เข้าสู่ระบบHujan masih mengiringi perjalanan dua orang yang tidak saling mengenal satu sama lain ini. Oh atau hanya Elmira yang tidak mengenal Gavin? Malah laki - laki itu tampak biasa saja seolah - olah ini adalah bukan pertemuan pertama mereka.
Elmira masih menerka dalam diam perkataan dari laki - laki itu tadi; 'Darimana dia tahu nama gue? Kenapa dia bilang kalau gue bakal lebih sering cari dia setelah ini?' Sayangnya rentetan pertanyaan itu tak satupun Elmira dapatkan jawabannya. Ingin bertanya pada Gavin ia enggan sebab laki - laki itu tengah fokus menyetir dalam keadaan hujan lebat. Elmira menarik napas lelah. Sudah dipusingkan dengan fakta yang ia lihat hari ini, sekarang otaknya malah berpikir keras tentang laki - laki disampingnya ini. Darimana dia mengenal Elmira dan apa yang dia maksud bahwa Elmira akan mencari - cari dirinya? Kepalanya seketika menjadi pusing, perutnya pun semakin perih melilit akibat dari terlalu lama berada dibawah guyuran air hujan. "Bodo amat! Gue cuman minta tolong buat nebeng pulang sama ini Presma! Setelahnya gue gak bakal ketemu dia lagi! " batin Elmira sambil melirik Gavin dengan ekor matanya. "Melirik orang lain tanpa permisi adalah salah satu bentuk pelanggaran. Saya enggak nyaman. Saya merasa dimata - matai," celetuk Gavin tiba-tiba. Hingga sukses membuat Elmira menoleh sempurna. "Siapa juga yang lagi lirik-lirik Lo!?" seru Elmira. "Mata kamu gak bisa bohong, El. Saya tahu saya ganteng gak perlu dilirik - lirik gitu." "Dih!?" Gavin menoleh, hingga membuat netra tajam miliknya bertemu dengan netra teduh milik Elmira. Terlihat jelas mata gadis itu yang membengkak karena seharian menangis dibawah hujan. Tatapan tegas Gavin dengan wajah datar membuat Elmira tidak bisa berkata apa-apa lagi. Elmira menjadi sedikit gugup dan kikuk. "Apa saya terlalu tampan makanya kamu sampai lirik-lirik saya kayak tadi?" Elmira melotot, lalu refleks memukul pelan lengan Gavin. "Dih! Jangan kepedean Lo! Gue sama sekali gak lirik-lirik Lo ya!" "Tapi saya ganteng banget kan?" "Ya ... Walaupun ganteng, tapi gue ..." "Oke! Saya catat!" potong Gavin. "Ini pertama kalinya Elmira Nala Catalina memuji saya." Elmira mendelik, "Heh! Enggak ya! Gue gak ada muji-muji elo dari tadi! Yang ada elo tuh yang kepedean sendiri dari tadi! Sok kegantengan ..." "Saya emang ganteng, dan seluruh orang tahu itu," potong Gavin lagi. Elmira memutar kedua bola mata malas. Kemudian bersandar pada punggung kursi, melipat kedua tangan depan dada dan memilih diam, tidak meladeni semua omong kosong Gavin yang sialnya itu benar. Gavin memang sangat tampan, Elmira tidak menyangkal itu. Tapi dengan pembawaannya dia yang begitu percaya diri membuat Gavin terlihat begitu menyebalkan Dimata Elmira. Dan satu hal yang Elmira ketahui hari ini, ternyata menghadapi Gavin harus memiliki kesabaran Extra. Dengan tingkat kepercayaan diri tinggi seperti tadi membuat gadis itu hilang kesabaran. Lantas ia menarik napas lalu membuangnya, begitu terus sampai tiga kali, membuat Gavin yang sedari tadi fokus menyetir sedikit heran dengan yang dilakukan Elmira. "Sabar, bentar lagi sampai rumah!" batin Elmira sambil mengelus dada. "Kamu kenapa? Sesak?" celetuk Gavin tiba-tiba dan itu sukses membuat Elmira menoleh. "Heh! Congor Lo tuh ya!" seru Elmira kesal. "Heran daritadi ngasal Mulu ngomongnya!" Gavin hanya terkekeh lalu kembali fokus menyetir. Kini suasana kembali hening. Elmira hanya menyahut ketika ditanya jalan menuju rumahnya dan mau dibelikan baju baru apa tidak. "Gak perlu. Gue cuman mau langsung pulang ke rumah," sahut Elmira ketika tadi Gavin sempat menyinggung masalah bajunya yang basah. "Yakin? Gak masuk angin?" "Enggak elah! Gak usah bawel ya Lo!" Gavin mengedikkan bahu, "Yaudah. Yang penting saya udah nawarin. Kan yang masuk angin juga kamu bukan saya." Elmira memijit pelipisnya. Kepalanya sakit mendengar Gavin sedari tadi berkicau hal yang tidak jelas. Emang sih itu semua berhasil mengalihkan pikiran Elmira tentang Zayn yang bercinta dengan Freya, tapi sumpah demi apapun Elmira sedang tidak mood meladeni semua omong kosong Gavin yang sialnya beberapa dari omong kosong itu adalah kenyataan. Gavin memang sangat tampan. Elmira akui itu, bahkan hanya dia satu-satunya laki-laki yang paling tampan di universitas Pramitha Indonesia. Tapi dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi seperti tadi membuat Gavin terlihat begitu menyebalkan. Gavin melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Tapi ada saja pengendara yang berani menyalipnya ditengah lincinnya aspal akibat rintik air hujan. Hingga tanpa sengaja, mobil Gavin sedikit oleng akibat bannya yang masuk ke dalam lubang berisi genangan air. "Aakhh!" pekik Elmira. "Bawa mobil yang bener dong! Gue belum mau mati!" Gavin hanya diam, fokus melihat siapa yang menyalipnya tadi. "Bukannya itu cowok kamu?" tunjuk Gavin ke arah depan tepat dimana si pengendara motor yang tengah membonceng seorang wanita dengan posisi tangan wanita itu melingkar sempurna di pinggangnya. Elmira melihat ke depan. Dan ya, benar apa yang Gavin katakan barusan. Yang menyalip mereka adalah Zayn dengan Freya dibelakangnya tengah memeluk pinggangnya posesif. Lagi, setelah beberapa saat berhasil mengalihkan pikirannya, ingatan tentang pergulatan Zayn dan Freya diatas ranjang kembali terlintas. Dadanya kembali sesak, berdenyut nyeri melihat pemandangan di depan sana. "Aakhhh!" seru Elmira lagi ketika Gavin mengerem mendadak. Karena tidak fokus laki-laki itu tidak sadar kalau didepan tadi ada lubang hingga bannya kembali masuk ke dalam lubang tadi. Membuat tubuh Elmira terdorong ke depan dan kepalanya sedikit lagi mengenai dashboard mobil. Untung saja Gavin sigap meleyakkan telapak tangannya ke depan, sehingga membuat kepala Elmira tepat mengenai telapak tangannya. "Maaf," ungkap Gavin. Dan pernyataan maaf itu keluar begitu saja dari mulu Gavin karena keteledorannya yang tidak fokus melihat kondisi lalu lintas. Tapi bukannya menjawab, Elmira tetap geming. Elmira tetap diam dengan posisi kepala yang masih setia menempel ditelapak tangan Gavin. Sesaat Gavin merasa telapak tangannya basah karena air mata. Sayup-sayup ia mendengar suara isakan Elmira. Ia menoleh lalu menarik kembali telapak tangannya, takut kalau dahi Elmira ada yang terluka. Ia memilih menepikan dulu mobilnya. "El? Kamu gak apa-apa? Kenapa nangis? Maaf tadi saya gak lihat ada lubang." Tapi Elmira tetap diam, masih setia menunduk dengan bahu yang bergetar. Suara isakannya kembali terdengar, kini terdengar lebih pilu. "Tadi saya gak fokus gara-gara..." Elmira menggeleng. "Iya, dia cowok gue," potong Elmira. "Hem?" "Di-dia cowok gue ..." Gavin mengangguk, "Iya. Saya tahu karena di kampus hubungan kalian banyak ..." "Dan yang dibonceng itu, selingkuhannya," potong Elmira lagi. "Adik tiri gue, Freya. Dan beberapa jam yang lalu, gue mergokin mereka lagi Having sexs di apartemen milik Zayn tepat dihari jadi gue sama dia." Akunya. Gavin mendadak diam. Ia yang biasanya selalu mempunyai jawaban, kini mendadak bisu. Tidak bisa berkata apa-apa. Pikirannya kembali teringat pada desas-desus di kampus mengenai Zayn yang dekT dengan Freya. Tapi karena dirinya yang tidak mau ikut bergosip memilih diam. Elmira perlahan mendongak, lalu mengusap kasar bulir bening yang mengalir diwajah cantiknya. "Maaf. Gue jadi nangis, gue gak ada niatan jadi secengeng ini depan Lo. Tapi gue gak bisa berpura gue baik-baik aja disaat gue lihat cowok gue lagi boncengin selingkuhannya, apalagi beberapa jam yang lalu gue lihat secara langsung mereka having sexs." Aku Elmira sambil memaksakan sebuah senyuman. Namun matanya tidak bisa berbohong. Dapat Gavin lihat semburat luka dan kecewa terpancar disana. Gavin menemukan kembali suaranya yang tadi tiba-tiba hilang akibat shock mendengar cerita dari Elmira. "Tukang selingkuh emang cocok sama pengkhianat." Cetus Gavin. "Maksud Lo? Tukang selingkuh sama pengkhianat apa maksud — aduh!" Gavin kini melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia kini mulai mengejar Zayn dan Freya yang jauh di depan sana. Elmira yang disampingnya menjadi takut, sebab Gavin melajukan mobil seperti orang kesetanan. Gadis itu bersungut - sungut tapi tidak Gavin pedulikan. Gavin tetap fokus ke depan sana untuk menyalip Zayn dan Freya. "Lo gila!? Gak cukup tadi kita hampir kecelakaan?!" pekik Elmira namun tidak ada jawaban sama sekali dari Gavin. "Lo..." Ucapan Elmira terputus ketika melihat mobil Gavin kini sudah sejajar dengan motor Zayn. Lantas Gavin membuka kedua jendela mobilnya, lalu melempar satu buah botol berisi air putih tepat mengenai kepala Freya, hingga membuat wanita itu mengaduh kesakitan. Elmira yang melihat aksi tiba - tiba dari Gavin itu terdiam. Fokusnya bukan kesitu, melainkan ke leher Freya yang terdapat beberapa tanda kemerahan disana. Lalu pada lengan Zayn yang tengah menyetir motor, terdapat luka cakaran disana. Tanpa meminta penjelasan Elmira sudah tahu itu tanda apa. "Sakit, ya tuhan..." batin Elmira dalam hati sambil memegang dadanya, matanya tiba-tiba kembali berkaca-kaca. Semua tanda percintaan mereka membuat Elmira kembali melempar ingatan pada beberapa jam yang lalu ketika mereka berdua tengah bergulat begitu panasnya. "Tolong, mobilnya dicepetin lagi." Namun bukannya menurut, Gavin malah sengaja membawa mobilnya sedikit ke kanan lalu tepat pada genangan air ia membawa mobilnya ke kiri hingga genangan air tadi tepat mengenai Freya. Elmira yang melihat itu terkejut dengan aksi bar-barnya Gavin. Ia bingung, dirinya yang disakiti kenapa malah Gavin yang seperti orang kesetanan? "BANGSAT! KALAU GAK BISA BAWA MOBIL JANGAN NYETIR ANJ — EL!?" Hingga pada detik Gavin hendak menyalip mereka, netra milik Elmira bertemu dengan netra Zayn. Zayn melotot, tidak menyangka mobil yang telah melempar wanitanya dengan botol dan mencipratkan air lumpur ternyata Presma di kampusnya dan kekasihnya, ah tidak tolong digaris bawahi, calon mantan kekasihnya. Zayn tidak jadi melanjutkan umpatannya. Ia terkejut melihat keberadaan Elmira di dalam sana. "El, turun! Gue gak suka Lo dianter pulang sama cowok lain!" teriak Zayn lalu dengan sengaja mensejajarkan motornya dengan mobil yang Gavin kendarai. Gavin tersenyum miring, bukannya berhenti ia malah menutup kaca jendela mobilnya lalu melaju lebih kencang seperti orang kesetanan tepat pada genangan air, hingga membuat kini keduanya terkena cipratan air. "Anjing Lo, Presma!" Umpatan-umpatan Zayn terdengar samar oleh Elmira. Lalu ia melirik ke arah Gavin. Ia masih tidak habis pikir kenapa malah Gavin yang seperti orang kesetanan. Tapi, apapun itu alasannya Elmira cukup puas melihat mereka berdua dikerjai oleh sang Presma. Lima menit kemudian, mobil Gavin memasuki kawasan perumahan elit tempat hunian Elmira. Rumah Elmira hanya berjarak lima rumah dari gerbang perumahan, lalu belok lagi ke kiri, jarak satu rumah terdapat rumah tingkat dua dengan model Italian classic berdiri kokoh di depan sana. Dengan gerbang menjulang tinggi berwarna emas. Siapapun yang melihat rumah itu pasti tahu isinya tanpa perlu masuk ke dalam. Mengingat Marcell, papa Elmira adalah seorang pengusaha properti urutan kedua di Indonesia. Sayangnya, rumah mewah dengan nuansa Italian classic itu kini tak ayal berubah menjadi neraka kehidupan bagi Elmira. Rumah yang dulunya sebuah rumah idaman bagi Zoya kini sudah tergantikan oleh Allura. "Makasih udah anterin gue pulang. By the way, maaf karena tadi Lo harus ngeliat...." Elmira tidak melanjutkan ucapannya. Ia terlalu malu membahas kembali tentang Zayn dan Freya. "Kamu gak mau berterima kasih karena saya sudah melempar adik tiri kamu dengan botol? Dan dengan sengaja menyiram dengan genangan air?" celetuk Gavin. "Ah?" Elmira kaget, tidak menyangka dengan apa yang Gavin katakan. Ia bingung harus menjawab apa sebab otaknya kini tidak bisa digunakan untuk berpikir jernih. "Sama - sama," kata Gavin akhirnya. Elmira hendak turun dari dalam mobil Gavin, namun kata-kata dari pria itu membuatnya urung. "Di pertemuan kita selanjutnya ... Saya harap kamu manggil saya kak, karena saya lebih tua dari kamu." Elmira tersenyum, lantas menggeleng. "Gue pastiin ini pertemuan pertama dan terakhir kita. Gue lagi gak mau berurusan sama laki-laki manapun dulu. Terima kasih, maaf karena udah bikin mobil Lo basah." Lalu turun dari dalam mobil. Mata elang Gavin tidak lepas dari punggung Elmira yang semakin lama semakin masuk ke dalam setelah membuka gerbang. "Saya yakin kamu akan mencari saya lagi, Elmira. Saya yakin itu," gimana Gavin lalu melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Elmira. Disaat yang bersamaan Gavin melihat motor Zayn yang berbelok menuju rumah Elmira. Tidak sengaja tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Freya sebelum kemudian mobilnya meninggalkan area perumahan tersebut. Elmira mendengar suara motor masuk ke halaman rumahnya disaat ia baru saja sampai di atas teras. Ia menoleh ke belakang ternyata Zayn dan Freya baru saja sampai. Melihat mereka berdua membuat hati Elmira kembali berdenyut nyeri. Ibarat luka yang masih basah lalu disiram dengan air garam, bukannya sembuh malah membuatnya semakin sakit. Lantas Elmira memilih berbalik badan, hendak meninggalkan mereka berdua. Ia tidak memiliki energi lagi malam ini. Energinya sudah terkuras habis karena sepanjang sore tadi menangis ditambah perutnya yang perih akibat terlalu lama terkena air hujan. "El, tunggu!" Zayn mengejar Elmira yang terus melangkah masuk ke dalam. Sementara Freya yang tengah kesulitan membuka helm dan mantelnya tidak ia pedulikan. Namun gerakan Elmira kalah cepat dengan langkah kaki Zayn yang lebar-lebar. Zayn berhasil mencegat gadis itu tepat di depan. Dengan sangat terpaksa, Elmira menatap wajah laki-laki itu dengan tatapan murka. Matanya tidak sengaja langsung tertuju pada leher Zayn yang terdapat tanda merah yang kini perlahan berubah menjadi keunguan. Ia melirik lagi ke arah lengan Zayn, disana ada bekas cakaran. Darah Elmira langsung mendidih melihat beberapa tanda pada tubuh laki-laki itu. Dirinya saja tidak pernah menyentuh bahkan mencium leher milik kekasihnya, sementara Freya dengan lancangnya menjamah tubuh laki-laki itu. Wajahnya mengeras, tangannya mengepal. Elmira siap melepas emosi yang sudah memuncak hingga ke ubun-ubun. "Kamu tadi ngapain pulang sama cowok lain sih?! Mau ngegatel sama Presma kampus kita!?" Zayn berseru. "Dia itu mantan Freya, cowok brengsek! Aku juga udah bilang kan kalau aku gak suka lihat kamu pulang sama cowok lain!" Elmira mendongak dengan mata melotot menatap Zayn. Lepas sudah emosi yang sedari tadi ia tahan malam ini. Apa dia bilang? Gavin brengsek? Terlepas dari Gavin adalah mantan kekasih Freya, tapi tidak ingatkah Zayn, dirinya jauh lebih brengsek dibanding Gavin yang hanya mantan adik tirinya? Lalu ... PLAAKK!! Satu tamparan Elmira daratkan pada wajah tampan milik Zayn. Wajah yang sekarang begitu menjijikkan untuk Elmira pandang. "Kamu nampar aku, El?!" Elmira menatap Zayn nyalang, "Iya, kenapa!? Lo gak salah nanya kayak gitu ke gue? SADAR GAK LO!? YANG BRENGSEK ITU ELO BUKAN GAVIN! DAN YANG HARUSNYA NANYA ITU GUE! LO NGAPAIN HAVING SEXS SAMA JALANG ITU DI HARI ANNIVERSARY KITA!? NGAPAIN GUE TANYA!?" Zayn bungkam. Ia terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Ia sadar betul tadi sore Elmira memergoki dirinya dan Freya tengah bercinta, namun kepalang tanggung, hasrat sudah diubun-ubun Zayn memilih untuk melanjutkan kegiatan menyenangkan itu sepeninggal Elmira keluar dari unit miliknya. "DIEM KAN LO GAK BISA JAWAB!? DENGAN ENTENGNYA LO BERCINTA SAMA JALANG INI DI KAMAR YANG BAHKAN GUE GAK PERNAH MASUKIN! SEMENTARA GUE? GUE NUNGGUIN LO KAYAK ORANG BODOH DI PARKIRAN TERUS NYUSUL LO KE APARTEMEN TAPI APA YANG GUE DAPET? GUE LIAT PAKE MATA KEPALA GUE SENDIRI LO LAGI DIATAS SI JALANG INI BERGERAK BEGITU LIARNYA! INI ANNIVERSARY KITA, OTAK LO DIMANA ANJING!" Zayn tergagap. "I—itu, tadi Freya sakit makanya ..." "ORANG SAKIT MANA YANG BISA BERCINTA BEGITU PANASNYA DI ATAS RANJANG?! ORANG SAKIT MANA ZAYN!? LO PIKIR GUE ANAK KECIL? BISA LO KIBULIN!?" Freya yang melihat drama pertengkaran sepasang kekasih itu tersenyum samar, lalu melangkah maju mendekati Elmira. "Kak, aku minta maaf .. Aku..." "Lo diem atau gue tonjok!?" potong Elmira sambil menunjuk Freya dengan jari telunjuknya. Melihat Freya yang diancam, membuat Zayn maju selangkah membawa Freya ke belakang punggung. "El! Lo kelewatan!" Elmira bertepuk tangan, berjalan mengelilingi dua orang yang ketahuan selingkuh tapi masih ingin membela diri. Sementara bi Surti yang sedari tadi mendengar pertengkaran anak majikannya dari balik tembok itu ketakutan, tidak berani keluar. Ia berharap Marcell dan juga Allura segera pulang. "Gue? Kelewatan? ELO YANG KELEWATAN, ZAYN! ELO! LO BERCINTA SAMA DIA, APA ITU GAK KELEWATAN!? SEBEGITU PANASNYA KAH JALANG SATU INI MAKANYA LO SAMPAI TERGODA?!" "Jangan seret-seret Freya, disini dia gak salah! Yang salah itu elo!" Mata Elmira melotot mendengar Zayn kini malah menyalahinya balik. Apa laki-laki di depannya ini sudah di pelet? "Lo bilang ini salah gue!?" tanya Elmira tak percaya "Iya ini salah Lo! Kalau aja Lo gak nolak gue ajakin having sexs sebelum kita nikah, gue gak akan berpaling ke Freya!" Sakit. Rasanya begitu sakit mendengar apa yang baru saja Zayn katakan. Bahkan disaat Zayn berkhianat pun laki-laki itu tetap menyalahkan kekasihnya. Padahal tindakan Elmira sudah benar untuk tidak berzina sebelum menikah. "HEH! BUKA MATA LO! SEHARUSNYA LO BERSYUKUR PUNYA CEWEK YANG GAK MAU ZINA SEBELUM NIKAH KAYAK GUE! BUKAN MALAH NYALAHIN GUE SETAN! KALAU SELINGKUH MAH SELINGKUH AJA NGAPAIN LO NYALAHIN GUE!? GUE KASI TAU KALAU LO LUPA. APA YANG LO LAKUIN SAMA FREYA ITU ZINAH! DAN SEMUA INI GAK AKAN TERJADI KALAU SI JALANG INI GAK BUKA PINTU BUAT LO MASUK! SEGITU NAGIH NYA LO NGADON SAMA DIA MAKANYA NYALAHIN GUE!" Zayn kembali terdiam. Ia sadar kalau disini dirinya yang salah karena lebih mengedepankan nafsu. Tapi bagaimanapun juga ia harus mencari pembelaan. "Lo..." kata Elmira. "JAHAT! ANJING EMANG LO BERDUA!" umpat Elmira lalu balik badan hendak masuk ke kamarnya. Luruh sudah air mata yang sedari tadi ia tahan. Bisa-bisanya kekasihnya selingkuh salahnya malah dilimpahkan pada Elmira. Tanpa Zayn sadari Freya yang sedari tadi ada di belakang punggungnya merasa mual. Ia tiba-tiba pusing hingga ... BRUKKK Freya jatuh pingsan. Zayn buru-buru berjongkok untuk memapah tubuh Freya yang tergelatak di bawah. "El! Bantuin! Adek kamu pingsan!" seru Zayn. Elmira menghentikan langkahnya namun tidak balik badan. "Dia bukan adek gue! Bukannya dia jalang Lo? Bukan urusan gue kalau dia pingsan!" "Elmira!" bentak Zayn. "FREYAA!" "Ada apa ini!?" Elmira terkejut, matanya membola sempurna ketika suara yang begitu familiar terdengar di pendengarannya. Ia balik badan, dibelakangnya sudah terdapat Allura yang menangis melihat Freya pingsan, sementara Marcell menatap dirinya tajam. "Papa..." ***** "Anak saya kenapa dok?" Freya dibawa ke lantai dua kamarnya. Marcell tidak membawanya ke rumah sakit dikarenakan mereka baru saja pulang dari rapat dengan Klien. Kini, Freya telah sadar lima menit yang lalu. Tapi rasa pening dan mual di perutnya tidak hilang juga. Apa benar hasil yang dia lihat tadi pagi di kamar mandi ketika akan buang air kecil? "Ibu tenang saja. Nona Freya tidak apa-apa. Kalau boleh tahu suami nona Freya mana?" tanya dokter Laura. Dokter pribadi keluarga Elmira. "Suami?" kini Marchell yang menyahut. "Anak saya belum memiliki suami, dokter. Dia masih kuliah baru berumur sembilan belas tahun." "Memang anak kami kenapa, dokter Laura?" timpal Allura. Sementara Elmira wajahnya datar. Ia sudah malas meladeni semua akting yang dilakukan oleh adik tirinya itu. Kali ini apalagi? "Baiklah. Singkatnya, Freya ini tidak boleh kecapekan mengingat kondisi fisiknya yang sedikit melemah. Dia tidak boleh stres karena bisa membahayakan tubuhnya. Masalah obat akan saya resepkan dibawah. Saya permisi dulu." Baik Elmira, Zayn, Allura dan juga Marcell, semuanya bertanya-tanya; Apa maksud dokter Laura? "Mari saya antar, dok," Marcell keluar bersama dokter Laura menuju lantai bawah. Sementara yang lain tetap di kamar Freya dengan raut penuh kecemasan. Tapi tidak dengan Elmira, gadis itu merasa ada yang tidak beres. "Ya, maafin aku karena tadi udah anterin kamu pulang hujan-hujanan. Aku yang salah makanya kamu kayak gini," Zayn duduk di ranjang milik Freya sedari tadi tanpa mengunakan posisinya. Kini laki-laki itu tengah menggenggam tangan Freya, merasa menyesal karena sudah mengantar pulang Freya dalam kondisi hujan lebat. Elmira yang melihat itu berdecih, "Ngapain salahin hujan, Lo gak sadar tadi gimana kerasnya 'main' di atas Freya? Gak ada sangkut pautnya sama penyakit!" "El! Kamu bisa gak sih gak usah bahas itu disini!? Ini yang bikin aku jengah sama kamu, kamu keras kepala banget tau nggak!?" "Bahas masalah apa?" Marcell yang barubsaja selesai mengantar dokter Laura ke bawah tiba-tiba mendengar kata-kata ambigu dari kekasih putrinya itu. Tapi yang namanya Elmira tetap tidak mendengarkan siapapun, ia masih disulut emosi. Tidak semudah itu untuk memadamkan api yang sudah dua anomali itu pantik sejak tadi. "Oh jadi semuanya salah gue? gue keras kepala salah gue juga? Lo having seks sama Freya salah gue juga? Bahkan tadi Lo gak pake pengaman sama dia salah gue juga?! HARUSNYA LO MIKIR!" Wajah Freya dan Zayn membuat pasalnya di dalam kamar bukan hanya ada mereka bertiga, melainkan kini ada Allura dan juga Marcell. "A—aki hamil ... Hamil anak kak Zayn." Kepalang tanggung, Elmira sudah membongkar semuanya, dengan sangat terpaksa Freya harus jujur perihal kehamilannya. Tadi pagi ketika ia hendak buang air kecil ia melakukan tes kehamilan. Bukan tanpa alasan Freya melakukan itu. Itu semua ia lakukan karena Freya sudah dua bulan ia tidak menstruasi, dan ia ingat itu semua karena kelakuannya dengan Zayn. "Apa Lo bilang?!" tanya Elmira memastikan. Freya menunduk, malu dan tidak berani dengan Allura dan juga Marcell. "Aku tau ini salah, tapi saat ini aku butuh kak Zayn. Aku hamil, aku telat mens udah dua bulan dan aku yakin ini benih kak Zayn karena aku ngelakuin cuman sama dia." jelas Freya. Bagai disambar petir siang bolong, semua yang ada disitu terkejut. Terlebih Elmira. Hari ini benar-benar hari yang penuh kejutan dari dua pasang manusia berselingkuh di depannya ini. Allura sendiri tak kalah terkejutnya. Ia malu, sangat malu. Pasalnya anak yang selalu ia banggakan bisa menjaga diri dihadapan Marcell kini malah melakukan seks diluar nikah bersama kekasih dari anak tirinya. "Ka—kamu bilang apa, Ya?" tanya Zayn gelagapan. Seketika tubuhnya gemetar, tidak menyangka benihnya akan tumbuh di dalam perut Freya. "Aku hamil anak kamu. Aku yakin ini anak kamu karena aku cuman ngelakuin itu sama kamu, kak." Kepala Elmira mendadak berdengung, sesaatbia tidak bisa memikirkan apa-apa. Mendadak ia ingin muntah mendengar apa yang adik tirinya katakan. Elmira memejamkan mata sejenak lalu membukanya, ia harus bisa mengendalikan diri sebentar. Tidak boleh limbung ataupun terlihat lemah dihadapan Zayn. "Sekarang gue tanya ..." kata Elmira. "Udah berapa kali Lo ngelakuin itu tanpa pengaman sama brengsek ini?" Freya menunduk, memilin selimut yang menyelimuti tubuhnya. "Empat kali. Yang terakhir tadi sore." Marcell dan Allura kembali dibuat terkejut. Ternyata keputusan menitipkan anak tirinya pada kekasih anaknya adalah bukan pilihan yang bijak. "Sejak kapan..." Elmira menggantung kalimatnya, lalu melihat ke arah Zayn. "Sejak kapan Lo ngelakuin itu sama jalang satu ini!?" "Elmira! Jaga lisan kamu! Dia adik kamu juga!" sentak Marcell. Lihat? Bahkan disaat seperti ini, Marcell malah membela Freya bukan dirinya. Marcell malah menormalisasi kelakukan Freya yang kelewat batas. "Adik mana yang tega having seks sama pacar dari saudara tirinya? ADIK MANA AKU TANYA!? BUKANNYA SAMA AJA KELAKUKAN DIA SEPERTI JALANG!?" "EL!" Elmira tidak mendengarkan bentakan dari Marcell lagi, kini ia kembali menatap Zayn. "Jawab! Sejak kapan!" Zayn menunduk, tangannya gemetar, lalu memilih untuk menggenggam tangan milik Elmira. "Maafin aku, El. Di perut Freya emang anak a—aku." Elmira menyentak kasar tangan Zayn, "Gak usah sentuh gue dengan tangan Lo yang menjijikkan itu! Cepetan jawab sejak kapan!" "Tiga bulan yang lalu. Tepat dihari dan bulan nyokap Lo meninggal," jawab Zayn pada akhirnya. Dada Elmira bergemuruh mendengar itu semua. Tangannya terkepal, wajahnya memerah menahan amarah, rahangnya pun mengeras. PLAKK! Hingga akhirnya, Elmira menampar Zayn untuk yang kedua kalinya. "Kamu nampar aku lagi, El? tanya Zayn sambil memegang pipinya yang baru saja ditampar oleh El. "KARENA LO PANTES! MULAI DETIK INI KITA PUTUS! LO TANGGUNG JAWAB ATAS APA YANG UDAH LO LAKUIN! LO EMANG PANTES SAMA JALANG INI!" Mendengar kata jalang membuat Marcell meradang. "Elmira! Harus berapa kali papa bilang jaga ucapan kamu!" Elmira tetap diam, ia sudah tidak punya tenaga lagi menjawab. Energinya benar-benar terkuras habis. "Gak apa-apa pa. Kak El wajar marah kayak gitu, Freya emang salah," bela Allura. "Tapi gak sepantasnya dia berbicara kasar seperti itu ma!" Tidak tahan dengan semua yang ia dengar, Elmira memutuskan berbalik badan lalu turun ke lantai bawah. Ia memutuskan untuk pergi dari rumah.Tidak bisa berkata-kata.Itulah yang Elmira rasakan sekarang. Gadis itu terbengong mendengar ucapan Gavin. Meleleh katanya. Sumpah demi apapun ini adalah kali pertama Elmira melihat reaksi alami seorang laki-laki, dan itu dia juga mengutarakannya sendiri. Reaksi Gavin itu tidak dibuat-buat, benar-benar asli sampai ia harus menyampaikannya langsung. Kalau Elmira terjemahkan ... Gavin sedang salah tingkah. Elmira sangat yakin sebab ia sudah pengalaman menjalin hubungan dengan laki-laki.Hingga akhirnya ... Dari yang diam menjadi ..."Pfftthhh! Hahaha ..." lepas sudah tawa Elmira setelah sekian detik terdiam. Ia tidak tahan melihat ekspresi serius tapi merona di wajah Gavin. "Apa sih! Lo lucuk banget tahu, kak!" Gavin semakin bingung, wajahnya kian memerah karena ditertawai oleh Elmira. "Kamu kenapa ngeledekin saya? Saya jujur, tahu!""Kak Lo tuh sadar gak sih? Lo lagi merona, lagi blushing! Ya tuhan gue tumben banget lihat cowok melted cuman gara-gara di puji!" sembur Elmira heboh. Ba
Malam pertama ...Adalah malam yang selalu ditunggu-tunggu oleh sejumlah pasangan yang berhasil menuju tahapan pernikahan dalam perjalanan cinta mereka. Tapi lain halnya dengan pasangan satu ini. Elmira merasa ngeri-ngeri sedep membayangkan hal tersebut. Elmira sadar mereka berdua sudah menikah, dan jika Gavin meminta haknya maka itu sah-sah saja.Namun di balik itu semua Elmira juga dibuat bingung dengan sikap Gavin padanya. Laki-laki itu tidak berekspresi apapun sejak tadi. Yang salah tingkah dan berdebar malah Elmira sendiri. Sesampainya di apartemen, alih-alih menerkam Elmira langsung atau menyudutkannya dulu di dinding lalu memberikan ciuman yang memabukkan, Gavin malah menyuruh Elmira masuk ke dalam kamar lalu menyusun bajunya yang ada di koper untuk di letakkan di dalam lemari. Sementara Gavin? Laki-laki itu malah sibuk dengan laptopnya dan Elmira tidak tahu apa yang Gavin lakukan dengan laptop itu. Gavin malah menganggapnya seperti tidak ada di kamar.Oh ayolah ini malam pert
Bertepatan setelah kepergian elmira, Zayn datang ke rumah Marcell untuk menetap setelah menikah dengan Freya. Laki-laki itu membawa koper-kopernya dari kost menuju rumah Marcell lalu masuk ke dalam kamar Freya. Sesampainya di sana ia menjumpai Freya tengah duduk di tepi ranjang dengan gaun tidur selutut. Wajah Freya di tekuk masam, tidak ada sedikitpun senyuman yang Zayn jumpai di wajah istrinya saat ini.Melihat penampakan itu tidak membuat Zayn gentar, ia tetap masuk ke dalam kamar yang sebentar lagi juga akan menjadi kamarnya. Ia letakkan kopernya di tepi lemari lalu mendudukkan diri di samping Freya."Freya ..." panggil Zayn sambil menyentuh bahu sang istri pelan dan lembut.Freya menoleh tanpa suara, ekspresi wajahnya menunjukkan firasat tidak tenang. Zayn masih mencoba untuk ber-positif thinking, mungkin saja Freya lelah karena seharian menyambut para tamu dan sanak keluarga yang datang di hari pernikahan mereka. Zayn mencoba meraih tangan Freya, lalu menggenggamnya."Maaf aku l
"Yuk, berangkat sekarang."Mau tak mau, Elmira akhirnya melangkah keluar menuju tempat dimana Gavin memarkirkan mobilnya. Sementara, kopernya dan tas berisi pakaian lain dibawakan oleh Gavin. Marcell, laki-laki paruh baya itu mengekori Elmira dan Gavin dari belakang bersama dengan Allura dan juga Freya. Mereka mengantar Elmira dan Gavin sampa ke depan mobil."Papa boleh main ke apartemen kalian kapan-kapan?" tanya Marcell sebelum Elmira dan Gavin membuka pintu mobil untuk memasukkan barang-barang Elmira ke dalam bagasi mobil.Elmira lalu melirik ke arah Gavin, seperti meminta persetujuan dari laki-laki yang baru saja sah menjadi suaminya itu. Bukan tanpa alasan, sebab Elmira sedikit tahu diri bahwa huniannya saat ini bukannya hasil bersama, melainkan milik pribadi Gavin yang sudah ada sejak mereka berdua belum menikah.Gavin yang sadar akan arti lirikan Elmira akhirnya bersuara. "Saya jarang sekali mengajak orang lain datang ke apartemen saya." Kata Gavin lalu melirik ke arah Elmira y
"El ... Kamu mau pergi langsung hari ini? Secepat ini? Ini belum dua puluh empat jam setelah kamu akad nikah, nak."Elmira merasa kian sesak kala Marcell menahan koper yang ia seret. Setelah prosesi akad nikah selesai, Elmira sudah memutuskan untuk langsung pindah rumah ke apartemen Gavin. Dari jauh-jauh hari, ia sudah bertekad untuk keluar dari rumah yang sudah beralih fungsi menjadi neraka kehidupan ini. Jadi sekalipun Marcell menangis darah, Elmira tidak akan goyah, ia akan tetap pada keputusannya untuk keluar dari rumah. Elmira tidak mau semakin merusak mentalnya dengan bermalam disini karena melihat dan mendengar malam pertama sang mantan kekasih dengan si adik tiri."Gak bisa. Aku udah bertekad dari jauh-jauh hari bahwa aku akan keluar dari rumah ini," sahut Elmira, berusha melepas cekalan tangan Marcell yang ada di kopernya. Tapi alih-alih melepas, Marcell kini malah bersih mencekal tangan Elmira kuat-kuat. Dan hal itu sukses membuat Elmira mengangkat wajah, hingga akhirnya dap
"Mama! Aku mau pura-pura pingsan aja biar semua tamu yang disini gak ngetawain aku! Ini semua gara-gara mama!"Sementara Allura hanya bisa menunduk malu, malu karena tidak bisa melindungi sang anak tercinta. Seharusnya ia mengikuti apa kata Freya tadi, tapi dia malah tetap membujuk anaknya dengan rayuan-rayuan maut yang dia ucapkan.Disaat ramai-ramainya cibiran dan tawa yang ditujukan untuk Freya, Elmira tampak menuruni tangga. Perlahan suara tawa dan bisik-bisik mulai sirna, seluruh atensi dari para tamu undangan beralih ke arah sang tuan putri yang sebenarnya, yang tampak memukau dengan baju pengantin yang dia kenakan. Dan Zayn termasuk di antara mereka yang terpukau dan terpesona dengan kecantikan yang elmira pancarkan. Laki-laki itu tak henti-hentinya memuji Elmira dalam diam.'ternyata bentukan Lo kayak gini, El kalau makai baju pengantin. Tapi sayang, meskipun kita di akad yang sama, tapi pengantin yang gue nikahin bukan Lo.' batin Zayn dengan mata yang terus menatap Elmira nan







