LOGIN"Udah dibilangin kok. Biar aku coba telepon dia dulu," ucap Harsa sambil menurunkan Fiona yang terbangun.
"Nggak usah lah, Mas. Biar kami pulang naik travel. Mas lanjutin aja kerjaan di sini." Entah kenapa Kamila benar-benar enggan, meskipun dia penasaran setengah mati. Dia bimbang, apakah harus mengikuti insting, atau mengabaikannya demi keutuhan rumah tangganya? Kata orang, keingintahuan itu bisa membunuhmu. Tutup mata dan telinga dengan tingkah suami di luar sana, asalkan suami masih terus menafkahi. Tapi, apakah rumah tangga harus seperti itu? "Katanya mau ketemu papa, kok malah pulang lagi sih, Ma?" protes Fiona sambil mengucek-ucek mata. "Papa sibuk, sayang. Nggak bisa diganggu. Kita pulang aja ya. Habis ini nyari makan gimana?" bujuk Kamila. Fiona berdecak. "Punya papa kayak nggak punya papa. Sibuk mulu padahal udah mau malem. Pabriknya apa nggak bisa ditinggal sih, Ma? Padahal kalau papa pulang, pabriknya nggak akan bangkrut." Kamila meringis mendengar ucapan putrinya yang ceplas-ceplos. Dia heran, kenapa anak TK jaman sekarang pintar sekali berbicara? "Ck, nggak diangkat. Ke mana sih dia?" gerutu Harsa dengan wajah kesal. Terdengar langkah kaki terburu-buru ketika Kamila menyuruh Fiona untuk masuk ke dalam mobil. "Mbak! Mbak, tunggu sebentar!" Kamila dan Harsa sontak menoleh. Seorang wanita berjilbab dan berkacamata, salah satu dari tiga wanita yang tadi menemui mereka, mendekati Kamila dengan nafas terengah-engah. "Ada apa ya, Mbak?" tanya Kamila heran. "Saya tahu di mana Putra pindah. Tapi..." Wanita itu melirik Fiona. "Apa nggak apa-apa kalau anak mbak mendengar ucapan saya nanti?" Kamila menoleh ke arah Harsa, lalu kembali melihat wanita itu. "Apa ada yang serius?" Wanita itu menggigit bibir bawahnya, terlihat tidak enak. "Anggap saja saya sedang membantu sesama wanita, apalagi kita saudara sesama muslim." *** Kamila menyiapkan hati akan kemungkinan terburuk setelah selesai makan dan sholat di masjid terdekat. Rina, wanita berhijab yang dulunya adalah tetangga kos Putra, mengotak-atik ponselnya. Sambil menunggu apa yang akan ditunjukkan oleh wanita itu, Kamila melihat Fiona yang sibuk menonton film kartun di ponsel Harsa agar tidak mendengar pembicaraan orang-orang dewasa. "Ini dia. Mereka udah lama menjadi pasangan kekasih. Kebetulan aku dan Putra menyewa kos di bulan yang sama, jadi aku tahu bagaimana dia selama di kosan." Kamila melihat sebuah foto yang berisi seluruh penghuni kos yang sedang makan-makan bersama di teras lantai dua. Jantung Kamila seperti berhenti berdetak saat melihat suaminya sedang menyuapi seorang perempuan. Foto itu diambil pada malam hari dan dari atas, sehingga wajah-wajahnya tidak terlalu jelas. Tapi, Kamila tentu sangat hafal dengan tubuh dan wajah suaminya. Dua orang itu terlihat sangat intim selayaknya pasangan kekasih. Ingin sekali Kamila menyangkal mati-matian bahwa bisa saja itu laki-laki yang mirip dengan suaminya. Tapi Rina bilang, yang bernama Putra di kos itu cuma satu. "Sejak kapan?" Suara Kamila bergetar. Dadanya terasa sesak karena degup jantung yang semakin kencang. "Empat tahun yang lalu." Air mata Kamila mengalir tanpa bisa dicegah. Itu artinya, suaminya selingkuh enam bulan setelah pindah ke Surabaya. Selama itu pula, suaminya tetap romantis dan perhatian. Sama sekali tidak menunjukkan adanya tanda-tanda yang mencurigakan. Tubuhnya mulai menggigil dan terasa panas. Tidak siap dengan informasi mengejutkan dan terlalu tiba-tiba. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa apa yang dialami oleh Arin, kini dialaminya juga. "Kami nggak tahu kalau dia sudah menikah. Dia mengaku masih single. Jadi ya, kami nggak mau ikut campur." Rina melongok ke depan. "Belok kiri, Mas. Rumahnya yang ada pagarnya warna coklat." Harsa mengikuti arahan dari Rina sampai akhirnya mereka sampai di depan sebuah rumah minimalis. Kamila menelan ludah yang terasa pahit di tenggorokannya. Mereka sudah sejauh itu sampai tinggal bersama? Apakah mereka diam-diam sudah menikah sirri? "Gila ini si Putra. Kalau ibu tahu, bisa habis dia," gumam Harsa dengan kening berkerut, terlihat sekali tidak suka. Kamila langsung membuka pintu mobil di sampingnya, sementara Harsa meminta Fiona untuk tetap di mobil. Sebelum Kamila keluar, Rina mencekal lengannya. "Mbak, yang tabah ya. Semoga masalahnya cepat selesai. Maaf, saya nggak bisa ikut masuk," ucap Rina dengan wajah iba. Kamila tersenyum, meski dadanya terasa sangat sakit dan matanya masih mengeluarkan air mata. "Kamu udah banyak membantu, Mbak. Makasih banyak." Tiba-tiba, Fiona menyeletuk. "Ma, aku ikut ya." Mata Kamila langsung membelalak. "Jangan, Nak! Kamu nggak boleh... Loh, Fio! Fiona!" "Iyuh, rumahnya jelek banget. Papa jadi miskin ya?" Kamila panik. Dia tidak mau anaknya menyaksikan perselingkuhan papanya. "Mbak!" Hampir saja Kamila mengumpat, tapi masih dia tahan. Amarahnya semakin bertambah setiap detiknya setelah mengetahui bahwa suaminya selingkuh. "Apa lagi, Mbak?" Kamila menahan diri agar tidak meledak, karena dia ingin sekali menghajar suami dan selingkuhannya saat itu juga. "Rebecca itu non muslim." Kamila menganga tak percaya. Tanpa menunggu lagi, dia melangkah dengan cepat menuju ke pintu rumah yang tertutup. Sempat dilihatnya Fiona mendekati pohon Bougenville dan mencabuti bunga-bunganya. Sungguh, Kamila tidak ingin membuat keributan. Apalagi ada Fiona di sini. Dia sudah berencana untuk membicarakan masalah itu secara baik-baik. Tapi, fakta bahwa suaminya ternyata selama ini berzina padahal katanya paham agama, membuat amarah Kamila langsung meledak. Mengabaikan kesopanan, Kamila langsung mendorong pintu yang ternyata tidak dikunci. Suara pintu membentur dinding membuat dua sejoli yang tengah bermesraan di sofa ruang tamu begitu kaget. Kamila menatap suaminya tak percaya. Lelaki yang selama ini dikiranya setia karena selalu romantis dan perhatian, ternyata berkhianat. Bahkan, mereka berzina di ruang tamu. Menuruti amarah yang menggebu-gebu, Kamila mendekati mereka berdua. "Dek, aku bisa jelaskan," ucap Putra sambil meraih kaos yang tergeletak di lantai. "Menjelaskan apa? Menjelaskan kalau kamu mau berzina dengan perempuan haram?" bentak Kamila dengan mata melotot marah. Dia melirik wanita selingkuhan suaminya yang sibuk membenahi gaunnya yang tersingkap. Sempat dilihatnya wanita itu tidak mengenakan pakaian dalam. Kamila menatap Putra dengan rasa jijik dan mual di perutnya. "Menjijikan sekali kamu, Mas!" "Dek, aku dan dia sudah menikah sirri..." "Nggak usah bohong kamu!" Kamila berjalan dengan cepat menghampiri wanita bernama Rebecca itu dan menarik kalung di lehernya sampai putus. "Kalian tidak seagama, jadi nggak bisa menikah. Di agama dia, nggak ada nikah sirri." "Aku..." "Laki-laki b*jingan!" Harsa langsung meninju wajah Putra begitu pria itu ikut masuk dan menyaksikan semuanya. Kamila kaget bukan main. Padahal, dia yang sebenarnya ingin meninju wajah Putra.Tangisan dua bayi menggema memenuhi ruang bersalin. Suara itu membuat Harsa yang sejak tadi menggenggam tangan Kamila, langsung menitikkan air mata. Siapa yang menyangka bahwa dia akan memiliki dua anak sekaligus, padahalnya sebelumnya divonis sperma lemah oleh dokter dan susah untuk memiliki anak?"Dua-duanya laki-laki, Pak."Dokter tersenyum sambil memperlihatkan kedua bayi mungil yang baru saja lahir.Harsa mematung. Tatapannya terpaku pada wajah kedua putranya. Hidung mungil, alis yang tegas, bentuk bibir, dan lesung pipi samar yang muncul ketika salah satu bayi meringis.Dadanya berdebar semakin kencang. Dua bayi tampan itu adalah anaknya. Darah dagingnya."Dek, wajah mereka..."Air matanya jatuh tanpa bisa dibendung. Hatinya terasa begitu penuh, sampai-sampai rasanya ingin meledak."Persis..."Kamila yang masih sangat lemah, menoleh dengan pelan ke arah Harsa. Keningnya mengernyit. "Mas? Kenapa?"Harsa menggenggam tangan istrinya. "Sayang... mereka sama persis seperti anak-anak
Aroma kuah bakso memenuhi ruang keluarga sejak siang.Kamila duduk di sofa sambil memangku semangkuk bakso lengkap dengan tahu, mi, dan kerupuk pangsit. Sesekali ia menyeruput kuahnya, lalu mendesah nikmat. Rasanya benar-benar seperti yang dia harapkan."Maas! Teh lemonnya sudah belum?" teriaknya."Sebentar, Sayang. Tinggal ngasih es batu!" sahut Harsa dari dapur.Sejak pulang dari rumah sakit, Harsa memang selalu siaga dan menuruti segala kemauan Kamila saat itu juga. Kebahagiaan itu membuat Harsa rela melakukan apa pun demi dirinya, dan pria itu sama sekali tidak mengeluh. Urusan toko bangunan untuk sementara diserahkan sepenuhnya pada Anton dan Faisal.Di ruang keluarga, Fiona yang baru pulang dari sekolah, sedang menikmati sepotong lapis kukus."Enak banget, Ma. Belinya di mana?" tanya Fiona sambil mengunyah."Di kota tadi. Sekalian pulang dari rumah sakit."Fiona menatap makanan yang begitu banyak di atas meja. "Ma, makanan kita banyak banget. Kayak warung." Kamila tertawa kecil
"Eh, spermanya lemah, Bu. Suami saya kapan hari periksa di rumah sakit lain. Kami niatnya ke sini tadi itu sebenarnya mau ke poli Andrologi. Mau periksa ulang," jawab Kamila terburu-buru, lalu memelototi suaminya yang langsung salah tingkah. "Oh..." Wanita seumuran Bu Aminah itu tertawa, begitu juga dengan perawat yang kembali melanjutkan kegiatannya mengoleskan gel ke perut Kamila. "Hasil analisa dokter memang terkadang bisa salah, Pak. Bapak sudah benar mau mengeceknya lagi di rumah sakit lainnya sebagai referensi. Tapi kalau hasilnya sudah ada, ya tidak usah periksa lagi toh." Dokter kandungan itu menempelkan alat USG ke perut Kamila, lalu menggeser-gesernya. "Nah, itu sudah kelihatan kantong janinnya. Usianya kalau di layar ini sudah 7 minggu malah."Mata Kamila membesar ketika melihat bulatan kecil di layar monitor. Hatinya langsung meleleh. Dia melihat suaminya yang ternyata masih kebingungan. "Tapi istri saya baru saja datang bulan, Bu. Kok bisa hamil? Apa nggak keguguran it
Harsa menatap tak enak pada dokter Andrologi di hadapannya. Setelah istrinya buru-buru keluar sambil menutup hidung, dia langsung berdiri. "Maafkan istri saya, Dok. Dari tadi pagi masuk angin. Mencium bau apapun langsung muntah. Padahal sudah saya larang untuk ikut," kata Harsa dengan terburu-buru. Bukannya tersinggung, dokter itu malah tertawa. Pria berusia 45 tahun itu ikut berdiri."Sepertinya yang perlu diperiksa justru istri anda. Silahkan daftar ke poli kandungan. Bawa istri anda ke sana." Harsa langsung bengong. "Istri saya kenapa, Dok? Ada masalah dengan rahimnya? Dia cuma masuk angin. Apa nggak sebaiknya dibawa ke poli umum saja? Mungkin maag-nya kumat." Dokter itu menggeleng. Pria itu mendekati Harsa dan menggiringnya keluar. "Sudah, bawa saja ke poli kandungan." "Tapi saya belum periksa..." "Nggak usah periksa. Nggak perlu. Selamat ya." Dokter itu menepuk pundak Harsa sambil tersenyum, sebelum meminta perawat untuk memanggil nomor antrian berikutnya. Harsa berdiri de
"Udah, nenek tenang aja. Mama saya udah nggak ada dendam sama anaknya nenek. Mama saya kan baik. Saya juga udah punya papa baru, jadi mama udah nggak marah sama papa Putra dan Tante." Fiona tiba-tiba menyeletuk. Mereka semua terdiam. Bu Maria terlihat gelagapan. Tapi kemudian, wanita itu sedikit membungkukkan tubuhnya dan memegang kepala Fiona. Kedua mata Bu Maria berkaca-kaca, dan setetes air mata meluncur di pipinya yang keriput. "Pantaslah kalau ayahnya Rebecca bilang sebelum meninggal, kalian seperti malaikat. Kalian... Kalian mau memaafkan kesalahan anak ibu yang keterlaluan. Semoga Tuhan Yesus selalu memberkati kalian. Aku berdoa dengan setulus hati, semoga kalian masuk surga," ucap Bu Maria sambil berlinang air mata, lalu menegakkan tubuhnya dan memegang tangan Kamila yang ikut menangis. "Perbuatan Rebecca dan Putra memang sudah melewati batas. Tapi, kamu dan anakmu tidak dendam. Aku...aku kagum pada sikapmu, Nak. Pantas saja kamu terlihat bercahaya," lanjut Bu Maria. "Boleh
Sudah satu menit berlalu sejak wanita yang kini terlihat menyedihkan itu duduk di hadapan Kamila. Tidak ada lagi jejak kesombongan di wajah wanita itu. Hanya ada rasa lelah dan kesakitan. "Putra sudah lama meninggal. Sekitar dua tahun yang lalu." Rebecca mendongak dengan mata membelalak. Tubuhnya terlihat sangat kurus dan kulitnya begitu pucat. "Ap-apa?" Kamila mengangguk. "Dia...gagal bertahan." Tidak mungkin dia menceritakan betapa menderitanya mantan suaminya gara-gara tidak kunjung mendapatkan maafnya. Kedengarannya begitu angkuh dan jumawa. Tiba-tiba, terdengar tawa kecil dari Rebecca, membuat Kamila mengernyit. Apa ada yang lucu dari perkataannya? "Dia memang benar-benar mencintai kamu." Kamila mendengus, lalu menggeleng. "Kamu salah. Dia mencintai Delina. Mereka bahkan punya 2 anak di belakangku." Rebecca mungkin terlihat mengerikan dengan kondisinya sekarang. Rambut sangat tipis, kulitnya keriput, dan tubuhnya yang dulu kurus terlihat semakin kurus saja. Seperti mayat
"Fiona, sini peluk papa, Nak." Putra dengan tanpa merasa bersalah, mendekati Fiona yang hendak menyusul Kamila.Sikap istrinya membuat Putra lega bukan main. Istrinya ternyata sangat dewasa. Tidak seperti perempuan lain yang mengamuk dan berbuat kekerasan, Kamila justru bersikap tenang. Dia lega wa
Hal yang tidak Putra tahu adalah, wanita itu bisa menjadi racun yang mematikan jika dia sengaja disakiti. Dia bisa lebih licik dari iblis dan lebih jahat dari para kriminal. Selama tujuh tahun menikah, kesetiaan Kamila dibalas dengan pengkhianatan. Rasa sakit yang tak terkira harus dibayar. Tidak
Kamila menatap layar televisi yang gelap di hadapannya dengan pandangan kosong. Rasa sakit di dadanya teramat besar, sampai-sampai dia merasa seperti ditusuk oleh benda tajam. Sakit, tapi tidak tampak."Apa kurangku sampai kamu selingkuh?" Mati-matian Kamila meredakan emosi di dadanya, tapi tetap
Hujan turun di sepanjang perjalanan saat mobil Harsa memasuki jalan tol. Kamila duduk di belakang, sedangkan Fiona duduk di depan. Anak itu selalu bersemangat jika sudah bertemu dengan Harsa. Berbeda sekali saat bertemu dengan ayahnya.Banyak orang yang mengira bahwa Fiona adalah anak Harsa, karena







