LOGINKamila menatap layar televisi yang gelap di hadapannya dengan pandangan kosong. Rasa sakit di dadanya teramat besar, sampai-sampai dia merasa seperti ditusuk oleh benda tajam. Sakit, tapi tidak tampak.
"Apa kurangku sampai kamu selingkuh?" Mati-matian Kamila meredakan emosi di dadanya, tapi tetap saja kedua matanya terus memproduksi cairan yang kini kembali luruh. Seharusnya, dia menyerang Rebecca dengan membabi buta seperti layaknya istri sah yang memergoki suaminya selingkuh. Tapi tidak. Kamila selalu memunculkan wajah Fiona setiap kali dia hendak kehilangan kendali. Bagaimana segala sesuatu akan berbalik padanya, dan bisa berimbas pada anak cucunya kelak. Kamila tidak mau Fiona yang terkena imbasnya. Seperti dia yang berakhir di penjara karena kasus penganiayaan misalnya. Kamila tidak bodoh. Dia pernah kuliah, dan dia suka sekali mengikuti berita apapun di media sosial. Menyerang pelakor tidak akan berakhir aman seperti yang selama ini digambarkan dalam cerita atau film fiksi. "Aku sudah melakukan semuanya, termasuk menjaga tubuhku biar kamu nggak bosan. Kenapa kamu malah mencari yang seperti dia?" Kamila pandai memasak, merawat diri, menjaga tubuh dan kulitnya agar tetap bagus, pintar dandan, bahkan bisa membuat suaminya puas di atas ranjang. Tapi kenapa Putra malah berselingkuh dengan perempuan seperti Rebecca? "Berkali-kali aku memaksa untuk ikut kamu ke sini, tapi kamu malah menolak dengan alasan macam-macam. Empat tahun, kan? Apa selama empat tahun itu, kamu terus berzina?" Putra menunduk. Sesekali meringis karena bibirnya robek dan masih mengeluarkan darah akibat dihajar oleh Harsa. "Maaf." "Coba jujur, Mas. Apa kurangku selama ini? Kita sudah menikah, bukan lagi pacaran. Kalau ada yang nggak cocok, bilang langsung. Biar aku bisa memperbaiki. Jangan malah mencari pelarian di luar sana. Kita menikah itu bukan untuk main-main, Mas. Kamu sendiri lebih paham soal itu." Kamila menatap Putra yang duduk di sampingnya dengan kecewa. Pria yang selama ini terlihat agamis dan pernah mondok di pesantren, nyatanya masih dengan sengaja melanggar larangan agama. "Aku khilaf." Kamila berdecak, lalu tertawa sinis. "Khilaf itu kalau tidak tahu dan tidak sengaja. Sedangkan kamu? Kamu melakukannya dengan sadar dan sengaja, Mas. Kamu tahu hukum berzina itu apa, dan malah dengan entengnya melanggar selama bertahun-tahun. Karena apa sih? Kalau kamu butuh melampiaskan nafsu, ada aku mas. Aku wanita yang halal untuk kamu. Tapi kenapa?" "Karena kamu terlalu sempurna. Aku bosan." Jawaban Putra membuat Kamila tercengang, sampai-sampai dia hanya bisa mematung. "Aku butuh sensasi baru. Aku ingin tantangan. Kamu bisa semuanya, dan aku ingin wanita yang tidak sempurna untuk membuatku merasa dibutuhkan. Aku ingin merasakan orang yang tidak bisa aku miliki," jelas Putra dengan menggebu-gebu, tapi kemudian pria itu menunduk. Kamila menatap suaminya dengan kening berkerut. Benar-benar tak mengerti dengan alasan yang tidak masuk akal itu. Lagi-lagi dia teringat dengan ucapan Arin. Laki-laki akan menggunakan alasan sekecil apapun untuk berselingkuh, dan sekarang dia mengalaminya sendiri. "Aku nggak paham." Kamila menggeleng-geleng. "Jadi, kamu lebih memilih untuk berzina dengan Rebecca yang nggak akan pernah bisa kamu nikahi? Kalau kamu menikah siri dengan dia, masih bisa dimaklumi. Tapi ini..." "Rebecca bisa membuatku nyaman dan bersemangat. Aku merasakan sensasi yang berbeda saat bersama dia..." "Itu karena dia haram, Mas! Kamu seharusnya tahu itu! Berhubungan badan dengan wanita yang haram akan terasa nikmat, karena memang itu tipu daya setan Dasim! Kenapa hal-hal seperti ini saja kamu nggak paham?" teriak Kamila dengan mata melotot dan nafas terengah-engah. Sekarang dia paham, kenapa Arin terus bersikap defensif terhadap kaum pria. Makhluk yang satu itu memang aneh. Saat istri kurang menarik, suami mencari perempuan yang lebih cantik. Saat istri sudah cantik dan bisa semuanya, suami masih juga tidak puas dan mencari perempuan yang kurang menarik. Memang, manusia itu adalah makhluk yang tidak pandai bersyukur. Kamila menarik nafas panjang dan mendongak. Bingung harus melakukan apa setelah ini. Apakah dia akan menuntut cerai? Bagaimana dengan Fiona? "Kalau kamu sudah tidak menginginkan aku lagi, lebih baik kita bercerai saja." Meskipun rasa cinta itu masih ada, Kamila harus realistis. "Jangan berselingkuh dan menodai ikatan suci pernikahan. Sama saja kamu meremehkan Allah dan lebih memilih untuk terlena dengan tipu daya iblis." Tiba-tiba, Putra menarik tangannya. Refleks Kamila menepis dan melihat pria itu dengan wajah jijik. Dia tidak mempedulikan sorot terluka di mata suaminya. "Aku nggak mau berpisah. Aku cuma khilaf, Dek," ucap Putra dengan wajah panik. "Kalau begitu, tinggalkan perempuan itu." Putra terdiam, dan itu membuat Kamila mendengkus sinis. Dia mengusap pipinya yang basah. Rupanya, suaminya sedang tergila-gila dengan wanita itu. Wanita yang entah apa kelebihannya. "Nggak bisa? Kamu gila memang, Mas! Kamu nggak memikirkan perasaanku sama sekali yang sudah menemanimu dari nol. Setidaknya, pikirkan juga perasaan Fiona. Pantas saja selama empat tahun ini, kamu sering mengabaikan anakmu sendiri. Ternyata demi perempuan lain." Kamila buru-buru berdiri karena sudah muak duduk satu sofa dengan pria itu. Pria yang sudah berkhianat dan menipu dua keluarga besar hanya demi nafsu syahwat semata. Sekarang dia paham, kenapa Fiona tidak begitu antusias setiap kali ayahnya pulang atau video call. Anak kecil tidak bisa dibohongi. "Dek! Dek, tunggu! Aku janji akan meninggalkan Rebecca. Jangan minta cerai." Putra mengejarnya dan meraih tangan Kamila. "Kamu berharap aku masih mau sama kamu setelah kamu meniduri perempuan lain? Jangan mimpi kamu, Mas!" Kamila menepis tangan Putra dengan kasar. Dia mengusap-usap bekas pegangan Putra dengan jijik, dan itu dilihat oleh pria itu. "Aku mencintai kamu, sayang. Aku cuma main-main sama Becca. Kalau perlu, aku akan minta pindah ke kota terdekat biar bisa pulang pergi dan kita bisa tinggal serumah setiap hari." Kamila menatap pria itu dengan bimbang. Apa yang harus dia lakukan? Jika dia menggugat cerai, bagaimana dengan Fiona? Bagaimana dengan biaya hidup mereka sehari-hari jika mereka bercerai? Bagaimana dengan pandangan masyarakat tentang dirinya? Status janda masih dipandang negatif di negeri ini. Tapi, dia sudah tidak sanggup lagi untuk tidur satu ranjang dengan pria itu. Tidak setelah dia melihat bagaimana suaminya hampir berhubungan badan dengan wanita lain di depan matanya sendiri. Hatinya terluka dan tidak terima. Dia tidak mau memiliki suami yang sudah dinikmati oleh wanita lain. "Dek? Aku akan mengurus perpindahan kerja besok. Aku janji. Nggak akan lagi tinggal dengan Rebecca. Lagipula, kami baru tinggal serumah selama 6 bulan." Kamila hanya diam. Dia berjalan menuju ke satu-satunya kamar di rumah itu. Hatinya terasa perih. Mereka tidur seranjang selama 6 bulan ini. Belum termasuk di lokasi lain. Tapi dia mengabaikan rasa sakit yang semakin lama semakin menggerogoti hatinya. Dengan dada naik turun, Kamila membuka lemari, laci, tas, kantong baju dan celana, apapun itu dengan tergesa-gesa. "Dek! Dek, kamu ngapain?" tanya Putra nada panik. Kamila membuang sekotak pengaman dengan perut mual dan dada yang terasa semakin nyeri. Ternyata, diselingkuhi rasanya sesakit ini. Tangannya gemetar, tapi dia terus mencari. "Dek?" Putra mencekal lengan Kamila, tapi dia sudah menemukan apa yang dia cari. "Kamu mencari apa?" Kamila berbalik sambil memasukkan apa yang dia cari ke dalam tas selempang dengan cepat. "Kamu nggak usah pindah, Mas. Tetap kerja di sini aja." "Hah? Kamu serius, dek?"Hal yang tidak Putra tahu adalah, wanita itu bisa menjadi racun yang mematikan jika dia sengaja disakiti. Dia bisa lebih licik dari iblis dan lebih jahat dari para kriminal.Selama tujuh tahun menikah, kesetiaan Kamila dibalas dengan pengkhianatan. Rasa sakit yang tak terkira harus dibayar. Tidak harus dengan cara kekerasan. Tidak. Kamila dikuliahkan oleh ayahnya bukan untuk menjadi perempuan lemah dan manja yang gampang ditindas oleh laki-laki."Nggak mungkin aku memaksa kamu untuk pindah kerja, sedangkan karirmu sedang berada di puncak," ujar Kamila sambil tersenyum, berusaha untuk terlihat tenang. Meski tangannya begitu gatal untuk mencakar wajah memuakkan pria itu."Dek, kamu benar-benar serius, kan?" Putra terlihat sekali bahagia. Kedua mata itu berbinar dan senyumnya merekah. Hampir saja Putra memeluk Kamila, tapi dia langsung menghindar. "Kamu memang wanita yang sangat dewasa."Kamila mengangguk. "Karena aku yakin, semua akan ada balasannya, Mas. Kamu tahu pasti dalam agama gim
Kamila menatap layar televisi yang gelap di hadapannya dengan pandangan kosong. Rasa sakit di dadanya teramat besar, sampai-sampai dia merasa seperti ditusuk oleh benda tajam. Sakit, tapi tidak tampak."Apa kurangku sampai kamu selingkuh?" Mati-matian Kamila meredakan emosi di dadanya, tapi tetap saja kedua matanya terus memproduksi cairan yang kini kembali luruh. Seharusnya, dia menyerang Rebecca dengan membabi buta seperti layaknya istri sah yang memergoki suaminya selingkuh. Tapi tidak.Kamila selalu memunculkan wajah Fiona setiap kali dia hendak kehilangan kendali. Bagaimana segala sesuatu akan berbalik padanya, dan bisa berimbas pada anak cucunya kelak. Kamila tidak mau Fiona yang terkena imbasnya.Seperti dia yang berakhir di penjara karena kasus penganiayaan misalnya. Kamila tidak bodoh. Dia pernah kuliah, dan dia suka sekali mengikuti berita apapun di media sosial. Menyerang pelakor tidak akan berakhir aman seperti yang selama ini digambarkan dalam cerita atau film fiksi."Ak
"Udah dibilangin kok. Biar aku coba telepon dia dulu," ucap Harsa sambil menurunkan Fiona yang terbangun."Nggak usah lah, Mas. Biar kami pulang naik travel. Mas lanjutin aja kerjaan di sini." Entah kenapa Kamila benar-benar enggan, meskipun dia penasaran setengah mati.Dia bimbang, apakah harus mengikuti insting, atau mengabaikannya demi keutuhan rumah tangganya? Kata orang, keingintahuan itu bisa membunuhmu. Tutup mata dan telinga dengan tingkah suami di luar sana, asalkan suami masih terus menafkahi. Tapi, apakah rumah tangga harus seperti itu?"Katanya mau ketemu papa, kok malah pulang lagi sih, Ma?" protes Fiona sambil mengucek-ucek mata."Papa sibuk, sayang. Nggak bisa diganggu. Kita pulang aja ya. Habis ini nyari makan gimana?" bujuk Kamila.Fiona berdecak. "Punya papa kayak nggak punya papa. Sibuk mulu padahal udah mau malem. Pabriknya apa nggak bisa ditinggal sih, Ma? Padahal kalau papa pulang, pabriknya nggak akan bangkrut."Kamila meringis mendengar ucapan putrinya yang cep
Hujan turun di sepanjang perjalanan saat mobil Harsa memasuki jalan tol. Kamila duduk di belakang, sedangkan Fiona duduk di depan. Anak itu selalu bersemangat jika sudah bertemu dengan Harsa. Berbeda sekali saat bertemu dengan ayahnya.Banyak orang yang mengira bahwa Fiona adalah anak Harsa, karena kedekatan hubungan mereka. Kamila sendiri tidak mempermasalahkan hal itu. Selama Putra di Surabaya, dia memang lebih sering merepotkan Harsa dengan masalah Fiona."Kamu udah menghubungi Putra kalau mau berkunjung?" Pertanyaan Harsa memecahkan lamunan Kamila. Tiba-tiba, dia teringat dengan saran Arin untuk tidak usah memberitahu Putra."Aku sengaja mau ngasih dia kejutan, Mas. Udah lama banget aku nggak berkunjung ke kos dia," jawab Kamila. Dalam hati, dia sudah tidak sabar untuk melepas rindu pada sang suami.Kamila mengecek ponsel dan tidak mendapati satu pun pesan dari Putra. Apakah suaminya sedang sangat sibuk? Sudah jam 4 sore, seharusnya sudah pulang, kan? Tidak biasanya pria itu tida
"Fio, sudah mama bilang, jangan bicara sembarangan ya, sayang," tegur Kamila dengan lembut.Meskipun dia ingin sekali bertanya tentang tante yang digambar oleh Fiona, Kamila memilih untuk menahan diri. Tante siapa? Apakah sepupunya? Dia tidak memiliki saudara perempuan, begitu juga dengan Putra. "Maaf, Ma. Apakah selama ini, Fiona sudah diberikan hp? Mungkin dari tayangan yang pernah dia lihat. Sebaiknya, dibatasi penggunaannya ya, Ma. Jangan sampai Fiona terkontaminasi oleh informasi-informasi berbahaya dari internet," ucap Bu Eka dengan wajah sungkan.Kamila langsung menggeleng-geleng. "Tidak pernah, Bu. Fiona tidak pernah melihat hp, kok. Sengaja saya larang agar dia bisa fokus belajar. Bermain pun masih menggunakan mainan asli, bukan di hp.""Aku pernah melihat hp punya papa. Ada tante. Biar papa nanti kebakar aja. Aku nggak suka. Mama, nanti sama Fiona aja ya nggak usah sama papa. Papa nanti jadi pocong.""Hush! Fiona!" Kamila membelalakkan mata sambil menutup mulut anak itu den
"Jaman sekarang, masalah ranjang pun diposting di medsos.""Ih, masa sih? Kok nggak malu ya? Jadi nggak ada privasi. Persis seperti perselingkuhan. Malah diumbar di medsos."Kamila melirik dua walimurid yang sibuk bergosip, salah satunya menunjukkan layar ponsel dengan antusias.Dia sama sekali tidak tertarik. Kedatangannya ke sekolah TK anaknya adalah untuk menjemput, karena sebentar lagi waktunya pulang sekolah. Dia tidak terlalu dekat dengan walimurid lain, kecuali dengan dua orang yang sibuk bergosip itu."Mil, kamu nggak curiga suamimu macam-macam?" Arin, walimurid yang juga tetangga Kamila, menatap Kamila dengan sorot mata penasaran."Ah, menikah itu harus saling percaya. Dalam agama, nggak boleh terus mencurigai pasangan biar pernikahan langgeng," sahut Dewi, sahabat Kamila sejak SMA.Arin mencibir. "Aku dan mantan suamiku dulu juga saling percaya. Malah kami serumah, nggak LDM seperti Kamila. Tapi tetap saja, dia selingkuh dengan teman kerjanya di pabrik."Kamila tersenyum. "Y







