แชร์

6. Mulai curiga

ผู้เขียน: Novel Novi🐣
last update วันที่เผยแพร่: 2026-03-06 10:33:28

Suasana tiba-tiba berubah menjadi hening. Mata gelap Sanzio berkilau dingin ketika dia menatap Seana yang sangat gugup dalam keheningan total.  Dalam diamnya itu, Sanzio mencoba untuk memastikan seberapa jujur Seana saat ini.

Seana juga menatap Sanzio dengan perasaan cemas dan was-was. Sementara telapak tangannya basah karena keringat. Seana merasa seperti dirinya bisa gila kapan saja. Diam-diam, Seana berharap agar Velia tidak mengiriminya pesan lagi.

Tepat ketika Seana berpikir, hal ini akan segera berakhir dengan catatan Sanzio mempercayainya. Pria itu tiba-tiba buka suara dengan nada dingin. "Selama libur kantor, pekerjaan apa yang kamu lakukan?."

"Saya membuat kerajinan dari tanah liat, Pak. Itu saya lakukan juga sebagai hobi pada awalnya." Jawab Seana.

"Kerajinan seperti apa itu?."

"Membentuk sesuatu yang kita inginkan dari tanah liat, Pak. Lalu hasilnya bisa dijual kalau memang ada peminatnya." Jawab Seana. "Pekerjaan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan pekerjaan saya sebagai asisten bapak, dan saya tahu kalau peraturan perusahaan tidak memperbolehkan karyawannya bekerja ditempat lain. Tapi saya memulai itu karena hobi, Pak." Imbuh Seana, dia kemudian mengamati dengan hati-hati bagaimana respon Sanzio, dan menyadari bahwa dirinya sama sekali tidak bisa membaca ekspresi pria itu. Seana tidak tahu apakah dirinya akan selamat atau tidak setelah ini.

Sanzio meliriknya dengan dingin, lalu menghisap rokoknya. "Bukankah perusahan sudah membayar gaji kamu dengan cukup?." Tanyanya. 

"Betul, Pak. Dan sama seperti penjelasan saya barusan kalau saya melakukan pekerjaan itu murni karena hobi." Jawab Seana dengan jujur. 

Setelah merasakan udara dingin terpancar dari Sanzio, Seana kembali menundukkan kepala, berharap Sanzio mau memaklumi nya dan percaya dengan alasannya. "Kalau bapak tidak mengizinkan, saya akan berjanji untuk tidak melakukan pekerjaan itu lagi." 

Selama program orientasi karyawan baru, departemen SDM telah menjelaskan dengan tegas bahwa tidak ada karyawan yang diperbolehkan memiliki pekerjaan sampingan di tempat lain. Mungkin itu karena mereka khawatir karyawan tersebut akan bekerja untuk pesaing perusahaan. 

Seana hampir merasa yakin bahwa Sanzio akan memberikan surat keterangan atas pengakuannya, tetapi nyatanya pria itu tidak melakukannya. "Baik, kalau begitu, kamu boleh pergi sekarang." Kata Sanzio kemudian. 

Seana menatap pria itu dengan raut wajah bingung. Apa Sanzio mengizinkannya memiliki pekerjaan sampingan itu? Atau apa? 

Tetapi Sanzio kini sibuk mengetik sesuatu di laptopnya, dan mengabaikan Seana yang kebingungan. 

Seana tidak berani tinggal lebih lama didalam ruang kerja Sanzio, dia segera mengambil ponselnya dan langsung pergi, melarikan diri. Wanita itu berlari sampai langkahnya terhenti didepan lift, lalu mengusap dadanya untuk menenangkan jantungnya yang berdebar kencang. Mengingat, dia hampir mati ketakutan beberapa saat yang lalu. 

Seandainya Sanzio menindaklanjuti pertanyaannya dan menanyakan tentang kejadian malam itu, mungkin saja Seana yang tidak pandai berbohong akan menyerah saja dan langsung menceritakan yang sebenarnya pada Sanzio, tanpa memikirkan lagi apa konsekuensi yang akan di terimanya. 

Setelah tenang, Seana masuk kedalam lift. Ia turun dan berniat untuk langsung pulang. Tetapi begitu lift terbuka, dia melihat Velia yang berdiri tak jauh dari meja resepsionis dan sedang memainkan ponselnya. 

Seana buru-buru menghampirinya dengan raut wajahnya yang masih pucat. 

Velia yang menyadari kehadiran Seana, mengangkat pandangannya dari ponselnya dan beranjak dari tempat duduknya. "Ini nih, yang gue tungguin dari tadi. Kemana aja lo, baru nongol? Janjinya cuma sebentar, eh ternyata lama banget." Kata Velia, yang langsung menceramahi Seana. Dia meraih tangan Seana dan mengangkat tangannya yang lain untuk memanggil taksi yang lewat. "Lo sibuk banget ya tadi? Sampe berkali-kali gue chat, lo ngga balas atau dibaca? Katanya cuma setengah jam. Gue capek nungguin lo dari tadi, chat panjang-panjang juga sia-sia." Keluhnya, sembari masuk kedalam mobil setelah Seana. 

Seana masih terdiam, dan bibir tampak pucat. Velia dengan iseng sengaja mencubit lengan Seana. "Lo sakit, ya? Kok muka lo pucet banget?."

"Aku baik-baik aja kok." Seru Seana. "Aku ngga tahu kenapa, tapi akhir-akhir ini semua orang selalu nanya Seana kamu sakit ya? Kok pucet banget? Apa semua orang ngga bisa liat dengan teliti?." Tanya Seana dengan perasaan yang kesal. 

Jelas, wanita muda itu dalam keadaan yang baik-baik saja. Namun hanya mengalami ketakutan yang luar biasa akhir-akhir ini. 

"Trus ada apa dong? Kok muka lo keliatan pucet?." Tanya Velia. 

"Aku ketakutan, Velia!." 

Velia menghela napas. "Ada masalah apa lagi sih, Seana? Apa yang udah bikin lo ketakutan?." Velia menatap sahabatnya dengan tatapan terheran-heran. 

Yang Velia ketahui, Seana hanya dipanggil ke kantor di hari liburnya untuk melakukan beberapa perubahan pada isi surat kontrak. Apa yang mungkin bisa membuatnya begitu takut? Velia langsung menyadari apa yang mungkin terjadi. Dan raut wajahnya langsung berubah. "Apa jangan-jangan Pak Zio udah tau semuanya, ya?". 

Wajah Seana langsung berlinang air mata setelah mendengarnya. Melihat Seana, hati Velia terasa mencekam. "Dia ngga tau, kan?." 

Seana menggelengkan kepalanya. "Ngga, tapi dia baca semua chat yang kamu kirim!." 

Velia terdiam. Kilasan pesan yang ia kirimkan kepada Seana muncul di benaknya. Selain desakan nya yang terus-terusan memaksa Seana cepat pulang, Velia juga menyertakan beberapa pertanyaan yang seharusnya menjadi rahasia untuk mereka berdua. 

Semuanya langsung menjadi sunyi. Hanya ada suara mobil yang melaju di jalan yang terdengar. 

Raut wajah Velia juga pucat. "Terus gimana? Lo bisa bikin alasan, kan supaya Pak Zio ngga curiga sama lo lagi?." 

Wajah Seana membeku. Air mata kembali menggenang di matanya. "Dia keliatan santai banget. Tapi sebenarnya dia lagi nyariin perempuan yang tidur sama dia, di malam itu." kata Seana dengan terbata-bata. 

Hal itu membuat Velia juga merasa sangat gelisah. Seana menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. "Bisa ngga kamu lain kali nelfon aku aja, kalau kamu lagi perlu sesuatu dan waktunya ketika aku lagi kerja?." 

Ya, Velia tidak bisa lagi mengirimi Seana pesan. Karena isi pesan-pesannya taksi sudah mengungkapkan terlalu banyak. Jika hal seperti itu terjadi beberapa kali lagi, Seana mungkin akan berakhir di tiang gantungan. 

Velia mengangguk, setuju. "Lo jangan khawatir. Gue ngga akan pernah nge-chat lo lagi." Dia juga tidak punya nyali untuk melakukannya lagi. 

Namun yang masih belum mereka ketahui, apakah ceo dingin itu sudah berhasil mengungkapkan kebenaran tersebut atau tidak. 

"Pak sopir, nanti belok aja ke komplek apartemen cempaka ya. Kita ngga jadi pergi ke mall." Pinta Velia. 

"Oke deh, mbak." 

TAMBAHAN: Kalau kalian suka sama ceritanya, jangan lupa tulis komentar dan ulasan kalian tentang buku ini, ya. 

Berikan penilaian dan dukungan kamu!!

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Karena Malam itu, Asisten Rasa Istri    14. Mencari tumpangan

    Jantung Sheilla hampir melompat keluar dari dadanya karena berdebar lebih keras dari sebelumnya.Dia tidak tahu apa yang telah merasukinya. Namun karena dia sudah duduk di pangkuan Sean, dia pikir sebaiknya dia terus melakukan apa yang ada di dalam pikirannya saja.Sembari menggoyangkan pinggangnya dengan sensual, dia menggoyangkan pinggulnya maju mundur di atas paha Sean. Rona merah muda yang menggemaskan merayapi pipinya saat dia menatap dalam-dalam ke mata Sean.'Ya Tuhan! Aku tak percaya aku melakukan ini.' Batin Sheilla.Tak lama kemudian, Sheilla menyadari tatapan mata Sean mulai berubah sedikit lebih gelap, nafsu berputar di dalamnya tepat saat dia merasakan sesuatu menusuk tepat di inti dirinya.Matanya terbelalak saat merasakan V di bawah pusarnya berdenyut, membuatnya langsung melompat dari pangkuan Sean, merasa panas dan terganggu. "Aku hanya ingin mengambil uang sepuluh ribu dolar hari ini karena kamu tidak puas dengan anggurnya." Sheilla menjelaskan dengan tergesa-ges

  • Karena Malam itu, Asisten Rasa Istri    13. Seperti ada kecurigaan

    Tatapan Mike sangat tajam dan membuat Seana merasa tidak nyaman. Seana tak mampu menenangkan diri saat membayangkan harus bekerja sama dengan Mike. Ia berusaha membuat dirinya terlihat sekecil mungkin dengan sedikit membungkuk."Sudah, kamu bolehkembali ke ruangan kamu," kata Mike."Iya, mas." Seana merasa lega saat mendengarnya. Wanita itu segera kembali ke ruangannya.Mike memperhatikan Seana sekali lagi, sebelum akhirnya masuk ke kantor Sanzio.Sementara itu, Seana berusaha fokus dengan pekerjaannya, tetapi dia tidak bisa berhenti memikirkan apa yang telah dilihatnya di ruang istirahat Sanzio. Seana benar-benar harus lebih berhati-hati mulai sekarang, atau dia akan mendapat masalah.Mike berada di kantor Sanzio selama sekitar satu jam hanya untuk membicarakan sesuatu. Begitu Mike keluar, telepon kantor Seana berdering. Seana reflek melirik kearah kantor Sanzio, dan mendapati tatapan tajam Sanzio yang tertuju padanya.Sembari menundukkan kepalanya karena takut, Seana mengangkat tele

  • Karena Malam itu, Asisten Rasa Istri    12. Kotak pengaman?

    Suara berat Sanzio terdengar di seberang sana. "Kamu pergi ke gedung star dan tolong ambilkan beberapa dokumen untuk saya. Juga, bawakan dasi ungu yang ada dilemari itu.""Baik, Pak Zio." Jawab Seana dengan hormat sembari menekan tombol lift ke lantai bawah. Dia menutup telepon tepat saat pintu lift terbuka. "Vel, aku boleh pinjam mobil kamu ngga? Aku harus ke gedung Star," katanya pada Velia."Seharusnya Pak Zio kasih lo fasilitas mobil kalau dia memang mau nyuruh-nyuruh lo pergi ke gedung star segala!." Velia menggerutu, tetapi dia tetap mengeluarkan kunci mobilnya dari dalam tasnya dan memberikannya pada Seana.Seana menerima kunci itu. "Aku cuma disuruh ngambil beberapa dokumen buat dia. Nanti aku isi penuh bensin kamu, oke?,""Bukan gitu maksud gue, bos kita kaya raya tapi dia pelit Seana. Lo malah mau sedekah gitu aja?." gumam Velia. Dia memang tidak pernah merasa puas dengan cara penanganan fasilitas karyawan diperusahaan Sanzio.Seana tertawa kecil. "Kamu harus berani ngomong

  • Karena Malam itu, Asisten Rasa Istri    11 Hati yang Bimbang

    Seana menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. "Aku bingung," Dia selalu mengenakan liontin itu, dan mungkin banyak orang yang pernah melihat benda itu di lehernya. Seana takut Sanzio akan melakukan penyelidikan internal."Tapi seharusnya lo berusaha menjauh dari mereka, Seana." Kata Velia memperingatkan.Seana tak kuasa menahan diri untuk tidak mengingat ketika bagaimana Mike bersikap padanya saat meminta liontin itu darinya. Pria itu begitu bersikeras.Velia merasa seperti dirinya akan gila. Dia tahu bahwa Seana tidak mungkin memberikan liontin itu kepada Sanzio. Semua orang tahu betapa hebatnya Mike, setiap kali Sanzio membutuhkan sesuatu untuk di selidiki, maka dia akan memerintah Mike.Sedangkan Mike tidak pernah gagal menjalankan tugas dari Sanzio, jika Seana menolak memberikan liontin itu kepada Mike, maka itu pasti akan membuatnya curiga. Tetapi jika Seana melakukannya...."Kenapa sih hidup gue harus sesial ini?!." Umpat Velia sembari mengacak-acak rambutnya. "Kartu kredit d

  • Karena Malam itu, Asisten Rasa Istri    10. Sebuah Liontin

    Karena Sanzio tidak menanyakan hal itu padanya selama sebulan penuh, Seana mengira masalahnya sudah selesai. Sekarang, sepertinya keadaan malah semakin memburuk. Seana tidak tahu harus bagaimana menjawabnnya.Merasakan keheningan Seana, Sanzio menatapnya dengan dingin. "Kamu kenapa? Apa kamu menolak perintah dari saya?,""Ngga, bukan gitu Pak," kata Seana.Namun, sebelum dia sempat mengatakan hal lain, Sanzio sudah lebih dulu kembali buka suara. "Dari apa yang saya tahu tentang kemampuan kamu, kamu nanti membutuhkan bantuan untuk mencapai posisi asisten eksekutif,"Seana menatapnya dengan mata lebar. Apakah itu berarti Sanzio benar-benar menyuruhnya untuk belajar dari Mike karena ingin mempromosikannya? Posisi itu memang menawarkan gaji empat kali lipat lebih besar dari pada penghasilannya sekarang. Bagi Seana, itu adalah godaan yang besar, karena dia masih memiliki cicilan rumah yang besar untuk di bayar. Belum lagi, ketika adiknya meminta uang padanya dengan jumlah yang sangat besar

  • Karena Malam itu, Asisten Rasa Istri    9. Berharap

    Seana berharap kedua petugas keamanan itu tidak mengkhianati dirinya dan Velia. Namun, melihat Mike menanyakan pertanyaan-pertanyaan ini padanya, apakah itu berarti Sanzio masih belum mengetahui kebenarannya?Seana menatap Mike dengan ragu, tetapi ekspresi pria itu terlalu sulit untuk dibaca, dalam hal ini karakternya hampir sama seperti Sanzio. Seana tidak tahu mengapa Mike mencegatnya dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu.Mike hendak membuang puntung rokoknya, lalu bertanya. "Pak Zio ngasih ke kamu sebuah liontin yang katanya ketinggalan di kamar itu, kan? Liontin itu kemana sekarang?,"Telapak tangan Seana mulai berkeringat karena gugup. "Aku pikir liontin itu mungkin punya penghuni kamar yang sebelumnya. Jadi aku ngiranya itu barang yang ngga penting. Aku lupa dimana aku simpan liontin itu,"Seana tidak berani berbohong tentang dirinya yang telah memberikan liontin itu ke resepsionis hotel untuk dibuang, setelah kejadian di malam itu. Karena ingin menghilangkan jejak. Jika San

  • Karena Malam itu, Asisten Rasa Istri    5. Rencana Ibu Tiri?

    Seana akhirnya berhasil keluar dari dalam ruang kerja Sanzio, ketika Mike datang mengetuk pintu dengan membawa sebuah laporan untuk disampaikan pada Sanzio.Sanzio menatap Seana yang berada diluar ruangannya melalui kaca, wanita itu selalu berhati-hati dan patuh ketika berada dihadapannya, hingga s

  • Karena Malam itu, Asisten Rasa Istri    4. Panggilan dari Bos Galak?

    Napas berat terdengar di seberang panggilan, disertai sedikit rasa dingin yang tak dapat dijelaskan.Seana terdiam sejenak karena terkejut, sekaligus bingung. Ia melirik ponselnya lagi. Tetapi saat melihat kearah layar dan membaca nama kontak si penelpon, jantung Seana seakan bisa copot saat itu ju

  • Karena Malam itu, Asisten Rasa Istri    3. Berbohong demi menyelamatkan diri

    Keheningan mencekam menyelimuti ruangan tersebut, suasana menjadi tegang. Meskipun Seana berdiri tegak dan bersikap penuh hormat, jantungnya terasa seperti sedang berdebar kencang.Tatapan berbahaya Sanzio tertuju pada wajah was-was Seana. "Apa maksud kamu dengan 'mungkin'?." Tanya pria itu.Seana

  • Karena Malam itu, Asisten Rasa Istri    2. Takut Ketahuan

    Dengan raut wajah pucat pasi, Seana kembali ke aula hotel. Ketika Velia melihatnya, dia bertanya dengan khawatir. "Lo sakit ya? Kok keliatannya pucet banget".Seana menatap sahabatnya. Hubungan persahabatan mereka sudah terjalin sejak sma. Menatap Velia, mata Seana langsung berkaca-kaca.Melihat S

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status