MasukSemua orang terkejut dan perlu waktu cukup lama untuk tersadar.Nayla tertawa pelan karena ekspresi Pak Danang. "Ini cuma masalah kecil."Pak Danang merasa sulit mempercayainya.Ketika dipilih untuk membantu Nayla, dia sebenarnya enggan.Masalah keselamatan tidak boleh dianggap enteng.Dia bahkan merasa bahwa Simon mengaburkan batasan antara urusan perusahaan dan urusan pribadi, menggunakan hal-hal seperti ini untuk menghibur wanita.Tanpa diduga, ternyata dia dan merekalah yang berpikiran sempit.Dengan ketepatan dan kecepatan Nayla dalam menyelesaikan masalah, jangankan Shania.Bahkan Boby Landa, teknisi terkenal dari universitas teratas dunia saja tidak mampu melakukannya.Setelah awalnya terkejut, Shania segera tersadar dan menghampiri Nayla.Halaman yang ditampilkan di layar membuatnya tidak percaya. "Nggak mungkin! Mana mungkin bisa begini? Nayla, kamu curang!"Dia menatap Nayla dengan marah, tidak mau percaya.Nayla berdiri tegak dan tenang. "Shania, bukan aku yang curang. Kamu
Pertandingan akan berlangsung secara terbuka.Sebelum dimulai, Shania melemparkan pandangan dingin dan menghina ke arah Nayla.Tak lama lagi, Nayla akan mengalami kekalahan telak.Kemudian, dia akan membuat Nayla pergi dan tidak pernah mendekati Simon lagi.Ponsel Ben berdering.Setelah membaca pesan tersebut, dia berbisik dengan nada mendesak ke telinga Simon, "Pak Simon, Hendra sudah mengaku. Tepat seperti dugaanmu, dia memang diperintah untuk sengaja merusak dan menyabotase sistem."Hendra adalah teknisi yang bertanggung jawab atas rusaknya sistem.Dia ditahan di kantor polisi selama beberapa hari, tapi terus menyangkal semuanya.Baru saja, dia akhirnya mengaku.Mata Simon yang dalam hanya memancarkan tekad yang dingin. "Oke."Setelah itu, dia mengalihkan pandangannya kepada Nayla. Kedinginan sebelumnya menghilang, digantikan oleh ekspresi lembut dan damai.Nayla sedang berdiskusi dengan Pak Danang, sesekali menyesuaikan pengaturan pada layar besar di depannya.Wajahnya yang bersina
Nayla tiba di gedung perusahaan mengikuti lokasi yang diberikan.Suara mesin meraung di belakangnya. Simon yang tampak lelah keluar dari mobil itu dan berdiri di depannya.Dia melirik jam tangan dengan senyum lembut terlukis di bibirnya. "Tepat waktu. Maaf, kamu harus datang sendirian.""Iya. Kamu nggak datang menjemputku, aku dihantui setan gentayangan itu lagi," keluh Nayla. Sikapnya tampak lebih ceria daripada sebelumnya.Simon menggandengnya masuk ke dalam gedung, mengangkat alisnya padanya. "Hans lagi?"Nayla mengangkat bahu dengan pasrah.Wajah Simon sedikit menggelap. "Nyonya Jatmiko terlalu memukau," katanya dengan nada sinis. "Aku harus lebih hati-hati lagi, biar nggak ada yang merebutmu."Nayla tersenyum tak berdaya, tapi tetap diam.Mereka masuk ke dalam lift dan naik.Saat tiba di lantai tujuan, pintu lift terbuka.Pak Robin dan timnya sudah menunggu di pintu masuk.Begitu mereka muncul, orang-orang itu menyambut mereka dengan hormat."Pak Simon, Nona Nayla, silakan masuk."
"Tenang, aku bisa datang jam tiga nanti sore.""Nayla, akui saja kalau kamu nggak bisa. Apa yang sedang kamu mainkan?"Shania merebut telepon, tertawa sinis. "Masih belum terlambat kalau kamu mau menyerah sekarang. Paling nggak, kamu nggak harus mempermalukan diri sendiri di depan Simon.""Nona Shania ...."Suara Nayla terdengar lembut, lalu berakhir dengan nada dingin dan mengejek. "Apa ijazahmu hasil beli? Seorang teknisi yang profesional dan terhormat sepertimu punya banyak sekali waktu luang?""..."Shania menggertakkan giginya.Tapi Nayla tidak memberinya kesempatan untuk meluapkan emosi, karena Nayla lebih dulu menutup telepon.Nayla yakin pertandingan ini tidak sekecil itu.Bahkan Hans pun tahu.Begitu keluar dari lokasi syuting, Hans menghalangi jalannya.Setelah beberapa kali mencoba menghindar, dia akhirnya berdiri diam tanpa ekspresi, menatap pria itu dan bicara dengan tenang,"Kamu mau aku panggil polisi?"Ngomong-ngomong, dia masih menyimpan video dari waktu itu di resor.
Shania mendengus dan pergi dengan tidak rela.Setelah makan malam, Pak Robin dan para teknisi keringat dingin.Masalah belum selesai tapi Pak Simon telah mengizinkan dua orang itu untuk bertanding.Dari sudut pandang ini, memang benar bahwa dia terlalu memanjakan Nayla.Untungnya, Shania benar-benar punya kemampuan.Keluarga Cahyo dan Keluarga Jatmiko adalah musuh bebuyutan di dunia bisnis, Biasanya, meminta saran dari Shania saja akan mengundang masalah.Tawaran bantuannya kali ini terasa seperti embusan angin sejuk menerpa masalah mereka.Dalam perjalanan pulang setelah makan malam.Nayla duduk diam di mobil, tampak sedikit larut dalam pikirannya. Simon mengira dia sedang melamun dan mau tak mau menyelanya."Kamu sedang mikir apa, Nyonya Jatmiko?"Simon menoleh, mata gelapnya tetap hangat seperti biasa, terpaku pada wajah mungilnya.Nayla menatap mata pria itu yang gelap seperti langit berbintang. Senyum tipis menghiasi bibirnya. "Aku sedang mikir dia mau kusuruh lari telanjang di ja
Simon sudah berbalik dengan sigap untuk menghindari uluran tangan Shania.Mendengar kata-kata Nayla, rasa terkejut melintas di matanya. "Benarkah?"Nayla telah memikirkannya dengan serius selama dua hari ini dan mengangguk. "Ya, aku bisa ....""Kamu? Nayla, kamu semakin pintar berpura-pura."Shania mendengus sinis. "Kamu pikir ini menulis naskah? Cuma mengetik kalimat asal tanpa makna?""Ini teknologi. Bisakah kamu berhenti membandingkan dirimu denganku cuma untuk memuaskan kesombonganmu yang menyedihkan itu?"Matanya sangat merendahkan dan kata-katanya menunjukkan dengan jelas penghinaannya kepada Nayla.Yang lain tidak berani bicara.Tapi sebenarnya, mereka setuju dengan penilaian Shania.Seorang penulis naskah hanya menulis naskah. Mana mungkin bisa menangani sistem yang kompleks?Shania berbeda.Dia lulusan universitas ternama internasional, memegang gelar ganda dan seorang teknisi wanita terkemuka di negara ini.Talenta seperti dia sangat langka baik di dalam maupun luar negeri.W







