LOGINSetelah memastikan persiapan pameran selesai, Sore harinya Alena bertemu dengan Bu Ratih di sebuah kafe yang cukup tenang. Perempuan paruh baya itu sudah datang lebih dulu ketika Alena tiba. Ia duduk di sudut ruangan dengan sebuah tas kecil di sampingnya. Sesekali pandangannya mengarah ke pintu, seolah masih memastikan bahwa keputusan datang ke tempat itu memang benar.Alena menghampiri meja tersebut. “Bu Ratih?”Perempuan itu segera menoleh. “Alena?”Alena tersenyum dan mengulurkan tangan. “Iya. Maaf membuat Ibu menunggu.”“Tidak apa-apa. Saya juga baru datang.”Alena duduk di hadapannya.Untuk beberapa saat, mereka hanya berbasa-basi. Alena memesan minuman, sementara Bu Ratih sesekali memperhatikan wajahnya.Sebenarnya, sejak awal Bu Ratih sempat keberatan ketika Mira menghubunginya. Ia tidak mengenal Alena secara pribadi. Terlebih lagi, Mira mengatakan ingin bertemu hanya karena sebuah perhiasan yang selama ini disimpannya.Namun, semuanya berubah ketika Mira menyebut nama Edward H
Keesokan harinya, Mira datang ke ruangan Alena sebelum jam makan siang. "Bu Alena."Alena yang sedang membaca beberapa dokumen langsung mengangkat wajah. "Bagaimana?""Saya sudah menghubungi Bu Ratih."Alena segera meletakkan dokumen di tangannya."Beliau masih menyimpan perhiasan itu?""Katanya masih."Untuk sesaat, Alena hanya diam. "Apa beliau bersedia ditemui?"Mira mengangguk. "Beliau bersedia. Saya sudah menyampaikan kalau Ibu ingin bertemu langsung. Beliau juga mengatakan tidak keberatan membawa perhiasan itu saat bertemu dengan Ibu."Alena menarik napas lega. "Baik. Kalau begitu aku akan menemuinya.""Saya bisa mengatur waktunya.""Tidak perlu. Setelah jadwal hari ini selesai, aku akan menghubungi beliau sendiri."Mira mengangguk. "Baik, Bu."Alena menutup map di hadapannya.Setidaknya sekarang dia memiliki satu jalan.Dia belum tahu apakah perhiasan itu benar-benar bisa menjadi bukti yang kuat. Namun, melihat langsung benda yang dibuatnya bertahun-tahun lalu mungkin akan memb
Rapat belum berakhir ketika Mira mengangkat tangannya. “Sebenarnya ucapan Bu Alena benar, aku juga penasaran apa alasan Bu Keira menyembunyikan identitasnya sebagai Lovely?”Suasana ruang rapat yang sebelumnya riuh mendadak sedikit mereda. Keira menoleh kepada Mira. Untuk sesaat, perempuan itu tampak tidak menyangka pertanyaan tersebut datang dari orang lain, bukan dari Alena.Mira duduk tidak jauh dari Alena. Sejak Pak Adrian menugaskannya untuk membantu Alena di Arta Group, perempuan itu memang lebih sering berada di sisi Alena ketika berhubungan dengan pekerjaan. Tidak banyak bicara, tetapi cukup peka untuk menangkap hal-hal yang terlewat oleh orang lain.Keira tersenyum tipis. “Aku tidak merasa perlu menjelaskan semua hal tentang diriku kepada orang lain.”“Bukan begitu maksudku,” jawab Mira. “Kalau kamu memang Lovely, bukankah seharusnya ada orang-orang di perusahaan yang mengetahui identitasmu sejak dulu?”Keira terdiam. Mira adalah orang Hartawan corporation, ia harus berhati-h
Regan menatap Alena yang diam dengan tatapan kosong. “Alena, setiap designer pasti memiliki keunikan, dan terkadang mereka sering meninggalkan tanda pada karyanya, apakah kamu juga memiliki kebiasaan tersebut?” Mata Alena membola, “Kamu benar, aku memang selalu memiliki kebiasaan unik pada setiap karyaku, tetapi apakah itu bisa membuktikan jika aku ini Lovely?” Alena belum yakin.Regan berkata pelan, “Harusnya, jika ciri tersebut tidak ada yang mengetahui kecuali kamu, tetapi jika semua orang mengetahui, kamu harus menemukan bukti yang tidak bisa mereka bantah.”Alena tersenyum tipis. “Aku tak yakin ada yang sadar atau tidak. Yang jelas jika aku tahu buktinya ada di mana, sejak tadi aku sudah mencarinya.”Regan ikut tersenyum kecil. “Berarti kita harus mencari tahu.”Alena menatapnya. Ia terdiam sebentar sebelum akhirnya mengangguk. “Benar.”Suasana kembali hening. Namun, kali ini pikiran Alena sedikit lebih tenang. Setidaknya ia tidak harus menghadapi semuanya sendirian.
Malam itu, Alena masih memikirkan semua kejadian yang berlangsung sejak pagi. Alena duduk di meja makan Villa Amarilis sambil menatap piring di hadapannya.Alena tidak menyangka Keira akan mengaku sebagai Lovely. Alena tidak mungkin hanya diam. Ia harus membicarakan masalah ini dengan Regan.Alena segera menghubungi Regantara, saat panggilan tersambung, Alena sedikit ragu karena masalah video lamanya yang belum mendapat penjelasan Regantara.Juga tentang kalimat yang terus terngiang di kepalanya sejak malam sebelumnya. Kamu benar-benar tidak mengingatku, Alena?Namun, setiap kali hendak membuka pembicaraan itu, Alena selalu mengurungkan niatnya. Ia belum siap mendengar jawabannya.Untuk saat ini, ada masalah lain yang jauh lebih mendesak. “Regan, ada yang ingin aku bicarakan.”“Boleh, kamu bisa datang ke rumahku.”Alena mengangguk meski tidak bisa dilihat Regan. “Baiklah, aku tidak mengganggumu, kan?” “Tidak Alena, aku tunggu kedatanganmu.” Alena menarik napasn
Alena kembali menatap layar komputer di hadapannya. Data yang baru saja diberikan oleh bagian IT masih terbuka. Waktu akses ke situs My Lovely tercatat pukul 21.47, sama seperti yang ditemukan Regan sebelumnya.Namun, semakin lama Alena memperhatikan data tersebut, semakin ia merasa ada sesuatu yang tidak beres. “Jam segini ada yang masuk ke divisi desain?” tanya Alena.Mira asisten baru yang di kirim Pak Adrian untuk mendampinginya berdiri tak jauh di seberang meja mengangguk. “Kalau berdasarkan catatan akses, iya. Setelah saya cek, malam itu ada rapat sampai cukup larut. Beberapa orang dari divisi lain memang sempat keluar-masuk.”Alena mengerutkan kening. “Rapat?”“Informasi yang kudapat, ada pembahasan proyek baru. Beberapa kepala divisi dan tim mereka ikut hadir.”Alena menyandarkan tubuhnya ke kursi. Berarti, catatan kartu akses pada pukul 21.47 tidak bisa dijadikan bukti untuk menentukan siapa yang menggunakan komputer Angel. Terlalu banyak orang yang keluar-masuk divisi desain







