Share

Bab 4

Author: Maya Sprite
Melihat Sinta akhirnya luluh, Yudha pun segera memanggil Pak Andy untuk membawakan perlengkapan yang dibutuhkan.

Tak lama setelah Sinta kembali ke ruang perawatan neneknya, Pak Andy bergegas datang membawakan draf "klarifikasi" yang sudah dicetak.

"Bu Sinta, kita bisa mulai sekarang. Ini naskahnya. Pak Yudha bilang, Anda cukup membacanya saja," ujar Pak Andy.

Sinta menundukkan pandangannya, menatap kata-kata di atas kertas yang memutarbalikkan fakta itu. Kalimat-kalimat tersebut seakan-akan mengukuhkan bahwa Arga adalah pembunuh, sementara Dania hanyalah korban penipuan hingga mau menjadi pengacaranya.

"Aku …." Sinta membuka mulut, keraguan yang mendalam terpancar jelas di wajahnya.

Sinta mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Dia sadar bahwa saat ini keberadaan neneknya jauh lebih penting. Dalam hati, Sinta bersumpah bahwa setelah neneknya kembali, dia pasti akan menemukan bukti untuk membersihkan nama Arga!

"Bu Sinta, ruang perawatan untuk Nyonya Besar sudah disiapkan. Tim dokter terbaik di seluruh Kota Gania sudah dalam posisi siaga," ujar Pak Andy sambil membetulkan letak kacamata bingkai emasnya. Dia mengingatkan Sinta dengan nada bicara yang dingin tanpa emosi.

Ini adalah sebuah transaksi. Imbalannya adalah nyawa neneknya.

Sorot mata Sinta perlahan meredup dan menjadi dingin. Sekarang, Yudha bahkan tidak berpura-pura lagi. Jika Dania begitu penting di hatinya, mengapa dahulu pria itu harus menikahinya?

Sinta segera mengambil ponselnya, menatap kata-kata di atas kertas itu dan mulai membacanya.

"Mengenai kasus adikku, Arga Kumara, terdapat banyak kesalahpahaman. Bu Dania sudah menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab di persidangan. Aku sendiri yang nggak memahami fakta yang sebenarnya dan kurang mengenal adikku sendiri, sehingga menimbulkan keresahan bagi semua orang. Dengan ini, aku memohon maaf yang sebesar-besarnya …."

Setelah selesai merekam, Pak Andy kembali memeriksanya, lalu mengangguk. "Pak Yudha akan segera melihatnya. Nenek Anda akan segera dipindahkan kembali ke sini."

Tanpa memedulikan Sinta lagi, Pak Andy berbalik dan langsung pergi.

Sepeninggal Pak Andy, seluruh ruangan menjadi sunyi senyap hingga terasa mengerikan. Tiba-tiba, Sinta merasa begitu kedinginan. Rasa bersalah yang mendalam terhadap Arga menghantam batinnya dengan dahsyat.

Ponsel Sinta bergetar. Masuk sebuah pesan singkat dari bank.

Sejumlah uang dalam jumlah yang fantastis, yang cukup untuk membiayai pengobatan di Rumah Sakit Kota Gania selama sepuluh tahun, sudah ditransfer ke rekeningnya.

Inilah cara Yudha.

Menggunakan uang untuk membungkam mulut seseorang.

Sinta bahkan mulai meragukan apakah Yudha pernah benar-benar tulus saat mengejarnya dahulu, apalagi sekarang Dania sudah kembali.

Memikirkan hal itu, keinginan Sinta untuk bercerai dan pergi ke luar negeri demi melanjutkan studinya menjadi makin mendesak ....

Tak lama kemudian, Nenek sudah dipindahkan ke ruang perawatan VIP pribadi. Suara peralatan medis terdengar teratur, sementara Nenek terbaring tenang di ranjang pasien.

Sinta duduk di sisi tempat tidur dan menyeka tangan Nenek dengan handuk hangat. Menatap wajah tua yang tengah terlelap itu, Sinta merasa takut. Bagaimana jika Nenek bangun nanti dan menanyakan Arga?

Pintu ruang perawatan terbuka perlahan. Itu adalah Dania.

Pakaian mewah rancangan desainer ternama dan perhiasan yang dikenakannya terasa begitu kontras dengan suasana ruang perawatan yang sederhana dan tenang ini.

"Aku datang untuk menjenguk Nenek," ujar Dania dengan nada penuh perhatian yang palsu. "Kamar ini sangat bagus. Yudha benar-benar mencurahkan banyak perhatian untuk ini."

Sinta tidak menengadah. Dia terus melanjutkan kegiatannya, seakan tidak mendengar apa-apa.

Dania juga tidak peduli. Dia berjalan ke sisi Sinta. Suaranya tidak keras, tetapi setiap katanya terdengar begitu jelas. "Yudha itu memang berhati lembut. Dia paling nggak tega melihat orang lain menderita. Soal adikmu itu, meski Yudha nggak bilang, sebenarnya hatinya juga merasa terganggu. Sekarang, semuanya sudah beres. Begitu video itu diunggah dan opini publik mereda, Yudha juga bisa merasa tenang."

Dania menata Sinta dengan tatapan merendahkan. Senyum penuh kemenangan menghiasi bibirnya.

"Sinta, aku tahu kamu merasa terzalimi. Tapi, ada beberapa hal yang kalau memang bukan ditakdirkan untukmu, nggak bisa kamu paksakan. Perlakuan Yudha terhadapmu, sebenarnya sudah sangat baik."

Dania menggoyangkan pergelangan tangannya pelan, memamerkan Jam Tangan Fariza yang baru saja dihadiahkan oleh Yudha. Berlian pada jam itu memantulkan cahaya yang begitu menyilaukan di bawah lampu ruangan.

"Orang itu harus tahu diri. Posisi yang bukan miliknya, kalau diduduki terlalu lama, akan membuat celaka."

Gerakan menyeka Sinta terhenti. Raut wajahnya langsung menjadi dingin.

Sinta menengadah, menatap wanita yang tampil begitu gemerlap di hadapannya itu.

Tiba-tiba, Sinta tersenyum. Tawanya terdengar begitu lembut. "Sudah selesai bicaranya? Kalau sudah, silakan keluar. Jangan berisik dan mengganggu istirahat nenekku. Aku tahu persis siapa diriku dan apa posisiku. Aku nggak pernah bermimpi untuk menaikkan statusku. Kalau kamu menginginkan posisi ini, ambil saja, akan kuberikan padamu."

Dania tertegun.

Dia sudah membayangkan segala macam reaksi dari Sinta. Namun, dia sama sekali tidak menduga akan ketenangan seperti ini.

"Kamu …."

"Keluar!" Sinta bangkit berdiri, menatap mata Dania dalam-dalam dan kembali mengulangi perintahnya.

Dania menggertakkan giginya. Akhirnya, dia hanya mendengus sinis, lalu berbalik pergi dengan sepatu hak tingginya.

Begitu pintu tertutup, tubuh Sinta langsung sedikit goyah. Sinta segera berpegangan pada pinggiran tempat tidur untuk menahan dirinya.

Niat untuk bercerai itu bukan lagi sekadar dorongan sesaat, melainkan sudah tertancap kuat di benak Sinta bagaikan paku baja.

Dia harus membawa Nenek pergi, meninggalkan tempat yang menyesakkan ini. Kemudian, dengan segala cara, Sinta akan membersihkan nama Arga!

Keesokan harinya, dokter mengatakan bahwa Nenek masih belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar. Sinta meminta perawat untuk menjaga Nenek sebentar dan dia segera pergi ke rumah tahanan.

Di balik lapisan kaca antipeluru yang tebal, Sinta melihat Arga.

Hanya dalam beberapa hari, sosok pria yang dalam bayangannya selalu penuh semangat dan ceria itu sudah sirna. Tulang pipi Arga terlihat begitu menonjol, matanya begitu cekung dan seragam tahanan yang terlalu besar tampak longgar di tubuhnya, layaknya seorang anak kecil yang mengenakan pakaian orang dewasa, membuat Arga terlihat makin kurus dan rapuh.

"Kak!"

Saat melihat Sinta, mata Arga tampak memerah. Dia langsung menerjang ke arah kaca. Air matanya langsung tumpah membanjiri pipi.

Sinta mengangkat gagang telepon, suaranya terdengar bergetar. "Arga …."

"Kak! Bukan aku! Aku benar-benar nggak membunuhnya!" Suara tangisan Arga pecah di ujung telepon.

"Saat aku sampai di ruangan privat itu, wanita itu sudah terbaring di sofa dan nggak bergerak sedikit pun. Kupikir, dia cuma mabuk berat dan tertidur. Tapi, waktu aku baru saja mau membangunkannya, Rendra tiba-tiba datang bersama orang-orang dan menerjang masuk! Mereka … mereka bilang akulah pembunuhnya! Kak, bukan aku! Kakak harus percaya padaku!"

Arga menangis sesenggukan hingga bicaranya tidak keruan. Dahi Arga menempel pada kaca yang dingin.

Sejak Pak Salim mengadopsi Sinta dan membawanya pulang ke Keluarga Kumara, Arga yang beberapa tahun lebih muda dari Sinta ini, selalu mengikuti Sinta ke mana saja. Arga adalah anak yang rela menabung uang sakunya demi membelikan Sinta permen. Arga juga orang pertama yang maju menerjang saat Sinta dirundung teman sekolah dan dengan polosnya selalu berkata, "Kak, kalau aku sudah besar nanti, aku akan melindungimu."

Bagaimana mungkin dia membunuh orang?

Sinta menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan agar air matanya tidak jatuh. Sinta tahu bahwa saat ini, dialah satu-satunya harapan bagi adiknya.

Sinta berusaha keras agar suaranya terdengar tenang dan meyakinkan.

"Arga, jangan takut. Kakak percaya padamu."

Ucapan Sinta membuat Arga yang sebelumnya histeris di seberang sana, menjadi sedikit lebih tenang.

"Dengarkan baik-baik," ujar Sinta, menegaskan kata demi kata dengan sangat jelas. "Jangan pikirkan apa pun dan jangan mencari keributan dengan siapa pun di sana. Makanlah dengan baik, tidurlah yang nyenyak dan lindungi dirimu sendiri. Sisanya, serahkan semua pada Kakak."

"Kak …."

Arga tahu betul, jika Yudha memang berniat menolong, hal itu pasti sudah dilakukan sejak lama tanpa perlu menunggu sampai sekarang. Sejak Keluarga Kumara bangkrut, Sinta tidak pernah pergi meninggalkan mereka. Dia justru merawat Arga dan Nenek dengan sangat baik. Hal ini membuat rasa bersalah di hati Arga terhadap kakaknya menjadi makin besar.

"Percayalah padaku." Sinta menatap Arga. Sinta tahu adiknya itu takut akan merepotkannya, sehingga dia segera menenangkannya, "Kakak pasti akan mengeluarkanmu dari sini."

Waktu kunjungan berakhir.

Menyaksikan tatapan tak berdaya Arga yang terus menoleh ke belakang saat dibawa pergi oleh penjaga penjara, Sinta pun perlahan-lahan meletakkan gagang teleponnya.

Sinta lalu mengeluarkan ponselnya dan menghapus semua informasi kontak Yudha.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 50

    Setelah tidur nyenyak tanpa bermimpi semalaman, Sinta langsung bergegas ke kantor begitu bangun tidur. Untungnya, dia tidak terlambat.Baru saja duduk di meja kerjanya, Ranti mendekat hendak membicarakan sesuatu. Namun, ponsel Sinta di atas meja tiba-tiba bergetar, menampilkan nama Yudha di layar.Jari-jari Sinta langsung menegang melihat nama itu. Melihat hal tersebut, Ranti pun kembali ke mejanya sendiri.Tepat di saat itu, suara Bu Anna terdengar memanggil, "Sinta, ke ruanganku sebentar."Sinta melirik ke arah Ranti, yang kemudian membalasnya dengan sebuah anggukan kecil.Tanpa ragu, Sinta langsung menolak panggilan Yudha, lalu bergegas menuju ruangan Direktur Desain.Ponsel di saku Sinta kembali bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari Yudha.[Kenapa menutup teleponku?]Sinta tidak membalas dan langsung menyetel ponselnya ke mode hening.Saat Sinta mendorong pintu kaca, Anna tengah berdiri di balik meja kerjanya. Di atas meja itu, terbentang sketsa desain yang sebelumnya sudah dis

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 49

    Sinta tertegun untuk sesaat, lalu secara refleks berbasa-basi, "Bagaimana kalau Pak Direktur tinggal saja untuk makan malam seadanya? Aku tinggal memasak dua porsi tambahan."Tujuan utama Sinta adalah mengundang Dhika. Bagaimanapun, pria itu adalah atasannya sendiri sekaligus atasan Alex. Secara etika maupun logika, dia memang harus bersikap sopan.Hati Dhika berbunga-bunga mendengarnya. Akan tetapi, wajahnya sengaja menunjukkan raut bimbang saat melirik jam tangan. "Sayang sekali, aku ada janji pertemuan malam ini yang nggak bisa dibatalkan. Aku hargai tawarannya, Bu Sinta."Saat berbicara, Dhika mengubah topik pembicaraan dan diam-diam menyikut Alex yang ada di sampingnya."Tapi, Pak Alex ini ...." Dhika menunjukkan ekspresi seakan sangat "peduli pada bawahan". "Dia sama sekali nggak bisa masak. Kayaknya malam ini dia cuma akan makan roti saja. Bu Sinta, kalau nggak keberatan, bolehkah kamu sekalian memasakkan satu porsi tambahan untuknya? Anggap saja membantuku mengurus bawahanku i

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 48

    Di sisi lain, saat Sinta turun dari bus, hari sudah gelap.Sambil menjinjing sayuran yang dia beli seadanya di kios pinggir jalan depan kompleks, Sinta berjalan santai memasuki area perumahan tersebut.Sebuah truk pindahan yang tampak agak usang terparkir menghalangi jalan di bawah gedung. Beberapa pekerja terlihat sibuk menurunkan barang-barang.Tanpa sadar, pandangan Sinta tertuju pada jendela apartemen kecil tempat tinggal Alex.Lampu di sana padam.Benar juga, apartemen ini terlalu kecil, mungkin dia akan pindah kembali ke vila mewah itu.Sinta pun mengalihkan pandangannya, lalu menundukkan kepala dan berjalan menuju pintu masuk unitnya sendiri. Sinta hanya ingin cepat sampai di rumah, melepaskan penat beserta belanjaan berat yang dia bawa.Sambil menunduk, Sinta mengeluarkan kunci dan bersiap memasukkannya ke lubang kunci."Pelan-pelan ya, Pak. Kardus yang itu isinya buku, letakkan saja di sebelah sini."Terdengar suara yang begitu familier tepat di belakang Sinta, hanya beberapa

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 47

    Asal-usul?Mata Bi Imas langsung terbelalak. Tanpa sadar, dia langsung menoleh ke arah Dania.Dania tiba-tiba saja duduk tegak. Wajahnya yang tertutup masker membuat ekspresinya tidak terlihat.Dania segera memberikan isyarat kepada Bi Imas agar menutup teleponnya.Bi Imas langsung mengerti. Nada bicaranya langsung menjadi panik. "Aduh Bu Sinta, aku nggak bisa bicara lagi. Aku dengar suara mobil. Kayaknya Pak Yudha sudah pulang. Aku harus segera menyiapkan makan malam!""Bi Imas …." Sinta sepertinya masih ingin mengatakan sesuatu.Dia bisa menangkap kepanikan dalam suara Bi Imas.Sudahlah.Terus bertanya juga hanya akan menyulitkan seorang pelayan.Sinta pun menyunggingkan senyuman yang tampak lebih menyedihkan dibanding tangisan. "Baiklah, aku mengerti. Nggak apa-apa, Bi Imas. Silakan lanjutkan pekerjaanmu.""Eh, baik, baik!"Bi Imas seakan baru saja mendapatkan pengampunan. Dia pun memutuskan sambungan telepon dengan begitu cepat.Begitu telepon ditutup, raut wajah Bi Imas yang semul

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 46

    Hari berlalu dengan cepat. Setelah jam kerja berakhir, Sinta langsung menuju apartemen kecilnya. Meski sempit, tempat itu memberikan rasa aman yang lebih besar bagi Sinta.Sinta menyandarkan kepalanya di jendela bus.Bus itu penuh sesak.Sinta pun teringat bahwa dia harus menelepon Bi Imas.Sinta bertanya-tanya, apakah di jam seperti ini, Yudha dan Dania sudah pulang?Sinta tidak ingin lagi memiliki keterlibatan apa pun dengan Yudha dan Dania.Akan tetapi, Sinta tetap mencari nomor telepon Bi Imas. Sinta berpikir untuk sekadar bertanya. Jika memang barang tersebut tidak bisa ditemukan kembali, ya sudah, Sinta akan merelakannya.Mendengar suara nada sambung dari ponselnya, detak jantung Sinta pun ikut berdegap seirama dengan nada sambung tersebut."Halo?"Di ujung telepon, terdengar suara Bi Imas yang agak ragu."Bi Imas, ini aku." Suara Sinta terdengar agak serak....Di Vila Keluarga Diwangka.Bi Imas sedang membawa sepiring potongan buah dan bersiap meletakkannya di atas meja tamu. K

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 45

    Mata Ranti berbinar-binar, wajahnya tampak begitu terpesona."Kamu sih belum pernah lihat. Beneran deh, ganteng banget! Tingginya 188 sentimeter, bahunya lebar, kakinya jenjang …. Kalau dia pakai setelan jas, rasanya kayak tokoh yang keluar dari novel. Terus ya, dia nggak cuma modal tampang doang, kemampuannya juga luar biasa. Baru beberapa tahun pegang Grup Wisaka, dia sudah bikin performa perusahaan meroket. Katanya, dia juga lulusan hukum."Sinta mendengarkan dengan tenang dan sesekali mengangguk menanggapi.Pengacara …."Sayangnya, pria sesempurna itu malah nggak tertarik sama perempuan," lanjut Ranti dengan raut wajah menyesal. "Kabarnya, banyak putri keluarga kaya yang mau dijodohkan sama dia, tapi nggak ada satu pun yang diliriknya. Wajar sih, standar Keluarga Wisaka sekarang kan tinggi banget."Sambil berbicara, Ranti mengubah topik pembicaraan dan merendahkan suaranya, "Oh iya, aku dengar satu rahasia keluarga kaya. Katanya, Bu Sandra Wisaka selama puluhan tahun ini terus menc

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status