MasukAlena keluar dari gedung Arta Group dengan langkah sedikit lebih cepat. Kekesalan masih mengganjal di dadanya.Kejadian tadi bukan pertama kalinya Alres menyalahkannya tanpa mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Selama lima tahun, Alena sudah cukup mengenal sifat pria itu. Alres selalu percaya pada penilaiannya sendiri.Dulu, Alena akan berusaha menjelaskan. Sekarang? Ia sudah terlalu lelah untuk melakukannya.“Aku butuh kopi,” gumamnya pelan.Sebuah kafe berada tepat di seberang gedung. Alena hendak menyeberang ketika langkahnya terhenti.Di depannya, seorang wanita hamil berdiri di tepi jalan, menunggu kendaraan yang melintas. Pandangan Alena jatuh pada perut wanita itu.Tangannya tanpa sadar menyentuh perutnya sendiri yang kini kembali rata. Kalau bayinya masih ada ... Mungkin usia kandungannya tidak akan jauh berbeda dari wanita itu.Dadanya terasa sesak. Namun, sebelum pikirannya semakin jauh, suara mesin motor meraung dari arah kanan.Alena menoleh. Sebuah motor melaju kenca
Beberapa hari setelah Keira resmi bergabung sebagai staff magang Creative Director di Arta Group, Alena pun mulai menjalani masa magangnya.Pekerjaan yang diberikan kepadanya nyaris tidak pernah menyentuh urusan penting. Seperti membeli kopi untuk semua karyawan, mengambil makan siang, memfotokopi dokumen, bahkan menyiapkan ruang meeting.Beberapa kali ia diminta mengantarkan berkas ke lantai lain hanya karena seseorang sedang malas beranjak dari kursinya.Semua itu sebenarnya jauh dari kemampuan Alena. Namun, ia tidak pernah mengeluh. Ia datang tepat waktu, mencatat setiap instruksi, lalu mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. Baginya, tidak ada pekerjaan yang terlalu kecil selama ia memang sedang belajar.Secara struktur, Alena berada di bawah Keira. Namun, hampir seluruh pekerjaan sehari-harinya justru diberikan oleh Angel, asisten pribadi Keira. Dan Angel tampaknya sengaja memanfaatkan kesempatan itu.“Alena, tolong buatkan kopi untuk Kak Keira.”“Baik.”“Sekalian fotokopi dokumen
Setelah makan selesai, Alena meletakkan sendoknya di atas piring. Ia baru saja hendak berdiri ketika suara Alres terdengar.“Tadi pagi kamu ke Hartawan Corporation?”Gerakannya terhenti. Alena menoleh.“Ya.”Ada sedikit keterkejutan dalam tatapannya. Ia tidak menyangka Alres mengetahui kegiatannya di sana.“Ada urusan apa kamu ke sana?”“Aku ingin belajar mengelola perusahaan Ayah.”Alres mengernyit. “Kamu?”Alena menatapnya. “Kenapa, ada yang salah?”Alres menyandarkan tubuhnya pada kursi. “Selama ini kamu tidak pernah tertarik dengan urusan perusahaan.”“Aku memang tidak pernah tertarik sebelumnya.” Alena mengakui itu. Dan penyebabnya adalah Alres, hanya karena ingin mempelajari segala tentang pria itu.“Kenapa sekarang tiba-tiba ingin belajar?” tanya Alres penuh keraguan.“Bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali?”Jawaban Alena membuat Alres terdiam sejenak.“Alena, kamu tidak mengerti apa-apa tentang bisnis.” Nada suaranya datar, tetapi cukup membuat ruangan teras
Alena baru saja keluar dari ruang rapat Hartawan Corporation ketika ia mengembuskan napas panjang. Pertemuan tadi berlangsung hampir dua jam.Dulu, ia mungkin akan menganggap pembahasan laporan keuangan, proyek investasi, hingga perkembangan anak perusahaan sebagai sesuatu yang membosankan. Namun sekarang, justru semakin banyak hal yang membuatnya tertarik.Ia memang belum memahami semuanya. Masih banyak istilah yang harus dipelajari, laporan yang harus dibaca berulang kali, serta keputusan yang membutuhkan pertimbangan lebih matang. Namun, sedikit demi sedikit Alena mulai memahami dunia yang selama ini ia tinggalkan.Terlebih sejak beberapa kali melakukan pertemuan daring dengan Pak Regantara. Pria itu ternyata memiliki cara menjelaskan yang sederhana, tetapi tajam.Sayangnya, hingga sekarang Pak Regantara belum bisa menemuinya secara langsung karena beberapa urusan yang masih harus diselesaikannya di luar negeri.Alena tidak mempermasalahkannya. Bahkan, setiap kali mereka melakukan
Alres tiba di rumah ketika hari mulai gelap. Tidak ada Keira bersamanya. Dari pesan yang diterimanya beberapa jam lalu, Keira masih memiliki urusan di luar dan akan pulang lebih malam.Begitu memasuki rumah, Alres tidak langsung menuju kamar. Pandangan pria itu justru menangkap sosok Alena di halaman belakang.Wanita itu duduk di tepi kolam, kedua kakinya terendam di dalam air. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai, sementara pandangannya kosong menatap permukaan kolam yang sesekali beriak.Alres berjalan mendekat. “Kamu bisa masuk angin kalau berlama-lama berendam seperti itu.”Alena menoleh. Sesaat ia menatap Alres tanpa berkata apa-apa.Perhatian sederhana seperti itu ... Dulu, mungkin ia akan tersenyum senang dan menganggapnya sebagai bukti bahwa Alres sebenarnya peduli. Namun sekarang, perhatian tersebut terasa hampa.“Sebentar lagi aku masuk,” jawabnya singkat.Alres berdiri di sampingnya. “Kamu tadi bertemu siapa?”Alena mengernyit. “Maksudmu?”“Pria di kafe.”Alena menatapnya b
Alena masih terdiam beberapa detik dalam dekapan pria itu. Begitu menyadari posisinya, ia segera menegakkan tubuh dan mundur satu langkah.“Maaf.”Pria itu melepaskan tangannya tanpa mengatakan apa-apa.Alena mengangkat wajahnya. Entah mengapa, wajah pria di hadapannya terasa begitu familiar. Tatapan datarnya, garis wajahnya ... seperti seseorang yang pernah ia kenal.Akan tetapi, sekeras apa pun ia mencoba mengingat, tidak ada satu pun nama yang muncul di kepalanya.“Terima kasih sudah menolong saya.”Pria itu hanya mengangguk singkat. Tanpa berekspresi.Alena membalas dengan senyum sopan. “Kalau begitu, saya permisi.” Ia berbalik dan berjalan kembali menuju kafe.Pria itu masih berdiri di tempatnya, memandangi punggung Alena yang semakin menjauh. Tatapannya tetap datar. Namun, ada sedikit kerutan di antara alisnya. Seolah ia sendiri sedang berusaha mengingat sesuatu.Tidak jauh dari sana, dua pasang mata memperhatikan kejadian tersebut. Keira berdiri di samping Angel. Wajahnya tamp







