LOGINYow! Yow! Ketemu lagi ama otor Diablo ini. Yok silakan dibaca buku terbaru otor. Dan terus dukung, yak, orang-orang baik. Berkah sehat dan rejeki melimpah untuk kalian semua.
“Ehh? Untuk Pak Joni?” Rivan sempat mematung beberapa detik di balik meja dagangannya.Apa dia tidak salah dengar?Tangannya yang sedang memegang jepitan mie mendadak berhenti di udara.Dia tentu saja terkejut melihat Bu Ida, istri dari pria yang kemarin merendahkan harga dirinya di depan umum, kini berdiri di depannya dengan napas tersengal-sengal dan wajah yang tampak sangat terdesak."Tolong, Van... buruan bikinin, ya? Aku butuh cepat," ratap Bu Ida dengan mata berkaca-kaca, menyodorkan mangkok besarnya ke atas meja.Kerumunan warga yang sejak tadi menonton di luar pagar tidak bisa lagi menahan rasa penasaran mereka.Jeng Ratih, ibu yang anaknya pertama kali sembuh dari demam, melangkah maju mendekati pagar kontrakan Rivan."Loh, Bu Ida? Sampeyan ini gimana, toh?" tanya Jeng Ratih dengan nada menyindir yang cukup kentara. "Kemarin sore suamimu teriak-teriak ngelarang kami beli baksonya Rivan. Katanya nanti mati keracunan, katanya ilegal, pakai penglaris. Kok sekarang malah sampeyan
‘Astaga, belum apa-apa udah ada biang masalah gini.’ Rivan menarik napas panjang, memperluas lautan kesabarannya.Kemudian dia menatap Pak Joni dengan tenang.Tidak ada riak ketakutan di wajahnya, meskipun Pak Joni mencoba menekannya di depan sisa-sisa warga yang masih berada di teras."Kalo emang itu yang Bapak khawatirkan," Rivan bersuara dengan nada tegas namun tetap tenang, "setelah ini saya sendiri yang bakalan datang ke dinas kesehatan untuk meriksain kandungan bakso saya dan mendaftarkannya."Mendengar jawaban Rivan, Pak Joni justru meledak dalam tawa mengejek.Dia berbalik, menghadap ke arah beberapa warga yang masih berkumpul di dekat teras Bu Fazia."Hahaha! Dengar itu, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu!" Pak Joni berteriak lantang, sengaja memprovokasi. "Dia baru mau daftarin baksonya sekarang! Berarti selama ini kalian dijadiin kelinci percobaan!”Ucapan provokatif Pak Joni membuat banyak warga yang hendak membeli bakso Rivan jadi mengurungkan niat.Mereka saling berbisik satu sama lai
Matahari baru saja menampakkan semburat kuning muda nan cerah, tetapi teras rumah kontrakan Rivan sudah tidak lagi sepi.“Ya ampun mereka…” Dari balik jendela, Rivan bisa melihat kerumunan ibu-ibu ada di depan rumah kontrakannya. “Mau apa mereka? Ini kan masih jam 6.”Belasan ibu-ibu sudah berdiri mengerumuni halaman kecilnya.Bahkan beberapa dari mereka masih memakai daster dan memegang mangkok kosong."Van! Rivan! Udah buka belum?" teriak salah satu ibu sambil mengetuk pagar kayu."Iya nih, Van! Anakku batuk pileknya makin parah dari semalam, aku mau beli baksomu!" sahut yang lain tak sabar.Rivan yang baru saja selesai mandi, menatap mereka dengan rasa terkejut sekaligus takjub.Rupanya, efek keajaiban baksonya kemarin benar-benar memicu gelombang pelanggan yang lebih besar dari sebelumnya."Umm... maaf, Ibu-ibu semuanya," ucap Rivan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Bahan-bahannya belum siap. Tolong beri aku waktu bentar untuk belanja cepat ke pasar dan mengolahnya, y
Esok paginya….“Aku yakin seribu persen, Jeng!” suara seorang ibu terdengar di kerumunan. “Mencret suamiku langsung berhenti. Padahal dari kemarin nggak ada tanda-tanda sembuh meski udah minum macam-macam obat. Malah hampir aku bawa ke rumah sakit!”Tukang sayur keliling yang dikerubungi cuma bisa menjadi pendengar sambil meladeni pelanggannya.“Itu… karena baksonya Rivan?” tanya ibu lain.“Yang benar?” Ada yang masih sangsi.“Tanya aja ke Jeng Ima! Kemarin dia beli untuk anaknya yang flu berat, kan?” Ibu itu tak mau kalah.Pucuk dicinta, ulam tiba. Jeng Ima keluar dari rumahnya dan berjalan ke arah kerumunan ibu-ibu yang sedang membeli sayur.“Jeng Ima! Akhirnya muncul juga!” Seorang ibu langsung menarik tangan Jeng Ima.“Ada apa, nih?” Jeng Ima bingung.“Jeng Ima, gimana kondisi anakmu?” tanya ibu yang menarik tangannya.Seketika, wajah Jeng Ima berubah cerah.“Woaahh! Anakku semalam udah sembuh total! Flu beratnya langsung hilang!” Jeng Ima menjelaskan dengan antusias.“Gara-gara m
“A-apa yang terjadi?” Bu Fazia menatap dengan wajah kebingungan.Dia yang awalnya mengira akan menemukan Rivan menggelepar karena ditindas para preman, justru pemandangan di depannya kebalikan dari apa yang dia sangka.“Ohh, Bu Fazia dan bapak-bapak semuanya?” Rivan menoleh. “Kenapa ke sini?”Dia justru bingung dengan rombongan Bu Fazia.Bu Fazia lekas menghampiri Rivan. “Aku mengajak bapak-bapak ke sini karena khawatir terjadi sesuatu ama kamu, Van.”“Tapi… kayaknya justru para preman ini yang harus dikhawatirkan,” ucap salah satu bapak dan disusul tawa kecil bapak-bapak lainnya.“Kebetulan mereka baik hati dan nggak terlalu menyusahkan aku, Bu.” Rivan berucap penuh rendah hati.Sedangkan para preman yang tergeletak di tanah masih terus mengerang kesakitan.“Jangan lagi kalian menindas Rivan!” Bu Fazia menghardik para preman di tanah.“Dan semua pedagang yang sudah bersusah-payah mencari uang untuk penghidupan mereka.” Rivan menambahkan. “Kalian dengar, kan?”“Dengar! Kami dengar! Aa
“Rivan!” Chelly menghardik, “Walaupun kamu nggak suka omongan Amar, bukan berarti bebas mukul dia!”Rivan terpaku menatap Chelly yang kecewa.Gadis cantik itu menatap Rivan seakan-akan dia merupakan penjahat yang tidak termaafkan.Rivan tidak ingin dipandang keliru. “Neng Chelly… aku nggak—““Cowok kasar kayak kamu!” Teman Chelly ikut membentak, sedangkan lainnya menolong Amar bangkit berdiri. “Bisanya cuma menindas orang lain!”Termangu akan ucapan teman Chelly, Rivan tak bisa berkata-kata, Jadi dia penjahatnya?“Jangan harap Chelly sudi naksir kamu!” Gadis lainnya menyambung. “Ngelirik kamu aja dia nggak akan sudi!”“Van, buruan minta maaf ama Amar.” Tigor kini bicara.Mata Rivan membelalak lebar. “Bang, dia yang mulai mukul duluan.”“Nggak usah banyak bacot!” Ucup membentak. “Buruan minta maaf atau aku bikin kamu nyesal hidup di sini!”“Kelamaan, Cup!” Ogi maju dengan tak sabar dan melayangkan kepalan tinju ke Rivan.Dhuaakk!“Aaarghh… tanganku….” Ogi berteriak ketika tinjunya bera







