Home / Rumah Tangga / Karma Suami Mendua / 145. Tujuh Minggu

Share

145. Tujuh Minggu

Author: Alya Feliz
last update publish date: 2026-08-03 08:33:58

"Eh, spermanya lemah, Bu. Suami saya kapan hari periksa di rumah sakit lain. Kami niatnya ke sini tadi itu sebenarnya mau ke poli Andrologi. Mau periksa ulang," jawab Kamila terburu-buru, lalu memelototi suaminya yang langsung salah tingkah.

"Oh..." Wanita seumuran Bu Aminah itu tertawa, begitu juga dengan perawat yang kembali melanjutkan kegiatannya mengoleskan gel ke perut Kamila.

"Hasil analisa dokter memang terkadang bisa salah, Pak. Bapak sudah benar mau mengeceknya lagi di rumah sakit l
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Karma Suami Mendua    145. Tujuh Minggu

    "Eh, spermanya lemah, Bu. Suami saya kapan hari periksa di rumah sakit lain. Kami niatnya ke sini tadi itu sebenarnya mau ke poli Andrologi. Mau periksa ulang," jawab Kamila terburu-buru, lalu memelototi suaminya yang langsung salah tingkah. "Oh..." Wanita seumuran Bu Aminah itu tertawa, begitu juga dengan perawat yang kembali melanjutkan kegiatannya mengoleskan gel ke perut Kamila. "Hasil analisa dokter memang terkadang bisa salah, Pak. Bapak sudah benar mau mengeceknya lagi di rumah sakit lainnya sebagai referensi. Tapi kalau hasilnya sudah ada, ya tidak usah periksa lagi toh." Dokter kandungan itu menempelkan alat USG ke perut Kamila, lalu menggeser-gesernya. "Nah, itu sudah kelihatan kantong janinnya. Usianya kalau di layar ini sudah 7 minggu malah."Mata Kamila membesar ketika melihat bulatan kecil di layar monitor. Hatinya langsung meleleh. Dia melihat suaminya yang ternyata masih kebingungan. "Tapi istri saya baru saja datang bulan, Bu. Kok bisa hamil? Apa nggak keguguran it

  • Karma Suami Mendua    144. Kembung 1,5 Bulan

    Harsa menatap tak enak pada dokter Andrologi di hadapannya. Setelah istrinya buru-buru keluar sambil menutup hidung, dia langsung berdiri. "Maafkan istri saya, Dok. Dari tadi pagi masuk angin. Mencium bau apapun langsung muntah. Padahal sudah saya larang untuk ikut," kata Harsa dengan terburu-buru. Bukannya tersinggung, dokter itu malah tertawa. Pria berusia 45 tahun itu ikut berdiri."Sepertinya yang perlu diperiksa justru istri anda. Silahkan daftar ke poli kandungan. Bawa istri anda ke sana." Harsa langsung bengong. "Istri saya kenapa, Dok? Ada masalah dengan rahimnya? Dia cuma masuk angin. Apa nggak sebaiknya dibawa ke poli umum saja? Mungkin maag-nya kumat." Dokter itu menggeleng. Pria itu mendekati Harsa dan menggiringnya keluar. "Sudah, bawa saja ke poli kandungan." "Tapi saya belum periksa..." "Nggak usah periksa. Nggak perlu. Selamat ya." Dokter itu menepuk pundak Harsa sambil tersenyum, sebelum meminta perawat untuk memanggil nomor antrian berikutnya. Harsa berdiri de

  • Karma Suami Mendua    143. Mual

    "Udah, nenek tenang aja. Mama saya udah nggak ada dendam sama anaknya nenek. Mama saya kan baik. Saya juga udah punya papa baru, jadi mama udah nggak marah sama papa Putra dan Tante." Fiona tiba-tiba menyeletuk. Mereka semua terdiam. Bu Maria terlihat gelagapan. Tapi kemudian, wanita itu sedikit membungkukkan tubuhnya dan memegang kepala Fiona. Kedua mata Bu Maria berkaca-kaca, dan setetes air mata meluncur di pipinya yang keriput. "Pantaslah kalau ayahnya Rebecca bilang sebelum meninggal, kalian seperti malaikat. Kalian... Kalian mau memaafkan kesalahan anak ibu yang keterlaluan. Semoga Tuhan Yesus selalu memberkati kalian. Aku berdoa dengan setulus hati, semoga kalian masuk surga," ucap Bu Maria sambil berlinang air mata, lalu menegakkan tubuhnya dan memegang tangan Kamila yang ikut menangis. "Perbuatan Rebecca dan Putra memang sudah melewati batas. Tapi, kamu dan anakmu tidak dendam. Aku...aku kagum pada sikapmu, Nak. Pantas saja kamu terlihat bercahaya," lanjut Bu Maria. "Boleh

  • Karma Suami Mendua    142. Memaafkan Rebecca

    Sudah satu menit berlalu sejak wanita yang kini terlihat menyedihkan itu duduk di hadapan Kamila. Tidak ada lagi jejak kesombongan di wajah wanita itu. Hanya ada rasa lelah dan kesakitan. "Putra sudah lama meninggal. Sekitar dua tahun yang lalu." Rebecca mendongak dengan mata membelalak. Tubuhnya terlihat sangat kurus dan kulitnya begitu pucat. "Ap-apa?" Kamila mengangguk. "Dia...gagal bertahan." Tidak mungkin dia menceritakan betapa menderitanya mantan suaminya gara-gara tidak kunjung mendapatkan maafnya. Kedengarannya begitu angkuh dan jumawa. Tiba-tiba, terdengar tawa kecil dari Rebecca, membuat Kamila mengernyit. Apa ada yang lucu dari perkataannya? "Dia memang benar-benar mencintai kamu." Kamila mendengus, lalu menggeleng. "Kamu salah. Dia mencintai Delina. Mereka bahkan punya 2 anak di belakangku." Rebecca mungkin terlihat mengerikan dengan kondisinya sekarang. Rambut sangat tipis, kulitnya keriput, dan tubuhnya yang dulu kurus terlihat semakin kurus saja. Seperti mayat

  • Karma Suami Mendua    141. Mulai dari 0

    "Mas..." Harsa yang sejak tadi menatap kosong pada taman rumah sakit, mengerjap ketika istrinya menyentuh lengannya dengan lembut. Dia menoleh dan melihat kedua mata jernih istrinya. Bulu mata yang panjang dan lentik alami membuat mata itu semakin indah. "Semua orang pernah melakukan dosa. Entah itu besar atau kecil. Termasuk kita. Nggak ada salahnya memaafkan. Kematian Ayah Umar adalah qodarullah. Akhir jalan hidupnya sudah ditetapkan sejak sebelum beliau dilahirkan. Jadi, meskipun Bu Sulastri tidak memfitnahnya, dia akan tetap meninggal di hari itu." Harsa menelan ludah. Kalau dipikir-pikir lagi, memang benar. Seharusnya dia mendengarkan nasehat kakeknya puluhan tahun yang lalu. Tapi, dia memilih untuk mengabaikannya dan terus memelihara dendamnya pada Sulastri dan Delina. "Tapi gara-gara kehadiran dia, ayahku difitnah." Masih ada rasa tidak terima di hati Harsa. Nama baik ayahnya tercoreng gara-gara fitnah dari perempuan keji. "Pasti ada alasan kenapa Allah menakdirkan ayahmu

  • Karma Suami Mendua    140. Gagal Periksa

    Takdir manusia memang sudah ditentukan sebelum mereka lahir ke dunia. Tapi, bukan berarti mereka hanya diam saja dan berpangku tangan. Harus ada usaha yang dilakukan, sebagai bentuk ikhtiar. Yang terpenting sudah berusaha semaksimal mungkin. Urusan hasil, hanya Allah yang berhak menentukan. Pagi itu, Kamila terus menyuntikkan semangat ke dalam hati dan pikirannya. Dia terus men-sugesti dirinya sendiri, bahwa apa yang dialami oleh suaminya adalah bagian dari ujian dalam pernikahan mereka. Sejak awal, dia meminta pada Allah untuk tidak diberikan cobaan dalam bentuk orang ketiga. Jadi, seharusnya dia siap jika akhirnya mendapatkan cobaan dalam bentuk lain. Meskipun ada sedikit rasa kecewa karena suaminya susah untuk memiliki anak. "Mama orang baik. Jadi, mama harus memaafkan semuanya." Sentuhan di pipi Kamila membuat lamunannya buyar. Dia menatap Fiona yang kini berdiri di hadapannya dengan mengenakan seragam sekolah. Keningnya berkerut tak mengerti. "Luka itu nggak akan bisa sembuh

  • Karma Suami Mendua    4. Kepergok

    "Udah dibilangin kok. Biar aku coba telepon dia dulu," ucap Harsa sambil menurunkan Fiona yang terbangun."Nggak usah lah, Mas. Biar kami pulang naik travel. Mas lanjutin aja kerjaan di sini." Entah kenapa Kamila benar-benar enggan, meskipun dia penasaran setengah mati.Dia bimbang, apakah harus me

  • Karma Suami Mendua    3. Kejutan yang Gagal

    Hujan turun di sepanjang perjalanan saat mobil Harsa memasuki jalan tol. Kamila duduk di belakang, sedangkan Fiona duduk di depan. Anak itu selalu bersemangat jika sudah bertemu dengan Harsa. Berbeda sekali saat bertemu dengan ayahnya.Banyak orang yang mengira bahwa Fiona adalah anak Harsa, karena

  • Karma Suami Mendua    2. Mulai Bimbang

    "Fio, sudah mama bilang, jangan bicara sembarangan ya, sayang," tegur Kamila dengan lembut.Meskipun dia ingin sekali bertanya tentang tante yang digambar oleh Fiona, Kamila memilih untuk menahan diri. Tante siapa? Apakah sepupunya? Dia tidak memiliki saudara perempuan, begitu juga dengan Putra. "

  • Karma Suami Mendua    1. Gambar Aneh

    "Jaman sekarang, masalah ranjang pun diposting di medsos.""Ih, masa sih? Kok nggak malu ya? Jadi nggak ada privasi. Persis seperti perselingkuhan. Malah diumbar di medsos."Kamila melirik dua walimurid yang sibuk bergosip, salah satunya menunjukkan layar ponsel dengan antusias.Dia sama sekali tid

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status