Mag-log inDi dalam kabin mobil mewah yang melaju tenang membelah keheningan malam kota, aroma leather berpadu dengan wangi parfum maskulin milik Regan.Regan melirik sekilas ke arah kursi penumpang di sampingnya, tempat Alena duduk termenung menatap keluar. Jemari wanita itu saling bertautan di pangkuannya, menyiratkan sisa-sisa ketegangan dari apa yang baru saja terjadi di rumah sakit dan aula pesta."Alena," panggil Regan lembut, memecah kesunyian yang sempat mendominasi. "Kamu tampak begitu tenang, tapi aku tahu pikiranmu sedang melayang ke mana-mana. Apa kamu benar-benar yakin tidak ingin menuntut semua kasus Keira secara bersamaan? Termasuk menyeret Angel yang selama ini menjadi kaki tangannya?"Alena menoleh perlahan. Ia menghela napas panjang, lalu menggelengkan kepalanya pelan. "Dua dakwaan itu—pencemaran nama baik dan percobaan pembunuhan di eskalator—sudah lebih dari cukup untuk membuat Keira mendekam sangat lama di balik jeruji besi, Regan. Hukum akan bekerja setimpal padanya."Alena
"Apa maksud kalian?!" Alres membentak, matanya menatap tajam para pria berjas yang ternyata didampingi oleh dua orang petugas kepolisian berseragam lengkap.Petugas polisi melangkah maju seraya mengacungkan sebuah amplop dokumen resmi. "Kami membawa surat perintah penangkapan atas nama Nona Keira. Beliau resmi dilaporkan atas kasus pencemaran nama baik serta penyebaran berita bohong terhadap Nona Alena. Selain itu, berdasarkan bukti baru yang diserahkan, Nona Keira juga dijerat pasal percobaan pembunuhan atas insiden di mal, di mana beliau terbukti sengaja mendorong Nona Alena dari atas eskalator.""Apa?!" Alres terperanjat hebat, kaget setengah mati. Wajahnya pucat seketika. "Apakah Anda tidak salah tuduhan?! Keira tidak mungkin melakukan hal sekeji itu!"Polisi menyerahkan surat perintah penangkapan beserta berkas salinan bukti kepada Alres. Dengan tangan yang gemetar hebat, Alres membaca setiap lembar dokumen tersebut. Di dalamnya terlampir rekaman CCTV mal yang memperlihatkan gera
Di lorong Rumah Sakit Internasional Hilstown yang lengang, Alres berdiri bersandar pada dinding dingin di depan ruang perawatan VIP. Pakaiannya yang sempat basah kini berganti kemeja kering yang dibawakan asistennya.Pikirannya melayang jauh kembali ke area kolam renang tadi. Suara tenang Alena dan sindirannya yang menohok tentang insiden danau bertahun-tahun lalu terus berputar-putar di kepalanya bagaikan gema. “Aku melihat kamu sama sekali tidak bisa berenang sampai hampir tenggelam. Bukankah itu aneh?"Alres memijat pelipisnya yang berdenyut. Keraguan sempat menyusup ke dadanya saat melihat Keira kepakan tangan dan tenggelam begitu mudah. Namun, alasan yang diberikan Keira—soal kram mendadak akibat dingin dan trauma mendalam semenjak menyelamatkannya dulu—terdengar sangat masuk akal bagi Alres.Lagipula, Alres tidak punya alasan untuk meragukan Keira; bukti yang dimiliki wanita itu sewaktu menyelamatkannya puluhan tahun lalu terlalu kuat untuk disanggah. Hanya saja, instingnya teta
Tanpa mengulurkan waktu, Regan memberi isyarat tegas pada kepala keamanan. Layar monitor besar di sudut lorong aula yang terhubung langsung dengan sistem keamanan pusat seketika menampilkan rekaman CCTV dari area kolam renang. Para tamu undangan membendung area tersebut, menatap layar dengan rasa penasaran yang memuncak.Video diputar dalam kecepatan normal lalu diperlambat tepat di detik-detik krusial.Di layar itu, terlihat jelas Alena sedang berbalik hendak melangkah pergi. Namun dari arah belakang, Shanon melesat maju dengan kedua tangan terulur penuh dorongan ganas. Di saat yang hampir bersamaan, Keira juga bergerak agresif menghampiri Alena dari sudut berbeda. Namun, gerakan refleks Alena yang gesit berkelit membuat dorongan kuat Shanon menghantam tubuh Keira. Keira yang hilang pijakan panik dan secara refleks mencengkeram baju Shanon, menarik mereka berdua jatuh berbarengan ke dalam kolam.Kenyataan pahit itu terpampang nyata di depan mata puluhan pasang mata kolega kelas atas.
Sosok yang tercebur ke dalam dinginnya air kolam ternyata adalah Keira. Kejadian itu berlangsung sangat cepat. Shanon yang berniat mendorong Alena agar terjatuh berharap Keira yang nantinya disalahkan.Di saat bersamaan, Keira juga berniat jahat melesat maju untuk mendorong Alena dengan skenario yang sama—agar Shanon yang memikul kesalahannya jika Alena tercebur. Namun, Alena yang sempat hilang keseimbangan secara refleks berkelit menghindar.Dorongan keras Shanon yang salah sasaran justru menghantam tubuh Keira tepat di tepi kolam. Keira yang hilang pijakan panik luar biasa. Dalam detik-detik sebelum tubuhnya membentur air, jemari Keira sempat menyambar dan mencengkeram lengan Shanon kuat-kuat, menarik wanita muda itu ikut jatuh bersamanya.BYURRR!Alena mundur dua langkah, bernapas lega meski jantungnya berdegup kencang. Ia berdiri utuh dan baik-baik saja di tepi kolam.Tak lama kemudian, Shanon memunculkan kepalanya ke permukaan. Karena bisa berenang, ia segera bergerak menyandarka
Gedung pertemuan termewah di pusat kota malam itu disulap menjadi tempat perayaan ulang tahun Regantara Corporation yang sangat megah. Lampu-lampu kristal menggantung tinggi, memancarkan pendar keemasan yang menerangi jajaran kolega bisnis papan atas dan petinggi perusahaan.Di antara deretan tamu undangan, tampak Alres berjalan berdampingan dengan Keira. Awalnya Alres enggan membawa wanita itu setelah semua konflik yang terjadi, tetapi Keira terus merajuk dan memaksa hingga Alres tak punya pilihan selain menuruti kemauannya.Suasana aula utama mendadak riuh saat pintu utama terbuka lebar. Regan melangkah masuk dengan aura kepemimpinan yang begitu kuat. Di sisi kanannya, Alena tampil sangat anggun mendampinginya, sementara Shanon berada di sisi kirinya dengan gaun mewah.Pemandangan tersebut seketika mengundang bisik-bisik dan pertanyaan dari para tamu. Walau sebagian besar kolega mengenali sosok Alena, keberadaan wanita muda di sisi kiri Regan memicu spekulasi baru tentang posisi ked







