Share

Pembalasan dimulai

Penulis: Aqilazahra
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-01 14:28:52

Reino perlahan bangkit, tubuhnya gemetar menahan rasa takut. Ia berdiri di hadapan ayahnya, menunduk dalam-dalam. “Pah … tolong,” pintanya memohon. “Katakan pada Irisha … bahwa pernikahan kami tetap akan berlangsung. Reino mohon, Pah ... jangan biarkan pernikahan Reino hancur seperti ini.”

Revan mendengus kasar, sorot matanya tajam bagai pisau. “Kau masih memikirkan pernikahan? Setelah apa yang kau lakukan?” Ia melangkah mendekat, menatap putranya lurus-lurus. “Kau sadar, Reino? Kau telah menghancurkan dua wanita sekaligus — Vania, dan Irisha.”

Reino menggigit bibirnya, menahan sesal. “Reino tahu, Pah. Tapi Reino sudah bicara dengan Vania. Kami sama-sama khilaf. Dia bahkan setuju … untuk melahirkan anak ini dan menyerahkannya pada kami.”

Sejenak, ruangan itu membeku. Lalu tawa getir Revan pecah, berat dan menyakitkan. “Luar biasa,” katanya dingin. “Kalian berdua bukan hanya khilaf … kalian be-jat.”

Ia mendekat lebih lagi, menatap Reino dari jarak sedekat-dekatnya. “Kalau benar kalian menyesal dan khilaf, setidaknya tutupilah bekas perbuatan kalian berkali-kali sebelum berbohong padaku. Tanda merah di lehermu, dan di dada Vania itu … menjijikkan.”

Reino spontan menyentuh lehernya, hangat dan perih di bawah sentuhan jemarinya. Ia melirik sekilas ke arah Vania yang buru-buru menunduk, tapi tak cukup cepat untuk menyembunyikan bekas kecupan di kulitnya yang pucat.

“Jadilah pria bertanggung jawab, Reino,” suara Revan bergetar oleh amarah yang ditahan. “Bukan pengecut yang sembunyi di balik kata khilaf.”

Reino mengepalkan tangan, menahan gejolak yang mendesak dari dadanya. “Baik, Pah. Reino akan tanggung jawab. Aku akan biayai semua masa kehamilan Vania sampai anak itu lahir.”

Revan mendengus, wajahnya semakin gelap. “Tanggung jawab?” Ia menunjuk ke arah Vania dengan sorot jijik. “Kau bahkan tidak bisa menjaga batas antara kehormatan dan nafsu. Bagaimana caramu menanggung dosa sebesar ini, Reino?”

Keheningan menelan ruangan. Hanya isakan pelan terdengar, tapi bukan tangisan tulus, melainkan tangisan yang terasa dibuat-buat.

Vania menunduk, suaranya parau, gemetar. “Om … saya mohon, jangan marah sama Mas Reino. Semua ini memang salah kami berdua.”

“Ya Pah. Dan tolong katakan pada Irisha sekali lagi, aku ingin tetap menikah dengannya, Pah. Reino sangat cinta sama Irisha, Pah.”

Revan hampir saja menampar wajah puteranya itu. Tapi, ia sadar semuanya tak kan berguna. “Baiklah, papah akan coba berbicara pada Irisha sekali lagi. Tapi, jika dia tetap tidak mau melanjutkan pernikahan ini, kau harus menikah dengan Vania, bertanggung jawablah dengan apa yang kalian perbuat.”

Revan menatap keduanya lama, dingin, kemudian berbalik, berjalan keluar ruangan dengan langkah berat.

Begitu pintu tertutup rapat, Vania menghapus air matanya dengan cepat. Wajah sendunya berubah, kini tergantikan oleh senyum licik yang terselubung di balik kepura-puraan.

Ia menatap Reino yang masih terpaku di tempat, wajahnya kosong. Dalam hati, Vania berbisik, “Reino, lihat saja nanti … aku akan buat ayahmu sendiri memaksamu menikahiku. Ini baru permulaan. Aku tidak akan biarkan Irisha atau siapa pun merebut kau dan anakku.”

Keheningan menyeruak di ruangan itu, hingga Vania memutuskan untuk bertanya kembali pada Reino.

“Mas …?” panggil Vania lirih, suaranya bergetar.

Reino tersadar dari lamunannya, ia pun segera mendekat. “Ada apa?”

“Papahmu sudah tahu tentang kehamilanku ini. Kalau ayahku dan ibumu tahu juga … bagaimana, Mas? Mereka pasti akan marah besar.”

Nada suaranya terdengar putus asa, tapi di balik air mata itu, ada tatapan licin yang nyaris tak terbaca.

Reino mendekat, lalu menarik Vania ke dalam pelukannya. “Tenang,” bisiknya, lembut tapi penuh kegelisahan. “Kamu nggak perlu takut. Bukannya papahmu pikir kamu tinggal di luar negeri? Kita bisa atur semuanya. Kau akan bersembunyi dulu, di tempat aman. Sampai anak kita lahir, aku yang akan tanggung jawab.”

Vania memejamkan mata di pelukan Reino, mengatur napasnya agar terdengar sesak, seolah benar-benar ketakutan. Padahal, di balik debar jantungnya, ada sesuatu yang jauh lebih gelap.

Giginya merapat kuat. Kalau bukan karena cintanya pada pria ini, kakak tirinya sendiri—ia pasti sudah pergi jauh dari semua kekacauan ini. Tapi tidak sekarang. Tidak setelah ia tahu, Reino masih bertekad menikahi Irisha.

Perlahan ia membuka matanya. Pandangannya tajam, ke arah bahu Reino. “Kau pikir aku akan sembunyi, Mas?” bisiknya dalam hati. “Tidak. Aku akan pastikan seluruh dunia tahu aku mengandung anakmu. Biar semua orang membencimu, asal aku tetap jadi milikmu.”

Ia menatap wajah Reino yang masih memeluknya, tak sadar bahwa senyum tipis sudah tersungging di bibirnya, senyum seorang wanita yang tahu betul, permainan ini baru saja dimulai.

**

Di ruang jenazah yang dingin, Irisha masih duduk di samping tubuh ibunya. Lampu putih di atas kepala berpendar redup, memantulkan bayangan wajahnya yang pucat dan kosong. Tangannya bergetar halus saat mengusap kepala ibunya, seolah berharap sentuhannya bisa membangunkan wanita itu dari tidur panjangnya.

“Bu?” panggilnya lirih. “Irisha harus bagaimana sekarang?”

Udara di ruangan itu begitu berat, seakan ikut berkabung bersamanya. Matanya menatap wajah ibunya lama, kering, tak ada lagi air mata yang tersisa. Ia sudah terlalu lelah untuk menangis, terlalu letih untuk marah.

Dalam satu hari, segalanya hancur, Reino, lelaki yang ia percayai sepenuh hati, berkhianat dengan adik tirinya sendiri. Vania, gadis yang selama ini ia anggap seperti adik kandung Reino, ternyata mengandung anak dari pria yang dicintainya. Dan Revan, dokter yang begitu dihormati justru orang yang membuat ibunya terusir dari rumah sakit hingga kehilangan nyawanya.

Tangan Irisha mengepal pelan di atas kain putih yang menutupi tubuh sang ibu. Suara napasnya bergetar, tapi matanya perlahan mengeras. “Bu … mereka pikir Irisha akan diam?” gumamnya lirih. “Mereka salah.”

Ia menunduk, mencium dahi ibunya satu kali, lama dan penuh getir. “Aku akan menuntaskan semuanya, Bu. Untukmu. Pembalasan kepada mereka, baru saja dimulai."

Cahaya lampu berpendar di matanya yang kini memantulkan sesuatu yang baru, bukan kesedihan, melainkan amarah yang tenang, tajam, dan dingin.

Malam itu, di antara tubuh yang telah kaku dan doa yang belum selesai, lahirlah versi lain dari Irisha, gadis yang tidak lagi menangis, tapi bersumpah untuk membalas semua penderitaannya.

Langkah kaki terdengar mendekat di lorong sunyi itu. Dentum sepatunya menggema, memecah kesunyian kamar jenazah.

“Irisha?” suara itu terdengar berat. Revan berdiri di ambang pintu, wajahnya lelah. “Om sudah urus semuanya. Jenazah ibumu sudah bisa dibawa pulang ke rumah duka, sekarang.”

Irisha menoleh pelan, menatap pria itu dengan senyum samar. “Terima kasih, Om.” Nada suaranya terdengar lembut, tapi tatapan matanya yang tajam, dan dingin seperti kaca yang hampir pecah.

Ia melangkah mendekat. Cahaya lampu putih memantul di matanya yang berkilat aneh. Revan sempat meneguk ludah, ada sesuatu dalam tatapan gadis itu yang membuat dadanya sesak, bukan karena iba, tapi karena rasa bersalah yang entah datang dari mana.

Irisha berhenti tepat di hadapan Revan. “Sekarang semuanya sudah terbukti, kan?” katanya pelan. “Anakmu itu … pria kotor. Menjijikkan, bukan?”

Revan menatapnya, rahangnya menegang. “Jaga ucapanmu, Irisha!” bentaknya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kau Khianati Aku, Kunikahi Ayahmu    Rencana lain

    Panggilan itu terputus. Tanpa jeda, Revan langsung membuka aplikasi pesan dan mengetik cepat pada seseorang. Ekspresinya berubah serius, dingin, penuh perhitungan. Irisha yang sedari tadi memperhatikannya tak bisa menahan rasa penasaran. “Om?” Revan mengangkat wajahnya. “Iya, Sayang. Ada apa?” “Sekarang Mbak Reni sudah tahu semuanya,” lanjut Irisha. “Lalu … rencanamu ke depan bagaimana?” Revan meletakkan ponselnya, menatap Irisha dalam-dalam. “Menurut kamu, om harus apa?” Irisha menyilangkan tangan di dada, senyumnya mengembang penuh makna. “Beri pasangan mesum itu pelajaran. Yang pantas.” Revan mengangguk pelan. “Tentu. Tapi kita tidak bisa gegabah. Kita harus susun strategi dulu. Kamu tahu sendiri … Dita masih belum mengakui kalau Rieno bukan anakku.” Tatapan Irisha menggelap, senyum di bibirnya perlahan memudar. “Iya juga,” Irisha mengangguk pelan. “Mereka pasti akan mengelak.” “Betul,” sahut Revan tenang. “Kita tunggu saja hasil tes DNA Reino dan Yuda. Semoga …

  • Kau Khianati Aku, Kunikahi Ayahmu    Membongkar Kebusukan Yuda dan Dita

    Setibanya di kediaman, Reni, wanita itu duduk dengan lesu di tepi sofa. Tatapannya menyapu foto pernikahannya dengan Yuda, pria yang selama dua puluh enam tahun menemani hidupnya, meski tak pernah ada satu pun anak yang lahir dari pernikahan itu. Bingkai foto itu terasa begitu berat untuk dipandang. Senyum mereka terpajang rapi, seolah menyimpan janji yang dulu diucapkan dengan keyakinan penuh. Reni menelan ludah, dadanya terasa sesak. Dengan tangan gemetar, ia meraih ponsel lalu menekan nama Yuda. Nada sambung terdengar panjang, namun tak kunjung ada jawaban. Sekali. Dua kali. Hingga akhirnya panggilan itu terputus dengan sendirinya. Reni menjatuhkan punggungnya ke sandaran sofa. Pandangannya kosong, pikirannya penuh oleh potongan-potongan kenangan yang kini terasa mencurigakan. “Apa benar Mas Yuda dan Mbak Dita …,” ucapnya bergetar, “… mereka selama ini mengkhianatiku?” Pertanyaan itu tak ada yang menjawab, namun perihnya terasa nyata. “Mas, angkat teleponnya jangan memb

  • Kau Khianati Aku, Kunikahi Ayahmu    Kebusukan kakak kandung

    Reni terbelalak. Tubuhnya seolah kehilangan tumpuan. “Apa … apa maksudnya, Mas?” ucapnya bergetar, “Mas Revan bercanda, kan?” Revan menggeleng pelan. Rahangnya mengeras, sorot matanya tetap dingin, seolah fakta itu sudah lama ia telan sendirian. “Saya berharap ini hanya bercanda. Tapi tidak, Ren.” Reni memundurkan tubuhnya. Tangannya refleks mencengkeram ujung meja agar tidak jatuh. “Tidak mungkin … Reino itu anak Mas Revan dan Mbak Dita. Semua orang bahkan tahu—” “Semua orang tahu dari cerita yang dibangun,” potong Revan tenang, tapi nadanya menyimpan luka yang dalam. “Tes DNA tidak pernah berbohong.” Hening menggantung, berat dan mencekik. “Lalu … apa hubungannya dengan Mas Yuda?” bisik Reni, matanya berkaca-kaca. Ia takut pada jawaban yang bahkan belum terucap. Revan menarik napas panjang. “Saya tidak ingin menuduh sembarangan. Tapi waktunya, sikap mereka, dan hasil tes itu … semuanya saling mengikat.” Reni menggeleng cepat, air mata mulai luruh. “Tidak … Mbak Dit

  • Kau Khianati Aku, Kunikahi Ayahmu    Menemui Reni

    Revan hanya menggeleng pelan. Sudut bibirnya terangkat, senyum tipis yang tak bisa ia sembunyikan. Ada rasa lega yang perlahan merayap di dadanya. Ia sama sekali tak berniat bertemu dengan Reino. Ia memilih jalur yang paling dingin dan rapi, mengutus pengacaranya untuk datang langsung ke penjara dan menarik tuntutan itu atas namanya. Sementara itu, Dita sudah tiba di penjara. Tangannya saling meremas, jemarinya gemetar menahan cemas. Matanya terus menatap lurus ke depan, menunggu satu sosok yang sejak tadi membuat dadanya sesak. “Revan … Irisha …,” gumamnya penuh dendam. “Kalian boleh merasa menang sekarang. Tapi percayalah, aku akan membuat kalian membayar semua ini.” Langkah kaki terdengar mendekat. Reino muncul dari balik pintu besi, berjalan tertatih. Kakinya pincang, wajahnya babak belur, lebam ungu menghiasi pelipis dan rahangnya. Seketika, Dita menjerit histeris. “Reino!” Ia berlari menghampiri. “Astaga … apa yang mereka lakukan padamu, Nak?” Reino duduk perlahan

  • Kau Khianati Aku, Kunikahi Ayahmu    Surat perjanjian

    Keesokan harinya, Irisha selesai menyiapkan sarapan dengan bantuan Bi Inah. Pagi itu hatinya terasa sedikit lebih ringan, bahkan ada rasa puas yang sulit ia sembunyikan. Terlebih setelah kabar yang ia terima semalam, keberadaan Reino akhirnya ditemukan. Pria itu kini mendekam di penjara. Irisha melangkah ke meja makan dengan senyum tipis di bibirnya. “Pagi, Sayang,” sapanya lembut. Revan sudah duduk di sana. Wajahnya tampak lebih segar dari biasanya, sorot matanya pun tidak lagi setegang kemarin. “Pagi juga,” balasnya, suaranya hangat. Irisha menyodorkan segelas susu dan sepiring sandwich ke hadapan Revan. Tangannya bergerak tenang, seolah beban yang selama ini mengimpit dadanya sedikit demi sedikit terangkat. Revan menatapnya sekilas, lalu tersenyum samar, menangkap perubahan kecil pada raut wajah istrinya pagi itu. “Oh iya, Om? Apa kau akan mengunjungi Reino di penjara?” tanya Irisha, suaranya terdengar ragu. Revan mengangkat wajahnya. “Menurut kamu, aku pergi atau—”

  • Kau Khianati Aku, Kunikahi Ayahmu    Kebohongan demi Kebohongan akhirnya terkuak

    Irisha meraih kerah baju suaminya, menariknya sedikit agar Revan menatapnya lurus. “Kenapa diam? Apa Om sekarang sadar kalau mereka memang mirip?” sindirnya halus. “Risha, jangan bercanda!” Revan menggeleng cepat. “Dokter Yuda itu adik iparnya Dita. Mana mungkin mereka punya hubungan gelap?” Irisha mendengus kecil, senyum mengejek terbit di bibirnya. “Suamiku ini … ternyata polosnya kebangetan,” ledeknya ringan, namun sarat makna. Baik, aku lanjutkan dengan fokus pada Revan yang masih berpikir, ragu, dan mulai terusik—tanpa mengubah alur. Revan terdiam. Ucapan Irisha berputar-putar di kepalanya, menimbulkan kegelisahan yang perlahan merambat. Ia mengalihkan pandangan, rahangnya mengeras, seolah sedang menimbang sesuatu yang selama ini tak pernah ia sentuh. “Benar, mereka hampir mirip,” gumamnya pelan, hampir tak terdengar. Ia mencoba mengingat wajah Dokter Yuda, sorot mata itu, garis rahang yang tegas, cara pria itu menatap orang lain dengan dingin namun terukur. Lalu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status