Share

4. Pergi Kimmy

Penulis: Lis Susanawati
last update Tanggal publikasi: 2026-02-22 13:07:31

KAMU YANG KUCINTAI

- 4 Pergi, Kimmy

"Jangan sekarang, tolong jangan sekarang," jerit Kimmy dalam hati. Berharap lampu traffic light tidak berubah kuning.

Di depannya motor sport itu meliuk gesit di antara deretan kendaraan. Kimmy menarik gas, mengabaikan getaran hebat pada setang motor matiknya.

Lampu lalu lintas di depan berubah kuning. Tapi justru Kimmy memacu motornya lebih kencang tepat saat lampu merah menyala. Suara klakson bersahutan di aspal Surabaya yang membara.

"Woi! Cari mati kamu, ya!" umpat seorang pengendara mobil yang nyaris menghantam sisi motornya. Dan umpatan lainnya pun terdengar. Kimmy tidak peduli meski itu sangat berbahaya bagi diri sendiri. Tatapannya terkunci pada punggung pria di depan sana. Ia terus membuntuti hingga motor itu berbelok ke sebuah bengkel modifikasi di sudut jalan yang agak sepi. Meski mulai ragu akan pengendara itu, karena tubuhnya tak setinggi Langit.

Kimmy ikut berhenti dan hampir terjatuh karena tubuhnya gemetar. Ia menyandarkan motornya pada standar samping. Lantas menghampiri sosok yang sedang melepas helm. Dan benar, harapannya runtuh seketika. "Saya kira Mas tadi kenalan saya," ucap Kimmy lemas.

Pria itu menoleh. Wajahnya tak asing. Garis mukanya keras dan ada bekas luka kecil di pelipisnya. Bukan Langit. Kimmy terpaku sambil mengatur napas.

"Nyari siapa, Mbak?" tanya pria itu bingung sambil mengernyit memandang Kimmy. "Oh, sepertinya kita pernah bertemu, kan? Kamu temannya Langit. Kimmy kalau nggak salah."

Akhirnya Kimmy pun ingat pernah bertemu laki-laki itu bersama Langit di kafe. "Ya, kita pernah bertemu. Saya pikir Mas tadi itu Mas Langit. Saya ingat jaketnya."

"Aku Antok. Langit ngasih jaketnya padaku lalu cabut meninggalkan Surabaya malam itu."

"Ke mana, Mas?"

"Nggak tahu. Dia nggak bilang. Katanya cuman ingin pergi gitu saja. Nomornya sudah nggak aktif, kan?"

Kimmy mengangguk lemah. "Iya, sudah saya coba hubungi berkali-kali."

"Aku juga nggak bisa ngubungi."

Kimmy tertunduk. Rasa kecewa yang amat sangat merambat di dadanya, terasa lebih pedih daripada umpatan pengendara di jalan tadi. "Terima kasih, Mas Antok. Saya pamit dulu."

"Ya, hati-hati."

Perjalanan pulang terasa sangat panjang. Surabaya yang biasanya bising kini terasa hampa bagi Kimmy. Sesampainya di depan gerbang rumah besar milik Pak Fardhan, ia menarik napas lega. Mobil SUV hitam milik Arsel tidak ada, begitu juga city car warna merah milik Salsa. Gadis yang selalu mengatai kalau Bu Elok adalah pelakor.

"Dasar anak pelakor."

Kimmy masuk lewat pintu samping, bertemu dengan Mak Karti yang sedang mengelap meja dapur.

"Eh, Mbak Kimmy sudah pulang," sapa Mak Karti ramah.

"Iya, Mak."

"Ini, Mak buatkan kue lumpur. Masih hangat. Bawa ke kamar ya, Mbak, buat teman belajar," Mak Karti menyodorkan piring kecil dengan empat potong kue yang aromanya sangat wangi. Wanita ini sangat baik padanya.

"Makasih ya, Mak."

"Mbak Kimmy, nggak makan dulu."

"Nanti saja, Mak."

Kimmy segera naik ke kamarnya. Mengunci pintu dan duduk di dekat jendela. Ia mengunyah kue itu pelan. Pikirannya melayang pada Langit. "Kenapa dia setega itu?" batinnya. Ia sadar, bukan siapa-siapa bagi Langit. Mereka bukan sepasang kekasih, hanya teman. Ah, Kimmy yang berharap lebih.

Ketukan di pintu kamar mengagetkan Kimmy. Tubuhnya kembali gemetar. "Kalau sering kaget, bisa-bisa aku jantungan di sini."

Ia melirik jam dinding. Pukul satu siang. Arsel tidak mungkin pulang jam segini. Tapi kalau Salsa biasanya akan menggedor pintu seolah mau merubuhkannya.

"Kimmy sayang. Kamu di dalam?"

Oh itu suara mamanya. Ternyata sudah pulang. Kimmy mengembuskan napas panjang, pundaknya yang tegang seketika mengendur. Ia beranjak dan membuka kunci pintu. Sang mama langsung memeluk dan mencium pipi Kimmy.

"Kenapa siang-siang pintu dikunci rapat begini, Kim?" tanya Bu Elok sambil melangkah masuk, duduk di pinggir tempat tidur yang rapi sambil meletakan oleh-oleh berupa gaun di atas kasur.

"Mama, tahu kan kalau aku khawatir."

"Khawatir apa sih, kamu itu terlalu berlebihan mencurigai Arsel. Dia itu memang pendiam. Terkesan memang dingin, tapi itu sifatnya, bukan berarti dia jahat. Dia loh punya pacar, Kim. Cantik.

"Sudahlah, mending kamu istirahat. Nanti malam kita diajak papa dinner ke Malang. Kamu dandan yang cantik," pesan Bu Elok sebelum keluar kamar. Dan tidak ada tanggapan serius tentang Kimmy yang tidak nyaman dan tertekan perasaannya di rumah itu. Yang penting mamanya bahagia, Kimmy tidak kekurangan apapun.

🖤LS🖤

Kimmy meringkuk di balik selimut, alasan sakit kepala cukup untuk menghindar dari perjalanan ke Malang bersama mereka. Sebab Arsel dan Salsa pasti ikut. Dan pulang dari Malang biasanya lewat tengah malam.

Diraihnya botol minum, ternyata kosong. Dengan langkah pelan, ia memutar kunci pintu dan keluar menuju ruang tengah lantai atas untuk mengambil minum. Ruangan yang biasanya terang benderang, tapi malam ini hanya disinari lampu redup di sudut ruangan.

Langkahnya terhenti seketika karena kaget. Jantungnya berdegup kencang, saat melihat Arsel tampak limbung di sofa. Kemeja hitamnya sudah terbuka di bagian kerah, dasinya terlepas berantakan di lantai. Ia tidak ikut ke Malang? Kimmy terpaku. Pria itu menunduk, kedua tangannya mencengkeram kepala seolah sedang menahan ledakan di dalam sana.

Kimmy takut sekaligus bingung. Dia kalau diam dan terjadi sesuatu pada abang tirinya itu, pasti akan disalahkan.

"Bang Arsel?" panggil Kimmy lirih, suaranya bergetar.

Arsel mendongak. Kimmy tersentak mundur. Wajah yang biasanya sedingin es itu kini memerah. Keringat sebesar biji jagung membasahi kening dan lehernya. Matanya yang tajam kini tampak keruh dan liar. Seperti serigala yang sedang sekarat. Napasnya memburu di udara malam yang sunyi.

"Pergi, Kim," desis Arsel dengan suara parau.

Arsel sedang berperang dengan dirinya sendiri. Di dalam darahnya, obat perangsang dosis tinggi yang dijatuhkan musuh bisnisnya ke dalam minuman tadi sedang bekerja dengan beringas. Sarafnya terbakar, setiap inci kulitnya terasa sensitif, dan kewarasannya terkiris.

"Kupanggilkan Mak Karti. Sepertinya Abang sakit. Nanti kami bawa ke dokter." Kimmy mendekat satu langkah, didorong rasa kemanusiaannya. Walaupun sebenarnya dia juga takut.

Arsel mengerang, otot-otot lengannya menegang hebat hingga urat-uratnya menonjol.

Baru saja Kimmy hendak berbalik, tangan Arsel menyambar pergelangan tangan Kimmy dengan sentakan kasar. Kimmy menjerit kecil saat tubuhnya ditarik hingga terjatuh tepat di atas pangkuan Arsel. Bau alkohol tipis bercampur aroma maskulin yang tajam menyerbu indra penciumannya.

Kimmy berusaha melepaskan diri.

"Sudah kukatakan pergi, Kimmy. Tapi kau malah mendekat," desis Arsel di depan wajah Kimmy. Napas panas pria itu menyapu kulit leher Kimmy, membuat bulu kuduk gadis itu meremang hebat. Arsel tidak bisa mengendalikan diri. Obat itu telah menghapus seluruh batas moralnya.

"Bang, sadar. Ini aku Kimmy."

Next ...

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (4)
goodnovel comment avatar
Ariny arni
Kimmy polos ga paham apa yg sdg terjadi pada Arsel, dia khawatir terjadi sesuatu hal sama Arsel sementara dia diam aja akan di salahkan . ternyata kepeduliannya itu yg jadi bumerang buat dia
goodnovel comment avatar
~kho~
waduh, jahat amat saingan bisnisnya arsel
goodnovel comment avatar
Bunda Ernii
waduh kenapa Kimmy gk pergi sih? kamu nyeburin diri ke kandang buaya klo gini..
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Kamu yang Kucintai   269.

    Hingga beberapa saat kemudian, suara tangis bayi yang melengking memecah kesunyian ruangan. Dokter spesialis anak segera mengambil alih, mengabarkan pada Davin dan Zareen, "Selamat, Bapak dan Ibu. Bayinya perempuan. Cantik dan sehat."Davin merasakan setitik air mata jatuh di pipinya. Akhirnya ia kesampaian memiliki anak lagi. Ia berharap anak keduanya perempuan setelah ia memiliki Adam. Sementara Zareen sendiri tak ada keinginan, khusus. Bisa hamil saja sudah sangat bersyukur.Beberapa saat setelah kabar bahagia itu terucap, Zareen tidak lagi mendengar apa pun. Efek bius total yang diberikan dokter anestesi membuat kesadarannya perlahan pudar, membawanya ke dalam keheningan yang dalam.Sedangkan di luar ruang operasi, suasana yang tadinya tegang seketika berubah menjadi rasa syukur setelah dikabari kalau Zareen sudah melahirkan bayi perempuan. Bu Tiya dan Pak Aaron yang duduk bersebelahan di kursi tunggu saling pandang, tersenyum, dan mengucapkan rasa bahagia. Hubungan mereka yang s

  • Kamu yang Kucintai   268.

    Tanpa berkata sepatah pun, Zareen menyodorkan benda kecil itu ke tangan mamanya. Bu Tiya memicingkan mata, lalu matanya membelalak sempurna saat memahami apa yang ia lihat. "Ya Allah, Reen. Ini benar?"Zareen mengangguk mantap sambil memeluk mamanya erat. "Iya, Ma. Akhirnya aku hamil."Bu Tiya membalas pelukan itu dengan penuh syukur. Air mata kebahagiaan ikut menetes di wajah wanita tua itu. "Alhamdulillah, ya Allah. Terima kasih. Akhirnya doa kita dikabulkan."Setelah itu Bu Tiya menatap wajah putrinya dengan serius. "Dengar, Reen. Trimester pertama ini masa yang sangat rawan. Jangan memaksakan diri ke kantor. Kamu harus banyak istirahat. Bukankah Papa kamu sudah sehat dan kembali ke kantor? Serahkan saja urusan pekerjaan padanya untuk sementara.""Iya, Ma. Aku tadi juga sudah berpikir begitu. Nanti setelah Mas Davin pulang, kami akan bicarakan ini," jawab Zareen.Sekarang tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, papanya sudah cerai dari Bu Yayuk empat bulan yang lalu. Setelah wanit

  • Kamu yang Kucintai   267.

    Dalam perjalanan, Zareen menarik napas panjang. Ini adalah pertemuan pertamanya dengan Nadia, wanita yang pernah menjadi bagian terpenting dalam hidup Davin. Ibu dari putra suaminya. Sosok yang dulu sempat membuat Davin terjebak dalam memori masa lalu yang tak kunjung usai."Ini rumahnya?" Setelah mobil berhenti di luar pagar sebuah rumah megah berlantai dua."Iya. Ayo, kita turun," ajak Davin.Mereka membuka pintu mobil. Pria itu merangkul Zareen yang tengah membawa parcel buah sebagai oleh-oleh. Juga menentang paper bag berisi kue lapis Surabaya. Davin menekan bel dibalik tembok pagar. Tak lama kemudian seorang asisten rumah tangga muncul untuk membukakan gerbang dan mempersilakan mereka masuk.Di depan pintu mereka disambut ramah oleh Nadia yang cantik berhijab dan Dewa yang tersenyum dan mempersilakan masuk. Anak-anak berlari mendekat dan ikut menyalami. Mereka anak-anak yang sopan."Senang sekali kita bisa meluangkan waktu untuk ketemuan begini, Pak Davin," ujar Dewa setelah mere

  • Kamu yang Kucintai   266.

    KAMU YANG KUCINTAI - 96 Ending Malam itu, embusan angin musim kemarau dari arah teras rumah Bu Tiya terasa lebih dingin dari biasanya. Zareen baru saja melangkah masuk setelah seharian berjibaku antara tuntutan pekerjaan di kantor dan menjenguk papanya di rumah sakit. Wajahnya tampak jelas menyiratkan kelelahan. Ia menyapa ibunya yang sedang duduk di ruang keluarga."Bagaimana kabar Papamu hari ini, Reen?" tanya Bu Tiya sembari meletakkan remot di atas meja.Zareen duduk di sofa, memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. "Sudah jauh lebih baik, Ma. Dokter bilang mungkin besok atau lusa Papa sudah boleh pulang. Mas Davin sudah sepakat untuk membawa Papa tinggal di rumahnya saja. Jadi, lebih mudah kalau ingin menyambangi dan memantau kesehatannya."Bu Tiya hanya manggut-manggut pelan. Ia tahu betul bagaimana batin putrinya berperang antara masa lalu yang pahit dan tanggung jawab seorang anak. Namun ada satu hal yang kini lebih menjadi prioritas di benak Bu Tiya. "Ingat, Reen, kamu jug

  • Kamu yang Kucintai   265.

    "Bagaimana kondisi Papa, Reen?" tanya Davin sambil duduk di sebelah istrinya."Kata dokter, Papa mengalami infeksi di lambungnya, Mas. Kondisinya sangat lemah," jawab Zareen dengan mata berkaca-kaca.Davin menghela napas panjang. "Kita akan pastikan Papa mendapatkan perawatan terbaik. Kamu tenang saja, ya?"Zareen mengangguk dengan perasaan lega. Dia tidak sendirian merawat papanya. Sebab Zareen tak mungkin meminta bantuan sang mama. Biar mamanya tak terbebani.Hari-hari berikutnya menjadi rutinitas yang melelahkan bagi Zareen. Ia membagi waktu antara suami, pekerjaan, dan menjaga papanya di rumah sakit. Meski Davin sudah membayar orang untuk menjaganya.Suatu sore saat Zareen baru saja keluar dari kantin rumah sakit, ia melihat seorang gadis duduk sendirian di bangku taman dengan wajah yang sangat sedih. Itu adalah anak perempuan Bu Yayuk yang sempat ia temui di rumah tempo hari.Zareen bertanya pada seorang perawat yang kebetulan melintas di dekat sana."Suster, permisi. Apa Sus tah

  • Kamu yang Kucintai   264.

    Zareen membalas tatapan suaminya dengan binar penuh harapan. "Mas, aku selalu berdoa, semoga Tuhan menitipkan amanah-Nya pada kita."Davin membungkam bibir Zareen dengan ciuman yang dalam. "Mari kita terus usaha.""Ya.""Semoga ada kabar gembira untuk hadiah pernikahan kita."Gairah membara menyatukan mereka. Menciptakan ritme yang selaras dengan desah napas di keheningan malam. 🖤LS🖤Enam bulan kemudian ....Pagi itu seperti biasanya, Zareen sibuk di kantor. Dia harus bekerja sendiri karena papanya jarang ke kantor semenjak Zareen menikah. Kesehatan pria itu menurun drastis. Terpaksa Zareen memegang semua kendali. Untungnya sang suami sangat membantunya. Sekarang kerjasama Zareen hanya dengan perusahaan Karya Sejahtera saja. Sudah banyak karyawan yang diberhentikan karena situasi tidak memungkinkan.Ketika tengah sibuk menyimak laporan, ada ketukan di pintu ruangannya. Kemudian Era masuk. "Bu Zareen, ada seorang wanita yang ingin bertemu. Beliau sekarang menunggu di loby.""Siapa?"

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status