Share

5. Konfrontasi

Author: Alya Feliz
last update publish date: 2026-02-18 09:24:24

Kamila menatap layar televisi yang gelap di hadapannya dengan pandangan kosong. Rasa sakit di dadanya teramat besar, sampai-sampai dia merasa seperti ditusuk oleh benda tajam. Sakit, tapi tidak tampak.

"Apa kurangku sampai kamu selingkuh?"

Mati-matian Kamila meredakan emosi di dadanya, tapi tetap saja kedua matanya terus memproduksi cairan yang kini kembali luruh. Seharusnya, dia menyerang Rebecca dengan membabi buta seperti layaknya istri sah yang memergoki suaminya selingkuh. Tapi tidak.

Kamila selalu memunculkan wajah Fiona setiap kali dia hendak kehilangan kendali. Bagaimana segala sesuatu akan berbalik padanya, dan bisa berimbas pada anak cucunya kelak. Kamila tidak mau Fiona yang terkena imbasnya.

Seperti dia yang berakhir di penjara karena kasus penganiayaan misalnya. Kamila tidak bodoh. Dia pernah kuliah, dan dia suka sekali mengikuti berita apapun di media sosial. Menyerang pelakor tidak akan berakhir aman seperti yang selama ini digambarkan dalam cerita atau film fiksi.

"Aku sudah melakukan semuanya, termasuk menjaga tubuhku biar kamu nggak bosan. Kenapa kamu malah mencari yang seperti dia?"

Kamila pandai memasak, merawat diri, menjaga tubuh dan kulitnya agar tetap bagus, pintar dandan, bahkan bisa membuat suaminya puas di atas ranjang. Tapi kenapa Putra malah berselingkuh dengan perempuan seperti Rebecca?

"Berkali-kali aku memaksa untuk ikut kamu ke sini, tapi kamu malah menolak dengan alasan macam-macam. Empat tahun, kan? Apa selama empat tahun itu, kamu terus berzina?"

Putra menunduk. Sesekali meringis karena bibirnya robek dan masih mengeluarkan darah akibat dihajar oleh Harsa.

"Maaf."

"Coba jujur, Mas. Apa kurangku selama ini? Kita sudah menikah, bukan lagi pacaran. Kalau ada yang nggak cocok, bilang langsung. Biar aku bisa memperbaiki. Jangan malah mencari pelarian di luar sana. Kita menikah itu bukan untuk main-main, Mas. Kamu sendiri lebih paham soal itu."

Kamila menatap Putra yang duduk di sampingnya dengan kecewa. Pria yang selama ini terlihat agamis dan pernah mondok di pesantren, nyatanya masih dengan sengaja melanggar larangan agama.

"Aku khilaf."

Kamila berdecak, lalu tertawa sinis. "Khilaf itu kalau tidak tahu dan tidak sengaja. Sedangkan kamu? Kamu melakukannya dengan sadar dan sengaja, Mas. Kamu tahu hukum berzina itu apa, dan malah dengan entengnya melanggar selama bertahun-tahun. Karena apa sih? Kalau kamu butuh melampiaskan nafsu, ada aku mas. Aku wanita yang halal untuk kamu. Tapi kenapa?"

"Karena kamu terlalu sempurna. Aku bosan."

Jawaban Putra membuat Kamila tercengang, sampai-sampai dia hanya bisa mematung.

"Aku butuh sensasi baru. Aku ingin tantangan. Kamu bisa semuanya, dan aku ingin wanita yang tidak sempurna untuk membuatku merasa dibutuhkan. Aku ingin merasakan orang yang tidak bisa aku miliki," jelas Putra dengan menggebu-gebu, tapi kemudian pria itu menunduk.

Kamila menatap suaminya dengan kening berkerut. Benar-benar tak mengerti dengan alasan yang tidak masuk akal itu. Lagi-lagi dia teringat dengan ucapan Arin. Laki-laki akan menggunakan alasan sekecil apapun untuk berselingkuh, dan sekarang dia mengalaminya sendiri.

"Aku nggak paham." Kamila menggeleng-geleng. "Jadi, kamu lebih memilih untuk berzina dengan Rebecca yang nggak akan pernah bisa kamu nikahi? Kalau kamu menikah siri dengan dia, masih bisa dimaklumi. Tapi ini..."

"Rebecca bisa membuatku nyaman dan bersemangat. Aku merasakan sensasi yang berbeda saat bersama dia..."

"Itu karena dia haram, Mas! Kamu seharusnya tahu itu! Berhubungan badan dengan wanita yang haram akan terasa nikmat, karena memang itu tipu daya setan Dasim! Kenapa hal-hal seperti ini saja kamu nggak paham?" teriak Kamila dengan mata melotot dan nafas terengah-engah.

Sekarang dia paham, kenapa Arin terus bersikap defensif terhadap kaum pria. Makhluk yang satu itu memang aneh. Saat istri kurang menarik, suami mencari perempuan yang lebih cantik. Saat istri sudah cantik dan bisa semuanya, suami masih juga tidak puas dan mencari perempuan yang kurang menarik.

Memang, manusia itu adalah makhluk yang tidak pandai bersyukur.

Kamila menarik nafas panjang dan mendongak. Bingung harus melakukan apa setelah ini. Apakah dia akan menuntut cerai? Bagaimana dengan Fiona?

"Kalau kamu sudah tidak menginginkan aku lagi, lebih baik kita bercerai saja." Meskipun rasa cinta itu masih ada, Kamila harus realistis. "Jangan berselingkuh dan menodai ikatan suci pernikahan. Sama saja kamu meremehkan Allah dan lebih memilih untuk terlena dengan tipu daya iblis."

Tiba-tiba, Putra menarik tangannya. Refleks Kamila menepis dan melihat pria itu dengan wajah jijik. Dia tidak mempedulikan sorot terluka di mata suaminya.

"Aku nggak mau berpisah. Aku cuma khilaf, Dek," ucap Putra dengan wajah panik.

"Kalau begitu, tinggalkan perempuan itu."

Putra terdiam, dan itu membuat Kamila mendengkus sinis. Dia mengusap pipinya yang basah. Rupanya, suaminya sedang tergila-gila dengan wanita itu. Wanita yang entah apa kelebihannya.

"Nggak bisa? Kamu gila memang, Mas! Kamu nggak memikirkan perasaanku sama sekali yang sudah menemanimu dari nol. Setidaknya, pikirkan juga perasaan Fiona. Pantas saja selama empat tahun ini, kamu sering mengabaikan anakmu sendiri. Ternyata demi perempuan lain."

Kamila buru-buru berdiri karena sudah muak duduk satu sofa dengan pria itu. Pria yang sudah berkhianat dan menipu dua keluarga besar hanya demi nafsu syahwat semata. Sekarang dia paham, kenapa Fiona tidak begitu antusias setiap kali ayahnya pulang atau video call. Anak kecil tidak bisa dibohongi.

"Dek! Dek, tunggu! Aku janji akan meninggalkan Rebecca. Jangan minta cerai." Putra mengejarnya dan meraih tangan Kamila.

"Kamu berharap aku masih mau sama kamu setelah kamu meniduri perempuan lain? Jangan mimpi kamu, Mas!" Kamila menepis tangan Putra dengan kasar. Dia mengusap-usap bekas pegangan Putra dengan jijik, dan itu dilihat oleh pria itu.

"Aku mencintai kamu, sayang. Aku cuma main-main sama Becca. Kalau perlu, aku akan minta pindah ke kota terdekat biar bisa pulang pergi dan kita bisa tinggal serumah setiap hari."

Kamila menatap pria itu dengan bimbang. Apa yang harus dia lakukan? Jika dia menggugat cerai, bagaimana dengan Fiona? Bagaimana dengan biaya hidup mereka sehari-hari jika mereka bercerai? Bagaimana dengan pandangan masyarakat tentang dirinya? Status janda masih dipandang negatif di negeri ini.

Tapi, dia sudah tidak sanggup lagi untuk tidur satu ranjang dengan pria itu. Tidak setelah dia melihat bagaimana suaminya hampir berhubungan badan dengan wanita lain di depan matanya sendiri. Hatinya terluka dan tidak terima. Dia tidak mau memiliki suami yang sudah dinikmati oleh wanita lain.

"Dek? Aku akan mengurus perpindahan kerja besok. Aku janji. Nggak akan lagi tinggal dengan Rebecca. Lagipula, kami baru tinggal serumah selama 6 bulan."

Kamila hanya diam. Dia berjalan menuju ke satu-satunya kamar di rumah itu. Hatinya terasa perih. Mereka tidur seranjang selama 6 bulan ini. Belum termasuk di lokasi lain. Tapi dia mengabaikan rasa sakit yang semakin lama semakin menggerogoti hatinya.

Dengan dada naik turun, Kamila membuka lemari, laci, tas, kantong baju dan celana, apapun itu dengan tergesa-gesa.

"Dek! Dek, kamu ngapain?" tanya Putra nada panik.

Kamila membuang sekotak pengaman dengan perut mual dan dada yang terasa semakin nyeri. Ternyata, diselingkuhi rasanya sesakit ini. Tangannya gemetar, tapi dia terus mencari.

"Dek?" Putra mencekal lengan Kamila, tapi dia sudah menemukan apa yang dia cari. "Kamu mencari apa?"

Kamila berbalik sambil memasukkan apa yang dia cari ke dalam tas selempang dengan cepat.

"Kamu nggak usah pindah, Mas. Tetap kerja di sini aja."

"Hah? Kamu serius, dek?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Karma Suami Mendua    87. Karyawan Kurang Ajar

    Fiona asyik bermain di sekitar material bangunan ketika seorang perempuan muda tiba-tiba menghampirinya. Dia sempat mendongak, tapi kemudian kembali asyik pada kegiatannya. "Heh! Kamu ngapain di sini? Ini bukan tempat untuk bermain! Pergi sana! Ibunya ke mana sih?" gerutu perempuan itu. Fiona masih tidak menyahut. Tapi perempuan itu malah mendorong Fiona hingga jatuh terduduk. "Tante kenapa jahat banget? Tante siapa sih?" tanya Fiona tak suka. Perempuan itu mewarnai rambutnya pirang. Terlihat tidak cocok sekali dengan wajahnya yang kampungan. "Rambut Tante nggak cocok. Kelihatan ndeso. Norak. Tante ke sini mau godain cowok ya? Memangnya ada yang mau?" Fiona sudah kelas 2 SD sekarang. Lebih paham dengan sekitarnya. "Heh! Dasar bocah kurang ajar! Mulut tuh dijaga!" bentak perempuan itu. "Sana minggir! Emakmu mana? Tolol banget ninggalin anaknya di sini." Mendengar perempuan itu menghina mamanya, Fiona langsung berdiri. "Jangan menghina mamaku ya. Mamaku jauh lebih cantik dari ka

  • Karma Suami Mendua    86. Tetangga Julid

    "Oh, ini yang kemarin nikah sama karyawan toko bangunan dekat SMA itu ya? Kok pakaiannya masih bagus-bagus, sih? Jangan-jangan suaminya nilep duit bosnya. Kayak mantan suaminya yang mati itu lho." Kamila sempat tertegun begitu keluar dari mobil dan mendengar celetukan ibu-ibu yang sedang berkumpul di depan salah satu rumah."Ganteng sih suaminya yang sekarang. Tapi kok kere? Dikira bisa kenyang cuma dengan wajah ganteng kali ya?" "Cih! Makan tuh ganteng! Perempuan kok bodoh. Mau-mau aja sama pekerja rendahan. Duitnya mana cukup buat makan?" "Ibu-ibu! Panas-panas begini kok malah ngerumpi? Suaminya udah dimasakin belum di rumah? Nih, orang yang kata kalian kere, mau bagi-bagi makanan. Mau nggak? Kalian kan penyuka gratisan!" teriak Silvi yang entah sejak kapan datang.Kamila kaget, begitu juga dengan ibu-ibu yang ngerumpi tidak jauh dari rumah Bu Karlina. Kamila membiarkan Silvi mengambil beberapa kotak makanan yang dia letakkan di bagasi mobil barunya, lalu membagikannya pada ibu-

  • Karma Suami Mendua    85. Menyenangkan Istri

    Harsa terus mengikuti pergerakan istrinya di dapur. Mengolah bahan makanan yang seharusnya untuk berjualan di warung online, menjadi banyak lauk yang nanti akan dibagikan untuk orangtua mereka. Setelah Harsa menyuruh Kamila untuk berhenti bekerja, wanita itu terlihat sekali semringah. Wajahnya berseri-seri dan senyum terus terpatri di bibir merah mudanya. Benar apa kata Anton. Perempuan itu akan senang jika diberi nafkah yang besar, apalagi nominal 30 juta sangatlah besar di desa. Dan akan lebih seneng lagi jika tidak perlu ikut bekerja. Lagipula, uang Harsa lebih dari cukup untuk menafkahi istri dan anak-anaknya."Mas, tolong ambilkan minyak goreng di tas deket kulkas dong," pinta Kamila. Harsa yang sejak tadi fokus melihat kaki istrinya yang mulus, langsung gelagapan. Dia berdiri dan berjalan menuju ke kulkas. Mengambil minyak goreng yang dimaksud, lalu menyerahkannya pada sang istri. Ketika sudah berada di belakang istrinya, Harsa meremas dua bulatan besar yang hanya dibalut de

  • Karma Suami Mendua    84. Suami yang Jauh Lebih Baik

    "Mas! Mas, kamu di mana?" teriak Kamila begitu sampai di rumah. Nafasnya terengah-engah karena tergesa-gesa mencari suaminya yang entah berada di mana. Setelah bulan madu selesai, mereka sepakat untuk menempati rumah milik Putra, dengan pertimbangan sekolah Fiona dan Bu Aminah yang sendirian. Tinggal di rumah Bu Aminah jelas tidak mungkin, karena mereka sudah berumah tangga. Meskipun Kamila sangat dekat dan akur dengan sang mertua, bukan tidak mungkin ke depannya akan ada masalah. Rumah tangga memang lebih baik terpisah dari orangtua dan mertua, biar tidak ada benturan. "MAS!" Kamila mulai jengkel. Setelah menikah, baru dia tahu bahwa Harsa itu sering tidak mendengar ketika dipanggil. Seperti Toni kakaknya. Ibunya sering mengomel karena Toni tidak merespon ketika dipanggil berkali-kali, padahal jaraknya dekat. "Aku lagi fokus mencuci tangan, jadi nggak denger." Begitu jawaban Toni. Kamila mencari ke segala penjuru rumah, tapi nihil. Dia akhirnya mengambil air putih segelas dan

  • Karma Suami Mendua    83. Jodoh yang Sesungguhnya

    Harsa melihat hasil karyanya di tubuh Kamila sejak kemarin. Matanya begitu rakus menikmati pemandangan yang menggiurkan itu, sampai-sampai dia lupa menutupi tubuh sang istri dengan selimut. "Dingin, Mas," rajuk Kamila dengan nafas terengah-engah. Jari-jari Harsa menelusuri jejak-jejak merah di kulit putih sang istri. Terlalu banyak. Apa dia berlebihan? Tangannya meraih selimut dan menutupkannya pada tubuh Kamila, lalu dia ikut bergabung di dalamnya. Mereka berpelukan. "Nyaman banget," gumamnya. Bibirnya berkali-kali menciumi kepala dan wajah sang istri dengan sayang, membuat Kamila tersenyum. "Makasih udah membuatku merasakan semua ini, Mas." Ciuman Harsa berhenti. Dia menatap sang istri yang memejamkan mata dengan kening berkerut. "Maksudnya?" Kamila menghela nafas panjang. Kedua mata cantik itu terbuka. Harsa bisa melihat bulu mata yang lentik dan panjang alami dari samping. "Boleh nggak aku cerita tentang masa lalu?" Harsa mengangguk. Jujur, dia sendiri penasaran dengan keh

  • Karma Suami Mendua    82. Virus Cinta

    Di jaman yang iman sangat mudah terlepas karena kenikmatan duniawi yang hanya sementara, masih ada segelintir manusia yang menjunjung tinggi kesetiaan dan cinta. Tidak hanya mengejar nafsu syahwat yang membutakan akal sehat dan menghilangkan iman pada Tuhannya, yang diraih bersama lawan jenis yang diharamkan oleh Allah. Harsa dan Kamila adalah tipe orang yang setia pada pasangan, tak peduli meskipun di luar sana banyak yang lebih baik. Karena lebih baik itu relatif. Tergantung dari sudut pandang siapa. Harsa, tipe pria yang tidak suka ribet dan tidak suka harus berkali-kali memulai semuanya dari nol. Dia tidak suka asal menjalin hubungan dengan wanita. Tidak mau menghabiskan waktunya di dunia hanya untuk mencari kecocokan dengan wanita. Dia juga tidak suka wanita yang agresif, dalam arti wanita yang bukan muhrim tapi sudah berani mendekati dan menggoda pria terlebih dulu. Baginya, wanita seperti itu akan mudah melakukannya pada pria lain sekali mereka bermasalah. Harsa tahu bagaim

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status