Mag-log inKAMU YANG KUCINTAI
- 4 Pergi, Kimmy "Jangan sekarang, tolong jangan sekarang," jerit Kimmy dalam hati. Berharap lampu traffic light tidak berubah kuning. Di depannya motor sport itu meliuk gesit di antara deretan kendaraan. Kimmy menarik gas, mengabaikan getaran hebat pada setang motor matiknya. Lampu lalu lintas di depan berubah kuning. Tapi justru Kimmy memacu motornya lebih kencang tepat saat lampu merah menyala. Suara klakson bersahutan di aspal Surabaya yang membara. "Woi! Cari mati kamu, ya!" umpat seorang pengendara mobil yang nyaris menghantam sisi motornya. Dan umpatan lainnya pun terdengar. Kimmy tidak peduli meski itu sangat berbahaya bagi diri sendiri. Tatapannya terkunci pada punggung pria di depan sana. Ia terus membuntuti hingga motor itu berbelok ke sebuah bengkel modifikasi di sudut jalan yang agak sepi. Meski mulai ragu akan pengendara itu, karena tubuhnya tak setinggi Langit. Kimmy ikut berhenti dan hampir terjatuh karena tubuhnya gemetar. Ia menyandarkan motornya pada standar samping. Lantas menghampiri sosok yang sedang melepas helm. Dan benar, harapannya runtuh seketika. "Saya kira Mas tadi kenalan saya," ucap Kimmy lemas. Pria itu menoleh. Wajahnya tak asing. Garis mukanya keras dan ada bekas luka kecil di pelipisnya. Bukan Langit. Kimmy terpaku sambil mengatur napas. "Nyari siapa, Mbak?" tanya pria itu bingung sambil mengernyit memandang Kimmy. "Oh, sepertinya kita pernah bertemu, kan? Kamu temannya Langit. Kimmy kalau nggak salah." Akhirnya Kimmy pun ingat pernah bertemu laki-laki itu bersama Langit di kafe. "Ya, kita pernah bertemu. Saya pikir Mas tadi itu Mas Langit. Saya ingat jaketnya." "Aku Antok. Langit ngasih jaketnya padaku lalu cabut meninggalkan Surabaya malam itu." "Ke mana, Mas?" "Nggak tahu. Dia nggak bilang. Katanya cuman ingin pergi gitu saja. Nomornya sudah nggak aktif, kan?" Kimmy mengangguk lemah. "Iya, sudah saya coba hubungi berkali-kali." "Aku juga nggak bisa ngubungi." Kimmy tertunduk. Rasa kecewa yang amat sangat merambat di dadanya, terasa lebih pedih daripada umpatan pengendara di jalan tadi. "Terima kasih, Mas Antok. Saya pamit dulu." "Ya, hati-hati." Perjalanan pulang terasa sangat panjang. Surabaya yang biasanya bising kini terasa hampa bagi Kimmy. Sesampainya di depan gerbang rumah besar milik Pak Fardhan, ia menarik napas lega. Mobil SUV hitam milik Arsel tidak ada, begitu juga city car warna merah milik Salsa. Gadis yang selalu mengatai kalau Bu Elok adalah pelakor. "Dasar anak pelakor." Kimmy masuk lewat pintu samping, bertemu dengan Mak Karti yang sedang mengelap meja dapur. "Eh, Mbak Kimmy sudah pulang," sapa Mak Karti ramah. "Iya, Mak." "Ini, Mak buatkan kue lumpur. Masih hangat. Bawa ke kamar ya, Mbak, buat teman belajar," Mak Karti menyodorkan piring kecil dengan empat potong kue yang aromanya sangat wangi. Wanita ini sangat baik padanya. "Makasih ya, Mak." "Mbak Kimmy, nggak makan dulu." "Nanti saja, Mak." Kimmy segera naik ke kamarnya. Mengunci pintu dan duduk di dekat jendela. Ia mengunyah kue itu pelan. Pikirannya melayang pada Langit. "Kenapa dia setega itu?" batinnya. Ia sadar, bukan siapa-siapa bagi Langit. Mereka bukan sepasang kekasih, hanya teman. Ah, Kimmy yang berharap lebih. Ketukan di pintu kamar mengagetkan Kimmy. Tubuhnya kembali gemetar. "Kalau sering kaget, bisa-bisa aku jantungan di sini." Ia melirik jam dinding. Pukul satu siang. Arsel tidak mungkin pulang jam segini. Tapi kalau Salsa biasanya akan menggedor pintu seolah mau merubuhkannya. "Kimmy sayang. Kamu di dalam?" Oh itu suara mamanya. Ternyata sudah pulang. Kimmy mengembuskan napas panjang, pundaknya yang tegang seketika mengendur. Ia beranjak dan membuka kunci pintu. Sang mama langsung memeluk dan mencium pipi Kimmy. "Kenapa siang-siang pintu dikunci rapat begini, Kim?" tanya Bu Elok sambil melangkah masuk, duduk di pinggir tempat tidur yang rapi sambil meletakan oleh-oleh berupa gaun di atas kasur. "Mama, tahu kan kalau aku khawatir." "Khawatir apa sih, kamu itu terlalu berlebihan mencurigai Arsel. Dia itu memang pendiam. Terkesan memang dingin, tapi itu sifatnya, bukan berarti dia jahat. Dia loh punya pacar, Kim. Cantik. "Sudahlah, mending kamu istirahat. Nanti malam kita diajak papa dinner ke Malang. Kamu dandan yang cantik," pesan Bu Elok sebelum keluar kamar. Dan tidak ada tanggapan serius tentang Kimmy yang tidak nyaman dan tertekan perasaannya di rumah itu. Yang penting mamanya bahagia, Kimmy tidak kekurangan apapun. 🖤LS🖤 Kimmy meringkuk di balik selimut, alasan sakit kepala cukup untuk menghindar dari perjalanan ke Malang bersama mereka. Sebab Arsel dan Salsa pasti ikut. Dan pulang dari Malang biasanya lewat tengah malam. Diraihnya botol minum, ternyata kosong. Dengan langkah pelan, ia memutar kunci pintu dan keluar menuju ruang tengah lantai atas untuk mengambil minum. Ruangan yang biasanya terang benderang, tapi malam ini hanya disinari lampu redup di sudut ruangan. Langkahnya terhenti seketika karena kaget. Jantungnya berdegup kencang, saat melihat Arsel tampak limbung di sofa. Kemeja hitamnya sudah terbuka di bagian kerah, dasinya terlepas berantakan di lantai. Ia tidak ikut ke Malang? Kimmy terpaku. Pria itu menunduk, kedua tangannya mencengkeram kepala seolah sedang menahan ledakan di dalam sana. Kimmy takut sekaligus bingung. Dia kalau diam dan terjadi sesuatu pada abang tirinya itu, pasti akan disalahkan. "Bang Arsel?" panggil Kimmy lirih, suaranya bergetar. Arsel mendongak. Kimmy tersentak mundur. Wajah yang biasanya sedingin es itu kini memerah. Keringat sebesar biji jagung membasahi kening dan lehernya. Matanya yang tajam kini tampak keruh dan liar. Seperti serigala yang sedang sekarat. Napasnya memburu di udara malam yang sunyi. "Pergi, Kim," desis Arsel dengan suara parau. Arsel sedang berperang dengan dirinya sendiri. Di dalam darahnya, obat perangsang dosis tinggi yang dijatuhkan musuh bisnisnya ke dalam minuman tadi sedang bekerja dengan beringas. Sarafnya terbakar, setiap inci kulitnya terasa sensitif, dan kewarasannya terkiris. "Kupanggilkan Mak Karti. Sepertinya Abang sakit. Nanti kami bawa ke dokter." Kimmy mendekat satu langkah, didorong rasa kemanusiaannya. Walaupun sebenarnya dia juga takut. Arsel mengerang, otot-otot lengannya menegang hebat hingga urat-uratnya menonjol. Baru saja Kimmy hendak berbalik, tangan Arsel menyambar pergelangan tangan Kimmy dengan sentakan kasar. Kimmy menjerit kecil saat tubuhnya ditarik hingga terjatuh tepat di atas pangkuan Arsel. Bau alkohol tipis bercampur aroma maskulin yang tajam menyerbu indra penciumannya. Kimmy berusaha melepaskan diri. "Sudah kukatakan pergi, Kimmy. Tapi kau malah mendekat," desis Arsel di depan wajah Kimmy. Napas panas pria itu menyapu kulit leher Kimmy, membuat bulu kuduk gadis itu meremang hebat. Arsel tidak bisa mengendalikan diri. Obat itu telah menghapus seluruh batas moralnya. "Bang, sadar. Ini aku Kimmy." Next ..."Bagaimana kondisi Papa, Reen?" tanya Davin sambil duduk di sebelah istrinya."Kata dokter, Papa mengalami infeksi di lambungnya, Mas. Kondisinya sangat lemah," jawab Zareen dengan mata berkaca-kaca.Davin menghela napas panjang. "Kita akan pastikan Papa mendapatkan perawatan terbaik. Kamu tenang saja, ya?"Zareen mengangguk dengan perasaan lega. Dia tidak sendirian merawat papanya. Sebab Zareen tak mungkin meminta bantuan sang mama. Biar mamanya tak terbebani.Hari-hari berikutnya menjadi rutinitas yang melelahkan bagi Zareen. Ia membagi waktu antara suami, pekerjaan, dan menjaga papanya di rumah sakit. Meski Davin sudah membayar orang untuk menjaganya.Suatu sore saat Zareen baru saja keluar dari kantin rumah sakit, ia melihat seorang gadis duduk sendirian di bangku taman dengan wajah yang sangat sedih. Itu adalah anak perempuan Bu Yayuk yang sempat ia temui di rumah tempo hari.Zareen bertanya pada seorang perawat yang kebetulan melintas di dekat sana."Suster, permisi. Apa Sus tah
Zareen membalas tatapan suaminya dengan binar penuh harapan. "Mas, aku selalu berdoa, semoga Tuhan menitipkan amanah-Nya pada kita."Davin membungkam bibir Zareen dengan ciuman yang dalam. "Mari kita terus usaha.""Ya.""Semoga ada kabar gembira untuk hadiah pernikahan kita."Gairah membara menyatukan mereka. Menciptakan ritme yang selaras dengan desah napas di keheningan malam. 🖤LS🖤Enam bulan kemudian ....Pagi itu seperti biasanya, Zareen sibuk di kantor. Dia harus bekerja sendiri karena papanya jarang ke kantor semenjak Zareen menikah. Kesehatan pria itu menurun drastis. Terpaksa Zareen memegang semua kendali. Untungnya sang suami sangat membantunya. Sekarang kerjasama Zareen hanya dengan perusahaan Karya Sejahtera saja. Sudah banyak karyawan yang diberhentikan karena situasi tidak memungkinkan.Ketika tengah sibuk menyimak laporan, ada ketukan di pintu ruangannya. Kemudian Era masuk. "Bu Zareen, ada seorang wanita yang ingin bertemu. Beliau sekarang menunggu di loby.""Siapa?"
KAMU YANG KUCINTAI- 95 Hamil Lagi Ruang makan kediaman Bu Tiya yang biasanya sunyi, malam itu terasa lebih hidup oleh bunyi peralatan makan dan percakapan yang mengalir ringan. Biasanya hanya ada Zareen yang sedang makan ditemani mamanya. Namun malam itu, Davin ada di sana. Melengkapi kebahagiaan mereka. Bu Tiya menyesap teh hangatnya sejenak, lalu meletakkan cangkir itu dengan hati-hati. "Davin, Reen, Mama ingin bicara soal tempat tinggal kalian. Mama nggak akan keberatan jika kalian ingin pindah ke rumah Davin. Mama nggak apa-apa sendiri. Masih ada si Mbak yang menemani. Kalian sudah menikah dan sudah punya kehidupan sendiri. Tak mengapa kalau memang ingin tinggal terpisah. Toh seminggu sekali kalian bisa datang ke mari."Davin memandang ke arah mertuanya dengan sorot mata yang penuh hormat. "Terima kasih banyak atas tawarannya, Ma. Tapi sesuai kesepakatan kami di awal, saya akan tetap ikut tinggal di sini."Zareen yang duduk di samping suaminya segera menyela. "Sekali waktu kami
Pak Aaron terlihat begitu kecil dan asing di rumah yang dulu pernah menjadi istananya sendiri. Ia menyalami kerabat Bu Tiya dengan senyum kaku, sebuah pemandangan yang menyiratkan betapa dalam jurang pemisah di antara mereka setelah peristiwa itu.Tak lama kemudian pintu salah satu kamar terbuka. Linda menggandeng mempelai wanita keluar. Semua mata di ruangan itu seketika tertuju pada Zareen. Ia tampak memukau dengan kebaya modern berwarna putih gading, dengan payet-payet halus yang berkilauan tertimpa cahaya lampu. Riasannya natural. Padahal kalau Zareen dandan sendiri biasanya begitu mencolok."Pa." Zareen menyalami papanya. Kemudian duduk di samping pria itu.Tepat lima belas menit kemudian, rombongan Davin sampai. Pria itu mengenakan jas warna putih. Didampingi keluarga inti dan beberapa kerabat dekat. Adam melangkah di samping papanya dengan setelan jas warna abu-abu. Sesuai kesepakatan calon pengantin, mereka tidak mengundang mantan. "Kita mulai saja acara lamarannya, sebelum p
"Nggak usah repot-repot, Bu." Zareen tersenyum sambil menepuk punggung tangan Bu Septa yang menggenggam tangannya."Kita sholat dulu, sudah Maghrib," kata Davin. Dan Bu Septa mengajak Zareen ke ruang tengah. Memberikan mukena pada gadis itu dan mereka salat bergantian di ruangan 4X4 yang difungsikan sebagai ruang salat.Davin memang benar-benar sudah banyak berubah. Dia belajar dari kebrengsekannya di masa lalu dan harus berubah lebih baik lagi.Selesai salat Maghrib mereka duduk di ruang keluarga. "Davin sudah cerita banyak tentang kamu, Reen," ujar Bu Septa lembut. "Ibu senang sekali kalau kalian memutuskan untuk segera menikah."Zareen tersenyum sambil mengangguk pelan.Obrolan mengalir begitu saja, dari hal-hal ringan hingga rencana serius mereka. Bu Septa menyampaikan pendapat kakaknya Davin, bagaimana kalau acara lamaran nanti, sekalian dengan akad nikah saja. Toh mereka tidak menginginkan pesta mewah.Davin dan Zareen saling pandang sejenak. "Kami akan memikirkannya, Ma," jaw
KAMU YANG KUCINTAI - 94 Hari Pernikahan Pak Aaron terkesiap. Kursi kerjanya sedikit bergeser saat ia menegakkan duduknya. Ada binar bahagia yang tak bisa disembunyikan, tapi disusul rasa haru yang dalam. "Benarkah, Reen?""Iya.""Papa sangat bahagia mendengarnya. Kamu sudah menemukan jodohmu, Reen."Zareen tidak membalas antusiasme itu dengan senyuman. Ia justru melanjutkan dengan nada tegas, "Iya, Pa. Aku hanya butuh Papa untuk menjadi wali nikah nanti. Segala urusan lainnya, aku dan Mas Davin yang akan mengurus. Kami sepakat untuk lamaran dan menikah secara sederhana saja. Nggak ada pesta mewah, nggak ada undangan untuk relasi. Hanya keluarga inti dan beberapa teman dekat saja.""Papa mengerti. Papa akan ikuti keinginan kalian," jawab Pak Aaron lirih.Zareen menarik napas sejenak. "Satu hal lagi, Pa. Aku minta Papa datang sendiri. Jangan sampai mengajak wanita itu. Aku nggak akan menerima kehadirannya, dan aku nggak ingin hari bahagiaku rusak karena kedatangannya."Pak Aaron menun
"Kalau begitu, ganti bajunya. Kausmu sudah basah oleh keringat, nanti malah makin menggigil," ujar Kimmy sambil meletakkan kaus bersih di pinggir ranjang.Arsel berusaha duduk, meski kepalanya terasa sangat sakit. "Iya, terima kasih, Kim."Saat Arsel membuka kausnya, Kimmy beranjak ke jendela dan m
KAMU YANG KUCINTAI- 30 Setelah Nonton "Sampai selesai? Apa sampai selesai dipenuhi adegan seperti ini?" batin Kimmy dengan dada berdebar.Wanita itu menghela napas panjang. Tatapannya kembali ke layar lebar. Menyaksikan suara napas yang memburu dan visualisasi hasrat yang membara dari dua tokoh d
Tahun baru kali ini benar-benar kelabu. Acara dinner di Surabaya tadi malam, semakin melukai hatinya. Dipikirnya Arsel akan kembali memperbaiki hubungan mereka. Namun justru menegaskan bahwa semua telah usai."Ada apa sebenarnya?"Zareen memejamkan mata, mencoba memutar kembali setiap detail percak
Perjalanan itu hening. Kimmy memandang keluar dari jendela samping. Sementara Arsel fokus mengemudi. Meski bayangan adegan di layar lebar tadi masih sesekali melintas di benaknya. Membuat sisi liarnya terganggu. Bagaimana tidak, sejak tadi malam dia mati-matian menenangkan 'sesuatu' dalam dirinya.







