Mag-log inHal yang tidak Putra tahu adalah, wanita itu bisa menjadi racun yang mematikan jika dia sengaja disakiti. Dia bisa lebih licik dari iblis dan lebih jahat dari para kriminal.
Selama tujuh tahun menikah, kesetiaan Kamila dibalas dengan pengkhianatan. Rasa sakit yang tak terkira harus dibayar. Tidak harus dengan cara kekerasan. Tidak. Kamila dikuliahkan oleh ayahnya bukan untuk menjadi perempuan lemah dan manja yang gampang ditindas oleh laki-laki. "Nggak mungkin aku memaksa kamu untuk pindah kerja, sedangkan karirmu sedang berada di puncak," ujar Kamila sambil tersenyum, berusaha untuk terlihat tenang. Meski tangannya begitu gatal untuk mencakar wajah memuakkan pria itu. "Dek, kamu benar-benar serius, kan?" Putra terlihat sekali bahagia. Kedua mata itu berbinar dan senyumnya merekah. Hampir saja Putra memeluk Kamila, tapi dia langsung menghindar. "Kamu memang wanita yang sangat dewasa." Kamila mengangguk. "Karena aku yakin, semua akan ada balasannya, Mas. Kamu tahu pasti dalam agama gimana. Hukum tabur tuai itu berlaku. Kamu hanya sedang menunggu waktu saja." Senyum Putra mulai surut. "Maksudnya?" Kamila mengambil dompetnya dan mengeluarkan ATM miliknya, lalu menyerahkannya pada Putra. "Dek? Kenapa kamu kasih ATM mu ke aku? Nanti kalau aku mau transfer gimana?" tanya Putra tak mengerti. "Itu dia." Kamila tersenyum, meski dadanya terasa sesak karena masih harus berada di kamar laknat itu. Dia mengabaikan sprei yang berantakan dan celana dalam Rebecca yang tercecer di lantai. Andai saja dia tidak ingat dengan hukum karma, maka dia akan menghajar Putra dan Rebecca saat itu juga. Dia akan memaki-maki Rebecca dengan semua ucapan kotor dan seluruh isi kebun binatang. Tapi Kamila menjaga emosinya tidak meledak-ledak saat itu juga, dan itu berakibat pada dadanya yang terasa sangat sakit sekarang. "Aku yang akan mentransfer kamu mulai saat ini. PIN kamu tetap sama, kan?" Senyum di wajah Putra benar-benar hilang sepenuhnya saat pria itu menyadari sesuatu. "Kamu mengambil ATM ku?" bentak Putra dengan wajah marah. "Eits, kamu nggak boleh marah. Semua gajimu, biar aku yang pegang. Biar kamu nggak sembarangan menggunakan uangnya. Aku lebih pintar mengatur keuangan. Jadi, semua uangmu lebih aman di tanganku." Putra berusaha untuk mengambil tas selempang Kamila, namun dia langsung menjauh. "Aku bisa melaporkan kamu ke polisi dengan kasus perzinahan, Mas. Karirmu akan hancur, dan seluruh keluarga besarmu akan malu. Kamu lebih suka berada di penjara? Mas Harsa tadi merekam kamu loh, waktu kalian mau berbuat yang tak senonoh." Putra langsung tak berkutik. "Pikirkan baik-baik, Mas. Masih mending aku mau mentransfer kamu nanti. Istri lainnya akan merebut semua hartamu tanpa sisa. Ibumu juga pasti akan lebih mendukungku, karena dia mengalami nasib yang sama." Tangan Putra melemah. Pria itu terlihat lemas, dan itu sedikit membuat Kamila puas. Tidak perlu memakai amarah yang meledak-ledak saat menghadapi laki-laki. Mereka lebih takut reputasi dan karirnya hancur, karena sama saja dengan mencoreng harga diri dan melukai ego. "Anggap saja aku sedang membantu kamu untuk kembali mendapatkan pahala yang selama ini kamu sia-siakan. Uang yang selama ini kamu pakai untuk menafkahi perempuan haram, pasti akan menjadi tabungan dosa." Kamila membalikkan ceramah yang selama ini dikoar-koarkan oleh Putra. "Kamu...kamu pintar sekali membalikkan keadaan," ujar Putra dengan rahang mengetat. Kamila tersenyum. "Itulah yang kamu dapatkan jika menikahi perempuan berpendidikan, Mas. Aku mengingat seluruh tausiah yang selama ini kamu gaungkan selama kita menikah. Aku hanya berusaha untuk mengembalikan kamu ke jalan yang benar." Setelah berkata demikian, Kamila buru-buru keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang tamu dengan kedua tangan terkepal. Sejujurnya, dia tidak sekuat itu bersikap tenang setelah mengetahui pengkhianatan yang dilakukan oleh suaminya. Langkahnya terhenti ketika melihat Rebecca yang sedang melihat Fiona dengan tatapan tak suka. Sesaat kemudian, pandangan mereka bertemu. Detik itu juga, Kamila ingin membunuh Rebecca dengan cara yang paling keji. *** Harsa menatap wanita selingkuhan Putra dari atas sampai bawah. Merasa heran, kenapa adiknya memilih untuk berselingkuh dengan wanita aneh seperti Rebecca? Tidak seperti namanya yang bagus dan kebarat-baratan, wajah Rebecca justru terlihat kampungan dan penampilannya norak. Kulitnya gelap, rambut diwarnai pirang pucat, lipstik merah menyala, dan tubuhnya kurus kering. Mungkin mata Putra sudah buta. Harsa mendengarkan penjelasan dari Rina tadi selama mencari rumah kontrakan Putra. Rebecca adalah seorang janda tanpa anak. Dia baru tahu bahwa Rebecca berbeda agama dengan mereka, setelah Kamila menarik kalung dengan bandul salip dari leher wanita itu. Ibu mereka pasti akan sangat kecewa pada Putra. Sudah susah-susah dititipkan ke pondok pesantren sejak SD, tapi malah melanggar larangan agama. Harsa kira, mungkin Putra sudah menikah siri dengan Rebecca seperti kasus-kasus poligami yang tengah marak terjadi di negeri ini. Tapi ternyata, dugaannya salah besar. "Tante tinggal sama papaku?" Suara polos Fiona membuat penilaian Harsa teralihkan. "Kalau iya memang kenapa? Kamu mau kan, punya mama baru?" jawab Rebecca dengan wajah jumawa. "Papamu lebih suka tinggal sama aku dibanding sama mama kamu." Harsa menaikkan alis ketika Fiona memasang wajah tidak setuju. "Nggak ah. Mamaku jauh lebih cantik dan nggak malu-maluin kayak Tante. Papa kok mau sama Tante? Tante dekil dan kusam. Nggak pernah mandi ya?" Harsa refleks mendengkus karena menahan tawa, sedangkan Rebecca melotot. "Mamaku sial banget dapat laki-laki seperti papa. Udahlah hidupnya merepotkan, jorok, tidurnya suka ngorok lagi. Tante ambil aja papa, biar nanti aku nyari papa baru yang lebih oke. Kalian kan, sama-sama jorok." "Kamu! Masih kecil udah pinter ngomong. Ajaran ibu kamu ya?" sergah Rebecca dengan wajah geram. Harsa menaikkan alis melihat sikap Rebecca. "Kamu tersinggung dengan ucapan anak kecil? Lupa posisi kamu di sini apa?" Rebecca menatap Harsa dengan tajam. "Suruh ibunya untuk mengajari anak ini sopan santun! Dasar nggak sopan!" Harsa hanya mendengkus. Tidak berminat untuk meladeni perempuan gila yang sudah merebut suami orang. Dia curiga, jangan-jangan adiknya terkena sihir dari perempuan ini. Pria normal tidak akan memilih Rebecca. Tidak ada kelebihan dari segi apapun. "Tante, jangan marah-marah terus. Nanti dibakar api loh. Makin gosong yang ada," celetuk Fiona lagi. Saat Harsa menghajar Putra tadi, Fiona tidak melihat karena sibuk dengan bunga-bunga di depan rumah. Tidak bisa dibayangkan bagaimana kondisi psikis keponakannya jika sampai tahu. "Bisa diem nggak?" bentak Rebecca dengan wajah kesal luar biasa. "Om, kata Bu Eka, orang jahat itu masuk neraka. Neraka isinya api. Berarti, Tante jelek ini masuk neraka ya, Om? Fio lihat dia dibakar api soalnya." Harsa hampir tersedak ludahnya sendiri. Dari mana anak kecil jaman sekarang belajar berbicara seperti itu? "Fio, udah jangan ngomong lagi. Kita tunggu mama kamu ke sini," tegur Harsa, berusaha untuk tidak tertawa karena ekspresi lucu di wajah Rebecca. Keponakannya memang suka ceplas-ceplos, bahkan di saat ayah tiri Harsa akan meninggal. Tapi, berkat ceplas-ceplos Fiona, perselingkuhan ayah tirinya terbongkar. Tiba-tiba, Kamila datang dengan pandangan mata tajam ke arah Rebecca. Baru kali ini Harsa melihat adik iparnya seperti itu, dan jujur kulitnya merinding sekarang. Sedetik kemudian, Kamila mendekati mereka dengan langkah anggun dan wajah tenang, diikuti oleh Putra di belakangnya. Wanita itu berhenti tepat di depan Rebecca. Tidak ada ekspresi marah sama sekali. "Aku nitip Mas Putra ya, Mbak. Sudah enam bulan tinggal bareng, pasti kamu bisa mengurus dia lebih lama lagi." Setelah itu, Kamila langsung keluar dari rumah dengan kepala tegak dan senyum tipis. Harsa melirik Rebecca yang hanya melongo, begitu juga dengan Putra. Jujur, dia sendiri juga tidak mengerti. Kenapa Kamila tidak mengamuk dan menjambak Rebecca seperti istri sah pada umumnya?Tangisan dua bayi menggema memenuhi ruang bersalin. Suara itu membuat Harsa yang sejak tadi menggenggam tangan Kamila, langsung menitikkan air mata. Siapa yang menyangka bahwa dia akan memiliki dua anak sekaligus, padahalnya sebelumnya divonis sperma lemah oleh dokter dan susah untuk memiliki anak?"Dua-duanya laki-laki, Pak."Dokter tersenyum sambil memperlihatkan kedua bayi mungil yang baru saja lahir.Harsa mematung. Tatapannya terpaku pada wajah kedua putranya. Hidung mungil, alis yang tegas, bentuk bibir, dan lesung pipi samar yang muncul ketika salah satu bayi meringis.Dadanya berdebar semakin kencang. Dua bayi tampan itu adalah anaknya. Darah dagingnya."Dek, wajah mereka..."Air matanya jatuh tanpa bisa dibendung. Hatinya terasa begitu penuh, sampai-sampai rasanya ingin meledak."Persis..."Kamila yang masih sangat lemah, menoleh dengan pelan ke arah Harsa. Keningnya mengernyit. "Mas? Kenapa?"Harsa menggenggam tangan istrinya. "Sayang... mereka sama persis seperti anak-anak
Aroma kuah bakso memenuhi ruang keluarga sejak siang.Kamila duduk di sofa sambil memangku semangkuk bakso lengkap dengan tahu, mi, dan kerupuk pangsit. Sesekali ia menyeruput kuahnya, lalu mendesah nikmat. Rasanya benar-benar seperti yang dia harapkan."Maas! Teh lemonnya sudah belum?" teriaknya."Sebentar, Sayang. Tinggal ngasih es batu!" sahut Harsa dari dapur.Sejak pulang dari rumah sakit, Harsa memang selalu siaga dan menuruti segala kemauan Kamila saat itu juga. Kebahagiaan itu membuat Harsa rela melakukan apa pun demi dirinya, dan pria itu sama sekali tidak mengeluh. Urusan toko bangunan untuk sementara diserahkan sepenuhnya pada Anton dan Faisal.Di ruang keluarga, Fiona yang baru pulang dari sekolah, sedang menikmati sepotong lapis kukus."Enak banget, Ma. Belinya di mana?" tanya Fiona sambil mengunyah."Di kota tadi. Sekalian pulang dari rumah sakit."Fiona menatap makanan yang begitu banyak di atas meja. "Ma, makanan kita banyak banget. Kayak warung." Kamila tertawa kecil
"Eh, spermanya lemah, Bu. Suami saya kapan hari periksa di rumah sakit lain. Kami niatnya ke sini tadi itu sebenarnya mau ke poli Andrologi. Mau periksa ulang," jawab Kamila terburu-buru, lalu memelototi suaminya yang langsung salah tingkah. "Oh..." Wanita seumuran Bu Aminah itu tertawa, begitu juga dengan perawat yang kembali melanjutkan kegiatannya mengoleskan gel ke perut Kamila. "Hasil analisa dokter memang terkadang bisa salah, Pak. Bapak sudah benar mau mengeceknya lagi di rumah sakit lainnya sebagai referensi. Tapi kalau hasilnya sudah ada, ya tidak usah periksa lagi toh." Dokter kandungan itu menempelkan alat USG ke perut Kamila, lalu menggeser-gesernya. "Nah, itu sudah kelihatan kantong janinnya. Usianya kalau di layar ini sudah 7 minggu malah."Mata Kamila membesar ketika melihat bulatan kecil di layar monitor. Hatinya langsung meleleh. Dia melihat suaminya yang ternyata masih kebingungan. "Tapi istri saya baru saja datang bulan, Bu. Kok bisa hamil? Apa nggak keguguran it
Harsa menatap tak enak pada dokter Andrologi di hadapannya. Setelah istrinya buru-buru keluar sambil menutup hidung, dia langsung berdiri. "Maafkan istri saya, Dok. Dari tadi pagi masuk angin. Mencium bau apapun langsung muntah. Padahal sudah saya larang untuk ikut," kata Harsa dengan terburu-buru. Bukannya tersinggung, dokter itu malah tertawa. Pria berusia 45 tahun itu ikut berdiri."Sepertinya yang perlu diperiksa justru istri anda. Silahkan daftar ke poli kandungan. Bawa istri anda ke sana." Harsa langsung bengong. "Istri saya kenapa, Dok? Ada masalah dengan rahimnya? Dia cuma masuk angin. Apa nggak sebaiknya dibawa ke poli umum saja? Mungkin maag-nya kumat." Dokter itu menggeleng. Pria itu mendekati Harsa dan menggiringnya keluar. "Sudah, bawa saja ke poli kandungan." "Tapi saya belum periksa..." "Nggak usah periksa. Nggak perlu. Selamat ya." Dokter itu menepuk pundak Harsa sambil tersenyum, sebelum meminta perawat untuk memanggil nomor antrian berikutnya. Harsa berdiri de
"Udah, nenek tenang aja. Mama saya udah nggak ada dendam sama anaknya nenek. Mama saya kan baik. Saya juga udah punya papa baru, jadi mama udah nggak marah sama papa Putra dan Tante." Fiona tiba-tiba menyeletuk. Mereka semua terdiam. Bu Maria terlihat gelagapan. Tapi kemudian, wanita itu sedikit membungkukkan tubuhnya dan memegang kepala Fiona. Kedua mata Bu Maria berkaca-kaca, dan setetes air mata meluncur di pipinya yang keriput. "Pantaslah kalau ayahnya Rebecca bilang sebelum meninggal, kalian seperti malaikat. Kalian... Kalian mau memaafkan kesalahan anak ibu yang keterlaluan. Semoga Tuhan Yesus selalu memberkati kalian. Aku berdoa dengan setulus hati, semoga kalian masuk surga," ucap Bu Maria sambil berlinang air mata, lalu menegakkan tubuhnya dan memegang tangan Kamila yang ikut menangis. "Perbuatan Rebecca dan Putra memang sudah melewati batas. Tapi, kamu dan anakmu tidak dendam. Aku...aku kagum pada sikapmu, Nak. Pantas saja kamu terlihat bercahaya," lanjut Bu Maria. "Boleh
Sudah satu menit berlalu sejak wanita yang kini terlihat menyedihkan itu duduk di hadapan Kamila. Tidak ada lagi jejak kesombongan di wajah wanita itu. Hanya ada rasa lelah dan kesakitan. "Putra sudah lama meninggal. Sekitar dua tahun yang lalu." Rebecca mendongak dengan mata membelalak. Tubuhnya terlihat sangat kurus dan kulitnya begitu pucat. "Ap-apa?" Kamila mengangguk. "Dia...gagal bertahan." Tidak mungkin dia menceritakan betapa menderitanya mantan suaminya gara-gara tidak kunjung mendapatkan maafnya. Kedengarannya begitu angkuh dan jumawa. Tiba-tiba, terdengar tawa kecil dari Rebecca, membuat Kamila mengernyit. Apa ada yang lucu dari perkataannya? "Dia memang benar-benar mencintai kamu." Kamila mendengus, lalu menggeleng. "Kamu salah. Dia mencintai Delina. Mereka bahkan punya 2 anak di belakangku." Rebecca mungkin terlihat mengerikan dengan kondisinya sekarang. Rambut sangat tipis, kulitnya keriput, dan tubuhnya yang dulu kurus terlihat semakin kurus saja. Seperti mayat
"Fiona, sini peluk papa, Nak." Putra dengan tanpa merasa bersalah, mendekati Fiona yang hendak menyusul Kamila.Sikap istrinya membuat Putra lega bukan main. Istrinya ternyata sangat dewasa. Tidak seperti perempuan lain yang mengamuk dan berbuat kekerasan, Kamila justru bersikap tenang. Dia lega wa
Kamila menatap layar televisi yang gelap di hadapannya dengan pandangan kosong. Rasa sakit di dadanya teramat besar, sampai-sampai dia merasa seperti ditusuk oleh benda tajam. Sakit, tapi tidak tampak."Apa kurangku sampai kamu selingkuh?" Mati-matian Kamila meredakan emosi di dadanya, tapi tetap
"Fio, sudah mama bilang, jangan bicara sembarangan ya, sayang," tegur Kamila dengan lembut.Meskipun dia ingin sekali bertanya tentang tante yang digambar oleh Fiona, Kamila memilih untuk menahan diri. Tante siapa? Apakah sepupunya? Dia tidak memiliki saudara perempuan, begitu juga dengan Putra. "
"Jaman sekarang, masalah ranjang pun diposting di medsos.""Ih, masa sih? Kok nggak malu ya? Jadi nggak ada privasi. Persis seperti perselingkuhan. Malah diumbar di medsos."Kamila melirik dua walimurid yang sibuk bergosip, salah satunya menunjukkan layar ponsel dengan antusias.Dia sama sekali tid







