya?" Setelah mobil berhenti di luar pagar sebuah rumah megah berlantai dua."Iya. Ayo, kita turun," ajak Davin.Mereka membuka pintu mobil. Pria itu merangkul Zareen yang tengah membawa parcel buah sebagai oleh-oleh. Juga menentang paper bag berisi kue lapis Surabaya. Davin menekan bel dibalik tembok pagar. Tak lama kemudian seorang asisten rumah tangga muncul untuk membukakan gerbang dan mempersilakan mereka masuk.Di depan pintu mereka disambut ramah oleh Nadia yang cantik berhijab dan Dewa yang tersenyum dan mempersilakan masuk. Anak-anak berlari mendekat dan ikut menyalami. Mereka anak-anak yang sopan."Senang sekali kita bisa meluangkan waktu untuk ketemuan begini, Pak Davin," ujar Dewa setelah mere
KAMU YANG KUCINTAI - 96 Ending Malam itu, embusan angin musim kemarau dari arah teras rumah Bu Tiya terasa lebih dingin dari biasanya. Zareen baru saja melangkah masuk setelah seharian berjibaku antara tuntutan pekerjaan di kantor dan menjenguk papanya di rumah sakit. Wajahnya tampak jelas menyiratkan kelelahan. Ia menyapa ibunya yang sedang duduk di ruang keluarga."Bagaimana kabar Papamu hari ini, Reen?" tanya Bu Tiya sembari meletakkan remot di atas meja.Zareen duduk di sofa, memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. "Sudah jauh lebih baik, Ma. Dokter bilang mungkin besok atau lusa Papa sudah boleh pulang. Mas Davin sudah sepakat untuk membawa Papa tinggal di rumahnya saja. Jadi, lebih mudah kalau ingin menyambangi dan memantau kesehatannya."Bu Tiya hanya manggut-manggut pelan. Ia tahu betul bagaimana batin putrinya berperang antara masa lalu yang pahit dan tanggung jawab seorang anak. Namun ada satu hal yang kini lebih menjadi prioritas di benak Bu Tiya. "Ingat, Reen, kamu jug
"Bagaimana kondisi Papa, Reen?" tanya Davin sambil duduk di sebelah istrinya."Kata dokter, Papa mengalami infeksi di lambungnya, Mas. Kondisinya sangat lemah," jawab Zareen dengan mata berkaca-kaca.Davin menghela napas panjang. "Kita akan pastikan Papa mendapatkan perawatan terbaik. Kamu tenang saja, ya?"Zareen mengangguk dengan perasaan lega. Dia tidak sendirian merawat papanya. Sebab Zareen tak mungkin meminta bantuan sang mama. Biar mamanya tak terbebani.Hari-hari berikutnya menjadi rutinitas yang melelahkan bagi Zareen. Ia membagi waktu antara suami, pekerjaan, dan menjaga papanya di rumah sakit. Meski Davin sudah membayar orang untuk menjaganya.Suatu sore saat Zareen baru saja keluar dari kantin rumah sakit, ia melihat seorang gadis duduk sendirian di bangku taman dengan wajah yang sangat sedih. Itu adalah anak perempuan Bu Yayuk yang sempat ia temui di rumah tempo hari.Zareen bertanya pada seorang perawat yang kebetulan melintas di dekat sana."Suster, permisi. Apa Sus tah
Zareen membalas tatapan suaminya dengan binar penuh harapan. "Mas, aku selalu berdoa, semoga Tuhan menitipkan amanah-Nya pada kita."Davin membungkam bibir Zareen dengan ciuman yang dalam. "Mari kita terus usaha.""Ya.""Semoga ada kabar gembira untuk hadiah pernikahan kita."Gairah membara menyatukan mereka. Menciptakan ritme yang selaras dengan desah napas di keheningan malam. 🖤LS🖤Enam bulan kemudian ....Pagi itu seperti biasanya, Zareen sibuk di kantor. Dia harus bekerja sendiri karena papanya jarang ke kantor semenjak Zareen menikah. Kesehatan pria itu menurun drastis. Terpaksa Zareen memegang semua kendali. Untungnya sang suami sangat membantunya. Sekarang kerjasama Zareen hanya dengan perusahaan Karya Sejahtera saja. Sudah banyak karyawan yang diberhentikan karena situasi tidak memungkinkan.Ketika tengah sibuk menyimak laporan, ada ketukan di pintu ruangannya. Kemudian Era masuk. "Bu Zareen, ada seorang wanita yang ingin bertemu. Beliau sekarang menunggu di loby.""Siapa?"







