Mag-log inSikap Vania berubah drastis saat Dani terkena PHK dari tempatnya bekerja. Dia yang dulu manis dan penurut, berubah menjadi pembangkang. Dani terus berusaha untuk memperbaiki keadaan dan mempertahankan keutuhan rumah tangganya itu. Namun, bukannya semakin membaik, semuanya justru memburuk. Vania semakin menjauh karena malu dengan keadaan dan termakan hasutan mamanya. Akhirnya, dia memilih berpaling dan berkhianat. Pada awalnya semua terasa berat bagi Dani. Hanya saja, selalu ada karma dan penyesalan bagi sang pengkhianat di akhir cerita!
view more(PoV Vania)“Ma, tolong, Ma, Vania gak mau di sini! Vania takut, Ma!” Aku tak dapat berhenti menangis sejak kemarin. Tak betah rasanya berada di ruangan sempit dan pengap tanpa jendela ini. Aku terus memohon kepada Mama untuk segera membebaskanku. Mama pun sama, tak bisa berhenti meneteskan air mata. Aku dan Bang Roby, kemarin dijemput paksa oleh polisi. Ternyata perbuatan kami tertangkap basah oleh kamera CCTV. Aku merasa bodoh sekali. Awalnya aku hanya berniat iseng untuk meneror calon istri Bang Dani. Bukan apa, aku hanya kesal oleh jawaban Bang Dani yang mengatakan kalau ia sudah tak menyimpan rasa untukku lagi. Padahal aku yakin sekali kalau ia menikahi wanita itu untuk membuat cemburu, lalu kembali padaku.Berbekal dari informasi rumah sakit, aku berhasil mengetahui alamat kediaman Tyas. Ternyata ia adalah anak orang berada. Rasa iri seketika menyelimuti hatiku. Aku benar-benar harus memberinya pelajaran. Dia sudah membuat Bang Dani berpaling dariku. Mendengarkan saran dari B
Acara sungkeman kami lewati, dengan diwarnai oleh isak tangis bahagia. Kak Fitri berkali-kali mengusap air matanya yang meleleh. Bu Marni terisak saat mencium dan memeluk Tyas, putri satu-satunya. Saat aku bersimpuh di pangkuan Pak Wira, ia mengusap kepala dan pundakku. “Mas Dani, jagalah putri kami sebaik mungkin. Perlakukan ia dengan lembut. Jangan pernah sakiti hati dan badannya. Jika kau sudah tak berkenan menjaganya, kembalikan ia dengan baik-baik kepadaku,” bisik Pak Wira. Aku mengangguk pelan, lalu mencium tangannya. “Insya Allah, Pak. Insya Allah, akan saya jaga ia dengan segenap jiwa dan raga. Melebihi Bapak dan Ibu menjaga serta mencintainya sejak kecil,” janjiku dengan suara parau.Tak lama kemudian, kami semua sudah duduk di pelaminan. Bang Tamrin, Kak Fitri dan Adel di deretan kursi sebelah kiri, sementara pasangan mertuaku di deretan sebelah kanan. Tamu undangan nampak memenuhi tenda yang disediakan. Rasanya tak ada lagi yang aku inginkan. Kebahagiaan hari ini bagaika
“Gimana, Dan? Kakak tadi menelepon Tyas sebentar, tapi kelihatannya di sana sibuk sekali. Jadi, tak bisa ngobrol banyak. Sebenarnya apa yang terjadi?” Kak Fitri belum tidur saat kami pulang, ia sedari tadi sudah menunggu dengan wajah cemas.“Sebentar Kak, Dani duduk dulu,” ucapku sambil menghempaskan badan di sofa.“Duh, Kakak benar-benar gak bisa tidur! Bang, ceritalah, Bang!” desak Kak Fitri kepadaku, lalu pada suaminya.“Ngobrol sama Dani aja, Dek. Abang mau langsung mandi, lalu tidur!” Bang Tamrin dengan cepat berlalu ke kamar mandi, tanpa menghiraukan Kak Fitri yang tampak sebal.“Ah, kalian ini! Sebenarnya ada apa, sih?” Kak Fitri menghentakkan kakinya tak sabaran.“Kebakaran, Kak. Tenda dan kursi untuk acara besok di bakar,” jawabku sambil memejamkan mata.“Hah, apa? Kebakaran? Kok bisa?!” Kak Fitri mendekat, duduk di sampingku.“Iya, Kak. Kakak tau sendiri kan, tenda dari kain seperti itu pastilah mudah terbakar. Belum lagi bangku untuk para tamu yang dibungkus kain dekorasi.
“Bang, bisa lebih ngebut lagi?” tanyaku kepada Bang Tamrin yang fokus menyetir. Mobil yang kami kendarai membelah jalanan yang sedikit ramai. Hatiku cemas tak karuan, ingin cepat sampai ke kediaman Tyas. Jika saja bisa terbang, sudah kulakukan sejak tadi.“Tak usah terburu-buru, Dan. Jangan sampai kita kenapa-kenapa gara-gara ingin cepat sampai ke sana,” jawab Bang Tamrin tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan raya.“Iya Bang, tapi Dani benar-benar cemas. Mau cepat sampai ke sana,” keluhku.“Tenangkan pikiran, lebih baik kamu berdoa dan zikir!” titah Bang Tamrin kemudian.Aku terdiam, mulai membaca doa dalam hati. Zikir-zikir kulantunkan dalam keheningan. Hatiku mulai terasa sedikit tenang. Sebentar lagi, kami akan segera sampai ke rumah Tyas.*Di depan kediaman megah itu, tampak ramai. Banyak orang berkerumun memadati halaman dan depan gerbang. Aku terpana, saat melihat sebuah mobil pemadam kebakaran terparkir di sana. Terlihat pula terparkir sebuah mobil patroli polisi di jalan.
Brak!Kakiku melayang tanpa sadar, menendang pintu kamar mandi dengan kuat."Vania!" teriakku menggelegar.Dua insan yang tadinya saling berdekapan, langsung melepaskan diri. Wajah Vania pucat, sementara si lelaki terlihat kebingungan."Ba–bang Dani?!" cicitnya dengan suara yang sedikit tertahan. Wajahn
Perlahan kubuka mata. Seluruh badan terasa remuk dan sakit. Sejak kapan aku tertidur di lantai dapur? Kuangkat kepala yang rasanya berat, lalu duduk bersandar di dinding. Ternyata sudah pukul tujuh pagi. Sudah terlalu terlambat untuk berangkat kerja. Aku mendesah. Aku akan meminta izin kepada Pak Wi
Dua jam kemudian, aku dan Kak Fitri sudah sampai lagi di rumah. Tanganku menenteng beberapa kantong belanja yang entah apa isinya. Seingatku, tadi hanya membelikan satu set pakaian dan sebuah cincin untuk Tyas. Namun, Kak Fitri beberapa kali keluar masuk beragam toko, entah apa yang dibelinya.“Kak
“Ya Allah, mimpi apa Kakak semalam, melihat kamu melamar Tyas?” ujar Kak Fitri saat kami sudah berada di mobil yang kami pesan untuk pulang ke rumah.Bang Tamrin terkekeh. “Si Dani, bener-bener dapat durian runtuh. Lepas dari jeratan lintah beracun, sekarang dapat bidadari,” candanya. Aku meninju p






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.