LOGIN"Fiona, sini peluk papa, Nak." Putra dengan tanpa merasa bersalah, mendekati Fiona yang hendak menyusul Kamila.
Sikap istrinya membuat Putra lega bukan main. Istrinya ternyata sangat dewasa. Tidak seperti perempuan lain yang mengamuk dan berbuat kekerasan, Kamila justru bersikap tenang. Dia lega wanita itu tidak menyentuh Rebecca sama sekali. "Nggak ah. Papa jadi ikutan jelek kayak tante ini." Ucapan putri semata wayangnya membuat senyum Putra lenyap. Sejak kapan Fiona berkata tidak sopan seperti itu? "Fiona, jangan ngomong sembarangan," tegurnya dengan wajah tak suka. "Sini peluk papa, Nak. Papa kangen banget. Lihat nih, papa terluka." Fiona menatapnya tanpa minat. "Tapi aku nggak kangen sama papa. Kita nggak sedekat itu." Deg! Ucapan putrinya seperti mencubit jantungnya. Mereka memang sangat jarang bertemu. Setelah dia tergila-gila pada Rebecca, Putra memang tidak peduli lagi pada istri dan anaknya. Dia selama ini tetap berkomunikasi dengan Kamila agar istrinya tidak curiga. Ketika dia pulang pun, hanya sehari dan tidak begitu memperhatikan Fiona. "Om Harsa, gendong! Aku mau tidur lagi. Capek rasanya setelah melihat sinetron," rajuk Fiona sambil mengangkat kedua tangannya ke atas. Harsa tertawa kecil dan mengangkat tubuh Fiona, lalu membawanya keluar dari kontrakan. Mereka mengobrol dengan sangat akrab. Kaki Putra mengikuti mereka dengan hati seperti teriris. Fiona memeluk leher Harsa dan menempelkan kepalanya di kepala pria itu. Pemandangan itu membuat dada Putra seperti ditohok. Seharusnya, dia yang berada di posisi Harsa. Dia yang seharusnya menjadi tempat untuk putrinya bermanja-manja dan bercerita dengan riangnya. Tapi, posisi itu sudah digantikan oleh kakaknya sendiri. Ada rasa tidak rela ketika melihat Fiona masuk ke dalam mobil bersama Harsa. Tanpa sadar, kakinya melangkah hendak mengejar mereka. "Mas! Mau ke mana?" Cekalan di tangan kanannya membuatnya kembali ke realita. Dia menoleh, mendapati wanita yang selama empat tahun ini menemani rasa sepinya tengah menatapnya tajam. Rasa cinta yang menggebu-gebu pada wanita itu, tiba-tiba kini entah kemana. Kenapa dia bisa mengambil keputusan bodoh ini? "Aku mau mengantar Fiona," jawabnya sambil kembali menoleh ke arah mobil Harsa. Mobil itu sudah bergerak. Putra hendak mengejar, tapi terlambat. Mobil itu sudah pergi dari depan rumah kontrakannya. "Kamu lupa kalau kamu lebih memilih aku? Kamu janji akan meninggalkan istrimu," ucap Rebecca dengan wajah tak suka. Putra tidak menjawab. Dia kembali masuk ke dalam rumah kontrakan dengan hati hampa. Rasa berbunga-bunga dan bahagia ketika menjalin hubungan dengan Rebecca, kini sirna setelah semuanya ketahuan. Digantikan dengan rasa takut dan was-was. Dia sadar telah tersesat terlalu jauh. Awalnya, dia hanya iseng saja. Ingin memiliki perempuan lain yang kualitasnya di bawah istrinya, karena dia ingin memberi makan egonya. Dia ingin tantangan. Ada rasa puas ketika sudah berhasil menaklukkan Rebecca. Terlebih setelah dia terjerumus ke dalam zina, dia semakin ketagihan. Ternyata rasanya memang menyenangkan dan lebih nikmat. Putra sadar, dia sudah mengabaikan larangan agamanya demi mengikuti bujuk rayu iblis. Dan dia terlena setelah mencicipi nikmatnya perzinaan. Rasanya lebih enak dibandingkan melakukannya dengan istrinya sendiri. Tipuan setan Dasim memang dahsyat. Apalagi Rebecca mandul dan beda agama, Putra semakin menjadi-jadi. Dia menjadikan wanita itu sebagai alat untuk melampiaskan nafsu bejadnya tanpa perlu takut wanita itu hamil dan harus menikahinya. Meraka melakukannya atas dasar saling menguntungkan. Sama-sama saling memenuhi kebutuhan biologis yang tidak normal. "Istrimu baik banget, nggak marah-marah ke aku." Rebecca duduk di sebelahnya. Wanita itu mengobati luka di wajah Putra dengan hati-hati. Tidak ada yang tahu bahwa dia memiliki perilaku seksual yang menyimpang. Dia takut Kamila mengetahuinya dan menuntut cerai. Saat dia bertemu dengan Rebecca dan semakin dekat dengan wanita itu, dia merasa seperti mendapatkan durian runtuh ketika tahu bahwa wanita itu memiliki selera yang sama. Putra tahu betul perilakunya itu menyimpang dari agama. Tapi dia tidak peduli. Dia memanfaatkan kesempatan yang sudah ada di depan mata bersama Rebecca. "Nggak usah bersedih. Kita lanjutkan yang tadi gimana?" rayu Rebecca sambil mengelus-elus bagian bawah tubuhnya yang langsung mengeras. Putra langsung lupa dengan insiden tadi. Dia membalik tubuh Rebecca dan menyingkap gaunnya sampai ke atas pinggang, sebelum menyetubuhi perempuan itu di tempat yang tidak seharusnya. Dia mengerang dan memejamkan mata, merasakan sensasi yang tidak bisa didapatkannya dari Kamila. *** "Mbak, are you okay?" Kamila terus bernafas dengan terengah-engah sejak meninggalkan rumah kontrakan Putra, sampai-sampai semua orang yang ada di mobil Harsa diam. "Menangislah, Mbak. Jangan menahannya hanya agar terlihat baik-baik saja." Rina menepuk lengan Kamila dengan wajah simpati. Setetes air mata jatuh. Sebenarnya, dia tidak sekuat itu. Dia hanya tidak ingin Fiona ikut bersedih. Anak itu akan ikut menangis jika dia menangis, karena hubungan batin mereka memang sekuat itu. Isakan kecil tak sengaja lolos, diikuti dengan isakan-isakan lainnya yang menyayat hati. Kamila akhirnya tidak bisa menahannya lagi. Sejak tadi, tubuhnya gemetaran dan badannya demam. Sakit dan sesak di dadanya benar-benar menyiksa. "Sakit, Mbak. Sakit, banget." "Ya Allah, Mbaaakk." Rina memeluk Kamila dengan mata berkaca-kaca. Harsa langsung mengajak Fiona untuk keluar dari mobil. Kamila bahkan tidak memikirkan anaknya saat ini. Dia hanya ingin melampiaskan emosi yang sejak tadi ditahannya. "Rasanya kayak ditusuk-tusuk pisau jantungku, Mbak. Ya Allah, ternyata sesakit ini diselingkuhi. Pantesan banyak istri sah yang brutal menghajar pelakor," ucap Kamila di sela-sela isakannya. Tangannya meremas dada kirinya yang sakit luar biasa. Bahkan dia sendiri tidak menyangka bahwa sakit hati bisa sampai menyerang fisik juga. "Sabar ya, Mbak. Andai saja aku tahu kalau Putra sudah punya istri, aku akan menasehati dia. Andai aku tahu kalau dia juga muslim, aku akan menegur dia. Selama ini, kami mengira kalau dia seagama dengan Rebecca. Maafkan kami ya, Mbak," ucap Rina sambil menggenggam tangan kiri Kamila. Kamila semakin menangis sekuatnya. Melampiaskan rasa sakit yang tak terkira. Kenapa musibah ini menimpanya? Apa yang salah dengan dirinya? Dia sudah melakukan tugasnya sebagai seorang istri, tapi itupun tidak menjamin suaminya puas. Selama sepuluh menit, Kamila terus menangis. Mengeluarkan semuanya sampai perih di hatinya sedikit terobati. Meskipun kedua matanya sakit, dia tidak peduli. Dia hanya ingin melepaskan semua beban di hatinya. Kamila melepaskan pelukan Rina begitu dirasa tangisannya sudah cukup. Dia menerima tisu dari wanita berhijab itu dan membersihkan hidung dan wajahnya yang basah. "Makasih banget udah mau mendengarkan keluh kesahku ya, Mbak Rina. Padahal kita baru aja kenal. Kamu benar-benar membantu," ujar Kamila dengan tulus. Rina tersenyum. "Sebagai sesama wanita, aku senang bisa membantu. Kalau boleh tahu, kenapa kamu nggak menghajar Rebecca tadi? Maaf, aku sempat mengintip." Kamila menghela nafas panjang. Matanya menatap kosong pada jalanan di depan sana. "Aku nggak mau kena karma. Seperti selebriti yang lagi rame sekarang. Menjilat ludah sendiri. Mencaci maki pelakor, tapi akhirnya dia sendiri juga menjadi pelakor. Jaman sekarang, entah kenapa karma itu datangnya cepet banget." Rina mengangguk-angguk. "Aku salut sama kamu, Mbak Mila. Banyak perempuan yang memilih untuk diam saat suaminya selingkuh, tapi dengan alasan yang berbeda. Apapun itu, semoga kamu dan wanita-wanita lainnya mendapatkan kebahagiaan setelah ini." "Aamiin." Kamila tersenyum. Tidak menyangka akan bertemu dengan orang baik seperti Rina di saat yang tak terduga. "Emm, Mbak. Kalau boleh aku memberi saran, apa nggak sebaiknya kamu periksa kesehatan? Takutnya...ketularan penyakit gitu," saran Rina dengan wajah sungkan. Tubuh Kamila langsung membeku. Itu adalah bagian yang paling mengerikan ketika suami selingkuh.Tangisan dua bayi menggema memenuhi ruang bersalin. Suara itu membuat Harsa yang sejak tadi menggenggam tangan Kamila, langsung menitikkan air mata. Siapa yang menyangka bahwa dia akan memiliki dua anak sekaligus, padahalnya sebelumnya divonis sperma lemah oleh dokter dan susah untuk memiliki anak?"Dua-duanya laki-laki, Pak."Dokter tersenyum sambil memperlihatkan kedua bayi mungil yang baru saja lahir.Harsa mematung. Tatapannya terpaku pada wajah kedua putranya. Hidung mungil, alis yang tegas, bentuk bibir, dan lesung pipi samar yang muncul ketika salah satu bayi meringis.Dadanya berdebar semakin kencang. Dua bayi tampan itu adalah anaknya. Darah dagingnya."Dek, wajah mereka..."Air matanya jatuh tanpa bisa dibendung. Hatinya terasa begitu penuh, sampai-sampai rasanya ingin meledak."Persis..."Kamila yang masih sangat lemah, menoleh dengan pelan ke arah Harsa. Keningnya mengernyit. "Mas? Kenapa?"Harsa menggenggam tangan istrinya. "Sayang... mereka sama persis seperti anak-anak
Aroma kuah bakso memenuhi ruang keluarga sejak siang.Kamila duduk di sofa sambil memangku semangkuk bakso lengkap dengan tahu, mi, dan kerupuk pangsit. Sesekali ia menyeruput kuahnya, lalu mendesah nikmat. Rasanya benar-benar seperti yang dia harapkan."Maas! Teh lemonnya sudah belum?" teriaknya."Sebentar, Sayang. Tinggal ngasih es batu!" sahut Harsa dari dapur.Sejak pulang dari rumah sakit, Harsa memang selalu siaga dan menuruti segala kemauan Kamila saat itu juga. Kebahagiaan itu membuat Harsa rela melakukan apa pun demi dirinya, dan pria itu sama sekali tidak mengeluh. Urusan toko bangunan untuk sementara diserahkan sepenuhnya pada Anton dan Faisal.Di ruang keluarga, Fiona yang baru pulang dari sekolah, sedang menikmati sepotong lapis kukus."Enak banget, Ma. Belinya di mana?" tanya Fiona sambil mengunyah."Di kota tadi. Sekalian pulang dari rumah sakit."Fiona menatap makanan yang begitu banyak di atas meja. "Ma, makanan kita banyak banget. Kayak warung." Kamila tertawa kecil
"Eh, spermanya lemah, Bu. Suami saya kapan hari periksa di rumah sakit lain. Kami niatnya ke sini tadi itu sebenarnya mau ke poli Andrologi. Mau periksa ulang," jawab Kamila terburu-buru, lalu memelototi suaminya yang langsung salah tingkah. "Oh..." Wanita seumuran Bu Aminah itu tertawa, begitu juga dengan perawat yang kembali melanjutkan kegiatannya mengoleskan gel ke perut Kamila. "Hasil analisa dokter memang terkadang bisa salah, Pak. Bapak sudah benar mau mengeceknya lagi di rumah sakit lainnya sebagai referensi. Tapi kalau hasilnya sudah ada, ya tidak usah periksa lagi toh." Dokter kandungan itu menempelkan alat USG ke perut Kamila, lalu menggeser-gesernya. "Nah, itu sudah kelihatan kantong janinnya. Usianya kalau di layar ini sudah 7 minggu malah."Mata Kamila membesar ketika melihat bulatan kecil di layar monitor. Hatinya langsung meleleh. Dia melihat suaminya yang ternyata masih kebingungan. "Tapi istri saya baru saja datang bulan, Bu. Kok bisa hamil? Apa nggak keguguran it
Harsa menatap tak enak pada dokter Andrologi di hadapannya. Setelah istrinya buru-buru keluar sambil menutup hidung, dia langsung berdiri. "Maafkan istri saya, Dok. Dari tadi pagi masuk angin. Mencium bau apapun langsung muntah. Padahal sudah saya larang untuk ikut," kata Harsa dengan terburu-buru. Bukannya tersinggung, dokter itu malah tertawa. Pria berusia 45 tahun itu ikut berdiri."Sepertinya yang perlu diperiksa justru istri anda. Silahkan daftar ke poli kandungan. Bawa istri anda ke sana." Harsa langsung bengong. "Istri saya kenapa, Dok? Ada masalah dengan rahimnya? Dia cuma masuk angin. Apa nggak sebaiknya dibawa ke poli umum saja? Mungkin maag-nya kumat." Dokter itu menggeleng. Pria itu mendekati Harsa dan menggiringnya keluar. "Sudah, bawa saja ke poli kandungan." "Tapi saya belum periksa..." "Nggak usah periksa. Nggak perlu. Selamat ya." Dokter itu menepuk pundak Harsa sambil tersenyum, sebelum meminta perawat untuk memanggil nomor antrian berikutnya. Harsa berdiri de
"Udah, nenek tenang aja. Mama saya udah nggak ada dendam sama anaknya nenek. Mama saya kan baik. Saya juga udah punya papa baru, jadi mama udah nggak marah sama papa Putra dan Tante." Fiona tiba-tiba menyeletuk. Mereka semua terdiam. Bu Maria terlihat gelagapan. Tapi kemudian, wanita itu sedikit membungkukkan tubuhnya dan memegang kepala Fiona. Kedua mata Bu Maria berkaca-kaca, dan setetes air mata meluncur di pipinya yang keriput. "Pantaslah kalau ayahnya Rebecca bilang sebelum meninggal, kalian seperti malaikat. Kalian... Kalian mau memaafkan kesalahan anak ibu yang keterlaluan. Semoga Tuhan Yesus selalu memberkati kalian. Aku berdoa dengan setulus hati, semoga kalian masuk surga," ucap Bu Maria sambil berlinang air mata, lalu menegakkan tubuhnya dan memegang tangan Kamila yang ikut menangis. "Perbuatan Rebecca dan Putra memang sudah melewati batas. Tapi, kamu dan anakmu tidak dendam. Aku...aku kagum pada sikapmu, Nak. Pantas saja kamu terlihat bercahaya," lanjut Bu Maria. "Boleh
Sudah satu menit berlalu sejak wanita yang kini terlihat menyedihkan itu duduk di hadapan Kamila. Tidak ada lagi jejak kesombongan di wajah wanita itu. Hanya ada rasa lelah dan kesakitan. "Putra sudah lama meninggal. Sekitar dua tahun yang lalu." Rebecca mendongak dengan mata membelalak. Tubuhnya terlihat sangat kurus dan kulitnya begitu pucat. "Ap-apa?" Kamila mengangguk. "Dia...gagal bertahan." Tidak mungkin dia menceritakan betapa menderitanya mantan suaminya gara-gara tidak kunjung mendapatkan maafnya. Kedengarannya begitu angkuh dan jumawa. Tiba-tiba, terdengar tawa kecil dari Rebecca, membuat Kamila mengernyit. Apa ada yang lucu dari perkataannya? "Dia memang benar-benar mencintai kamu." Kamila mendengus, lalu menggeleng. "Kamu salah. Dia mencintai Delina. Mereka bahkan punya 2 anak di belakangku." Rebecca mungkin terlihat mengerikan dengan kondisinya sekarang. Rambut sangat tipis, kulitnya keriput, dan tubuhnya yang dulu kurus terlihat semakin kurus saja. Seperti mayat
Hujan turun di sepanjang perjalanan saat mobil Harsa memasuki jalan tol. Kamila duduk di belakang, sedangkan Fiona duduk di depan. Anak itu selalu bersemangat jika sudah bertemu dengan Harsa. Berbeda sekali saat bertemu dengan ayahnya.Banyak orang yang mengira bahwa Fiona adalah anak Harsa, karena
"Fio, sudah mama bilang, jangan bicara sembarangan ya, sayang," tegur Kamila dengan lembut.Meskipun dia ingin sekali bertanya tentang tante yang digambar oleh Fiona, Kamila memilih untuk menahan diri. Tante siapa? Apakah sepupunya? Dia tidak memiliki saudara perempuan, begitu juga dengan Putra. "
"Jaman sekarang, masalah ranjang pun diposting di medsos.""Ih, masa sih? Kok nggak malu ya? Jadi nggak ada privasi. Persis seperti perselingkuhan. Malah diumbar di medsos."Kamila melirik dua walimurid yang sibuk bergosip, salah satunya menunjukkan layar ponsel dengan antusias.Dia sama sekali tid
"Udah dibilangin kok. Biar aku coba telepon dia dulu," ucap Harsa sambil menurunkan Fiona yang terbangun."Nggak usah lah, Mas. Biar kami pulang naik travel. Mas lanjutin aja kerjaan di sini." Entah kenapa Kamila benar-benar enggan, meskipun dia penasaran setengah mati.Dia bimbang, apakah harus me







