Mag-log inAlena memejamkan mata rapat-rapat, pasrah dengan apa pun yang mungkin terjadi berikutnya di balik jarak yang makin terkikis itu. Namun, bukannya mendaratkan kecupan, Regan justru menarik dirinya sedikit, menahan pergerakannya dan menatap wajah Alena lebih dalam.Alena perlahan membuka mata. Menyadari Regan tidak melakukan hal yang melampaui batas, wajahnya seketika memerah menahan rasa malu yang membakar pipinya.Lantaran canggung luar biasa, Alena secara refleks mendorong dada Regan untuk menjauh. Malangnya, gerakan mendadak itu membuat keseimbangannya terganggu. Alena hilang kendali dan hampir saja jatuh terlentang jika saja gerakan cepat Regan tidak langsung menyambar dan menangkap tubuhnya."Hati-hati," bisik Regan seraya memeluk pinggang Alena erat, menahan bobot tubuh wanita itu.Suasana canggung mendadak menembus batas di antara mereka. Begitu posisi berdiri Alena kembali stabil, ia buru-buru melepaskan diri. Tanpa banyak bicara lagi, keduanya akhirnya memilih untuk menyudahi m
Keira yang berdiri tak jauh dari gerbang menatap tajam. Wanita itu baru saja keluar dari rumah sakit dan berniat kembali ke rumah Hartawan. Namun, langkahnya terhenti saat melihat Alres terduduk lemas di tanah dengan raut wajah hancur selepas kepergian Alena.Keira bergegas menghampirinya. "Alres? Ada apa denganmu?" tanya Keira cemas. Sejak mengenal pria itu, Keira tidak pernah melihat Alres sekeropos dan sekelemah ini.`Keira mencoba memegang lengan Alres dan menuntunnya berdiri untuk masuk ke dalam rumah. Namun, Alres menepis tangan Keira dengan dingin, lalu bangkit dan melangkah masuk menuju kamarnya tanpa memandang wanita itu.Sebelum benar-benar berlalu, Alres sempat bergumam datar, "Kamu sudah keluar dari rumah sakit?"“Iya, tadi aku meneleponmu beberapa kali, kamu tidak mengangkatnya.” Sebenarnya Alena kesal karena Alres tidak menjemputnya keluar dari rumah sakit.“Yang penting kamu sudah di sini,” jawab Alres sambil kembali menyeret kakinya.Keira berdiri mematung di koridor,
Alena menatap Alres dengan senyum miring yang dingin sebelum melangkahkan kaki pergi. Namun, langkahnya terhenti sejenak tepat di samping Alres yang masih mematung."Apa keuntungannya untukku membohongimu, Alres?" bisik Alena, suaranya kini tenang namun menghunus tajam. "Aku mendengar semua ucapanmu dan teman-temanmu waktu itu ... tentang rencanamu yang ingin menceraikanku, tentang malam-malam di mana kamu lebih memilih bersama Keira, dan tentang pertemuan bisnis yang ternyata cuma alasanmu untuk menemui wanita itu ke Landen."Alres bungkam seribu bahasa. Seluruh persendiannya kaku. Ia tidak pernah menyangka bahwa selama ini Alena mengetahui seluruh kebohongan dan rahasia yang ia tutupi rapat-rapat di belakangnya."Itulah alasan kenapa aku memilih pergi dan mengurus perceraian kita secara diam-diam," lanjut Alena tanpa menoleh. "Karena kalau aku mengatakannya secara terang-terangan sejak awal, kamu pasti cuma akan mempersulit dan menahanku untuk memuaskan ego milikmu ... bukan begitu?
Alena melirik melalui kaca spion tengah dan mendapati mobil di belakangnya adalah milik Angel. Belum sempat Alena menancap gas untuk menghindar, Angel dengan cepat memotong jalur dan menghentikan mobilnya tepat di depan mobil Alena, memblokir jalan.Sebelum Alena sempat mengunci pintu, Angel sudah mengetuk kaca dengan kasar dan berhasil memaksa Alena membuka pintu mobilnya.Wajah Angel tampak memerah padam oleh amarah. Beberapa saat lalu, ia tak sengaja melihat Alena duduk bersama Rafael dan ibunya di toko kue. Pemandangan itu membakar cemburunya.Angel memiliki perasaan yang sangat dalam pada Rafael; ia bahkan sudah berkorban begitu banyak—termasuk memberikan akses komputer pribadinya agar Rafael bisa membantu pekerjaan lelaki itu. Namun, Rafael tetap saja hanya memandang dan memperhatikan Alena."Setelah bercerai dari Alres, sekarang kamu mau mendekati Rafael juga?!" cerocos Angel dengan nada meninggi penuh kedengkian. "Dasar cewek gatal!"Alena menghela napas panjang, menatap Angel
Alena menyesap tehnya perlahan, membalas tatapan Rafael dengan nada suara datar dan biasa. "Aku baik-baik saja. Berita itu juga sudah hilang."Rafael mengangguk pelan, seolah lega, meski ada guratan cemas yang tak sepenuhnya sirna dari wajahnya. Ia memajukan tubuhnya sedikit, memelankan intonasi bicaranya. "Alena ... aku mendengar rumor yang beredar kemarin. Kamu adalah Lovely ... apa itu benar?"Tanpa keraguan, Alena menatap lurus manik mata pria di hadapannya. "Ya. Lovely adalah aku."Jawaban singkat itu membuat Rafael terdiam membeku. Untuk beberapa saat, lidahnya terasa kelu. Namun, ia menyadari ada yang berbeda dari cara Alena memandangnya—sebuah tatapan tajam, dingin, dan sarat akan penyelidikan yang menghujat."Kenapa ... kenapa tatapanmu seperti itu padaku, Al?" tanya Rafael ragu, mencoba menutupi kegugupannya.Alena menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, menghembuskan napas pelan namun terdengar begitu berat. "Rafael, selama ini kamu adalah satu-satunya orang yang sangat
"Aku ... duluan," pamit Alena singkat tanpa menunggu balasan dari pria itu. Dengan gerakan tergesa, ia berbalik dan melangkah cepat menuju kasir.Regan sempat tertegun sejenak. Menyadarinya, ia bergegas menyambar botol air mineral dari rak dan melangkah lebar mengejar Alena. Namun, sesampainya di area kasir, Alena sudah selesai melakukan pembayaran dan melangkah keluar dari minimarket.Regan hanya bisa menghela napas panjang melihat punggung wanita itu yang makin menjauh, menyadari betul bahwa Alena sengaja menghindarinya.Di luar minimarket, Alena berjalan menuju mobilnya. Ia sempat berselisih pandang dengan Shanon yang tengah duduk bersedekap di kursi plastik area luar dengan wajah cemberut.Alena hanya sunggingkan senyum sekadarnya, lebih karena formalitas—lalu masuk ke dalam mobil dan langsung meluncur pergi.Begitu berada di dalam mobil, Alena melirik kantong belanjaannya dan mendesah pasrah. Sial, ia hanya sempat membeli satu botol susu. Rencananya membeli bahan makanan dan mi i







