Share

16. Melepaskan

last update Last Updated: 2022-08-14 01:38:24

Perlahan kubuka mata. Seluruh badan terasa remuk dan sakit. Sejak kapan aku tertidur di lantai dapur? Kuangkat kepala yang rasanya berat, lalu duduk bersandar di dinding. Ternyata sudah pukul tujuh pagi. Sudah terlalu terlambat untuk berangkat kerja. Aku mendesah. Aku akan meminta izin kepada Pak Wira nanti.

Kenapa hidupku jadi kacau begini? Teringat kembali peristiwa semalam, rasa sesak kembali hadir di dada. Sesakit inikah rasanya dikhianati? Dulu aku menganggap orang-orang yang patah hati terlalu berlebihan. Namun kini, aku sangat paham seperti apa rasanya.

Sedikit terhuyung aku beranjak, lantas berlalu ke kamar. Kubuka pintu pelan, takut akan membangunkan Vania. Ia pasti masih terlelap sekarang. Namun alangkah terkejutnya, saat tak kudapati sosoknya di sana. Kudapati kamar mandi dan seluruh ruangan dalam keadaan kosong.

"Vania!" panggilku lantang. Bahkan di halaman belakang pun tak kutemukan sosoknya.

Kucek pintu depan yang sudah dalam keadaan tak terkunci. Vania pergi? Sejak kapa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Karma Pengkhianat Pernikahan   49. Di Balik Jeruji Besi

    (PoV Vania)“Ma, tolong, Ma, Vania gak mau di sini! Vania takut, Ma!” Aku tak dapat berhenti menangis sejak kemarin. Tak betah rasanya berada di ruangan sempit dan pengap tanpa jendela ini. Aku terus memohon kepada Mama untuk segera membebaskanku. Mama pun sama, tak bisa berhenti meneteskan air mata. Aku dan Bang Roby, kemarin dijemput paksa oleh polisi. Ternyata perbuatan kami tertangkap basah oleh kamera CCTV. Aku merasa bodoh sekali. Awalnya aku hanya berniat iseng untuk meneror calon istri Bang Dani. Bukan apa, aku hanya kesal oleh jawaban Bang Dani yang mengatakan kalau ia sudah tak menyimpan rasa untukku lagi. Padahal aku yakin sekali kalau ia menikahi wanita itu untuk membuat cemburu, lalu kembali padaku.Berbekal dari informasi rumah sakit, aku berhasil mengetahui alamat kediaman Tyas. Ternyata ia adalah anak orang berada. Rasa iri seketika menyelimuti hatiku. Aku benar-benar harus memberinya pelajaran. Dia sudah membuat Bang Dani berpaling dariku. Mendengarkan saran dari B

  • Karma Pengkhianat Pernikahan   48. Pengantin Baru

    Acara sungkeman kami lewati, dengan diwarnai oleh isak tangis bahagia. Kak Fitri berkali-kali mengusap air matanya yang meleleh. Bu Marni terisak saat mencium dan memeluk Tyas, putri satu-satunya. Saat aku bersimpuh di pangkuan Pak Wira, ia mengusap kepala dan pundakku. “Mas Dani, jagalah putri kami sebaik mungkin. Perlakukan ia dengan lembut. Jangan pernah sakiti hati dan badannya. Jika kau sudah tak berkenan menjaganya, kembalikan ia dengan baik-baik kepadaku,” bisik Pak Wira. Aku mengangguk pelan, lalu mencium tangannya. “Insya Allah, Pak. Insya Allah, akan saya jaga ia dengan segenap jiwa dan raga. Melebihi Bapak dan Ibu menjaga serta mencintainya sejak kecil,” janjiku dengan suara parau.Tak lama kemudian, kami semua sudah duduk di pelaminan. Bang Tamrin, Kak Fitri dan Adel di deretan kursi sebelah kiri, sementara pasangan mertuaku di deretan sebelah kanan. Tamu undangan nampak memenuhi tenda yang disediakan. Rasanya tak ada lagi yang aku inginkan. Kebahagiaan hari ini bagaika

  • Karma Pengkhianat Pernikahan   47. Air Mata Bahagia

    “Gimana, Dan? Kakak tadi menelepon Tyas sebentar, tapi kelihatannya di sana sibuk sekali. Jadi, tak bisa ngobrol banyak. Sebenarnya apa yang terjadi?” Kak Fitri belum tidur saat kami pulang, ia sedari tadi sudah menunggu dengan wajah cemas.“Sebentar Kak, Dani duduk dulu,” ucapku sambil menghempaskan badan di sofa.“Duh, Kakak benar-benar gak bisa tidur! Bang, ceritalah, Bang!” desak Kak Fitri kepadaku, lalu pada suaminya.“Ngobrol sama Dani aja, Dek. Abang mau langsung mandi, lalu tidur!” Bang Tamrin dengan cepat berlalu ke kamar mandi, tanpa menghiraukan Kak Fitri yang tampak sebal.“Ah, kalian ini! Sebenarnya ada apa, sih?” Kak Fitri menghentakkan kakinya tak sabaran.“Kebakaran, Kak. Tenda dan kursi untuk acara besok di bakar,” jawabku sambil memejamkan mata.“Hah, apa? Kebakaran? Kok bisa?!” Kak Fitri mendekat, duduk di sampingku.“Iya, Kak. Kakak tau sendiri kan, tenda dari kain seperti itu pastilah mudah terbakar. Belum lagi bangku untuk para tamu yang dibungkus kain dekorasi.

  • Karma Pengkhianat Pernikahan   46. Jadi Abu

    “Bang, bisa lebih ngebut lagi?” tanyaku kepada Bang Tamrin yang fokus menyetir. Mobil yang kami kendarai membelah jalanan yang sedikit ramai. Hatiku cemas tak karuan, ingin cepat sampai ke kediaman Tyas. Jika saja bisa terbang, sudah kulakukan sejak tadi.“Tak usah terburu-buru, Dan. Jangan sampai kita kenapa-kenapa gara-gara ingin cepat sampai ke sana,” jawab Bang Tamrin tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan raya.“Iya Bang, tapi Dani benar-benar cemas. Mau cepat sampai ke sana,” keluhku.“Tenangkan pikiran, lebih baik kamu berdoa dan zikir!” titah Bang Tamrin kemudian.Aku terdiam, mulai membaca doa dalam hati. Zikir-zikir kulantunkan dalam keheningan. Hatiku mulai terasa sedikit tenang. Sebentar lagi, kami akan segera sampai ke rumah Tyas.*Di depan kediaman megah itu, tampak ramai. Banyak orang berkerumun memadati halaman dan depan gerbang. Aku terpana, saat melihat sebuah mobil pemadam kebakaran terparkir di sana. Terlihat pula terparkir sebuah mobil patroli polisi di jalan.

  • Karma Pengkhianat Pernikahan   45. Ada Apa?

    “Ya Allah, mimpi apa Kakak semalam, melihat kamu melamar Tyas?” ujar Kak Fitri saat kami sudah berada di mobil yang kami pesan untuk pulang ke rumah.Bang Tamrin terkekeh. “Si Dani, bener-bener dapat durian runtuh. Lepas dari jeratan lintah beracun, sekarang dapat bidadari,” candanya. Aku meninju pelan lengan kakak iparku yang menyebalkan itu.“Pokoknya, awas kalau kamu berani main-main dengan perempuan lain, Dan! Ingat, sebulan lagi kamu akan menikah dengan Tyas. Jaga tingkah laku! Kalau kamu berani aneh-aneh, awas aja!” Kata Kak Fitri, sedikit mengancam. Aku tertawa.“Insya Allah, Dani gak akan macam-macam, Kak. Malahan, Dani maunya tadi bulan ini juga menikah sama Tyas!” selorohku.“Lah, terus, kenapa gak ngomong tadi?” timpal Bang Tamrin.“Ya, gak enak, Bang. Biar tuan rumah yang menentukan, tanggal berapa mereka siap untuk mengadakan acara. Dani ikut saja,” kataku.“Ya, iya, benar. Mana mereka gak minta bantuan sama sekali soal biaya. Kakak jadi sedikit gak enak. Kakak malah teri

  • Karma Pengkhianat Pernikahan   44. Sepakat

    Dua jam kemudian, aku dan Kak Fitri sudah sampai lagi di rumah. Tanganku menenteng beberapa kantong belanja yang entah apa isinya. Seingatku, tadi hanya membelikan satu set pakaian dan sebuah cincin untuk Tyas. Namun, Kak Fitri beberapa kali keluar masuk beragam toko, entah apa yang dibelinya.“Kak, kok belanjaannya jadi banyak gini? Kakak beli apa aja?” tanyaku seraya menyerahkan kantong-kantong belanjaan kepadanya.“Ini untuk isian hantaran lamaran nanti. Besok Kakak pesen sama temen, untuk kotak hantarannya,” terang Kak Fitri.“Lah, tapi tadi kan, Dani Cuma beli satu set pakaian sama cincin aja? Kok jadi beranak gini?” Dahiku mengkerut.“Ini Kakak yang beli, hadiah untuk Tyas. Dah, kamu gak usah protes, terima beres aja!” Kak Fitri kemudian meninggalkanku yang masih terpaku. Ya sudahlah!*Setelah mandi, badanku terasa segar. Aku keluar kamar, menuju ke teras. Terlihat Adelia yang sedang asyik sendiri dengan mainannya yang bertebaran di lantai. Kubiarkan keponakanku itu dengan duni

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status