Share

5. Malam Penuh Luka

Penulis: Lis Susanawati
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-22 18:39:59

KAMU YANG KUCINTAI

- 5 Malam Penuh Luka

"Bang, aku Kimmy," teriak Kimmy dengan panik. "Tolong! Mak Karti, tolong!" Kimmy histeris.

Namun area pelayan berada di lantai bawah bagian belakang. Suaranya tertelan oleh tebalnya dinding kedap suara rumah mewah itu. Arsel menendang pintu kamarnya hingga terbuka, lalu membanting Kimmy ke atas ranjang king size-nya yang dingin. Kekuatan yang mustahil untuk dilawan seorang Kimmy. Apalagi pengaruh obat itu begitu luar biasa. Merambat di seluruh aliran darahnya. Menepis batasan yang menghilangkan kesadarannya.

Malam itu berubah menjadi mimpi paling buruk bagi Kimmy.

Beberapa saat kemudian.

Pintu kamar Arsel terbuka, Kimmy keluar dengan langkah lunglai. Rambutnya kusut masai, wajahnya pucat pasi, matanya kosong menatap lantai marmer yang dingin. Ia terseok-seok masuk ke dalam kamarnya sendiri, menutup pintu, dan seketika itu juga seluruh pertahanannya runtuh.

Kimmy menjerit sejadi-jadinya. Ia meraih bantal, guling, dan buku-buku di meja belajarnya, melemparkan ke segala arah dengan amarah yang meledak-ledak. Ia meraung bagai singa betina yang sedang mengamuk dan terluka. Ia berteriak di sela isak tangis yang menyesakkan dada.

Pada saat yang bersamaan, terdengar suara gerbang dibuka dan deru mobil masuk. Pak Fardhan, Bu Elok, dan Salsa telah pulang lebih cepat dari biasanya. Bu Elok yang turun dari mobil mendengar suara raungan dari lantai atas. Ia memandang jendela kamar Kimmy yang berada tepat di atasnya.

"Kimmy." Bu Elok langsung berlari untuk membuka pintu rumah. Mak Karti dan Mbak Asih juga keluar dari kamar. Mereka semua berlari ke arah tangga. Pak Fardhan juga, kecuali Salsa yang santai melangkah sambil memutar bola mata. "Kamu mati lebih baik, Kimmy," ujarnya lirih.

Suara teriakan itu terdengar lagi, lebih memilukan, dibarengi suara benda pecah dari kamar Kimmy. Jantung Bu Elok berdegup kencang.

"Kimmy, ada apa?" Bu Elok menggedor pintu kamar Kimmy yang terkunci dari dalam. "Kimmy, kamu kenapa?" Handle pintu diputar berulang tetap tidak bisa dibuka.

"Kim." Pak Fardhan juga mengetuk pintu.

Dua pembantu di yang terdiri di belakang mereka tampak gemetar. Mereka tadi sudah tertidur lelap karena kecapekan. Lalu terbangun saat mendengar suara teriakan disertai benda-benda jatuh, terdengar sayup-sayup dari lantai atas.

Di dalam kamar, Kimmy terduduk di pojok ruangan dengan tubuh bergetar hebat. Ia mendengar suara mamanya, tapi hatinya justru terasa semakin sakit. Rumah yang dianggap mamanya sebagai surga ini, nyatanya baru saja menjadi neraka bagi Kimmy. Kekhawatirannya menjelma menjadi kenyataan yang mengerikan.

"Ambilkan kunci cadangan, Mak," perintah Pak Fardhan dengan nada tak kalah panik.

Mak Karti berlari ke bawah, mengambil kunci di laci bufet ruang keluarga. Napasnya sampai ngos-ngosan saat menyerahkan kunci pada majikannya.

Namun kunci itu tidak bisa diputar karena kunci double cylinder tidak bisa dibuka dari dua arah kalau ada kunci lain yang melekat di dalam.

"Gimana ini, Mas?" Bu Elok makin panik, tubuhnya gemetar. Apalagi sudah tidak terdengar suara Kimmy dari dalam.

"Biar Papa dobrak." Pak Fardhan mengambil ancang-ancang. Tapi dua kali pula tubuhnya mental. Suasana semakin tegang. Hanya Salsa yang pura-pura panik sambil berdiri di dekat dua pembantunya. Padahal hatinya bersyukur jika terjadi sesuatu pada Kimmy.

"Minta tolong sama Arsel, Pa. Itu pintu kamarnya terbuka," ujar Bu Elok.

Pak Fardhan langsung masuk ke kamar putranya. Dia melihat Arsel telungkup di atas tempat tidur yang berantakan. Dalam kondisi shirtless dan tubuh bagian pinggang hingga kaki tertutup selimut. Saat dipanggil, Arsel bergerak pelan. Lemas tak bertenaga. Bahkan pandangannya kabur saat melihat sang papa. Pikiran Pak Fardhan sudah tidak enak. Apalagi mencium bau alkohol dari tubuh putranya. Jangan-jangan .... Pria itu melangkah cepat ke kamar Kimmy.

"Tolong minggir dulu. Biar kudobrak lagi." Pak Fardhan mengambil ancang-ancang dan mengerahkan seluruh tenaganya. Dua kali dobrak pintu kamar akhirnya terbuka.

Bu Elok berlari dan menubruk Kimmy yang meringkuk di lantai. Pakaiannya sangat kusut. "Kimmy, kamu kenapa sayang."

Kimmy tidak menjawab. Dia lemas dalam dekapan mamanya. Tiga orang di luar kamar masih mematung.

Melihat keadaan Kimmy seperti itu dan ingat bagaimana putranya di kamar, dada Pak Fardhan berdebar hebat. Pasti telah terjadi sesuatu. Ia bisa menebaknya.

Dengan langkah cepat, lelaki itu masuk ke kamar Arsel. Gerakannya kasar, ia sekuat tenaga membalikkan tubuh anaknya. Arsel masih lemas.

"Apa yang kamu lakukan, Arsel? Jawab Papa!" teriak Pak Fardhan, suaranya menggelegar hingga ke langit-langit kamar yang tinggi. Matanya memerah menahan amarah. Giginya juga gemertak.

Arsel tidak menjawab. Ia duduk tapi tubuhnya melengkung karena lemas. Matanya yang merah sayu mencoba memfokuskan pandangan tapi gagal. Ia mengerang pelan. Keringat masih merembes dari pelipisnya. Pak Fardhan mengguncang tubuh Arsel dengan kalap. "Bangun, Sel."

Kemudian mengambil air minum dan memaksa anaknya untuk minum. Dan ia menyadari sesuatu. Pupil mata Arsel melebar secara tidak wajar, tubuhnya bergetar di luar kendali. Pria itu terdiam sejenak, tahu kalau anaknya dalam pengaruh obat. Siapa yang menjebaknya. Ia kenal betul dengan putranya. Mustahil Arsel sengaja minum sendiri. Namun kenyataan pahit di kamar sebelah tak bisa dihapus hanya dengan alasan "terpengaruh obat".

Pak Fardhan melepaskan cengkeramannya, membiarkan Arsel jatuh terlentang di kasur. Lantas melangkah kembali ke kamar Kimmy.

Di sana suasana terasa membeku. Bu Elok terisak hebat di atas lantai, memeluk lutut Kimmy yang hanya bisa menatap kosong ke tembok. Dengan suara lirih, Kimmy tadi menceritakan semuanya. Pak Fardhan yang berjongkok di dekat mereka, tanpa bertanya sudah bisa menduga apa yang terjadi.

Dua ART di luar menunduk dalam-dalam. Tubuh mereka gemetar. Mengerti tentang percakapan itu. Sedangkan Salsa yang kaget, diam juga. Lalu masuk kamar. Kimmy tak penting, tapi bagaimana dengan abangnya? Dia justru kepikiran tentang Arsel.

"Kimmy, maafkan Mama," desis Bu Elok sambil terisak. Merangkul erat tubuh anaknya.

"Bunuh saja aku, Ma," jawab Kimmy lemah tanpa memandang siapapun.

"Kimmy, bicara apa kamu, Sayang. Ini Mama."

Kimmy membeku dengan air mata yang terus mengalir deras. Dia menolak pelukan sang mama. Bahkan tak memandang wajah papa tirinya yang terlihat cemas. Bayangan peristiwa tadi, begitu menghantui dan mengerikan. Dia tidak berdaya.

Malam itu, rumah besar keluarga Pak Fardhan terasa sunyi, dingin, dan mencekam. Kimmy tidak ingin beranjak dari lantai. Para pembantu diam di kamarnya dan tidak bisa tidur. Tidak ada yang memberitahu secara langsung, tapi dua orang itu tahu apa yang terjadi.

"Jangan di sini, ayo ke tempat tidur saja. Dingin, Kim."

"Biarkan aku nyusul papaku."

Next ....

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kamu yang Kucintai    6. Bangkit Kimmy

    KAMU YANG KUCINTAI- 6 Bangkit, Kimmy "Kim, kamu masih punya Mama," suara Bu Elok terdengar serak karena habis menangis."Aku nggak punya siapa-siapa lagi," desis Kimmy lirih. Tatapannya kosong, rambut acak-acakan, dan kondisinya sangat kacau malam itu. Ia sangat marah, karena mamanya tak pernah mau mendengarkannya. Namun dia tidak bisa mengumpat atau memaki wanita yang dipanggilnya mama. Seorang Mama pasti akan mendengarkan anaknya. Tapi ini tidak.Pak Fardhan tidak berani membuka suara. Daripada nanti Kimmy histeris. Akhirnya dia melangkah keluar kamar dan membiarkan ibu dan anak di dalam.Bu Elok kembali menangis. Ingin memeluk Kimmy tapi gadis itu memilih diam dan menghindar. Jiwa raganya sakit sekali. Dia sudah hancur sekarang. Bagaimana kalau dirinya hamil?Sepanjang malam, Bu Elok tidak meninggalkan Kimmy sendirian. Gaun untuk dinner tadi masih melekat di tubuhnya. Dia takut terlena dan Kimmy melakukan sesuatu di luar batas. 🖤LS🖤Tujuh jam berlalu. Matahari pagi menyelinap

  • Kamu yang Kucintai    5. Malam Penuh Luka

    KAMU YANG KUCINTAI - 5 Malam Penuh Luka "Bang, aku Kimmy," teriak Kimmy dengan panik. "Tolong! Mak Karti, tolong!" Kimmy histeris.Namun area pelayan berada di lantai bawah bagian belakang. Suaranya tertelan oleh tebalnya dinding kedap suara rumah mewah itu. Arsel menendang pintu kamarnya hingga terbuka, lalu membanting Kimmy ke atas ranjang king size-nya yang dingin. Kekuatan yang mustahil untuk dilawan seorang Kimmy. Apalagi pengaruh obat itu begitu luar biasa. Merambat di seluruh aliran darahnya. Menepis batasan yang menghilangkan kesadarannya.Malam itu berubah menjadi mimpi paling buruk bagi Kimmy. Beberapa saat kemudian.Pintu kamar Arsel terbuka, Kimmy keluar dengan langkah lunglai. Rambutnya kusut masai, wajahnya pucat pasi, matanya kosong menatap lantai marmer yang dingin. Ia terseok-seok masuk ke dalam kamarnya sendiri, menutup pintu, dan seketika itu juga seluruh pertahanannya runtuh.Kimmy menjerit sejadi-jadinya. Ia meraih bantal, guling, dan buku-buku di meja belajarn

  • Kamu yang Kucintai    4. Pergi Kimmy

    KAMU YANG KUCINTAI- 4 Pergi, Kimmy"Jangan sekarang, tolong jangan sekarang," jerit Kimmy dalam hati. Berharap lampu traffic light tidak berubah kuning. Di depannya motor sport itu meliuk gesit di antara deretan kendaraan. Kimmy menarik gas, mengabaikan getaran hebat pada setang motor matiknya.Lampu lalu lintas di depan berubah kuning. Tapi justru Kimmy memacu motornya lebih kencang tepat saat lampu merah menyala. Suara klakson bersahutan di aspal Surabaya yang membara. "Woi! Cari mati kamu, ya!" umpat seorang pengendara mobil yang nyaris menghantam sisi motornya. Dan umpatan lainnya pun terdengar. Kimmy tidak peduli meski itu sangat berbahaya bagi diri sendiri. Tatapannya terkunci pada punggung pria di depan sana. Ia terus membuntuti hingga motor itu berbelok ke sebuah bengkel modifikasi di sudut jalan yang agak sepi. Meski mulai ragu akan pengendara itu, karena tubuhnya tak setinggi Langit.Kimmy ikut berhenti dan hampir terjatuh karena tubuhnya gemetar. Ia menyandarkan motornya

  • Kamu yang Kucintai    3. Tiba-tiba Menikah

    KAMU YANG KUCINTAI - 3 Tiba-tiba Menikah "Bang Arsel itu sudah punya pacar yang selevel, Kim. Jangan pernah bermimpi bisa menggodanya," sindir Salsa begitu sinis dan ketus. Kali ini Kimmy menatap saudara tirinya itu dengan kemarahan membuncah. "Kamu terlalu kepedean ngomong seperti itu. Siapa juga yang mau menggodanya? Aku nggak sengaja tadi.""Cih, orang sepertimu kan biasanya nggak peduli. Nekatan. Kayak mamamu yang pintar menggoda papaku sampai beliau kepincut." Salsa semakin sengit. Kobar kebencian tampak di matanya yang bulat.Darah Kimmy mendidih. Rasa panas menjalar dari ulu hati hingga ke wajahnya yang memucat. "Jaga bicaramu. Mamaku bukan penggoda."Salsa tersenyum miring. "Saran aku sih, mending kamu tahu diri. Rumah ini nggak layak untuk kalian. Almarhumah mamaku yang menemani papa hingga sukses. Tapi mamamu yang tinggal memetik hasilnya."Kimmy tidak sanggup lagi bernapas di sana, segera berbalik, melangkah lebar-lebar menuju ruang samping. Tangannya gemetar saat menyam

  • Kamu yang Kucintai    2. Balas Kim

    KAMU YANG KUCINTAI- 2 Balas, Kim"Jam berapa ini? Kenapa baru pulang?" Suara Arsel begitu dingin. Pria itu sedang menyandarkan sikunya di pagar balkon, jemarinya menjepit sebatang rokok yang ujungnya membara di kegelapan. Matanya tajam menatap Kimmy yang menegang ketakutan."Aku bertemu teman," jawab Kimmy dengan nada cepat, lantas menghilang masuk kamar. Terdengar bunyi kunci diputar. Klik.Pria itu menarik napas panjang, membiarkan nikotin membakar paru-parunya sejenak sebelum mematikan puntung rokok di asbak. Kemudian melangkah masuk ke kamarnya.Kimmy diam duduk di tepi pembaringan. Arsel tidak bicara, tapi tatapannya itu seolah melucuti pertahanan Kimmy. Membuat gadis itu selalu curiga kalau Arsel tampak memiliki niat tersembunyi yang membuat bulu kuduk Kimmy meremang. Semoga saja itu dugaan yang salah.Dadanya sesak. Kamar ini adalah satu-satunya wilayah yang bisa melindunginya dari tatapan Arsel dan Salsa. Dilihatnya jam dinding. Jarum menunjukkan pukul sembilan malam.Setelah

  • Kamu yang Kucintai    1. Ikut Denganmu

    KAMU YANG KUCINTAIPart 1 Ikut denganmu?"Mas, boleh aku ikut denganmu?" tanya Kimmy sambil memandang pria berjaket kulit yang duduk di hadapannya. Tatapan gadis itu penuh harapan."Kamu nggak akan aman bersamaku. Hidupku belum jelas. Aku juga memiliki banyak musuh, Kim." Pria itu menghembuskan asap rokok ke udara. Yang akhirnya buyar tersapu angin malam dari balkon kafe.Kimmy tidak berkedip. Matanya yang bulat tampak berkaca-kaca, memantulkan cahaya lampu kota. "Aku lebih bahaya lagi jika tetap tinggal bareng Mama di rumah itu. Mama lebih mendengar dan lebih mempercayai suami dan anak-anak tirinya. Menjaga perasaan mereka dengan baik, seolah aku yang anak kandungnya ini nggak punya perasaan. Memang hidup kami bergantung padanya, sih. Mama sudah terlalu bangga dengan gelar nyonya besar di rumah itu.""Papa tirimu jahat?" tanya Langit dengan tatapan menyelidik."Bukan beliau yang jahat. Tapi aku takut dengan anak-anaknya." Kimmy menunduk sambil memperhatikan gelas es teh yang digengga

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status