Share

Bab 121

Author: Ayyliana
last update publish date: 2026-09-30 20:49:21

Keira berdiri beberapa meter dari mereka. Napasnya terdengar sedikit terburu-buru, seolah baru saja berjalan cepat dari tempat parkir.

Alres menatapnya dengan kening berkerut. “Bagaimana kamu bisa datang kemari?” tanyanya. “Kamu mengikutiku?”

Keira tidak langsung menjawab. Ia justru melangkah mendekat. Tatapannya berpindah dari Alres kepada Alena, lalu kembali kepada Alres.

“Alres ....” Suaranya terdengar bergetar. “Kamu benar-benar akan kembali kepada Alena?”

Alres mengembuskan napas panjang.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Duryati Duryati
Alena lebay.. terlalu bertele tele.. tinggal bongkar semua kebusukan si Keira, apa susahnya toh kamu dan Alres sdh cerai..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 122

    Alena tidak ingin berada di sana lebih lama. Ia sudah mengatakan apa yang perlu dikatakannya. Sisanya bukan lagi urusannya.Tanpa mengatakan apa pun kepada Alres maupun Keira, Alena berbalik dan berjalan menuju pintu rumahnya.Keira masih berdiri di tempatnya. Tatapannya mengikuti Alena dengan wajah penuh kecemasan.Alena membuka pintu, masuk, lalu menutupnya tanpa menoleh lagi.Di luar, Alres masih berdiri diam. Keira akhirnya tersadar dan berlari mengejar Alres ketika pria itu mulai berjalan menuju mobilnya.“Alres!”Alres tidak berhenti.“Alres, tunggu!” Keira mempercepat langkah hingga akhirnya berhasil menyusulnya.“Kamu mau ke mana?”“Pulang.”“Aku ikut.”Alres membuka pintu mobil tanpa menjawab.Keira segera masuk ke sisi penumpang.Alres menutup pintu, kemudian masuk ke kursi pengemudi. Sepanjang perjalanan, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara.Keira beberapa kali melirik Alres.Wajah pria itu terlihat dingin. Tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat, sementara pand

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 121

    Keira berdiri beberapa meter dari mereka. Napasnya terdengar sedikit terburu-buru, seolah baru saja berjalan cepat dari tempat parkir.Alres menatapnya dengan kening berkerut. “Bagaimana kamu bisa datang kemari?” tanyanya. “Kamu mengikutiku?”Keira tidak langsung menjawab. Ia justru melangkah mendekat. Tatapannya berpindah dari Alres kepada Alena, lalu kembali kepada Alres.“Alres ....” Suaranya terdengar bergetar. “Kamu benar-benar akan kembali kepada Alena?”Alres mengembuskan napas panjang. “Jawab pertanyaanku.”Keira terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk. “Iya. Aku mengikutimu.”Alres menatapnya tajam. “Keira, kamu tahu aku tidak suka dibuntuti.”“Aku hanya khawatir kamu akan melakukan sesuatu tanpa memberitahuku.”“Keira.” Nada suara Alres semakin berat.Keira mengepalkan tangannya. Ia terlihat berusaha menahan emosi. “Karena aku takut kehilanganmu.”Alres tidak menjawab.Keira kemudian menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Alres, kamu harus ingat janjimu, kamu dan Al

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 120

    Alena masih menatap sosok yang berdiri di depan gerbang Vila Amarilis. Dia adalah Alres.Regan memperlambat mobil hingga akhirnya berhenti beberapa meter dari gerbang.Alena tidak segera turun. Tatapannya tetap tertuju pada Alres yang berdiri di sana, seolah sudah menunggunya sejak lama.“Apa perlu aku mengusirnya?” tanya Regan.Alena menggeleng. “Tidak perlu.” Ia menarik napas pelan. “Aku akan mengurusnya.”Regan menoleh kepadanya. Sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya hanya mengangguk. “Kalau begitu, aku kembali dulu.”Alena membuka pintu mobil dan turun. “Terima kasih.”Regan kemudian menjalankan mobilnya melewati gerbang. Ia memutar arah ke Vila miliknya yang berada tidak jauh dari Vila Alena.Alres memperhatikan mobil tersebut sampai menghilang di balik gerbang vila yang berada beberapa rumah dari tempat Alena tinggal.Ekspresinya berubah. Selama ini ia tidak tahu bahwa Regan tinggal di kawasan yang sama dengan Alena.Alres mengalihkan pandangan kepada Alena. “J

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 119

    Dalam bayangan Alena, tangannya yang kecil mengenakan sebuah gelang sederhana dengan manik-manik yang dibuat oleh ibunya. Ia masih ingat gelang itu. Gelang yang hampir selalu ia pakai hadiah ulang tahun dari ibunya.Namun, ada satu kejadian yang membuat gelang itu hilang. Alena memejamkan mata. Ingatan lama itu terasa semakin dekat. Ia seperti melihat permukaan air yang berkilau diterpa matahari. Mendengar suara seseorang berteriak.Seorang anak laki-laki seusianya, tercebur ke dalam danau. Alena kecil berusaha menolongnya. Setelah itu tubuhnya sendiri terasa sangat lemas. Dan ketika sadar ia sudah berada di rumah sakit dan gelangnya pun sudah tidak ada.Alena membuka mata. Napasnya sedikit memburu. “Bu ... Waktu itu ....” Alena berusaha mengingat. “Gelang itu hilang setelah aku menolong seseorang di danau, kan?”Bu Mareta mengangguk pelan. “Iya, ibu menemukannya di rerumputan sekitar danau, Namun setelah itu, kamu jarang sekali datang berkunjung.”Alena menatapnya. “Hari itu, siapa y

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 118

    Alres masih berdiri di depan meja kecil di kamar Alena. Tangannya belum juga melepaskan dokumen yang baru saja ditemukan.Ia membalik lembar pertama sekali lagi, memastikan dirinya tidak salah membaca. Hasil pemeriksaan kehamilan. Nama Alena tercetak jelas di bagian atas. Mata Alres kemudian berpindah pada lembar berikutnya.Sebuah foto hasil USG. Ia menatap gambar hitam putih itu cukup lama. Di bawah foto tersebut terdapat keterangan mengenai usia kehamilan. 8 minggu.Napas Alres seketika tertahan. “Delapan minggu ...?” Suara itu keluar lirih.Ia mencoba menghitung. Pikirannya langsung kembali pada tanggal pemeriksaan tersebut. Tanggal yang sama ketika Keira kembali dari Landen.Jika pemeriksaan itu dilakukan saat usia kandungan Alena delapan minggu, dan sekarang sudah sekitar dua bulan berlalu, Alres kembali menghitung dengan cepat. Setelah saat itu dua bulan berlalu, itu artinya usia kandungan Alena sekitar 16 atau 17 minggu. Alena hamil empat bulan.Tangannya perlahan mengepal. “J

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 117

    Alres membawa Keira masuk ke dalam rumah tanpa mengatakan apa pun. Sejak mereka meninggalkan kerumunan wartawan di lokasi pameran, pria itu tidak mengucapkan sepatah kata pun. Wajahnya tetap tenang, tetapi sikapnya jauh lebih dingin dari biasanya.Keira beberapa kali melirik ke arahnya. Biasanya Alres akan bertanya apakah ia baik-baik saja setelah menghadapi tekanan seperti tadi. Namun, kali ini tidak ada satu pun pertanyaan.Begitu sampai di ruang tengah, Alres melepaskan jasnya lalu meletakkannya di atas sofa. Ia kemudian berdiri di dekat jendela, membelakangi Keira.Keira yang sejak tadi menahan kegelisahan akhirnya tidak tahan. “Alres.”Tidak ada jawaban.Keira mendekat beberapa langkah. “Alres, kamu percaya padaku, kan?”Alres masih diam. Keira kemudian meraih tangan pria itu dan menggenggamnya erat. “Aku Lovely,” ucapnya meyakinkan. “Kamu tahu itu, kan? Aku yang membuat semua desain itu.”Alres perlahan menoleh. Tatapannya jatuh pada tangan Keira yang masih menggenggam tangannya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status