Share

5. Rencana Ibu Tiri?

last update publish date: 2026-03-04 09:56:11

Seana akhirnya berhasil keluar dari dalam ruang kerja Sanzio, ketika Mike datang mengetuk pintu dengan membawa sebuah laporan untuk disampaikan pada Sanzio.

Sanzio menatap Seana yang berada diluar ruangannya melalui kaca, wanita itu selalu berhati-hati dan patuh ketika berada dihadapannya, hingga setiap kali Sanzio sudah tak terlihat didepannya, Seana akan melepaskan sikap tenangnya. Tanpa disadari, sudut bibir Sanzio terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis yang aneh.

Mike yang memperhatikan Sanzio pun mengernyitkan dahinya, lalu dengan perlahan mengikuti arah pandangan bosnya dan mendapati Seana yang tampak sedang mencari sesuatu di ruangannya sendiri.

"Seana, Seana. Kamu selalu ceroboh kayak biasanya. Kenapa ga pernah hati-hati sih kalo narok barang." Batin Mike, ketika memperhatikan Seana. Lalu kembali menoleh kearah Sanzio dan menyerahkan sebuah map. "Pak, sudah di pastikan kalau Bu Naya yang memasukkan obat bius di minuman bapak, dimalam itu. Makanya bapak tidak sadarkan diri."

Setelah Mike mengatakan hal itu, terdengar suara dering ponsel yang keras. Mike melihat ke bawah dan melihat sebuah ponsel bergetar. Melihat casing ponsel panda yang lucu, Mike langsung menyadari bahwa ponsel itu jelas bukan milik Sanzio.

Diluar, Seana masih mencari ponselnya.

Seana ingin mengirim pesan pada Velia untuk memberitahu bahwa pekerjaan dikantor sudah selesai, tetapi tak lama kemudian, Seana menyadari bahwa ponsel miliknya tertinggal dikantor Sanzio. Seana mempersiapkan diri dalam hati untuk kembali ke kantor Sanzio dan mengambil ponselnya.

Tepat saat Seana hendak mengetuk pintu dan meminta izin masuk. Dia mendengar suara dingin Sanzio, dan suara itu menghentikan keinginannya. 

"Ini ulah ibuku?! Lalu dimana keberadaan wanita yang bersamaku malam itu?." Tanya Sanzio. 

Degh! 

Seana yang mendengar itu, langsung merasa gugup. 

"Saya khawatir mungkin beliau masih bersikeras supaya anda menikah dengan perempuan pilihannya. Dan beliau juga mungkin telah melakukan sesuatu untuk menyembunyikan wanita itu dari anda." 

"Wanita pilihannya? Itu ngga mungkin, Mike?." Kata Sanzio. Nada bicaranya tanpa sedikit pun kehangatan. "Lebih baik secepatnya kamu cari tahu siapa wanita itu dan dimana dia sekarang. Mike, kamu hanya punya waktu satu bulan. Pastikan jangan sampai kamu mengacaukan semuanya." 

"Baik, Pak Zio." Jawab Mike, nada juga dingin dan aura nya seperti bodyguard yang sigap. 

Diluar ruangan, raut wajah Seana semakin pucat. Dia mendengar semua percakapan didalam, dan setelah mendengarnya, Seana semakin yakin bahwa jika dirinya sampai ketahuan, dia akan mengalami akhir yang sangat menyedihkan. 

Sedang asyik dengan apa yang ada didalam pikirannya, Seana terkejut ketika Mike tiba tiba membuka pintu kantor Sanzio dan melihatnya hanya berdiri diluar. "Seana, kamu dari tadi disini? Kenapa ngga masuk?." 

"Ah, iya. Aku tadi sebenernya mau masuk, tapi kayaknya lagi pada ngobrolin masalah serius. Jadi, aku nungguin didepan sini aja." Jawab Seana, berusaha memperlihatkan ketenangan dalam sikapnya. Meskipun sebenarnya, jantungnya sedang berdebar kencang tak karuan. Rasanya seakan seperti terjadi kepanikan dalam dirinya. 

Mike memperhatikan wajah pucat Seana, lalu kembali bertanya. "Kamu lagi sakit, ya? Kok kelihatannya pucet banget?." 

Seana berdehem dan memijat hidungnya. "Iya nih, Mas. Hari ini aku agak flu." Jawabnya dengan gugup, mencoba mengabaikan tatapan penuh selidik yang Mike tunjukkan. 

Kemudian, Mike menganggukkan kepalanya dan menyarankan Seana untuk segera menemui dokter sebelum pulang dari kantor. Setelah itu Mike pergi. 

Pintu ruang kerja Sanzio masih terbuka, Seana langsung melihat ponsel miliknya tergeletak diatas meja Sanzio. 

Dengan menahan tubuhnya yang gemetar, Seana memberanikan diri untuk berjalan masuk. "Permisi, Pak Zio. Hp saya tadi ngga sengaja ketinggalan di meja bapak." Kemudian, Seana mengulurkan tangannya untuk mengambil ponselnya. Namun, Sanzio telah lebih dulu mendahuluinya. Pada saat Seana menyadari apa yang baru saja terjadi, pria itu sudah menekan tombol daya di ponselnya dan membaca notifikasi pesan yang masuk di layar ponsel Seana. 

"Seana, apa kamu mau mengatakan sesuatu kepada saya?." Tanya Sanzio dengan suara beratnya. 

Seana sudah pucat pasi karena ketakutan. Mendengar pertanyaan yang Sanzio ajukan dengan nada bicaranya yang seperti itu, sudah hampir membuat jantungnya copot. Seana merasa semakin panik setelah melihat pesan yang diterimanya dari Velia. 

[Velia: Seana, kok lo lama banget sih? Apa jangan-jangan pak Zio udah tau dan ngasih lo surat peringatan, karena...] 

Kata-kata setelah "Karena" dihilangkan karena teksnya terlalu panjang untuk ditampilkan sepenuhnya dilayar kunci. 

Setelah membaca pesan itu, pikiran didalam kepala Seana seakan hampir meledak saat itu juga. Dengan mata terbelalak, dia menatap Sanzio yang membalasnya dengan sebuah tatapan tajam. "Seana, apa kamu menyembunyikan sesuatu dibelakang saya? Kenapa saya perlu membuat surat peringatan untuk kamu?" tanyanya. 

Napas Seana menjadi lebih cepat. Dia panik dan menjawab dengan tergagap. "Ngga ada apa-apa kok, Pak. Itu bukan masalah serius." Bibirnya gemetaran, sehingga sulit baginya untuk mendengar suaranya sendiri. 

Sementara didalam kepalanya, pikirannya kembali teringat dengan percakapan Sanzio dan Mike sebelumnya. Pikirannya kabur dan Seana hampir ingin menangis. 

Sanzio menatapnya dalam diam, mengharapkan penjelasan yang masuk akal dari Seana.. 

Sedangkan Seana memaksakan dirinya untuk tetap terlihat tenang, meskipun sudah merasa sangat lemah. Wanita itu menundukkan kepalanya, dengan menutup kedua matanya. "Saya minta maaf atas apa yang sudah saya lakukan, Pak Zio." 

"Hmm? Apa yang sebenarnya kamu sesali? Kenapa meminta maaf? Padahal kamu adalah karyawan saya yang paling rajin dan teliti." Sanzio memang jarang atau bahkan tidak pernah memuji karyawannya, namun kali ini dia tiba tiba memuji Seana. 

Bukannya merasa senang atau bangga dengan prestasinya di mata atasannya, Seana sama sekali merasa tidak senang. Bahkan, dia justru merasa semakin ketakutan. Dia tidak tahu bagaimana menjelaskan lebih lanjut. 

Ting! 

Tiba-tiba pesan baru dari Velia kembali masuk. 

[Velia: Seana, kok chat gue ngga dibales? Pak Zio udah tau belum?]

Awalnya itu hanya tentang sebuah tulisan, tetapi dengan pertanyaan-pertanyaan itu, jika diteruskan bisa menyampaikan sejumlah besar informasi. 

Seana semakin pucat dibuatnya, dan napasnya semakin berat. Dia berusaha mengangkat kepalanya, tetapi pandangannya kembali bertemu dengan tatapan tajam Sanzio. Dengan keadaan terdesak seperti sekarang, Seana berusaha mencari alasan yang tepat untuk meloloskan dirinya dari Sanzio. "S-sebenarnya saya punya pekerjaan lain, selain menjadi asisten bapak dikantor selama libur." 

"Apa?." Sanzio terlihat bingung, dan salah satu alisnya terangkat. 

Keraguan juga terpancar dimata Sanzio. 

Seana meremas tangannya, dia memaksakan dirinya untuk tetap tenang. "Pak Zio, pekerjaan lain yang saya ambil sama sekali ngga ada hubungannya dengan perusahaan ini. Itu juga ngga akan memengaruhi saya untuk mementingkan dan memprioritaskan perusahaan ini." 

Meskipun Seana adalah asisten presiden Kaivandra Internasional Group kedua, dia juga suka membuat kerajinan tangan dari tanah liat. Seana mengetahui peraturan perusahaan yang menyatakan bahwa karyawan Kaivandra Internasional Group tidak diizinkan untuk mengejar pekerjaan lain di luar perusahaan. Tetapi saat ini, pekerjaan membuat kerajinan dari tanah liat tampaknya tidak begitu penting, dibandingkan dengan peristiwa yang terjadi saat ini. 

Jadi, Seana mengorbankan pekerjaannya itu untuk menutupi yang sebenarnya. 

Dan setelah pulang dari kantor, dia akan langsung memarahi Velia karena sudah mengiriminya banyak pesan yang bisa membocorkan apa yang sedang mereka tutup-tutupi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Karena Malam itu, Asisten Rasa Istri    14. Mencari tumpangan

    Jantung Sheilla hampir melompat keluar dari dadanya karena berdebar lebih keras dari sebelumnya.Dia tidak tahu apa yang telah merasukinya. Namun karena dia sudah duduk di pangkuan Sean, dia pikir sebaiknya dia terus melakukan apa yang ada di dalam pikirannya saja.Sembari menggoyangkan pinggangnya dengan sensual, dia menggoyangkan pinggulnya maju mundur di atas paha Sean. Rona merah muda yang menggemaskan merayapi pipinya saat dia menatap dalam-dalam ke mata Sean.'Ya Tuhan! Aku tak percaya aku melakukan ini.' Batin Sheilla.Tak lama kemudian, Sheilla menyadari tatapan mata Sean mulai berubah sedikit lebih gelap, nafsu berputar di dalamnya tepat saat dia merasakan sesuatu menusuk tepat di inti dirinya.Matanya terbelalak saat merasakan V di bawah pusarnya berdenyut, membuatnya langsung melompat dari pangkuan Sean, merasa panas dan terganggu. "Aku hanya ingin mengambil uang sepuluh ribu dolar hari ini karena kamu tidak puas dengan anggurnya." Sheilla menjelaskan dengan tergesa-ges

  • Karena Malam itu, Asisten Rasa Istri    13. Seperti ada kecurigaan

    Tatapan Mike sangat tajam dan membuat Seana merasa tidak nyaman. Seana tak mampu menenangkan diri saat membayangkan harus bekerja sama dengan Mike. Ia berusaha membuat dirinya terlihat sekecil mungkin dengan sedikit membungkuk."Sudah, kamu bolehkembali ke ruangan kamu," kata Mike."Iya, mas." Seana merasa lega saat mendengarnya. Wanita itu segera kembali ke ruangannya.Mike memperhatikan Seana sekali lagi, sebelum akhirnya masuk ke kantor Sanzio.Sementara itu, Seana berusaha fokus dengan pekerjaannya, tetapi dia tidak bisa berhenti memikirkan apa yang telah dilihatnya di ruang istirahat Sanzio. Seana benar-benar harus lebih berhati-hati mulai sekarang, atau dia akan mendapat masalah.Mike berada di kantor Sanzio selama sekitar satu jam hanya untuk membicarakan sesuatu. Begitu Mike keluar, telepon kantor Seana berdering. Seana reflek melirik kearah kantor Sanzio, dan mendapati tatapan tajam Sanzio yang tertuju padanya.Sembari menundukkan kepalanya karena takut, Seana mengangkat tele

  • Karena Malam itu, Asisten Rasa Istri    12. Kotak pengaman?

    Suara berat Sanzio terdengar di seberang sana. "Kamu pergi ke gedung star dan tolong ambilkan beberapa dokumen untuk saya. Juga, bawakan dasi ungu yang ada dilemari itu.""Baik, Pak Zio." Jawab Seana dengan hormat sembari menekan tombol lift ke lantai bawah. Dia menutup telepon tepat saat pintu lift terbuka. "Vel, aku boleh pinjam mobil kamu ngga? Aku harus ke gedung Star," katanya pada Velia."Seharusnya Pak Zio kasih lo fasilitas mobil kalau dia memang mau nyuruh-nyuruh lo pergi ke gedung star segala!." Velia menggerutu, tetapi dia tetap mengeluarkan kunci mobilnya dari dalam tasnya dan memberikannya pada Seana.Seana menerima kunci itu. "Aku cuma disuruh ngambil beberapa dokumen buat dia. Nanti aku isi penuh bensin kamu, oke?,""Bukan gitu maksud gue, bos kita kaya raya tapi dia pelit Seana. Lo malah mau sedekah gitu aja?." gumam Velia. Dia memang tidak pernah merasa puas dengan cara penanganan fasilitas karyawan diperusahaan Sanzio.Seana tertawa kecil. "Kamu harus berani ngomong

  • Karena Malam itu, Asisten Rasa Istri    11 Hati yang Bimbang

    Seana menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. "Aku bingung," Dia selalu mengenakan liontin itu, dan mungkin banyak orang yang pernah melihat benda itu di lehernya. Seana takut Sanzio akan melakukan penyelidikan internal."Tapi seharusnya lo berusaha menjauh dari mereka, Seana." Kata Velia memperingatkan.Seana tak kuasa menahan diri untuk tidak mengingat ketika bagaimana Mike bersikap padanya saat meminta liontin itu darinya. Pria itu begitu bersikeras.Velia merasa seperti dirinya akan gila. Dia tahu bahwa Seana tidak mungkin memberikan liontin itu kepada Sanzio. Semua orang tahu betapa hebatnya Mike, setiap kali Sanzio membutuhkan sesuatu untuk di selidiki, maka dia akan memerintah Mike.Sedangkan Mike tidak pernah gagal menjalankan tugas dari Sanzio, jika Seana menolak memberikan liontin itu kepada Mike, maka itu pasti akan membuatnya curiga. Tetapi jika Seana melakukannya...."Kenapa sih hidup gue harus sesial ini?!." Umpat Velia sembari mengacak-acak rambutnya. "Kartu kredit d

  • Karena Malam itu, Asisten Rasa Istri    10. Sebuah Liontin

    Karena Sanzio tidak menanyakan hal itu padanya selama sebulan penuh, Seana mengira masalahnya sudah selesai. Sekarang, sepertinya keadaan malah semakin memburuk. Seana tidak tahu harus bagaimana menjawabnnya.Merasakan keheningan Seana, Sanzio menatapnya dengan dingin. "Kamu kenapa? Apa kamu menolak perintah dari saya?,""Ngga, bukan gitu Pak," kata Seana.Namun, sebelum dia sempat mengatakan hal lain, Sanzio sudah lebih dulu kembali buka suara. "Dari apa yang saya tahu tentang kemampuan kamu, kamu nanti membutuhkan bantuan untuk mencapai posisi asisten eksekutif,"Seana menatapnya dengan mata lebar. Apakah itu berarti Sanzio benar-benar menyuruhnya untuk belajar dari Mike karena ingin mempromosikannya? Posisi itu memang menawarkan gaji empat kali lipat lebih besar dari pada penghasilannya sekarang. Bagi Seana, itu adalah godaan yang besar, karena dia masih memiliki cicilan rumah yang besar untuk di bayar. Belum lagi, ketika adiknya meminta uang padanya dengan jumlah yang sangat besar

  • Karena Malam itu, Asisten Rasa Istri    9. Berharap

    Seana berharap kedua petugas keamanan itu tidak mengkhianati dirinya dan Velia. Namun, melihat Mike menanyakan pertanyaan-pertanyaan ini padanya, apakah itu berarti Sanzio masih belum mengetahui kebenarannya?Seana menatap Mike dengan ragu, tetapi ekspresi pria itu terlalu sulit untuk dibaca, dalam hal ini karakternya hampir sama seperti Sanzio. Seana tidak tahu mengapa Mike mencegatnya dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu.Mike hendak membuang puntung rokoknya, lalu bertanya. "Pak Zio ngasih ke kamu sebuah liontin yang katanya ketinggalan di kamar itu, kan? Liontin itu kemana sekarang?,"Telapak tangan Seana mulai berkeringat karena gugup. "Aku pikir liontin itu mungkin punya penghuni kamar yang sebelumnya. Jadi aku ngiranya itu barang yang ngga penting. Aku lupa dimana aku simpan liontin itu,"Seana tidak berani berbohong tentang dirinya yang telah memberikan liontin itu ke resepsionis hotel untuk dibuang, setelah kejadian di malam itu. Karena ingin menghilangkan jejak. Jika San

  • Karena Malam itu, Asisten Rasa Istri    8. Apa yang spesial dari Seana?

    Mike tidak mengerti mengapa Sanzio mau mempertahankan Seana menjadi asistennya selama ini. Apakah mungkin karena Seana lebih takut padanya dan tidak bertindak seperti wanita yang tergila-gila padanya? Sama seperti asisten-asistennya yang sebelumnya? Mike berpikir itu sangat mungkin.Seana menoleh k

  • Karena Malam itu, Asisten Rasa Istri    7. Mulai berjaga-jaga

    Seana dan Velia yang awalnya hari ini berencana untuk berbelanja. Namun, setelah mengetahui bahwa Sanzio masih mencari tahu tentang siapa sosok wanita dari malam itu, membuat Seana dan Velia kehilangan minat untuk berbelanja. Mereka memutuskan untuk kembali ke apartemen Seana dengan perasaan yang l

  • Karena Malam itu, Asisten Rasa Istri    6. Mulai curiga

    Suasana tiba-tiba berubah menjadi hening. Mata gelap Sanzio berkilau dingin ketika dia menatap Seana yang sangat gugup dalam keheningan total. Dalam diamnya itu, Sanzio mencoba untuk memastikan seberapa jujur Seana saat ini.Seana juga menatap Sanzio dengan perasaan cemas dan was-was. Sementara te

  • Karena Malam itu, Asisten Rasa Istri    4. Panggilan dari Bos Galak?

    Napas berat terdengar di seberang panggilan, disertai sedikit rasa dingin yang tak dapat dijelaskan.Seana terdiam sejenak karena terkejut, sekaligus bingung. Ia melirik ponselnya lagi. Tetapi saat melihat kearah layar dan membaca nama kontak si penelpon, jantung Seana seakan bisa copot saat itu ju

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status