Share

7. Diabaikan

Author: Alya Feliz
last update publish date: 2026-04-02 09:10:51

"Fiona, sini peluk papa, Nak." Putra dengan tanpa merasa bersalah, mendekati Fiona yang hendak menyusul Kamila.

Sikap istrinya membuat Putra lega bukan main. Istrinya ternyata sangat dewasa. Tidak seperti perempuan lain yang mengamuk dan berbuat kekerasan, Kamila justru bersikap tenang. Dia lega wanita itu tidak menyentuh Rebecca sama sekali.

"Nggak ah. Papa jadi ikutan jelek kayak tante ini."

Ucapan putri semata wayangnya membuat senyum Putra lenyap. Sejak kapan Fiona berkata tidak sopan seperti itu?

"Fiona, jangan ngomong sembarangan," tegurnya dengan wajah tak suka. "Sini peluk papa, Nak. Papa kangen banget. Lihat nih, papa terluka."

Fiona menatapnya tanpa minat. "Tapi aku nggak kangen sama papa. Kita nggak sedekat itu."

Deg!

Ucapan putrinya seperti mencubit jantungnya. Mereka memang sangat jarang bertemu. Setelah dia tergila-gila pada Rebecca, Putra memang tidak peduli lagi pada istri dan anaknya. Dia selama ini tetap berkomunikasi dengan Kamila agar istrinya tidak curiga. Ketika dia pulang pun, hanya sehari dan tidak begitu memperhatikan Fiona.

"Om Harsa, gendong! Aku mau tidur lagi. Capek rasanya setelah melihat sinetron," rajuk Fiona sambil mengangkat kedua tangannya ke atas.

Harsa tertawa kecil dan mengangkat tubuh Fiona, lalu membawanya keluar dari kontrakan. Mereka mengobrol dengan sangat akrab. Kaki Putra mengikuti mereka dengan hati seperti teriris. Fiona memeluk leher Harsa dan menempelkan kepalanya di kepala pria itu. Pemandangan itu membuat dada Putra seperti ditohok.

Seharusnya, dia yang berada di posisi Harsa. Dia yang seharusnya menjadi tempat untuk putrinya bermanja-manja dan bercerita dengan riangnya. Tapi, posisi itu sudah digantikan oleh kakaknya sendiri.

Ada rasa tidak rela ketika melihat Fiona masuk ke dalam mobil bersama Harsa. Tanpa sadar, kakinya melangkah hendak mengejar mereka.

"Mas! Mau ke mana?" Cekalan di tangan kanannya membuatnya kembali ke realita.

Dia menoleh, mendapati wanita yang selama empat tahun ini menemani rasa sepinya tengah menatapnya tajam.

Rasa cinta yang menggebu-gebu pada wanita itu, tiba-tiba kini entah kemana. Kenapa dia bisa mengambil keputusan bodoh ini?

"Aku mau mengantar Fiona," jawabnya sambil kembali menoleh ke arah mobil Harsa.

Mobil itu sudah bergerak. Putra hendak mengejar, tapi terlambat. Mobil itu sudah pergi dari depan rumah kontrakannya.

"Kamu lupa kalau kamu lebih memilih aku? Kamu janji akan meninggalkan istrimu," ucap Rebecca dengan wajah tak suka.

Putra tidak menjawab. Dia kembali masuk ke dalam rumah kontrakan dengan hati hampa. Rasa berbunga-bunga dan bahagia ketika menjalin hubungan dengan Rebecca, kini sirna setelah semuanya ketahuan. Digantikan dengan rasa takut dan was-was.

Dia sadar telah tersesat terlalu jauh. Awalnya, dia hanya iseng saja. Ingin memiliki perempuan lain yang kualitasnya di bawah istrinya, karena dia ingin memberi makan egonya. Dia ingin tantangan. Ada rasa puas ketika sudah berhasil menaklukkan Rebecca.

Terlebih setelah dia terjerumus ke dalam zina, dia semakin ketagihan. Ternyata rasanya memang menyenangkan dan lebih nikmat. Putra sadar, dia sudah mengabaikan larangan agamanya demi mengikuti bujuk rayu iblis. Dan dia terlena setelah mencicipi nikmatnya perzinaan.

Rasanya lebih enak dibandingkan melakukannya dengan istrinya sendiri. Tipuan setan Dasim memang dahsyat. Apalagi Rebecca mandul dan beda agama, Putra semakin menjadi-jadi. Dia menjadikan wanita itu sebagai alat untuk melampiaskan nafsu bejadnya tanpa perlu takut wanita itu hamil dan harus menikahinya. Meraka melakukannya atas dasar saling menguntungkan. Sama-sama saling memenuhi kebutuhan biologis yang tidak normal.

"Istrimu baik banget, nggak marah-marah ke aku." Rebecca duduk di sebelahnya. Wanita itu mengobati luka di wajah Putra dengan hati-hati.

Tidak ada yang tahu bahwa dia memiliki perilaku seksual yang menyimpang. Dia takut Kamila mengetahuinya dan menuntut cerai. Saat dia bertemu dengan Rebecca dan semakin dekat dengan wanita itu, dia merasa seperti mendapatkan durian runtuh ketika tahu bahwa wanita itu memiliki selera yang sama.

Putra tahu betul perilakunya itu menyimpang dari agama. Tapi dia tidak peduli. Dia memanfaatkan kesempatan yang sudah ada di depan mata bersama Rebecca.

"Nggak usah bersedih. Kita lanjutkan yang tadi gimana?" rayu Rebecca sambil mengelus-elus bagian bawah tubuhnya yang langsung mengeras.

Putra langsung lupa dengan insiden tadi. Dia membalik tubuh Rebecca dan menyingkap gaunnya sampai ke atas pinggang, sebelum menyetubuhi perempuan itu di tempat yang tidak seharusnya. Dia mengerang dan memejamkan mata, merasakan sensasi yang tidak bisa didapatkannya dari Kamila.

***

"Mbak, are you okay?"

Kamila terus bernafas dengan terengah-engah sejak meninggalkan rumah kontrakan Putra, sampai-sampai semua orang yang ada di mobil Harsa diam.

"Menangislah, Mbak. Jangan menahannya hanya agar terlihat baik-baik saja." Rina menepuk lengan Kamila dengan wajah simpati.

Setetes air mata jatuh. Sebenarnya, dia tidak sekuat itu. Dia hanya tidak ingin Fiona ikut bersedih. Anak itu akan ikut menangis jika dia menangis, karena hubungan batin mereka memang sekuat itu.

Isakan kecil tak sengaja lolos, diikuti dengan isakan-isakan lainnya yang menyayat hati. Kamila akhirnya tidak bisa menahannya lagi. Sejak tadi, tubuhnya gemetaran dan badannya demam. Sakit dan sesak di dadanya benar-benar menyiksa.

"Sakit, Mbak. Sakit, banget."

"Ya Allah, Mbaaakk." Rina memeluk Kamila dengan mata berkaca-kaca.

Harsa langsung mengajak Fiona untuk keluar dari mobil. Kamila bahkan tidak memikirkan anaknya saat ini. Dia hanya ingin melampiaskan emosi yang sejak tadi ditahannya.

"Rasanya kayak ditusuk-tusuk pisau jantungku, Mbak. Ya Allah, ternyata sesakit ini diselingkuhi. Pantesan banyak istri sah yang brutal menghajar pelakor," ucap Kamila di sela-sela isakannya.

Tangannya meremas dada kirinya yang sakit luar biasa. Bahkan dia sendiri tidak menyangka bahwa sakit hati bisa sampai menyerang fisik juga.

"Sabar ya, Mbak. Andai saja aku tahu kalau Putra sudah punya istri, aku akan menasehati dia. Andai aku tahu kalau dia juga muslim, aku akan menegur dia. Selama ini, kami mengira kalau dia seagama dengan Rebecca. Maafkan kami ya, Mbak," ucap Rina sambil menggenggam tangan kiri Kamila.

Kamila semakin menangis sekuatnya. Melampiaskan rasa sakit yang tak terkira. Kenapa musibah ini menimpanya? Apa yang salah dengan dirinya? Dia sudah melakukan tugasnya sebagai seorang istri, tapi itupun tidak menjamin suaminya puas.

Selama sepuluh menit, Kamila terus menangis. Mengeluarkan semuanya sampai perih di hatinya sedikit terobati. Meskipun kedua matanya sakit, dia tidak peduli. Dia hanya ingin melepaskan semua beban di hatinya.

Kamila melepaskan pelukan Rina begitu dirasa tangisannya sudah cukup. Dia menerima tisu dari wanita berhijab itu dan membersihkan hidung dan wajahnya yang basah.

"Makasih banget udah mau mendengarkan keluh kesahku ya, Mbak Rina. Padahal kita baru aja kenal. Kamu benar-benar membantu," ujar Kamila dengan tulus.

Rina tersenyum. "Sebagai sesama wanita, aku senang bisa membantu. Kalau boleh tahu, kenapa kamu nggak menghajar Rebecca tadi? Maaf, aku sempat mengintip."

Kamila menghela nafas panjang. Matanya menatap kosong pada jalanan di depan sana.

"Aku nggak mau kena karma. Seperti selebriti yang lagi rame sekarang. Menjilat ludah sendiri. Mencaci maki pelakor, tapi akhirnya dia sendiri juga menjadi pelakor. Jaman sekarang, entah kenapa karma itu datangnya cepet banget."

Rina mengangguk-angguk. "Aku salut sama kamu, Mbak Mila. Banyak perempuan yang memilih untuk diam saat suaminya selingkuh, tapi dengan alasan yang berbeda. Apapun itu, semoga kamu dan wanita-wanita lainnya mendapatkan kebahagiaan setelah ini."

"Aamiin." Kamila tersenyum. Tidak menyangka akan bertemu dengan orang baik seperti Rina di saat yang tak terduga.

"Emm, Mbak. Kalau boleh aku memberi saran, apa nggak sebaiknya kamu periksa kesehatan? Takutnya...ketularan penyakit gitu," saran Rina dengan wajah sungkan.

Tubuh Kamila langsung membeku. Itu adalah bagian yang paling mengerikan ketika suami selingkuh.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Karma Suami Mendua    116. Kenapa Menikah Harus Memiliki Anak?

    Kamila masih ingat betul wanita yang saat ini tengah memeluknya dengan tubuh gemetaran dan berlinang air mata. Wanita yang dulu memberi Kamila tisu ketika menangis di Prince Swalayan karena perkataan Bu Karlina. "Mbak, tolong bawa aku pergi dari dia," pinta wanita yang bahkan tidak dia tahu namanya itu dengan suara gemetar. "Kamu siapa? Jangan ikut campur urusan rumah tangga saya!" bentak suami wanita itu. Pria itu menarik tangan istrinya, tapi Kamila langsung menahan. "Jangan memaksa perempuan. Kalau dia nggak mau ya nggak mau," ucap Kamila sambil menarik wanita dalam pelukannya itu. Tidak Kamila sangka, pria itu malah menarik istrinya secara paksa dan mendorong Kamila hingga tubuhnya sempoyongan. "Hei! Jangan kasar pada perempuan!" bentak Harsa. Untung suaminya dengan sigap menahan tubuhnya yang hampir terjatuh karena kakinya tersandung. Dia syok bukan main. Pria yang dulu ikut melindunginya dari sorotan kamera publik, kini berbuat kasar pada istrinya sendiri. "Mas! Gara-gar

  • Karma Suami Mendua    115. Tentang Foto Tak Senonoh

    Meskipun mereka sudah puluhan kali berhubungan intim, tapi tetap saja Harsa merasa berdebar seperti remaja yang sedang kasmaran ketika Kamila mencium bibirnya dengan lembut. Ah, hatinya terasa berbunga-bunga. Memiliki wanita yang selama ini dia idamkan, membuatnya begitu bahagia. Dia mencium puncak kepala istrinya yang kini sedang memeluknya dengan erat. "Aku cemburu. Aku nggak suka Rendra terus menatap kamu dengan penuh cinta begitu. Aku nggak rela," ulangnya, merasa senang karena Kamila sepertinya bahagia mendengar kata-kata itu. Sejak melihat kehadiran Rendra di restoran, Harsa langsung merasa terganggu. Dia merasakan panas di hati dan amarah yang baru kali ini begitu membakar. Apalagi sorot mata Rendra terlihat begitu jelas, meskipun pria itu datang bersama Dewi. Harsa tahu Rendra selama ini memendam rasa cinta pada istrinya sejak lama. Dia masih ingat bagaimana pria itu terus memuji Kamila dan terlihat begitu bersemangat ketika membahas tentang wanita itu, ketika dia bertanya

  • Karma Suami Mendua    114. Cemburu

    Rendra menggertakkan rahangnya dengan tangan terkepal erat. Dia menatap kamar yang dia sewa dengan dua ranjang di sana. Entah apa yang dipikirkannya ketika menerima permintaan Intan alias Dewi untuk ikut ke Malang, padahal dia berniat untuk pulang kampung mumpung pabrik libur 3 hari karena tanggal merah dan cuti bersama di akhir pekan. "Kenapa susah sekali mencari wanita yang bener seperti Kamila?" gumamnya sebelum menghisap rokoknya yang hanya tinggal sedikit, lalu membuangnya ke lantai yang diplester semen dan menginjaknya. Dia memilih untuk berbalik menjauhi kamar itu. Tidak berminat untuk mengkonfrontasi Dewi. Toh, mereka belum memiliki hubungan apa-apa. Hanya sekedar dekat, meskipun Rendra mulai mempertimbangkan untuk serius dengan Dewi. Tidak! Siapa yang dia bohongi? Dia masih mencintai Kamila dan berharap ada keajaiban. Dia pernah mendengar bahwa presiden komisaris Unilion pusat akhirnya menikah, tapi dia tidak menyangka bahwa yang dinikahi adalah Kamila. Sekarang, dia menye

  • Karma Suami Mendua    113. Rendra Sudah Kalah Sejak Awal

    "Mas, nanti kamu nggak bisa membeli kebutuhan kamu. Kalau kamu butuh makan di luar gimana? Kalau ada apa-apa di jalan gimana? Aku nggak terbiasa memegang uang sebanyak ini." Harsa tersenyum mengingat reaksi istrinya yang langsung panik ketika dia menyerahkan semua kartunya. Tidak seperti bayangannya. Dia pikir, Kamila akan langsung bahagia dan berteriak kegirangan karena akhirnya bisa menguasai semua hartanya. Tapi, wanita itu malah memberinya uang cash 500 ribu sebagai pegangan. "Kamu nggak takut aku macam-macam jika aku memegang uang?" Harsa tahu, wanita akan trauma setelah diselingkuhi. Setidaknya itu yang dibilang oleh ibunya. Mereka akan berubah menjadi posesif dan melakukan segala cara agar pasangan barunya tidak memegang uang, karena takut akan selingkuh juga. "Kalau kamu mau macam-macam, pastilah sebelum menikah sama aku sudah sering melakukannya karena masih bebas. Seandainya kamu memiliki niat untuk memilih jalan seperti yang dipilih oleh Putra, silahkan. Toh, kamu send

  • Karma Suami Mendua    112. Penghancur Mood

    "Kamila! Lama banget kita nggak ketemu..." Rendra hampir saja memeluk Kamila seperti kebiasaannya ketika kuliah dulu, ketika seseorang menahannya. Baik Kamila maupun Rendra menoleh. Harsa menahan lengan Rendra dengan wajah datar. "Dia istriku. Jangan sembarangan memeluk." Rendra kaget dan langsung menarik kedua tangannya. "Eh? Pak Harsa? Bukannya suami Kamila itu..." Harsa melingkarkan lengannya di pundak Kamila dengan posesif. "Dia istri saya sekarang. Kenapa kamu sembarangan mau memeluk perempuan di tempat umum? Apa kamu terbiasa dengan gaya hidup bebas?" Nada bicara Harsa terdengar dingin, dan Rendra langsung mengusap tengkuknya tanpa sadar. Kamila sendiri meringis mendengar suaminya ternyata bisa sedingin ini. Padahal, biasanya lelaki itu suka bermanja-manja padanya."Eh, ma-maaf Pak. Saya terbiasa memeluk Kamila waktu kuliah dulu karena dia sahabat saya..." "APA?" "Sayang, dia cuma bercanda," jawab Kamila buru-buru sambil mengelus-elus tangan suaminya yang berada di pundak

  • Karma Suami Mendua    111. Pantai Teluk Asmara

    Sejak insiden Delina tiba-tiba dengan lancang masuk ke toko bangunan, Harsa akhirnya pulang setiap jam 11 pagi sampai jam 1 siang. Dia akan makan siang di rumah bersama istri dan anaknya, dan itu membuat Fiona bahagia bukan main. Harsa juga meliburkan tokonya di hari Minggu untuk menikmati waktu bersama keluarganya. Entah itu dengan berjalan-jalan di tempat-tempat wisata dalam kota, atau sesekali keluar kota. Keputusan itu didukung penuh oleh Bu Aminah. Rumah tangga akan semakin harmonis dengan menghabiskan waktu bersama setiap minggu, atau meluangkan waktu selama satu atau dua jam setiap harinya untuk sekedar bercerita. "Terima kasih ya, Dek." "Hmm?" Kamila mengangkat kepalanya dari bahu sang suami untuk melihat wajah pria itu. Sinar matahari tenggelam yang menyoroti wajah Harsa, menambah indah suasana senja di pinggir pantai. Mereka memang sengaja pergi ke pantai Teluk Asmara di Malang untuk melihat sunset, mumpung Fiona liburan sekolah setelah selesai ujian semester. "Kamu me

  • Karma Suami Mendua    93. Menegur Anton

    Suasana toko sudah tidak begitu ramai ketika Harsa memberi kode pada Anton untuk mengikutinya ke ruangan di belakang. Ketidakhadiran Reni memang tidak berpengaruh apa-apa, persis seperti yang dibilang oleh Kamila. Kinerja perempuan itu tidak terlalu bagus. Lebih banyak menganggur dan berlaku seenak

  • Karma Suami Mendua    92. Bulek Khoir Kena Karma

    "Pengantin baru ya begitu, Bu. Kita dulu juga begitu, kan?" sahut Bu Darmi. Bu Aminah kembali tertawa, lalu menepuk lengan Harsa. "Anak saya ini memang kecintaan dengan istrinya, Bu. Udah betah tinggal di sini." "Ya malah bagus dong, Bu. Sayang istri, juga sayang anaknya. Baik-baik sama Nak Kami

  • Karma Suami Mendua    91. Bahagianya Seorang Ibu

    Pagi ini, Bu Aminah merasa bahagia. Meskipun ada beberapa omongan miring mengenai menantunya dan anaknya, bahwa mereka sebelumnya berselingkuh di belakang Putra, dia tidak mengacuhkan hal itu. Manusia itu akan selalu mencari celah untuk menemukan kesalahan kita, atau sengaja menciptakan berita pal

  • Karma Suami Mendua    90. Berbaikan

    Jantung Harsa berdebar tak karuan ketika lampu teras dimatikan. Dia salah karena pulang di atas jam 9 malam dan tidak berpamitan pada istrinya. Kamila pasti semakin marah. Kalau pintunya dikunci dari dalam, dia harus mengetuk pintu, pulang ke rumah ibunya, atau tidur di teras?Harsa menoleh ke bela

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status