Beberapa menit sebelumnya,
"Kamu sudah selesai?" tanya Alina yang sejak tadi menunggu di depan kamar mandi laki-laki. Naren diam tak menanggapi. Apa yang sudah terjadi 4 tahun sebelumnya membuat ia tak bisa bersikap baik-baik saja ke Alina. Naren lanjut berjalan, mengabaikan Alina yang terus mengikutinya dari belakang. Tidak terima dengan sikap Naren yang begitu dingin, Alina berlari kecil untuk bisa menyaingi Naren. "Naren!" Alina berhasil menahan tangan Naren. Naren membalikkan badannya. Kedua alisnya menekuk ke bawah dengan otot rahang yang semakin mengetat. Tatapan dingin yang mengisyaratkan kemarahan tersampaikan ke Alina yang menjadi takut. Bukk. Naren mendorong tubuh Alina ke dinding cukup keras. Alina tidak cukup cepat untuk bereaksi. Matanya terbuka lebar menatap Naren. Mata Naren yang dulunya melihatnya dengan penuh cinta sudah tak ada lagi disana. "Apa kamu tidak punya rasa malu sedikitpun?" tekan Naren, meremas tangan Alina sangat kuat hingga Alina meringis. "Sa-sakit Naren," Tapi hal itu tak menyurutkan niat Naren untuk menghancurkan wanita itu. Tanpa mereka sadari, lagi-lagi Nora menyaksikan mereka. Nora yang malah berpikir sebaliknya. Berpikir sepasang suami-istri istri itu sedang ingin bercumbu di depan umum. Pelan-pelan berjalan melewati mereka, sebisa mungkin menghilangkan suara langkah kakinya. Tapi gaun panjang yang ia gunakan dan rasa gugup karena melihat adegan itu, membuatnya tidak sengaja menginjak gaunnya. "Kyaaa!" Nora refleks bersuara saat tubuhnya terhuyung ke depan dan hampir membuat ia mencium lantai yang dingin. Untungnya tak terjadi. Nora mengangkat kedua tangannya mencoba menyeimbangkan dirinya, menguatkan jari-jari kaki kirinya untuk menopang tubuhnya yang lebih besar. Namun sayangnya dia gagal untuk tidak menarik perhatian Naren dan Alina yang sekarang melihat ke arahnya. "Ma-maaf. Silahkan dilanjutkan!" ujar Nora gugup, segera berlari menjauh. "Jadi itu suaminya?" gumam Nora. Menyadari sosok laki-laki yang bersama wanita yang baru ia kenal. Laki-laki yang Adisty panggil dengan nama Naren. "Mereka sangat cocok." Suara yang mulai terasa tidak asing, wajah yang beberapa kali ia lihat, Naren baru sadar ternyata wanita tadi adalah Nora. Namun ia tak peduli akan hal itu. Saat ini di pikiran Naren hanya pergi dari tempat itu. "Naren!" panggil Alina lagi, saat Naren memilih untuk melepaskannya. "Jangan uji kesabaranku Alina!" tekan Naren berlalu pergi. Naren tak kembali ke tempatnya. Dia berjalan ke arah pintu keluar. Namun langkahnya langsung terhenti saat tiba-tiba Nora datang menghampirinya dan menempelkan bibirnya. "Apa wanita ini tahu cara berciuman?" batin Naren kesal, lelah bermain sendiri. Bibir Nora yang manis dan kenyal, sama sekali tak memberikan kenikmatan untuk Naren. Seharusnya Noralah yang bekerja lebih keras karena dialah yang lebih dulu melemparkan dirinya ke Naren, tapi nyatanya dia hanya menerimanya saja. Membuka matanya dan melihat ekspresi Nora yang sama sekali tak bergairah saat menempelkan bibirnya, Naren merasa terhina. "He," senyum di sudut bibir Naren mengembang. Saat sebuah ide muncul di benaknya. Naren menggigit bibir Nora hingga memberikan luka di tengah bibir Nora. Seharusnya Nora bereaksi dengan membuka matanya atau menarik bibirnya kembali, tapi ini tidak. Nora masih saja menempelkan bibirnya ke Naren. "Apa sesakit itu?" batin Naren, menyadari tetesan air mata yang mengalir dari kedua pelupuk mata Nora. Suara tangis yang tak bersuara namun mengisyaratkan luka yang begitu dalam. Selain itu, tubuhnya juga gemetar hebat, keringat dingin bermunculan mengelilingi area keningnya. Suara nafas hangat yang memburu di setiap tarikan. Nora tidak dalam keadaan baik-baik saja. "Nafasnya terlalu cepat," Naren menyadari. Nora membuka matanya, tatapannya sangat kosong. Nafasnya tiba-tiba menjadi melemah. Perona pipi yang cerah luntur memperlihatkan wajahnya yang pucat. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Nora terjatuh di depan Naren. Naren sigap menangkapnya, mendekapnya dalam pelukannya. "Nora!" Danu berjalan mendekat. Dia ingin memegangi Nora, namun ditepis Naren. "Dia Pacarku!" tekan Danu dengan wajah memerah. "Ku rasa tidak lagi!" balas Naren datar. Ia mengangkat tubuh Nora dengan entengnya, mungkin karena tubuh Nora tidak terlalu besar. Naren membopong Nora, membawanya pergi bersama dengannya. "Tunggu! Kamu mau bawa kemana Pacarku?" tahan Danu, mencengkram pundak Naren dengan sangat kuat. Matanya merah menyala, mencoba mengintimidasi Naren. Sayangnya itu tidak berguna. "Naren!" Alina mendekat. "Sebaiknya kamu tidak ikut campur," Naren tersenyum getir. "Lalat memang selalu tahu jenis mereka!" ucap Naren menajamkan matanya. Ia melihat ke arah Danu, dengan tatapan yang sama dengan Danu. Sama-sama memperlihatkan tatapan tidak suka. "Lepaskan tanganmu jika tidak ingin patah!" "Seharusnya aku yang bilang begitu!" "Danu! Lepaskan!" Adisty ikut bergabung. Adisty berusaha menarik tangan Danu dengan tangan gemetar. Karena Adisty tahu, laki-laki itu tidak pernah main-main dengan kata-katanya. Dia adalah orang yang Danu harus hindari. "Danu!" bentak Adisty kesal. Dia menarik Danu menjauh dari sana dan Naren bisa berjalan kembali. Setelah mereka berdua berhasil keluar, sebuah mobil datang mendekat. Laki-laki berkacamata keluar dari mobil dan memberikan mereka tumpangan. *** Laki-laki berkacamata itu masih memandangi kaca spion, memastikan keadaan Nora yang duduk di belakang. Keringat yang terus bermunculan di area wajah Nora. Suara nafas yang tak beraturan, dan wajah yang semakin pucat, memicu kecemasan laki-laki berkacamata itu. "Dia tidak mati kan?" Dia tidak tahu saat ini dia sedang berada di situasi seperti apa, yang jelas dia cukup menyesal langsung datang setelah mendapatkan panggilan dari Naren yang memintanya untuk datang menjemputnya. "Orang tidak akan mati hanya karena pingsan." "Kata siapa? Emang kamu dokter?" "Jangan banyak bicara. Aku mau tidur!" "Kamu memang tidak punya hati!" Laki-laki itu sangat kaget melihat Naren keluar sambil membopong seorang wanita yang tidak dikenalnya. Yang lebih mengejutkannya, cara Naren meletakkan Nora. Ia melempar Nora begitu saja ke tempat duduk seperti barang mati. Saat inipun begitu, Nora dibiarkan duduk sendiri di belakang dengan kepala beberapa kali terbentur kaca. Entah sampai kapan posisi itu bertahan sampai mobil berbelok mungkin tubuhnya akan jatuh bergelinding ke bawah. "Kenapa mobil ini berubah seperti kura-kura?" tegur Naren. Mobil merah sporty yang harusnya bisa melesat cepat di jalanan bergerak pelan karena takut membuat Nora jatuh. "Kamu sudah gila? Bagaimana kalau dia jatuh ke bawah? Kepalanya terbentur? Terus dia amnesia?" "Bagus kalau begitu," Jika bisa begitu, mungkin itu akan menjadi anugerah terbesar Nora. Dia bisa melupakan rasa sakit yang membuatnya merasa sakit hati, batin Naren. "Kamu memang laki-laki tak berperasaan!" Naren tidak menyangkalnya. Apapun yang dikatakan laki-laki berkacamata itu memang benar. Naren memejamkan matanya pura-pura tidur agar temannya tidak mengoceh lagi. Mereka akhirnya memutuskan membawa Nora ke rumah sakit. Vivi yang kebetulan berjaga hari itu kaget mendapatkan bahwa pasien darurat yang datang adalah Nora dan yang membawanya adalah laki-laki berkacamata. "Anda pacar Mba Nora?" Bukannya langsung memanggil temannya yang lain, Vivi lebih tertarik dengan sosok laki-laki tinggi tampan itu. "Bu-bukan. Ini. Mau ditaruh dimana?" tanya laki-laki kacamata cemas. "Di sana!" tunjuk Vivi menunjuk salah satu ranjang yang kosong. "Kenapa ini?" tanya kepala perawat. Ikut mendekat setelah melihat pasien yang datang adalah Nora. "Saya tidak tahu." "Tidak tahu?" Vivi dan kepala perawat melempar tatapan tidak percaya. "Saya memang tidak tahu!" laki-laki berkacamata itu mengangkat kedua tangannya. Dia datang ke sana hanya dasar keterpaksaan. Naren yang menyuruhnya membawa wanita itu ke sana. Tadinya dia sudah menolak tapi... "Kamu ingin melihat wanita itu mati di dalam mobilmu?" kata-kata itu membuat laki-laki itu langsung membopong Nora dan membawanya masuk ke dalam. "Tidak mungkin anda tidak tahu. Lalu kenapa anda bisa membawanya ke sini?" bentak kepal perawat. Nadanya yang kencang dan raut wajahnya yang jutek menekan laki-laki itu yang langsung menciut. "Saya menemukannya dalam keadaan tidak sadar!" Laki-laki itu tidak sepenuhnya bohong, karena saat melihatnya dia sudah tidak sadar dalam pelukan Naren. "Dimana?" tanya Vivi dia lebih penasaran dengan apa yang terjadi daripada keadaan Nora. "Di Le Paradise." "Vivi infus PCT!" "Ya Bu!" "Saya boleh pergi kan? Saya hanya datang membantu!" "Ya." Laki-laki berkacamata itu segera pergi dari sana. Menyerahkan sepenuhnya Nora pada tim medis. "Bagaimana?" tanya Naren saat laki-laki itu membuka pintu mobil. "Kalau kamu khawatir seharusnya kamu yang membawanya masuk!" "Aku tidak tanya itu!" tekan Naren, nadanya sangat serius lebih serius dibandingkan tadi. "Lalu?" "Kamu tidak mau menjelaskan sesuatu padaku?" Tatapan dingin Naren membuat suasana di dalam mobil ikut dingin. "Aku tidak mengerti maksudmu." "Aku bertemu dengan wanita itu." "Wanita?" Kebingungan laki-laki itu membuat Naren semakin meruncingkan pupilnya. Aura dingin yang terasa berubah menjadi berapi-api. "Aku benar-benar nggak ngerti maksudmu!" balas laki-laki itu menghindari tatapan membunuh Naren. "Alina?" Tebaknya, siapa lagi wanita yang dimaksudkan Naren yang bisa membuat Naren berubah seperti serigala seperti saat ini. "Hmm," "Aku ingin memberitahumu tapi kamu langsung mematikan handphone mu!" Naren teringat saat hujan waktu itu. "Lalu bagaimana?" "Aku yang harusnya tanya. Apa tujuannya kembali?" "Aku tidak tahu. Kakekku sama sekali tidak bilang apa-apa. Menurutmu?" "Aku tidak tahu." Pastinya itu tidak menjadi hal yang baik untuknya. *** Nora terbangun setelah beberapa menit tak sadarkan diri. Tatapannya masih kosong seperti tadi. Ingatan saat ia melihat Adisty yang begitu berkeringat duduk di atas laki-laki bertelanjang, bagaikan pedang tajam yang kembali merobek jantung Nora. "Hiks. Hiks. Hiks." Nora kembali menangis, tangannya meremas dadanya yang terasa begitu sakit. Luka dalam yang sama sekali tak berdarah. "Ada apa Mba?" Vivi berlari cepat setelah mencari suara tangis yang ia dengar. "Sakit. Dadaku rasanya sangat sakit!" ujar Nora. "Tunggu sebentar. Aku panggilkan dokter!" Vivi yang berlari memanggil dokter yang berjaga. "Bagaimana rasa sakitnya?" tanya Dokter itu sambil memeriksa keadaan Nora. "Sangat sakit." tangis Nora, semakin meremas dadanya. Dokter yang merasa tidak ada yang aneh dengan detak jantung Nora merasa bingung dengan apa yang terjadi. "Kita rontgen saja!" ujar Dokter untuk mencari tahu masalah yang terjadi karena dia tidak bisa menyimpulkan penyakit yang terjadi. "Hiks. Hiks. Hiks." Tangis Nora masih berlanjut. Rasanya, Nora ingin membuang jantungnya, agar dia tidak merasakan rasa sakit yang hampir membuatnya merasa mati. Rasa cinta yang begitu dalam pada Danu bagaikan ribuan pedang tajam yang merobek setiap bagian tubuhnya. Nora sampai memukul-mukul dadanya agar rasanya bisa reda. Tapi bukannya reda, malah setiap ingatan manis yang pernah dilalui bersama datang menghampiri seperti ribuan panah yang menusuk jantung. "Mba!" ujar Vivi menenangkan. Vivi tidak mengerti apa yang terjadi. "Mba kenapa?" tanya Vivi menyadari sesuatu yang tidak beres. Pakaian yang cantik dan polesan wajah yang begitu anggun, datang dengan wajah pucat dan mata sembab. "Mba putus?" tanya Vivi, membuat Nora terdiam. Dia tidak tahu hubungannya akan seperti apa sekarang. Dia belum mengucapkan kata putus, tapi juga dia tidak ingin kembali pada hubungan yang sudah mengkhianatinya. "Vivi tolong aku. Rasanya sakit sekali!" ujar Nora terlihat sangat lemah. Vivi yang biasanya ceplas ceplos dan tidak terlalu peka dengan perasaan orang lain, ikut merasakan kesedihan Nora. "Tenang Mba! Tenang! Aku pasti akan membantu Mba!" ujar Vivi memeluk Nora. "Rasanya begitu sakit hingga membuatku ingin mati." ujar Nora lirih. Perkataan bodoh yang seharusnya Nora tidak pernah ucapkan. "Bukan begitu caranya. Saat Mba mati apa Mba pikir pacar Mba akan merasa sedih?" bentak Vivi penuh emosi. Nora terdiam, bahkan walau Vivi sudah mengatakannya. Nora masih terlihat enggan untuk menerima. Seluruh hidupnya ada di Danu. Semua hal yang ia lakukan selama hidup ini selalu berkaitan dengan Danu dan sekarang bagaimana ia bisa menjalani hidup tanpa Danu? Haruskah dia memakluminya? atau mengakhiri hubungannya? atau mengakhiri dirinya agar Danu terus dihantui rasa bersalah? Mungkin itu adalah pembalasan terbaik yang ada di pikiran Nora.Pria tua itu menatap Naren sejenak, seolah mencoba membaca kebohongan atau kebenaran di balik ucapannya. Tapi akhirnya ia mundur perlahan, dan melangkah pergi, meski pandangannya tetap tertinggal di mobil mereka.Begitu bayangan pria itu tak lagi terlihat, Naren kemudian menyibak jas yang menutupi kepala Nora. Nora duduk terpaku. Tubuhnya masih gemetar, pandangannya kosong, seolah jiwanya belum kembali ke dalam dirinya. Bibirnya kelu, tak ada suara, tak ada warna.Naren hanya menatapnya, bingung harus berbuat apa. Dengan tangan yang masih dingin, ia mengangkat dagu Nora perlahan, menelusuri pipi pucat itu dengan jemarinya. Sentuhannya yang terasa dingin, menggerakkan mata Nora yang bergerak pelan, menatapnya. Tapi tatapan itu terlihat hampa. Bukan Nora yang biasanya menatapnya tajam, bukan Nora yang pura-pura terlihat berani. Bukan juga wanita yang pura-pura terlihat baik di depan orang tercintanya. “Dia sudah pergi!” beritahu Naren. "Sudah pergi?" b
Naren menarik Nora ke dekatnya dengan gerakan cepat, membuat tubuh perempuan itu terhuyung, terperangkap dalam genggaman yang tak sempat ia tolak. Dalam satu tarikan napas, posisi mereka berubah. Kini, Nora yang tertindih di bawah tubuh Naren, di atas sofa panjang yang dingin dan sempit. Nafas mereka bertemu, terlalu dekat, terlalu panas.Naren menatap dalam-dalam, memaku pandangannya pada mata Nora yang bergetar. Bola mata wanita itu tampak terkejut, namun tak juga menghindar. Ia membeku, tubuhnya menegang saat Naren menunduk perlahan."Ketenanganku terusik," ucap Naren dengan nada rendah, dingin seperti biasanya. Matanya menusuk, menuntut, seolah mencari jawaban dari tatapan Nora yang kini mulai menghindar.Wajah Naren turun perlahan, napasnya hangat menyapu kulit halus di leher Nora. Tangan yang semula menggenggam kuat kini melemah, entah karena lelah atau karena sesuatu yang tak bisa ia lawan. Nora menggigit bibirnya, hendak mendorong tubuh Naren, tapi
Di ruang makan, suasana begitu canggung. Naren duduk tegak, tangannya rapi di pangkuan, matanya menyapu meja makan tanpa benar-benar melihat. Ayah Nora duduk di hadapannya dengan ekspresi kaku. Nadin di samping mereka, berusaha menjaga senyum."Ini Nora yang masak!" ujar Nadin tiba-tiba, mencoba memecah keheningan yang menggantung.Nora hanya melirik cepat ke arah Naren, dan tanpa disangka, Naren juga melirik padanya. Pandangan mereka bertemu. Naren diam memandangi, tidak menyangka Nora bisa memasak. Ia diam sejenak sampai perhatiannya teralihkan oleh pertanyaan Ayah mertuanya, "Apa kamu mencintai putriku?" Nora refleks menoleh ke arah Ayahnya. Jantungnya berdetak kencang, takut jika Naren menjawab hal yang tidak seharusnya diketahui oleh Ayahnya. Namun yang paling mengejutkannya adalah reaksi Naren yang malah tersenyum. Senyum itu... Nora mengenalnya. Bukan senyum hangat, tapi senyum formal dengan niat tersembunyi. "Tentu saja. Kalau tidak
Nora berdiri di depan pintu gedung. Matanya sesekali menatap ke arah jalan, menunggu kedatangan Nadin, yang berjanji akan menjemput.Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar mendekat. Seorang pria muda dengan pakaian rapi dan wajah familiar berhenti tepat di hadapannya."Hallo, Mba Perawat. Anda masih ingat saya?" sapanya sambil tersenyum ramah.Nora sempat bingung beberapa detik, namun matanya menyipit saat meneliti sosok di hadapannya. Di leher pria itu tergantung kartu identitas dengan logo media terkenal."Saya laki-laki yang pernah Mba tolong, malam itu di depan toko. Saya reporter,” jelasnya sambil tersenyum, menunjukkan kartu identitasnya. Nora langsung teringat. "Bagaimana keadaan Anda sekarang?" tanya Nora hangat.“Saya baik-baik saja, berkat Anda,” jawab pria itu tulus. Kemudian, matanya melirik ke arah gedung di belakang Nora. “Anda tinggal di sini?”“Iya…” jawab Nora sedikit canggung, memutar b
Naren kembali masuk ke ruangan pesta dengan langkah berat. Matanya langsung menelusuri kerumunan, mencari sosok pria yang tadi dengan lancang menyentuh Nora.Begitu melihatnya tertawa bersama rekan-rekannya, amarah Naren meledak. Ia menghampiri tanpa aba-aba, lalu menarik tangan pria itu dan memutarnya dengan kasar.“Krekk!”“Aghhh, tanganku! Tanganku!” pekik pria itu kesakitan. Wajahnya memucat, tubuhnya gemetar. Beberapa tamu di sekitar terkejut. Musik berhenti seketika. Semua mata tertuju pada Naren.“Aku sudah memperingatkan dia. Aku bilang wanita itu datang denganmu!” ujar seorang rekan pria itu dengan panik, mencoba menjelaskan dan menyelamatkan diri.Naren tidak mengucapkan sepatah kata pun. Tatapannya tajam, dingin, dan penuh ancaman. Setelah memastikan pria itu cukup menderita, ia melepas tangannya dan berjalan pergi begitu saja, meninggalkan keributan kecil di tengah pesta.Andrew yang melihat semua itu, berdiri membeku
“Tidak ada gunanya aku tetap di sini,” ucap Nora, lantang tapi bergetar. “Keberadaan ku hanya akan menghambat hubunganmu dengan Alina. Bukankah kamu ingin kembali padanya? Jadi mari akhiri hubungan ini. Untuk kerugianmu, aku berjanji akan membayarnya. Aku tidak bohong. Aku tidak akan lari!” sambung Nora, suaranya terdengar tegar meski masih bergetar. Naren hanya menatapnya. Wajahnya datar, tapi matanya menajam. Ia melangkah mendekat, jarak mereka kini hanya sejengkal. Dengan tangan dingin tapi mantap, Naren mengangkat dagu Nora dan memegangi wajah kecil itu dengan tekanan yang tidak menyakitkan, tapi cukup untuk membuat Nora menahan napas.“Apa kamu sudah selesai bicara?” tanya Naren pelan, nyaris seperti bisikan tapi mengandung ancaman halus di balik tenangnya.Nora tak menjawab. Sorot matanya tetap kuat menatap Naren.“Apa kamu tidak paham dengan perkataanku? Dengarkan ini baik-baik. Setelah kamu berani masuk, jangan harap bisa keluar begi