Share

Bab 156

Penulis: Ayyliana
last update Tanggal publikasi: 2026-10-15 16:00:39

Dua petugas kepolisian bersama empat pengawal pribadi Alena yang bersiap di pintu langsung tersadar dari keterkejutan mereka.

"Bawa mereka yang terlibat ke kantor polisi sekarang juga," perintah Regan dingin, matanya beralih sekilas menunjuk Keira yang masih terengah-engah di lantai dan Angel yang gemetaran di pojok dinding. "Pastikan semua bukti kejahatan dan manipulasi medis ini diserahkan langsung ke penyidik utama."

"Baik, Tuan!" tegas komandan polisi.

Petugas kepolis

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Duryati Duryati
si Alena sok main rahasia rahasiaan, emang kenapa kalau Regan tahu??
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 157

    Mobil sedan hitam itu segera melaju meninggalkan area rumah sakit, membelah jalanan kota yang lengang di bawah pendar lampu malam.Suasana di dalam kabin terasa begitu hangat dan menenangkan. Setelah ketegangan hebat yang baru saja ia lalui, kehadiran Bella bagai pelabuhan yang aman."Jadi ...." Bella melirik sekilas ke arah Alena sambil tetap fokus menyetir. "Bagaimana rasanya setelah berhasil menyeret Keira ke kantor polisi? Apakah kamu puas?"Alena menoleh ke samping, menatap garis wajah sahabat setianya itu. Alena menggeleng pelan, lalu menyunggingkan senyum tipis di bibirnya."Bukan cuma sekadar puas, Bella," jawab Alena dengan suara dingin namun tenang. "Apa yang didapatkan Keira sekarang ... dia jauh lebih pantas mendapatkannya setelah semua hal busuk yang ia lakukan."Bella tersenyum lebar, sudut bibirnya terangkat membentuk garis kepuasan. Ia memukul setir pelan dengan satu tangan. "Begitu dong! Ini baru sahabatku, Alena

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 156

    Dua petugas kepolisian bersama empat pengawal pribadi Alena yang bersiap di pintu langsung tersadar dari keterkejutan mereka."Bawa mereka yang terlibat ke kantor polisi sekarang juga," perintah Regan dingin, matanya beralih sekilas menunjuk Keira yang masih terengah-engah di lantai dan Angel yang gemetaran di pojok dinding. "Pastikan semua bukti kejahatan dan manipulasi medis ini diserahkan langsung ke penyidik utama.""Baik, Tuan!" tegas komandan polisi.Petugas kepolisian segera maju mengunci kedua lengan Keira yang mencoba memukul dan meronta, sementara pengawal Alena menghadang jalan Angel agar tak bisa melarikan diri."Lepaskan aku! Regan, kamu dibohongi wanita ini! Lepaskan aku!" jerit Keira histeris saat tubuhnya dipaksa berdiri dan diseret keluar dari ruang perawatan.Namun, seruan dan tangisan histeris itu tak lagi digubris oleh siapa pun. Kerusuhan yang Keira ciptakan malam itu akhirnya berakhir di bawah pengawalan ketat menuju mobil tah

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 155

    Napas Keira memburu, dadanya naik turun dengan tidak teratur. Pelipisnya dibasahi keringat dingin yang membuat beberapa helai rambutnya menempel acak di dahi. Tatapan matanya menyalang penuh kebencian yang mendalam, terkuat pada sosok Alena yang berdiri begitu anggun dan tenang di dekat pintu."Alres tidak akan pernah benar-benar meninggalkanku! Kamu dengar itu, Alena?!" teriak Keira histeris, suaranya melengking tinggi hingga memantul di dinding-dinding dingin ruang perawatan. "Dia sangat mencintaiku! Dia berutang nyawa padaku! Terlebih lagi ... aku adalah satu-satunya wanita yang menyelamatkannya dari dasar danau kala itu!"Dengan gerakan cepat yang didorong oleh rasa panik dan kegilaan, Keira merogoh bagian bawah bantal di ranjang pesakitannya. Jemarinya yang gemetaran menarik keluar sebuah benda kecil yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat.Ia menggenggamnya erat-erat, lalu memamerkannya ke udara di hadapan semua orang.Sebuah gelang manik-manik s

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 154

    Suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa itu memotong keheningan mencekat di lorong. Semua mata seketika teralih pada sosok pria tinggi berjas hitam—salah satu bodyguard kepercayaan yang ditugaskan Alena untuk mengawal proses pemeriksaan di dalam kamar rawat.Pria itu berhenti beberapa langkah di depan Alena dan Regan, lalu menundukkan kepala dengan takzim."Nona Alena, Tuan Regan," lapor bodyguard itu dengan napas sedikit terengah namun suaranya terdengar sangat mantap. "Prosedur pemeriksaan ulang dan uji laboratorium oleh Tim Forensik Kepolisian serta Kepala Rumah Sakit sudah selesai dilaksanakan secara khusus dan cepat."Laporan singkat itu seketika memecah atmosefer kalut di lorong. Alena merapikan letak blazer-nya, lalu melangkah lebih dulu tanpa mengindahkan Alres yang masih mematung dengan linangan air mata di pipinya. Regan mengiringi langkah Alena dengan protektif, diikuti oleh Dion, Rafael, Kevin, Angel, dan Alres yang melangk

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 153

    Melihat Angel sibuk mengejar Alena, ponsel Dion di dalam saku jasnya bergetar. Satu pesan masuk dari tim penyelidik lapangan. Setelah membacanya, mata Dion membelalak lebar. Tanpa membuang waktu, Dion segera memanggil Alena yang belum melangkah jauh."Alena, tunggu ...!" seru Dion keras. Ia lalu menoleh dan menarik lengan Alres. "Res, cepat ikuti aku!"Alres yang kebingungan tidak membantah, ia segera menyusul langkah Dion. Kevin dan Rafael pun ikut berlari di belakang mereka.Alena menghentikan langkahnya saat mendengar suara Dion memanggil dari belakang. Ia mengabaikan Angel yang masih merengek, lalu berbalik menatap rombongan itu dengan tatapan dingin."Ada apa lagi, Dion?" tanya Alena datar."Dion, sebenarnya apa yang mau kamu tunjukkan?" selak Alres yang makin tidak sabar.Dion menarik napas panjang, lalu menatap Alena dan Alres bergantian. "Alena, tolong jangan pergi dulu. Ini ada hubungannya dengan insiden danau belasan tahun lalu ...

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 152

    Dion menatap Alres yang berdiri di sebelahnya. Sejujurnya, di dalam saku jas Dion sudah tersimpan laporan awal mengenai gelang manik-manik dan insiden danau belasan tahun lalu. Ada dorongan kuat dalam dirinya untuk langsung membeberkan segalanya saat itu juga. Namun, Dion menahan diri. Ada satu detail krusial yang masih butuh konfirmasi lanjutan dari saksi kunci di panti asuhan, dan ia tidak boleh memberikan fakta setengah matang yang bisa memicu kekacauan baru.Dion akhirnya mengurungkan niatnya. "Ada beberapa hal kecil dari tim lapangan yang masih harus saya pastikan kembali, Tuan Alres. Saya akan menyampaikan laporan lengkapnya begitu semua bukti tervalidasi."Alres hanya mengangguk kaku, pikirannya terlalu kalut untuk mempertanyakannya lebih jauh.Tak lama kemudian, derap langkah teratur terdengar di lorong. Tim dokter spesialis kebanggaan Alena dari Edward Medical Center tiba bersama dua orang dokter forensik yang ditunjuk resmi oleh pihak kepolisi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status