Share

7 - Pembalasan Instan?

Author: Gauche Diablo
last update publish date: 2026-10-09 18:15:29

‘Astaga, belum apa-apa udah ada biang masalah gini.’ Rivan menarik napas panjang, memperluas lautan kesabarannya.

Kemudian dia menatap Pak Joni dengan tenang.

Tidak ada riak ketakutan di wajahnya, meskipun Pak Joni mencoba menekannya di depan sisa-sisa warga yang masih berada di teras.

"Kalo emang itu yang Bapak khawatirkan," Rivan bersuara dengan nada tegas namun tetap tenang, "setelah ini saya sendiri yang bakalan datang ke dinas kesehatan untuk meriksain kandungan bakso saya dan mendaftarkannya."

Mendengar jawaban Rivan, Pak Joni justru meledak dalam tawa mengejek.

Dia berbalik, menghadap ke arah beberapa warga yang masih berkumpul di dekat teras Bu Fazia.

"Hahaha! Dengar itu, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu!" Pak Joni berteriak lantang, sengaja memprovokasi. "Dia baru mau daftarin baksonya sekarang! Berarti selama ini kalian dijadiin kelinci percobaan!”

Ucapan provokatif Pak Joni membuat banyak warga yang hendak membeli bakso Rivan jadi mengurungkan niat.

Mereka saling berbisik satu sama lain, dan sedikit terpengaruh ucapan Pak Joni.

“Aduh… iya juga, ya! Aku kok nggak kepikiran ampe ke sana!”

“Iya, aku juga nggak pernah tau Rivan punya sertifikat dari DinKes.”

“Wah… gimana, nih?”

Senyum diagonal Pak Joni terbit saat dia mendengar kasak-kusuk ibu-ibu di dekatnya.

“Mana ada bakso bisa nyembuhin penyakit kalo bukan karena dicampur obat-obatan aneh?” Dia kembali memprovokasi.

Ibu-ibu di sana kembali kasak-kusuk seakan setuju dengan ucapan Pak Joni.

Meski begitu, tetap ada yang percaya dengan khasiat bakso Rivan.

“Tapi buktinya, Pak Joni… demam anakku beneran sembuh setelah makan baksonya Rivan.” Seorang ibu berbicara.

“Benar, Pak. Kemarin suamiku migren-nya kumat. Langsung ilang itu sakit kepala setelah satu jam makan baksonya Rivan.”

“Ehh, tapi kalo benar dicampurin obat-obatan aneh kayak omongan Pak Joni, gimana?”

Segera saja, tercipta dua kubu. Yang percaya dengan khasiat bakso Rivan, dan yang terpengaruh Pak Joni.

“Sebelum ada sertifikat resmi dari dinas terkait yang keluar, aku saranin jangan ada yang berani beli baksonya Rivan lagi kalo nggak mau mati keracunan!" Pak Joni sampai menggebrak meja kecil di dekatnya.

Beberapa warga tampak saling berpandangan.

Banyak yang mulai terpengaruh oleh ucapan provokatif Pak Joni yang terkesan masuk akal secara hukum.

“Makanya jangan berlagak dulu, bocah!” Pak Joni tersenyum puas melihat keraguan di wajah warga, lalu pergi melangkah pergi dengan dagu terangkat tinggi.

Rivan hanya menghela napas.

Dia tidak marah, justru ini menjadi pengingat baginya agar bisnis baksonya memiliki payung hukum yang jelas ke depan.

—

Siang harinya, setelah membersihkan seluruh peralatan, Rivan langsung memacu sepeda tuanya menuju ke kantor Dinas Kesehatan terdekat di Kota Jatayu.

Dia membawa beberapa butir sampel bakso dan kuahnya yang disimpan rapi dalam wadah steril.

Di sana, Rivan mendaftarkan usahanya untuk mendapatkan sertifikat layak jual dan higienis.

“Ini sampelnya harus diuji di laboratorium terlebih dahulu untuk memastikan nggak ada kandungan zat berbahaya atau kimia terlarang.” Petugas administrasi memberi tahu.  

“Baik, Pak.” Rivan mengangguk setuju dan menyelesaikan semua prosedur administrasi dengan lancar berkat uang hasil dagangannya yang kini sudah lebih dari cukup.

‘Biarlah hasil lab yang bicara nanti,’ batin Rivan lega saat keluar dari gedung dinas.

———

Esok paginya, seperti biasa, aroma gurih nan menenangkan dari energi alam yang berpadu harmonis dengan bahan-bahan hasil olahannya kembali menguar dari dapur kontrakan Rivan.

Sesuai tekadnya, tepat jam 9 pagi, Rivan membuka pintu depan rumahnya untuk mulai berjualan.

Namun, pemandangan di terasnya hari ini sedikit berbeda.

Akibat provokasi Pak Joni kemarin, barisan ibu-ibu yang mengantre tidak sepadat hari-hari sebelumnya.

Sebagian besar warga masih berdiri agak jauh di pinggir jalan gang, tampak ragu-ragu dan mengamati situasi.

‘Kayaknya mereka takut ama ancaman ‘keracunan’ yang digembor-gemborin Pak Joni kemarin.’ Dia membatin.

Meski begitu, Rivan hanya memunculkan senyum tipis melihat hal tersebut.

Dia tetap menata mangkoknya dengan rapi dan mulai meladeni pembeli yang ada.

“Permisi! Permisi! Biarin aku lewat!”

Tiba-tiba, ada suara wanita yang terdengar tidak sabar ingin langsung merangsek ke depan.

Segera, kerumunan warga di depan pagar kontrakan Rivan mendadak riuh dan berbisik-bisik.

Mau tak mau, mereka memberikan jalan kepada seorang wanita berusia sekitar 40-an tahun yang berjalan tergesa-gesa dengan wajah cemas beralih ke teras kontrakan Rivan.

Di tangannya, wanita itu menggenggam sebuah mangkok keramik berukuran besar.

"Kamu Rivan, kan?! Tolong, Van, aku beli baksonya…  porsi Rp20.000!" ucap wanita itu dengan suara parau dan napas memburu begitu sampai di depan meja Rivan.

Rivan sempat tertegun melihat wajah wanita itu yang tampak familier.

Sebelum Rivan sempat menjawab, suara bisikan warga di luar pagar terdengar makin jelas dan heboh.

"Eh, Jeng! Itu bukannya Bu Ida?!"

"Iya bener! Dia kan istrinya Pak Joni yang kemarin siang koar-koar ngelarang kita beli baksonya Rivan!"

"Loh, kok istrinya sendiri malah dateng bawa mangkok paling gede ke sini?!"

Mendengar kasak-kusuk tetangga, wajah Bu Ida yang sudah pucat seketika memerah karena menahan malu yang luar biasa.

Namun, rasa cemas di matanya jauh lebih besar daripada rasa malunya.

“Tolong aku duluan, Rivan. Pak Joni butuh baksomu yang mujarab.” Bu Ida memohon di depan Rivan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kang Bakso Keliling Dambaan Wanita   66 - Om Burhan Bencong?

    “A-Apaaa?! Papa bencong?!” tanya Dendi semakin panik.“Anak sialan! Budeg kamu!” rutuk Tante Sonia. “Mencong! Mulutnyaaa mencooonggg!”Dendi sampai harus menjauhkan ponsel dari telinganya akibat teriakan ganas ibunya.Sementara, semua orang yang mendengar ucapan Dendi semakin syok.Sejak kapan saudara mereka yang bernama Burhan jadi bencong?“Hu hu hu… Dokter bilang Papamu kena stroke ringan karena syok dan darah tinggi! Sekarang ini lagi perjalanan ke Rumah Sakit Pusat Jatayu! Buruan kamu ke sini! Mama takut!!"Tante Sonia terdengar kalut dan histeris di telepon.Mendengar kabar buruk yang mengerikan itu, pertahanan ego Dendi runtuh sepenuhnya.Ponsel di genggamannya nyaris terlepas, dan seluruh tubuhnya mendadak lemas seketika.Gengsi besar keluarganya kini berbalik menjadi petaka di malam hari.Wajah Dendi yang tadi merah padam menahan dongkol karena Rivan, seketika berubah pucat pasi.Melihat perubahan drastis pada keponakannya itu, Paman Joko yang berdiri tak jauh dari pagar sege

  • Kang Bakso Keliling Dambaan Wanita   65 - Testimoni Berjamaah

    “Ha ha! Aku bisa lompat, nih!”Mbah Parto melompat kecil di atas tanah pekarangan dengan wajah penuh kegembiraan yang luar biasa.“Mbah Parto yakin bugar?” tanya salah satu paman."Iya! Badanku rasanya hangat dan segar banget, berasa balik kayak jaman muda!" Mbah Parto menatap gembira semua kerabatnya. “Makasih, Van!”Rivan tersenyum lega melihat salah satu kakeknya berhasil mendapatkan kebugaran dari baksonya.“Ehh! Aku… aku….” Kakek lain di kerumunan mereka ikut bersuara.“Ada apa, Mbah Muzan?” tanya kerabatnya.“Ini… badanku yang biasanya lemas, sekarang kerasa lebih bugar dan ringan! Ha ha ha!” Mbah Muzan tertawa bahagia.“Waduuhhh… aki-aki kita sekarang jadi bugar dan muda lagi, nih!” seloroh Tante Inggit.“Nggak apa-apa, malah bagus! Asalkan jangan kepingin nikah lagi aja, deh!” Tante Lidya menggoda.Semua kerabat menanggapi dengan tertawa geli.Hanya istri Mbah Parto yang mendelik kesal melihat kondisi bugar suaminya."Awas kalo minta kawin lagi!" ancam istri Mbah Parto."Engga

  • Kang Bakso Keliling Dambaan Wanita   64 - Gangguan Dendi

    Semua orang serentak menoleh ke arah pagar.“Dendi? Ngapain ke sini?” tanya Tante Lidya.Di pagar ada Dendi berdiri bersama pacarnya dengan napas memburu dan wajah yang masih dipenuhi rasa dengki yang mendalam.Rupanya, dia nekat membuntuti rombongan karena tidak rela melihat Rivan merebut seluruh perhatian dan rasa hormat kerabatnya.‘Dari dulu, cuma keluargaku yang paling dihormati semua saudara. Aku nggak sudi hal itu direbut, apalagi ama tukang bakso rendahan!’ Dendi geram di hatinya.Suasana pekarangan kontrakan Rivan kembali menegang sejenak akibat kedatangan Dendi yang tiba-tiba.Namun, antusiasme kerabat Rivan yang sudah terlanjur terpikat aroma kuah kaldu ajaib tidak semudah itu runtuh oleh provokasi murahan."Dendi! Sudahlah, kamu ini kenapa selalu nyari ribut ama sepupumu sendiri, sih?" tegur Paman Heri dengan nada tegas sambil menatap keponakannya dengan dahi berkerut."Iya, loh!” Tante Inggit menimpali, “Mira ama Nesya udah nunjukin buktinya di internet. Orang-orang dinas

  • Kang Bakso Keliling Dambaan Wanita   63 - Rombongan Orang Penasaran

    "Siap, Van! Ayo!" sahut kerabatnya serempak.Maka, petang itu juga... rombongan kerabat Rivan pergi ke rumah Rivan.Pintu marmer besar rumah mewah Dendi terbuka, menampilkan eksodus besar-besaran.Jajaran mobil dan motor yang tadinya terparkir rapi di kompleks elit itu satu per satu dinyalakan.Semua bergerak beriringan mengekor di belakang mobil sedan sport merah milik Vanya.Mereka meninggalkan kediaman Om Burhan yang mendadak sepi.Hanya tersisa Dendi, pacarnya, Om Burhan dan Tante Sonia yang berdiri mematung di teras mewah.Wajah mereka pucat pasi menahan malu dan murka yang teramat sangat seumur hidup mereka.“Tukang bakso sialan itu udah ngerebut saudara kita!” teriak Dendi tanpa bisa menahan emosinya.Matanya memerah dengan tubuh bergetar dipenuhi aura murka.Sementara itu, iring-iringan kendaraan yang membelah jalanan Kota Jatayu.Hingga akhirnya berbelok dan melambat di depan sebuah gang pemukiman yang cukup padat.“Wah… jadi ini kampungnya Rivan, ya?” Tante Lidya menatap mul

  • Kang Bakso Keliling Dambaan Wanita   62 - Eksodus Kerabat

    “Benar! Kita buktiin apa benar bakso Rivan manjur!” seru paman lainnya.Ruang tamu kediaman Om Burhan yang biasanya menjadi panggung kesombongan Dendi dan keluarganya, mendadak berubah menjadi arena perdebatan yang sengit.“Arul! Kamu ini apa-apaan, sih?!” Tante Sonia mendelik ke paman yang antusias mengajak ke rumah Rivan.“Nggak apa! Aku pengin keluargaku cepat sembuh! Aku mau ke rumah Rivan.” Tante Lidya berseru. “Kalo kalian mau di sini, ya terserah!”Ajakan Tante Lidya dan beberapa paman untuk langsung meluncur ke rumah kontrakan Rivan memicu kepanikan luar biasa di kubu tuan rumah."Tunggu! Jangan gila kalian semua!" bentak Tante Sonia dengan wajah merah padam.Dia merentangkan kedua tangannya di tengah ruangan untuk memblokir jalan.Dendi dan keluarganya geram.Merka berusaha mencegah kerabatnya pergi ke rumah Rivan."Kalian mau mempermalukan Papa dan Mama dengan pergi dari acara keluarga ini cuma demi makanan murahan?! Tolong pakai logika kalian, jangan percaya takhayul media

  • Kang Bakso Keliling Dambaan Wanita   61 - Kehebohan Sebuah Fakta

    "Viral apa maksudmu, Mira?" tanya Tante Sonia bingung."Ini, Ibu! Lihat video TikTok ini! Ini kan Mas Rivan! Bakso ajaibnya yang bisa menyembuhkan penyakit dan stamina.” Mira menjawab antusias.Semua mata kerabat Rivan langsung memusatkan perhatian ke pemuda itu.“Tunggu dulu!” Seorang bibi mendekat ke Rivan. “Kamu tukang bakso yang viral di medsos itu?”Orang-orang di sana terkesiap kaget.Sedangkan Rivan masih tersenyum dan anggukkan kepala dengan pelan.“Nih ya… baksonya Mas Rivan tuh bisa bikin kuli tua jadi muda lagi! Videonya ditonton lima juta kali dalam waktu dua puluh empat jam!” Mira masih berceloteh.Tangannya bergegas mencari postingan Vanya di media sosial.“Nih, Tante… nih! Orang-orang ampe rela antre dari subuh di depan kontrakannya! Penghasilannya dikabarkan puluhan juta per hari!" teriak Mira heboh.Gadis itu membongkar identitas asli kesuksesan Rivan di depan seluruh keluarga besar yang langsung membatu dalam keheningan yang mencekam.“Mira… itu… nggak mungkin, ya ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status