Se connecterRapat akhirnya berakhir setelah berlangsung cukup lama. Namun, pengakuan Alena sebagai Lovely tidak serta-merta membuat semua orang percaya.Beberapa pemegang saham terlihat masih membicarakannya dengan serius. Ada yang mulai menghubungkan penjelasan Alena dengan bukti-bukti yang muncul pada pameran kemarin. Namun, ada pula yang menganggap pengakuan itu hanya cara Alena mempertahankan posisinya di Arta Group.Alena tidak terlalu memedulikannya. Ia tidak membutuhkan semua orang untuk langsung mempercayainya.Untuk saat ini, ada hal yang jauh lebih penting. Arta Group harus kembali stabil. Sebagai pemegang saham terbesar, Alena tidak mungkin hanya berdiri dan menyaksikan perusahaan mengalami kerugian karena masalah yang disebabkan oleh Keira.Setelah memastikan beberapa laporan perusahaan sudah diterima Mira, Alena langsung menuju ruang kerja Alres. Ia mengetuk pintu.“Masuk.”Alena membuka pintu dan masuk. Alres sedang berdiri di dekat jendela. Beberapa dokumen berada di atas meja, tet
Keesokan paginya, aktivitas di Arta Group berjalan seperti biasa. Namun, suasana di dalam gedung perusahaan terasa berbeda.Berita mengenai pameran Lovely yang berakhir kacau sudah menyebar sejak malam sebelumnya. Nama Keira menjadi bahan pembicaraan di berbagai media, sementara harga saham Arta Group ikut terdampak setelah muncul keraguan terhadap salah satu sosok yang selama ini menjadi wajah penting perusahaan.Alena tetap datang seperti biasa. Ia memasuki ruang kerjanya, memeriksa beberapa laporan yang dikirim Mira, lalu mulai mengerjakan dokumen yang tertunda sejak kemarin. Tidak ada yang perlu ia lakukan untuk menjelaskan apa yang terjadi.Bagi Alena, kebenaran sudah mulai terbuka. Namun, ternyata perusahaan memiliki pandangan berbeda.Sekitar satu jam setelah ia tiba, Mira mengetuk pintu ruangannya. “Bu Alena, rapat pemegang saham akan dimulai lima belas menit lagi.”Alena mengangkat wajah dari dokumen di tangannya. “Rapat mendadak?”Mira mengangguk. “Katanya ada beberapa pemeg
“Keira, jangan katakan kepadaku bahwa selama ini kamu juga berbohong tentang Drive itu.”Keira menatap Alres dengan wajah pucat. Beberapa detik berlalu tanpa jawaban.Alres memperhatikan perubahan ekspresinya. Tidak ada bantahan. Tidak ada kemarahan seperti biasanya ketika Keira merasa dituduh. Hanya diam.Dan diam itu justru membuat kecurigaan Alres semakin besar. “Kamu menemukan Drive itu setelah kecelakaan, bukan?”Keira tersentak.Alres langsung menangkap reaksinya. “Jadi benar.” Alres mengingat, saat itu Pak Edward mengurus berkas kecelakaan dan mengatakan ada beberapa barang yang hilang, mungkinkah salah satunya Drive tersebut.“Tidak seperti yang kamu pikirkan.”“Kalau begitu, jelaskan.”Keira menggeleng pelan. “Aku hanya menemukannya.”“Di lokasi kecelakaan?” tanya Alres.Keira kembali diam. Ia benar-benar tidak ingin mengatakan hal yang sebenarnya.Alres mengembuskan napas panjang. “Jawab aku, Keira.”“Iya, benar ... aku menemukannya saat kecelakaan terjadi.” Jawaban itu kelu
Alena tidak ingin berada di sana lebih lama. Ia sudah mengatakan apa yang perlu dikatakannya. Sisanya bukan lagi urusannya.Tanpa mengatakan apa pun kepada Alres maupun Keira, Alena berbalik dan berjalan menuju pintu rumahnya.Keira masih berdiri di tempatnya. Tatapannya mengikuti Alena dengan wajah penuh kecemasan.Alena membuka pintu, masuk, lalu menutupnya tanpa menoleh lagi.Di luar, Alres masih berdiri diam. Keira akhirnya tersadar dan berlari mengejar Alres ketika pria itu mulai berjalan menuju mobilnya.“Alres!”Alres tidak berhenti.“Alres, tunggu!” Keira mempercepat langkah hingga akhirnya berhasil menyusulnya.“Kamu mau ke mana?”“Pulang.”“Aku ikut.”Alres membuka pintu mobil tanpa menjawab.Keira segera masuk ke sisi penumpang.Alres menutup pintu, kemudian masuk ke kursi pengemudi. Sepanjang perjalanan, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara.Keira beberapa kali melirik Alres.Wajah pria itu terlihat dingin. Tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat, sementara pand
Keira berdiri beberapa meter dari mereka. Napasnya terdengar sedikit terburu-buru, seolah baru saja berjalan cepat dari tempat parkir.Alres menatapnya dengan kening berkerut. “Bagaimana kamu bisa datang kemari?” tanyanya. “Kamu mengikutiku?”Keira tidak langsung menjawab. Ia justru melangkah mendekat. Tatapannya berpindah dari Alres kepada Alena, lalu kembali kepada Alres.“Alres ....” Suaranya terdengar bergetar. “Kamu benar-benar akan kembali kepada Alena?”Alres mengembuskan napas panjang. “Jawab pertanyaanku.”Keira terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk. “Iya. Aku mengikutimu.”Alres menatapnya tajam. “Keira, kamu tahu aku tidak suka dibuntuti.”“Aku hanya khawatir kamu akan melakukan sesuatu tanpa memberitahuku.”“Keira.” Nada suara Alres semakin berat.Keira mengepalkan tangannya. Ia terlihat berusaha menahan emosi. “Karena aku takut kehilanganmu.”Alres tidak menjawab.Keira kemudian menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Alres, kamu harus ingat janjimu, kamu dan Al
Alena masih menatap sosok yang berdiri di depan gerbang Vila Amarilis. Dia adalah Alres.Regan memperlambat mobil hingga akhirnya berhenti beberapa meter dari gerbang.Alena tidak segera turun. Tatapannya tetap tertuju pada Alres yang berdiri di sana, seolah sudah menunggunya sejak lama.“Apa perlu aku mengusirnya?” tanya Regan.Alena menggeleng. “Tidak perlu.” Ia menarik napas pelan. “Aku akan mengurusnya.”Regan menoleh kepadanya. Sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya hanya mengangguk. “Kalau begitu, aku kembali dulu.”Alena membuka pintu mobil dan turun. “Terima kasih.”Regan kemudian menjalankan mobilnya melewati gerbang. Ia memutar arah ke Vila miliknya yang berada tidak jauh dari Vila Alena.Alres memperhatikan mobil tersebut sampai menghilang di balik gerbang vila yang berada beberapa rumah dari tempat Alena tinggal.Ekspresinya berubah. Selama ini ia tidak tahu bahwa Regan tinggal di kawasan yang sama dengan Alena.Alres mengalihkan pandangan kepada Alena. “J







