Partager

Bab 10

Auteur: Ayyliana
last update Date de publication: 2026-08-22 23:26:03

Pagi itu, Alena sudah bersiap sejak pukul tujuh. Ia mengenakan blazer krem dengan rok panjang senada. Rambutnya diikat sederhana, sementara sebuah tas kerja menggantung di lengannya.

Hari ini ia akan mengunjungi Hartawan Corporation. Alena ingin melihat sendiri bagaimana perusahaan peninggalan ayahnya berjalan selama satu tahun terakhir.

Setelah Edward Hartawan meninggal, perusahaan itu memang tidak langsung jatuh ke tangan Alena. Ayahnya telah mempercayakan pengelolaannya kepada orang-orang ya
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 15

    Alena meninggalkan Hartawan Corporation tepat pukul tiga sore. Hari itu pekerjaannya tidak terlalu banyak. Setelah hampir beberapa hari mempelajari laporan perusahaan, ia mulai memahami kondisi Hartawan Corporation dan beberapa anak perusahaan di bawahnya.Akan tetapi, sebelum pulang, ia sudah berjanji bertemu Bella di sebuah kafe. Alena memilih duduk di meja dekat jendela sambil menunggu sahabatnya itu datang. Ia baru saja membuka menu ketika sebuah suara terdengar dari belakang.“Alena?”Alena menoleh. Keira berdiri beberapa langkah darinya bersama seorang perempuan yang belum pernah ia temui.“Kak Keira,” gumam Alena, dalam hatinya berkata kenapa Keira ada dimana-mana.Keira tersenyum. “Kamu sendirian?”“Sedang menunggu Bella.”“Oh.”Keira kemudian memperkenalkan perempuan di sampingnya. “Ini Angel, sahabatku.”Angel mengangguk singkat. Matanya memperhatikan Alena dari atas sampai bawah. “Oh ... jadi ini yang namanya Alena.”Alena sedikit mengernyit. Ada sesuatu dalam cara Angel me

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 14

    Alena tiba di rumah menjelang sore. Begitu memasuki ruang utama, langkahnya sempat terhenti. Alres dan Keira sudah berada di sofa.Keduanya duduk begitu dekat hingga bahu mereka hampir bersentuhan. Keira bahkan masih memegang lengan Alres sambil bercerita tentang kejadian di pusat perbelanjaan tadi.Alena hanya melirik sekilas. Tidak ada perasaan terkejut lagi. Ia sudah terlalu sering melihat pemandangan semacam itu. Alena memilih melewati mereka tanpa berkata apa-apa.“Alena.”Langkahnya terhenti mendengar suara bariton Alres, pria itu menoleh kepadanya. “Kamu baru pulang?”Alena berbalik. “Ya.”“Dari mana saja, kenapa tidak langsung pulang?”“Masih ada urusan.” Jawaban singkat itu membuat Alres mengernyit.Ia dan Keira sebenarnya sudah pulang sejak kejadian di restoran tadi. Setelah memastikan Keira tidak mengalami apa-apa, Alres langsung membawanya kembali ke rumah.Sementara Alena ... Ia bahkan tidak tahu apakah wanita itu terluka atau tidak. Alres sempat sedikit khawatir. Namun,

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 13

    Alena masih berdiri di depan meja yang menampilkan berbagai perlengkapan desain perhiasan. Jarinya menyentuh ujung salah satu pensil yang disediakan untuk pengunjung.Entah mengapa, melihat kertas kosong dan alat gambar itu membuat dadanya terasa hangat. Dulu, ia bisa menghabiskan berjam-jam hanya untuk menggambar sebuah desain.Sekarang, bahkan memegang pensil pun terasa seperti bertemu kembali dengan bagian dirinya yang telah lama hilang.“Alena.” Suara Alres membuat tangannya berhenti.Ia menoleh.Alres dan Keira ternyata masih berada beberapa langkah di belakangnya.“Ayo makan bersama,” ujar Alres. “Bukankah kamu datang ke sini untuk makan?”Alena terdiam. Ia sebenarnya ingin menolak. Namun jika terus menolak, bukan tidak mungkin Alres mulai bertanya-tanya.“Baiklah,” ujarnya, kebetulan juga Alena memang lapar.Mereka akhirnya meninggalkan area pameran dan menuju sebuah restoran di lantai yang sama.Alena duduk berseberangan dengan Alres dan Keira. Awalnya suasana cukup tenang. Na

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 12

    Pak Adrian mulai meletakkan beberapa map di atas meja. Yang sudah ia minta siapkan dari setiap department.“Ini laporan keuangan, perkembangan investasi, proyek berjalan, dan beberapa proposal yang sedang menunggu persetujuan.”Alena mengangguk. Ia tidak langsung bertanya. Hanya membuka satu per satu dokumen tersebut dan membacanya dengan teliti.Sebenarnya Alena belum benar-benar serius menginjakkan diri di dunia perusahaan. Namun, beberapa hal yang dulu diajarkan ayahnya ternyata masih melekat kuat di kepalanya.Hampir satu jam berlalu ketika Alena berhenti pada sebuah proposal.“Pak Adrian.” Panggil Alena sambil mengamati satu map yang masih di bacanya.“Ya?”“Proyek ini belum disetujui, kan?”Adrian melihat dokumen yang ditunjuk Alena. “Belum. Direksi tinggal memberikan persetujuan akhir.”Alena membaca beberapa halaman berikutnya. “Batalkan proyek ini.”Adrian sedikit terdiam. “Maaf?”“Proyek ini jangan dilanjutkan.”Beberapa direktur yang sejak tadi berada di ruangan itu langsun

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 11

    Suasana ruang kerja Direktur Utama Arta Group terasa sedikit berbeda pagi itu. Bukan karena hari pertama Keira mulai bekerja. Justru karena sejak datang, Alres terlihat tidak seperti biasanya.Pria itu duduk di belakang meja kerjanya dengan wajah muram. Beberapa berkas di hadapannya bahkan belum disentuh sejak tadi.Dion yang duduk di sofa bersama Kevin dan Rafael akhirnya tidak tahan melihatnya. “Kamu kenapa?”Alres tidak menjawab.Kevin melirik Dion, kemudian tertawa kecil. “Mungkin dia sedang pusing menghadapi Alena yang pastinya sedang merajuk tidak ingin diceraikan?”“Itu paling masuk akal,” sahut Rafael.Alres mengangkat wajah. Tatapannya membuat ketiganya langsung terdiam. “Jangan berbicara omong kosong.”“Lalu, di wajahmu seperti ada tulisan sedang kesal,” kata Dion santai.Alres kembali menatap berkas di depannya.Dion tidak menyerah. “Bukannya hari ini hari pertama Keira masuk? Harusnya kamu senang.”“Aku senang,” sahut Alres.“Terus kenapa mukamu seperti mau memecat satu ge

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 10

    Pagi itu, Alena sudah bersiap sejak pukul tujuh. Ia mengenakan blazer krem dengan rok panjang senada. Rambutnya diikat sederhana, sementara sebuah tas kerja menggantung di lengannya.Hari ini ia akan mengunjungi Hartawan Corporation. Alena ingin melihat sendiri bagaimana perusahaan peninggalan ayahnya berjalan selama satu tahun terakhir.Setelah Edward Hartawan meninggal, perusahaan itu memang tidak langsung jatuh ke tangan Alena. Ayahnya telah mempercayakan pengelolaannya kepada orang-orang yang selama puluhan tahun bekerja bersamanya. Salah satunya adalah orang yang sudah dianggap seperti anak sendiri oleh keluarga Hartawan.Selama ini Alena tidak pernah benar-benar ikut campur. Namun, sekarang semuanya berbeda. Ia ingin mengetahui kondisi perusahaan sebelum mengambil keputusan lebih jauh.Alena turun ke lantai bawah. Langkahnya terhenti ketika melihat Alres dan Keira sudah berada di meja makan. Keduanya tampak siap berangkat bekerja.Alres mengenakan setelan jas abu-abu gelap. Keir

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status