Share

4. Kepergok

Author: Alya Feliz
last update publish date: 2026-02-16 12:06:29

"Udah dibilangin kok. Biar aku coba telepon dia dulu," ucap Harsa sambil menurunkan Fiona yang terbangun.

"Nggak usah lah, Mas. Biar kami pulang naik travel. Mas lanjutin aja kerjaan di sini." Entah kenapa Kamila benar-benar enggan, meskipun dia penasaran setengah mati.

Dia bimbang, apakah harus mengikuti insting, atau mengabaikannya demi keutuhan rumah tangganya? Kata orang, keingintahuan itu bisa membunuhmu. Tutup mata dan telinga dengan tingkah suami di luar sana, asalkan suami masih terus menafkahi. Tapi, apakah rumah tangga harus seperti itu?

"Katanya mau ketemu papa, kok malah pulang lagi sih, Ma?" protes Fiona sambil mengucek-ucek mata.

"Papa sibuk, sayang. Nggak bisa diganggu. Kita pulang aja ya. Habis ini nyari makan gimana?" bujuk Kamila.

Fiona berdecak. "Punya papa kayak nggak punya papa. Sibuk mulu padahal udah mau malem. Pabriknya apa nggak bisa ditinggal sih, Ma? Padahal kalau papa pulang, pabriknya nggak akan bangkrut."

Kamila meringis mendengar ucapan putrinya yang ceplas-ceplos. Dia heran, kenapa anak TK jaman sekarang pintar sekali berbicara?

"Ck, nggak diangkat. Ke mana sih dia?" gerutu Harsa dengan wajah kesal.

Terdengar langkah kaki terburu-buru ketika Kamila menyuruh Fiona untuk masuk ke dalam mobil.

"Mbak! Mbak, tunggu sebentar!"

Kamila dan Harsa sontak menoleh. Seorang wanita berjilbab dan berkacamata, salah satu dari tiga wanita yang tadi menemui mereka, mendekati Kamila dengan nafas terengah-engah.

"Ada apa ya, Mbak?" tanya Kamila heran.

"Saya tahu di mana Putra pindah. Tapi..." Wanita itu melirik Fiona. "Apa nggak apa-apa kalau anak mbak mendengar ucapan saya nanti?"

Kamila menoleh ke arah Harsa, lalu kembali melihat wanita itu. "Apa ada yang serius?"

Wanita itu menggigit bibir bawahnya, terlihat tidak enak. "Anggap saja saya sedang membantu sesama wanita, apalagi kita saudara sesama muslim."

***

Kamila menyiapkan hati akan kemungkinan terburuk setelah selesai makan dan sholat di masjid terdekat.

Rina, wanita berhijab yang dulunya adalah tetangga kos Putra, mengotak-atik ponselnya. Sambil menunggu apa yang akan ditunjukkan oleh wanita itu, Kamila melihat Fiona yang sibuk menonton film kartun di ponsel Harsa agar tidak mendengar pembicaraan orang-orang dewasa.

"Ini dia. Mereka udah lama menjadi pasangan kekasih. Kebetulan aku dan Putra menyewa kos di bulan yang sama, jadi aku tahu bagaimana dia selama di kosan."

Kamila melihat sebuah foto yang berisi seluruh penghuni kos yang sedang makan-makan bersama di teras lantai dua. Jantung Kamila seperti berhenti berdetak saat melihat suaminya sedang menyuapi seorang perempuan.

Foto itu diambil pada malam hari dan dari atas, sehingga wajah-wajahnya tidak terlalu jelas. Tapi, Kamila tentu sangat hafal dengan tubuh dan wajah suaminya.

Dua orang itu terlihat sangat intim selayaknya pasangan kekasih. Ingin sekali Kamila menyangkal mati-matian bahwa bisa saja itu laki-laki yang mirip dengan suaminya. Tapi Rina bilang, yang bernama Putra di kos itu cuma satu.

"Sejak kapan?" Suara Kamila bergetar. Dadanya terasa sesak karena degup jantung yang semakin kencang.

"Empat tahun yang lalu."

Air mata Kamila mengalir tanpa bisa dicegah. Itu artinya, suaminya selingkuh enam bulan setelah pindah ke Surabaya. Selama itu pula, suaminya tetap romantis dan perhatian. Sama sekali tidak menunjukkan adanya tanda-tanda yang mencurigakan.

Tubuhnya mulai menggigil dan terasa panas. Tidak siap dengan informasi mengejutkan dan terlalu tiba-tiba. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa apa yang dialami oleh Arin, kini dialaminya juga.

"Kami nggak tahu kalau dia sudah menikah. Dia mengaku masih single. Jadi ya, kami nggak mau ikut campur." Rina melongok ke depan. "Belok kiri, Mas. Rumahnya yang ada pagarnya warna coklat."

Harsa mengikuti arahan dari Rina sampai akhirnya mereka sampai di depan sebuah rumah minimalis. Kamila menelan ludah yang terasa pahit di tenggorokannya. Mereka sudah sejauh itu sampai tinggal bersama? Apakah mereka diam-diam sudah menikah sirri?

"Gila ini si Putra. Kalau ibu tahu, bisa habis dia," gumam Harsa dengan kening berkerut, terlihat sekali tidak suka.

Kamila langsung membuka pintu mobil di sampingnya, sementara Harsa meminta Fiona untuk tetap di mobil. Sebelum Kamila keluar, Rina mencekal lengannya.

"Mbak, yang tabah ya. Semoga masalahnya cepat selesai. Maaf, saya nggak bisa ikut masuk," ucap Rina dengan wajah iba.

Kamila tersenyum, meski dadanya terasa sangat sakit dan matanya masih mengeluarkan air mata.

"Kamu udah banyak membantu, Mbak. Makasih banyak."

Tiba-tiba, Fiona menyeletuk. "Ma, aku ikut ya."

Mata Kamila langsung membelalak. "Jangan, Nak! Kamu nggak boleh... Loh, Fio! Fiona!"

"Iyuh, rumahnya jelek banget. Papa jadi miskin ya?"

Kamila panik. Dia tidak mau anaknya menyaksikan perselingkuhan papanya.

"Mbak!"

Hampir saja Kamila mengumpat, tapi masih dia tahan. Amarahnya semakin bertambah setiap detiknya setelah mengetahui bahwa suaminya selingkuh.

"Apa lagi, Mbak?" Kamila menahan diri agar tidak meledak, karena dia ingin sekali menghajar suami dan selingkuhannya saat itu juga.

"Rebecca itu non muslim."

Kamila menganga tak percaya. Tanpa menunggu lagi, dia melangkah dengan cepat menuju ke pintu rumah yang tertutup. Sempat dilihatnya Fiona mendekati pohon Bougenville dan mencabuti bunga-bunganya.

Sungguh, Kamila tidak ingin membuat keributan. Apalagi ada Fiona di sini. Dia sudah berencana untuk membicarakan masalah itu secara baik-baik. Tapi, fakta bahwa suaminya ternyata selama ini berzina padahal katanya paham agama, membuat amarah Kamila langsung meledak.

Mengabaikan kesopanan, Kamila langsung mendorong pintu yang ternyata tidak dikunci. Suara pintu membentur dinding membuat dua sejoli yang tengah bermesraan di sofa ruang tamu begitu kaget.

Kamila menatap suaminya tak percaya. Lelaki yang selama ini dikiranya setia karena selalu romantis dan perhatian, ternyata berkhianat. Bahkan, mereka berzina di ruang tamu.

Menuruti amarah yang menggebu-gebu, Kamila mendekati mereka berdua.

"Dek, aku bisa jelaskan," ucap Putra sambil meraih kaos yang tergeletak di lantai.

"Menjelaskan apa? Menjelaskan kalau kamu mau berzina dengan perempuan haram?" bentak Kamila dengan mata melotot marah.

Dia melirik wanita selingkuhan suaminya yang sibuk membenahi gaunnya yang tersingkap. Sempat dilihatnya wanita itu tidak mengenakan pakaian dalam.

Kamila menatap Putra dengan rasa jijik dan mual di perutnya. "Menjijikan sekali kamu, Mas!"

"Dek, aku dan dia sudah menikah sirri..."

"Nggak usah bohong kamu!" Kamila berjalan dengan cepat menghampiri wanita bernama Rebecca itu dan menarik kalung di lehernya sampai putus. "Kalian tidak seagama, jadi nggak bisa menikah. Di agama dia, nggak ada nikah sirri."

"Aku..."

"Laki-laki b*jingan!" Harsa langsung meninju wajah Putra begitu pria itu ikut masuk dan menyaksikan semuanya.

Kamila kaget bukan main. Padahal, dia yang sebenarnya ingin meninju wajah Putra.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Karma Suami Mendua    6. Pura-Pura Tenang

    Hal yang tidak Putra tahu adalah, wanita itu bisa menjadi racun yang mematikan jika dia sengaja disakiti. Dia bisa lebih licik dari iblis dan lebih jahat dari para kriminal.Selama tujuh tahun menikah, kesetiaan Kamila dibalas dengan pengkhianatan. Rasa sakit yang tak terkira harus dibayar. Tidak harus dengan cara kekerasan. Tidak. Kamila dikuliahkan oleh ayahnya bukan untuk menjadi perempuan lemah dan manja yang gampang ditindas oleh laki-laki."Nggak mungkin aku memaksa kamu untuk pindah kerja, sedangkan karirmu sedang berada di puncak," ujar Kamila sambil tersenyum, berusaha untuk terlihat tenang. Meski tangannya begitu gatal untuk mencakar wajah memuakkan pria itu."Dek, kamu benar-benar serius, kan?" Putra terlihat sekali bahagia. Kedua mata itu berbinar dan senyumnya merekah. Hampir saja Putra memeluk Kamila, tapi dia langsung menghindar. "Kamu memang wanita yang sangat dewasa."Kamila mengangguk. "Karena aku yakin, semua akan ada balasannya, Mas. Kamu tahu pasti dalam agama gim

  • Karma Suami Mendua    5. Konfrontasi

    Kamila menatap layar televisi yang gelap di hadapannya dengan pandangan kosong. Rasa sakit di dadanya teramat besar, sampai-sampai dia merasa seperti ditusuk oleh benda tajam. Sakit, tapi tidak tampak."Apa kurangku sampai kamu selingkuh?" Mati-matian Kamila meredakan emosi di dadanya, tapi tetap saja kedua matanya terus memproduksi cairan yang kini kembali luruh. Seharusnya, dia menyerang Rebecca dengan membabi buta seperti layaknya istri sah yang memergoki suaminya selingkuh. Tapi tidak.Kamila selalu memunculkan wajah Fiona setiap kali dia hendak kehilangan kendali. Bagaimana segala sesuatu akan berbalik padanya, dan bisa berimbas pada anak cucunya kelak. Kamila tidak mau Fiona yang terkena imbasnya.Seperti dia yang berakhir di penjara karena kasus penganiayaan misalnya. Kamila tidak bodoh. Dia pernah kuliah, dan dia suka sekali mengikuti berita apapun di media sosial. Menyerang pelakor tidak akan berakhir aman seperti yang selama ini digambarkan dalam cerita atau film fiksi."Ak

  • Karma Suami Mendua    4. Kepergok

    "Udah dibilangin kok. Biar aku coba telepon dia dulu," ucap Harsa sambil menurunkan Fiona yang terbangun."Nggak usah lah, Mas. Biar kami pulang naik travel. Mas lanjutin aja kerjaan di sini." Entah kenapa Kamila benar-benar enggan, meskipun dia penasaran setengah mati.Dia bimbang, apakah harus mengikuti insting, atau mengabaikannya demi keutuhan rumah tangganya? Kata orang, keingintahuan itu bisa membunuhmu. Tutup mata dan telinga dengan tingkah suami di luar sana, asalkan suami masih terus menafkahi. Tapi, apakah rumah tangga harus seperti itu?"Katanya mau ketemu papa, kok malah pulang lagi sih, Ma?" protes Fiona sambil mengucek-ucek mata."Papa sibuk, sayang. Nggak bisa diganggu. Kita pulang aja ya. Habis ini nyari makan gimana?" bujuk Kamila.Fiona berdecak. "Punya papa kayak nggak punya papa. Sibuk mulu padahal udah mau malem. Pabriknya apa nggak bisa ditinggal sih, Ma? Padahal kalau papa pulang, pabriknya nggak akan bangkrut."Kamila meringis mendengar ucapan putrinya yang cep

  • Karma Suami Mendua    3. Kejutan yang Gagal

    Hujan turun di sepanjang perjalanan saat mobil Harsa memasuki jalan tol. Kamila duduk di belakang, sedangkan Fiona duduk di depan. Anak itu selalu bersemangat jika sudah bertemu dengan Harsa. Berbeda sekali saat bertemu dengan ayahnya.Banyak orang yang mengira bahwa Fiona adalah anak Harsa, karena kedekatan hubungan mereka. Kamila sendiri tidak mempermasalahkan hal itu. Selama Putra di Surabaya, dia memang lebih sering merepotkan Harsa dengan masalah Fiona."Kamu udah menghubungi Putra kalau mau berkunjung?" Pertanyaan Harsa memecahkan lamunan Kamila. Tiba-tiba, dia teringat dengan saran Arin untuk tidak usah memberitahu Putra."Aku sengaja mau ngasih dia kejutan, Mas. Udah lama banget aku nggak berkunjung ke kos dia," jawab Kamila. Dalam hati, dia sudah tidak sabar untuk melepas rindu pada sang suami.Kamila mengecek ponsel dan tidak mendapati satu pun pesan dari Putra. Apakah suaminya sedang sangat sibuk? Sudah jam 4 sore, seharusnya sudah pulang, kan? Tidak biasanya pria itu tida

  • Karma Suami Mendua    2. Mulai Bimbang

    "Fio, sudah mama bilang, jangan bicara sembarangan ya, sayang," tegur Kamila dengan lembut.Meskipun dia ingin sekali bertanya tentang tante yang digambar oleh Fiona, Kamila memilih untuk menahan diri. Tante siapa? Apakah sepupunya? Dia tidak memiliki saudara perempuan, begitu juga dengan Putra. "Maaf, Ma. Apakah selama ini, Fiona sudah diberikan hp? Mungkin dari tayangan yang pernah dia lihat. Sebaiknya, dibatasi penggunaannya ya, Ma. Jangan sampai Fiona terkontaminasi oleh informasi-informasi berbahaya dari internet," ucap Bu Eka dengan wajah sungkan.Kamila langsung menggeleng-geleng. "Tidak pernah, Bu. Fiona tidak pernah melihat hp, kok. Sengaja saya larang agar dia bisa fokus belajar. Bermain pun masih menggunakan mainan asli, bukan di hp.""Aku pernah melihat hp punya papa. Ada tante. Biar papa nanti kebakar aja. Aku nggak suka. Mama, nanti sama Fiona aja ya nggak usah sama papa. Papa nanti jadi pocong.""Hush! Fiona!" Kamila membelalakkan mata sambil menutup mulut anak itu den

  • Karma Suami Mendua    1. Gambar Aneh

    "Jaman sekarang, masalah ranjang pun diposting di medsos.""Ih, masa sih? Kok nggak malu ya? Jadi nggak ada privasi. Persis seperti perselingkuhan. Malah diumbar di medsos."Kamila melirik dua walimurid yang sibuk bergosip, salah satunya menunjukkan layar ponsel dengan antusias.Dia sama sekali tidak tertarik. Kedatangannya ke sekolah TK anaknya adalah untuk menjemput, karena sebentar lagi waktunya pulang sekolah. Dia tidak terlalu dekat dengan walimurid lain, kecuali dengan dua orang yang sibuk bergosip itu."Mil, kamu nggak curiga suamimu macam-macam?" Arin, walimurid yang juga tetangga Kamila, menatap Kamila dengan sorot mata penasaran."Ah, menikah itu harus saling percaya. Dalam agama, nggak boleh terus mencurigai pasangan biar pernikahan langgeng," sahut Dewi, sahabat Kamila sejak SMA.Arin mencibir. "Aku dan mantan suamiku dulu juga saling percaya. Malah kami serumah, nggak LDM seperti Kamila. Tapi tetap saja, dia selingkuh dengan teman kerjanya di pabrik."Kamila tersenyum. "Y

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status