MasukTeriakan Dewi begitu keras, sampai-sampai Rendra dengan cepat melihat ke sekitarnya untuk memastikan bahwa tidak ada orang di sana. "Ngapain kamu ke sini? Sudah kubilang, kembali ke kamarmu dan renungi kesalahanmu. Besok, kamu kuantar pulang," kata Rendra dengan kening berkerut, merasa tidak suka. "Kenapa? Biar kamu bisa bebas mengejar si jalang itu?" "Dewi! Jaga mulut kamu!" Tangan kanan Rendra terangkat hendak menampar Dewi, tapi dia tahan. Rahangnya mengeras. "Memang dia jalang kok. Dulu waktu masih sama Putra aja, dia udah selingkuh sama kakak iparnya. Dan sekarang? Malah beneran ninggalin suaminya demi menikah sama kakak iparnya. Apa lagi sebutannya kalau bukan jalang?" PLAK! Baik Dewi maupun Novita terlihat syok. Bedanya, Novita syok karena melihat perempuan tak jelas yang tiba-tiba berkata kasar pada Rendra. Selama mengenal pria itu, Rendra tidak pernah kasar pada perempuan. Pasti perempuan itu sudah keterlaluan. "Kamila jauh lebih baik darimu. Dia menikahi kakak iparnya
"Memiliki anak itu bukanlah sebuah perlombaan. Bukan sebagai tanda bahwa pernikahan itu bahagia. Tidak sesederhana itu. Banyak yang lupa atau bahkan tidak tahu bahwa anak adalah titipan dari Allah yang harus kita jaga sebaik mungkin. Kelak, kita akan dimintai pertanggungjawaban mengenai anak kita, terutama aku sebagai ayah." Harsa masih ingat betul nasehat dari kakeknya. Setakut itu dengan pertanggungjawaban di akhirat kelak, sampai-sampai beliau hanya memiliki dua anak saja. Tidak seperti kebanyakan orang-orang jaman dulu yang berlomba-lomba untuk memperbanyak anak. "Kita nggak bisa hanya melihat anak sebagai investasi di akhirat kelak. Sebelum menyuruh anak untuk mendoakan kita, tentu kita harus mendidiknya dengan benar dan memberinya kasih sayang terlebih dulu. Dan di tahap itu, kebanyakan laki-laki gagal karena lalai. Karena tergoda oleh wanita lain atau tidak mau menafkahi. Mereka melimpahkan kewajiban itu pada istrinya. Padahal, itu adalah kewajiban dari ayah."Selama hidupnya
Kamila masih ingat betul wanita yang saat ini tengah memeluknya dengan tubuh gemetaran dan berlinang air mata. Wanita yang dulu memberi Kamila tisu ketika menangis di Prince Swalayan karena perkataan Bu Karlina. "Mbak, tolong bawa aku pergi dari dia," pinta wanita yang bahkan tidak dia tahu namanya itu dengan suara gemetar. "Kamu siapa? Jangan ikut campur urusan rumah tangga saya!" bentak suami wanita itu. Pria itu menarik tangan istrinya, tapi Kamila langsung menahan. "Jangan memaksa perempuan. Kalau dia nggak mau ya nggak mau," ucap Kamila sambil menarik wanita dalam pelukannya itu. Tidak Kamila sangka, pria itu malah menarik istrinya secara paksa dan mendorong Kamila hingga tubuhnya sempoyongan. "Hei! Jangan kasar pada perempuan!" bentak Harsa. Untung suaminya dengan sigap menahan tubuhnya yang hampir terjatuh karena kakinya tersandung. Dia syok bukan main. Pria yang dulu ikut melindunginya dari sorotan kamera publik, kini berbuat kasar pada istrinya sendiri. "Mas! Gara-gar
Meskipun mereka sudah puluhan kali berhubungan intim, tapi tetap saja Harsa merasa berdebar seperti remaja yang sedang kasmaran ketika Kamila mencium bibirnya dengan lembut. Ah, hatinya terasa berbunga-bunga. Memiliki wanita yang selama ini dia idamkan, membuatnya begitu bahagia. Dia mencium puncak kepala istrinya yang kini sedang memeluknya dengan erat. "Aku cemburu. Aku nggak suka Rendra terus menatap kamu dengan penuh cinta begitu. Aku nggak rela," ulangnya, merasa senang karena Kamila sepertinya bahagia mendengar kata-kata itu. Sejak melihat kehadiran Rendra di restoran, Harsa langsung merasa terganggu. Dia merasakan panas di hati dan amarah yang baru kali ini begitu membakar. Apalagi sorot mata Rendra terlihat begitu jelas, meskipun pria itu datang bersama Dewi. Harsa tahu Rendra selama ini memendam rasa cinta pada istrinya sejak lama. Dia masih ingat bagaimana pria itu terus memuji Kamila dan terlihat begitu bersemangat ketika membahas tentang wanita itu, ketika dia bertanya
Rendra menggertakkan rahangnya dengan tangan terkepal erat. Dia menatap kamar yang dia sewa dengan dua ranjang di sana. Entah apa yang dipikirkannya ketika menerima permintaan Intan alias Dewi untuk ikut ke Malang, padahal dia berniat untuk pulang kampung mumpung pabrik libur 3 hari karena tanggal merah dan cuti bersama di akhir pekan. "Kenapa susah sekali mencari wanita yang bener seperti Kamila?" gumamnya sebelum menghisap rokoknya yang hanya tinggal sedikit, lalu membuangnya ke lantai yang diplester semen dan menginjaknya. Dia memilih untuk berbalik menjauhi kamar itu. Tidak berminat untuk mengkonfrontasi Dewi. Toh, mereka belum memiliki hubungan apa-apa. Hanya sekedar dekat, meskipun Rendra mulai mempertimbangkan untuk serius dengan Dewi. Tidak! Siapa yang dia bohongi? Dia masih mencintai Kamila dan berharap ada keajaiban. Dia pernah mendengar bahwa presiden komisaris Unilion pusat akhirnya menikah, tapi dia tidak menyangka bahwa yang dinikahi adalah Kamila. Sekarang, dia menye
"Mas, nanti kamu nggak bisa membeli kebutuhan kamu. Kalau kamu butuh makan di luar gimana? Kalau ada apa-apa di jalan gimana? Aku nggak terbiasa memegang uang sebanyak ini." Harsa tersenyum mengingat reaksi istrinya yang langsung panik ketika dia menyerahkan semua kartunya. Tidak seperti bayangannya. Dia pikir, Kamila akan langsung bahagia dan berteriak kegirangan karena akhirnya bisa menguasai semua hartanya. Tapi, wanita itu malah memberinya uang cash 500 ribu sebagai pegangan. "Kamu nggak takut aku macam-macam jika aku memegang uang?" Harsa tahu, wanita akan trauma setelah diselingkuhi. Setidaknya itu yang dibilang oleh ibunya. Mereka akan berubah menjadi posesif dan melakukan segala cara agar pasangan barunya tidak memegang uang, karena takut akan selingkuh juga. "Kalau kamu mau macam-macam, pastilah sebelum menikah sama aku sudah sering melakukannya karena masih bebas. Seandainya kamu memiliki niat untuk memilih jalan seperti yang dipilih oleh Putra, silahkan. Toh, kamu send
"Dari mana kamu tadi?" Darwati, sepupu Sulastri, mencecar Delina yang baru saja datang. "Ke rumah bapak," jawab Delina malas. "Mau ngapain lagi? Dia sudah tidak mau melihat kamu. Kalian tidak ada hubungan darah. Seharusnya, kamu menemui bapak kandungmu dan meminta uangnya. Dia yang wajib menafkah
Pepatah bilang, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Bahkan meskipun kedua orangtuanya baik, pasti ada satu benih yang buruk dalam keluarga yang diturunkan oleh nenek moyangnya terdahulu. Kamila menatap uap yang keluar dari teh panas yang baru saja disajikan oleh Bu Muslimah, adik dari Pak Muhajir.
Kamila percaya bahwa tidak ada yang namanya kebetulan. Seperti Dewi yang menemui Putra tengah malam ketika pria itu ingin membunuhnya, yang ternyata mereka pernah menjadi teman tidur, begitu juga dengan Delina. Entah kenapa takdir seperti ingin terus mengujinya dengan masa lalu. Delina datang ke w
"Masih ada yang belum dimengerti?" Faisal menggeleng. "Tidak ada, Bu." "Bagus." Kamila langsung berdiri. Akhirnya selesai juga. Beruntung Faisal gampang diajari. Ternyata pemuda itu dulunya jurusan IPS, jadi paham tentang dasar-dasar akuntansi dan cara membuat laporan keuangan sederhana. "Ya su







