Share

Bab 5

Author: Maya Sprite
Sinta kembali ke rumah sakit dan menjaga neneknya sepanjang malam. Keesokan paginya, dia terbangun oleh suara notifikasi di ponselnya.

Sinta mengambil ponselnya dan melirik sekilas. Sebuah trending topik langsung menarik perhatiannya.

[Istri CEO Grup Diwangka memberikan klarifikasi untuk Dania.]

Trending topik tersebut menduduki sepuluh topik teratas.

Sinta mengeklik topik itu. Video tersebut berada di posisi paling atas dan kolom komentarnya dipenuhi dengan cacian serta hujatan.

[Aktingnya bagus sekali ya. Sayang kalau nggak dapat penghargaan. Baru saja adiknya masuk penjara, dia langsung muncul untuk membersihkan nama baik musuhnya. Dibayar berapa sih dia?]

[Yang di atas pikirannya sempit banget. Uang apa? Dia itu istrinya Pak Yudha. Yang dia incar itu status! Demi menjaga sumber hartanya, apa pun bakal dia jual.]

[Melihatnya saja sudah mual. Wajahnya begitu muram, seperti orang habis ditinggal mati orang tua, tapi masih saja pura-pura terlihat tulus di sini. Menurutku, pantas saja adiknya masuk penjara. Punya kakak seperti dia, mana mungkin adiknya orang baik-baik?]

[Kasihan Dania kesayanganku, difitnah wanita jahat ini dan masih harus pura-pura berlapang dada untuk memaafkannya. Pak Yudha benar-benar buta!]

Kata-kata kasar itu muncul satu demi satu di layar. Sinta tidak punya waktu untuk merasa sedih. Saat ini, neneknya belum sadar. Fitnah yang menjerat adiknya juga belum dibersihkan.

Dia harus bangkit.

Sinta menyapu layar untuk menutup berita tersebut, tetapi sebuah notifikasi dari aplikasi keuangan muncul, dengan judul yang jauh lebih mencolok.

[Terimbas Berita Negatif Istri CEO, Saham Grup Diwangka Merosot 7%. Saat Pembukaan Pasar, Nilai Pasar Menguap Hampir Sepuluh Triliun.】

Ternyata, dia bisa "berharga" semahal itu.

Sinta mematikan layar ponselnya, bertekad untuk tidak melihatnya lagi.

Tepat di saat itu, terdengar suara dering telepon yang nyaring.

Melihat bahwa itu adalah telepon dari Nyonya Besar Gayatri, neneknya Yudha, Sinta pun sempat bimbang untuk sesaat. Namun, sebelum Sinta bisa mengucapkan salam, rentetan makian sudah terdengar dari ujung telepon.

"Dasar pembawa sial!"

Di ujung telepon, kata-kata tajam dan ketus dari Nyonya Besar Gayatri terlontar satu demi satu. "Masih punya muka untuk tinggal di Keluarga Diwangka? Lihatlah kekacauan yang sudah kamu buat! Kamu sudah mempermalukan Keluarga Diwangka! Lihat bagaimana saham kami anjlok? Apa kamu sanggup menebusnya?!"

Sinta tidak bersuara. Dia hanya menggenggam ponselnya erat-erat sambil mendengarkan dalam diam.

"Sudah kubilang sejak awal, orang dari keluarga kecil sepertimu nggak akan pernah bisa naik kelas! Kamu sengaja, 'kan? Kamu senang melihat Keluarga Diwangka kami kesusahan? Watakmu sama persis dengan adikmu yang dipenjara itu, dasarnya memang sudah busuk!"

Suara Nyonya Besar Gayatri terdengar makin emosional.

"Yudha benar-benar sudah gila sampai membiarkanmu masuk ke keluarga ini! Selain wajahmu yang ada sedikit kemiripan dengan Dania, apa lagi kegunaanmu? Sekarang, kegunaan yang sedikit itu pun sudah nggak ada lagi! Kamu …."

Sejak awal pernikahan, Nyonya Besar Gayatri memang sudah merendahkan Sinta. Dia tidak pernah membiarkan siapa pun membantah perkataannya. Setiap kali kembali ke kediaman Keluarga Diwangka, Sinta harus melayaninya seperti seorang pembantu. Sekarang, karena Sinta sudah membulatkan tekad untuk pergi, Sinta pun memejamkan matanya. Sambil mendengarkan rentetan makian yang terus mengalir dari telepon, dia menekan tombol tutup.

"Tuuut."

Dunia langsung menjadi sunyi.

Ternyata, Nyonya Besar Gayatri juga tahu bahwa alasan Yudha menikahinya adalah karena kemiripan wajahnya dengan Dania. Sinta baru menyadari bahwa hanya dirinya saja yang selama bertahun-tahun ini dibiarkan tidak tahu.

...

Sementara itu, di ruang tamu kediaman lama Keluarga Diwangka, Nyonya Besar Gayatri masih memegang ponsel sambil menatap tidak percaya pada teleponnya yang telah diputus oleh Sinta.

Telepon darinya diputus?

Sinta yang biasanya selalu patuh dan tunduk di hadapannya, bahkan tidak berani bernapas dengan keras, kini berani menutup teleponnya?

Amarah pun meluap dari dasar hati Nyonya Besar Gayatri hingga ke ubun-ubun, membuat wajah Nyonya Besar Gayatri yang sudah dipenuhi kerutan langsung menjadi merah padam.

Detik berikutnya, dia langsung menghubungi nomor Yudha.

"Yudha! Istri kesayanganmu itu sekarang sudah berani membangkang! Dia berani menutup teleponku! Lihat masalah yang dia timbulkan! Sekarang, dia berani bersikap kurang ajar padaku! Segera pulang dan usir wanita itu dari Keluarga Diwangka!"

Yudha sedang menyaksikan saham Grup Diwangka yang anjlok tajam dengan gelisah. Mendengar rentetan keluhan neneknya terhadap Sinta, keningnya makin berkerut rapat.

Ada rasa sesak yang tidak bisa dijelaskan di hatinya. Dengan suara lembut, dia berkata kepada orang di ujung telepon, "Nenek, jangan marah dulu."

"Bagaimana aku nggak marah? Dia …."

"Adiknya baru saja tertimpa musibah, dia belum pulih dari syoknya. Wajar kalau emosinya sedang nggak stabil." Yudha menyela perkataan neneknya. Suaranya terdengar lembut memanjakan. "Masalah bursa saham akan aku tangani. Jangan terlalu perhitungan dengannya. Biarkan saja masalah ini berlalu. Nanti kalau aku pulang, akan kubawakan kue dari toko di barat kota yang Nenek suka."

Nyonya Besar Gayatri tertegun sejenak. Dia tidak menyangka cucunya akan membela Sinta.

Dia pun mendengus kesal. "Dibiarkan saja? Enak sekali dia! Kamu harus mendidiknya dengan benar! Kalau sampai ada kejadian seperti ini lagi, aku sendiri yang akan mengusirnya keluar!"

Yudha kembali membujuk Nyonya Besar Gayatri dengan kata-kata lembut selama beberapa saat, hingga akhirnya amarah wanita tua itu mereda dan dia menutup teleponnya.

Yudha memijat pangkal hidungnya, tetapi rasa sesak dan gelisah di hatinya justru menjadi makin kuat.

Apakah ini rasa bersalah?

Yudha enggan mengakuinya. Dia hanya merasa bahwa segala sesuatunya sudah berkembang di luar kendalinya. Yang diinginkan Yudha hanyalah sebuah "alat" yang penurut untuk meredam opini publik yang menyerang Dania. Sekarang, saat Sinta menjadi sasaran perundungan siber, Yudha pun merasa ikut bertanggung jawab.

Malam harinya, Yudha kembali ke vila.

Di ruang tamu hanya menyala sebuah lampu lantai yang redup. Sinta duduk di sofa, bayangannya tampak memanjang di lantai.

Sinta mendengar suara pintu terbuka, tetapi tidak menengadah sedikit pun.

Gerakan Yudha saat mengganti sepatu terhenti sejenak. Dia mengira Sinta akan menginterogasinya, menangis, atau membuat keributan.

Akan tetapi, Sinta tidak melakukannya.

Jari-jari Sinta saling meremas kuat. Dia tengah berpikir bagaimana harus memulai pembicaraan. Lantaran sekarang dia ingin bercerai, dia harus mencari pekerjaan terlebih dahulu.

Baru setelah telapak tangannya terasa perih, Sinta pun melepaskan remasan tangannya. Kemudian, Sinta menengadah dan berkata dengan nada datar kepada Yudha, "Aku ingin bekerja."

Yudha tertegun.

Dia sudah membayangkan berbagai macam skenario. Namun, sama sekali tidak memprediksi yang satu ini. Sinta tidak mengungkit tentang cacian di internet, tidak membahas telepon dari Nyonya Besar, bahkan tidak mengeluhkan penderitaannya sendiri. Dia hanya mengatakan dirinya ingin bekerja.

"Kenapa?" tanya Yudha. "Bukankah selama bertahun-tahun ini kamu baik-baik saja meski nggak bekerja?"

Apa yang ingin Sinta lakukan? Ingin mandiri? Ingin meninggalkannya?

Pikiran itu terlintas sesaat, tetapi segera ditepis Yudha. Ke mana lagi Sinta bisa pergi? Keluarganya sudah hancur dan neneknya masih di rumah sakit menunggu uang untuk menyambung nyawa.

"Aku cuma ingin mencari kesibukan. Kalau sibuk, semuanya akan terasa lebih baik," jawab Sinta dengan tenang.

Kenyataannya memang seperti itu, tetapi bukan sepenuhnya.

Sinta ingin bercerai. Benar-benar ingin pergi dari tempat yang membuatnya sesak napas ini. Namun, saat ini Sinta tidak memiliki apa-apa. Dia tidak punya jaminan untuk kelangsungan hidup dirinya dan neneknya di masa depan.

Bahkan, untuk bercerai pun, dia butuh modal.

Dia harus menabung, demi bisa memberikan kehidupan yang lebih baik bagi neneknya.

Yudha menatap Sinta dan secuil rasa bersalah yang tersisa di hatinya mulai bergejolak. Video klarifikasi itu memang dia yang memaksanya. Hal itu jugalah yang menyebabkan Sinta menjadi sasaran perundungan siber. Sekarang, memberi Sinta sebuah pekerjaan bisa dianggap sebagai bentuk kompensasi.

"Boleh." Yudha melonggarkan dasinya, lalu berjalan menghampiri wanita itu. "Besok berangkat kerja bersamaku, jadilah sekretarisku."

Sinta membalas tatapan Yudha. Gejolak emosi di dalam hatinya ditekannya sedikit demi sedikit, hingga sorot matanya kembali tenang.

Pada akhirnya, Sinta hanya mengangguk pelan.

"Baik."

Sebelum Keluarga Kumara bangkrut, salah satu perhiasan hasil desain Sinta pernah meledak di pasaran. Menjadi sekretaris bukanlah masalah bagi Sinta. Sinta justru bisa memiliki lebih banyak waktu untuk mendesain perhiasan. Setelah itu, tanpa menoleh lagi ke arah Yudha, Sinta bersiap untuk langsung kembali ke kamar tidur.

Yudha menatap punggung Sinta yang menjauh. Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Namun, ketika berpikir bahwa Sinta yang sekarang tidak memiliki modal apa pun untuk meninggalkannya, Yudha pun merasa tenang.
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 50

    Setelah tidur nyenyak tanpa bermimpi semalaman, Sinta langsung bergegas ke kantor begitu bangun tidur. Untungnya, dia tidak terlambat.Baru saja duduk di meja kerjanya, Ranti mendekat hendak membicarakan sesuatu. Namun, ponsel Sinta di atas meja tiba-tiba bergetar, menampilkan nama Yudha di layar.Jari-jari Sinta langsung menegang melihat nama itu. Melihat hal tersebut, Ranti pun kembali ke mejanya sendiri.Tepat di saat itu, suara Bu Anna terdengar memanggil, "Sinta, ke ruanganku sebentar."Sinta melirik ke arah Ranti, yang kemudian membalasnya dengan sebuah anggukan kecil.Tanpa ragu, Sinta langsung menolak panggilan Yudha, lalu bergegas menuju ruangan Direktur Desain.Ponsel di saku Sinta kembali bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari Yudha.[Kenapa menutup teleponku?]Sinta tidak membalas dan langsung menyetel ponselnya ke mode hening.Saat Sinta mendorong pintu kaca, Anna tengah berdiri di balik meja kerjanya. Di atas meja itu, terbentang sketsa desain yang sebelumnya sudah dis

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 49

    Sinta tertegun untuk sesaat, lalu secara refleks berbasa-basi, "Bagaimana kalau Pak Direktur tinggal saja untuk makan malam seadanya? Aku tinggal memasak dua porsi tambahan."Tujuan utama Sinta adalah mengundang Dhika. Bagaimanapun, pria itu adalah atasannya sendiri sekaligus atasan Alex. Secara etika maupun logika, dia memang harus bersikap sopan.Hati Dhika berbunga-bunga mendengarnya. Akan tetapi, wajahnya sengaja menunjukkan raut bimbang saat melirik jam tangan. "Sayang sekali, aku ada janji pertemuan malam ini yang nggak bisa dibatalkan. Aku hargai tawarannya, Bu Sinta."Saat berbicara, Dhika mengubah topik pembicaraan dan diam-diam menyikut Alex yang ada di sampingnya."Tapi, Pak Alex ini ...." Dhika menunjukkan ekspresi seakan sangat "peduli pada bawahan". "Dia sama sekali nggak bisa masak. Kayaknya malam ini dia cuma akan makan roti saja. Bu Sinta, kalau nggak keberatan, bolehkah kamu sekalian memasakkan satu porsi tambahan untuknya? Anggap saja membantuku mengurus bawahanku i

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 48

    Di sisi lain, saat Sinta turun dari bus, hari sudah gelap.Sambil menjinjing sayuran yang dia beli seadanya di kios pinggir jalan depan kompleks, Sinta berjalan santai memasuki area perumahan tersebut.Sebuah truk pindahan yang tampak agak usang terparkir menghalangi jalan di bawah gedung. Beberapa pekerja terlihat sibuk menurunkan barang-barang.Tanpa sadar, pandangan Sinta tertuju pada jendela apartemen kecil tempat tinggal Alex.Lampu di sana padam.Benar juga, apartemen ini terlalu kecil, mungkin dia akan pindah kembali ke vila mewah itu.Sinta pun mengalihkan pandangannya, lalu menundukkan kepala dan berjalan menuju pintu masuk unitnya sendiri. Sinta hanya ingin cepat sampai di rumah, melepaskan penat beserta belanjaan berat yang dia bawa.Sambil menunduk, Sinta mengeluarkan kunci dan bersiap memasukkannya ke lubang kunci."Pelan-pelan ya, Pak. Kardus yang itu isinya buku, letakkan saja di sebelah sini."Terdengar suara yang begitu familier tepat di belakang Sinta, hanya beberapa

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 47

    Asal-usul?Mata Bi Imas langsung terbelalak. Tanpa sadar, dia langsung menoleh ke arah Dania.Dania tiba-tiba saja duduk tegak. Wajahnya yang tertutup masker membuat ekspresinya tidak terlihat.Dania segera memberikan isyarat kepada Bi Imas agar menutup teleponnya.Bi Imas langsung mengerti. Nada bicaranya langsung menjadi panik. "Aduh Bu Sinta, aku nggak bisa bicara lagi. Aku dengar suara mobil. Kayaknya Pak Yudha sudah pulang. Aku harus segera menyiapkan makan malam!""Bi Imas …." Sinta sepertinya masih ingin mengatakan sesuatu.Dia bisa menangkap kepanikan dalam suara Bi Imas.Sudahlah.Terus bertanya juga hanya akan menyulitkan seorang pelayan.Sinta pun menyunggingkan senyuman yang tampak lebih menyedihkan dibanding tangisan. "Baiklah, aku mengerti. Nggak apa-apa, Bi Imas. Silakan lanjutkan pekerjaanmu.""Eh, baik, baik!"Bi Imas seakan baru saja mendapatkan pengampunan. Dia pun memutuskan sambungan telepon dengan begitu cepat.Begitu telepon ditutup, raut wajah Bi Imas yang semul

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 46

    Hari berlalu dengan cepat. Setelah jam kerja berakhir, Sinta langsung menuju apartemen kecilnya. Meski sempit, tempat itu memberikan rasa aman yang lebih besar bagi Sinta.Sinta menyandarkan kepalanya di jendela bus.Bus itu penuh sesak.Sinta pun teringat bahwa dia harus menelepon Bi Imas.Sinta bertanya-tanya, apakah di jam seperti ini, Yudha dan Dania sudah pulang?Sinta tidak ingin lagi memiliki keterlibatan apa pun dengan Yudha dan Dania.Akan tetapi, Sinta tetap mencari nomor telepon Bi Imas. Sinta berpikir untuk sekadar bertanya. Jika memang barang tersebut tidak bisa ditemukan kembali, ya sudah, Sinta akan merelakannya.Mendengar suara nada sambung dari ponselnya, detak jantung Sinta pun ikut berdegap seirama dengan nada sambung tersebut."Halo?"Di ujung telepon, terdengar suara Bi Imas yang agak ragu."Bi Imas, ini aku." Suara Sinta terdengar agak serak....Di Vila Keluarga Diwangka.Bi Imas sedang membawa sepiring potongan buah dan bersiap meletakkannya di atas meja tamu. K

  • Kau Anggap Aku Pengganti, Kenapa Sekarang Menangis?   Bab 45

    Mata Ranti berbinar-binar, wajahnya tampak begitu terpesona."Kamu sih belum pernah lihat. Beneran deh, ganteng banget! Tingginya 188 sentimeter, bahunya lebar, kakinya jenjang …. Kalau dia pakai setelan jas, rasanya kayak tokoh yang keluar dari novel. Terus ya, dia nggak cuma modal tampang doang, kemampuannya juga luar biasa. Baru beberapa tahun pegang Grup Wisaka, dia sudah bikin performa perusahaan meroket. Katanya, dia juga lulusan hukum."Sinta mendengarkan dengan tenang dan sesekali mengangguk menanggapi.Pengacara …."Sayangnya, pria sesempurna itu malah nggak tertarik sama perempuan," lanjut Ranti dengan raut wajah menyesal. "Kabarnya, banyak putri keluarga kaya yang mau dijodohkan sama dia, tapi nggak ada satu pun yang diliriknya. Wajar sih, standar Keluarga Wisaka sekarang kan tinggi banget."Sambil berbicara, Ranti mengubah topik pembicaraan dan merendahkan suaranya, "Oh iya, aku dengar satu rahasia keluarga kaya. Katanya, Bu Sandra Wisaka selama puluhan tahun ini terus menc

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status